Cerita Pemilu 2019 di Belanda

13 April 2019 menjadi tanggal yang tidak akan saya lupakan sebagai WNI yang tinggal di Belanda karena hari sabtu tersebut saya mempergunakan hak pilih pada pemilu tahun 2019 yang bertempat di Sekolah Indonesia Den Haag di Wassenaar. Setelah sempat ragu beberapa waktu sebelumnya apakah saya bisa datang atau tidak, lalu mendengar kabar bahwa pemilik katering Padang favorit akan membuka stan di sana, saya jadi bersemangat ingin datang. Ya, sejujurnya motivasi utama saya karena ingin membeli masakan padang (pemiliknya tidak punya restauran hanya melayani pemesanan dan makan ramai ramai di rumahnya). Salah satu variabel kebahagiaan saya adalah makanan. Jadi ya, langsung berbinar ketika tahu bisa menyantap masakan padang setelah mencoblos. Namun sesungguhnya saya pun ingin menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana suasana dan keadaan pemilu di Belanda. Saya bilang ke diri sendiri bahwa ini akan jadi bagian sejarah hidup saya, pertama kali merasakan dan ikut pemilu di Belanda setelah tidak tinggal di Indnesia.

Pagi hari saya mempersiapkan diri di rumah. Cuaca cerah, matahari bersinar, langit biru dengan suhu 3°C. Dingin sekali pagi itu. Tapi tidak menyurutkan niat saya untuk datang. Setelah diantar suami dan sampai di tempat pencoblosan, mendadak agak surut langkah. Antrian mengular sampai di luar area sekolah. Namun saya tetap langsung masuk di antrian.

Antrian sampai luar area sekolah
Antrian sampai luar area sekolah

 Setelah beberapa saat, akhirnya bisa melewati pintu pemeriksaan tas. Antrian bergerak perlahan. Saya tidak akan ceritakan secara detail ya apa yang terjadi kemaren selama mengantri. Karena akan sangat panjang

Antrian di dalam. Terlihat ya mengular panjang
Antrian di dalam. Terlihat ya mengular panjang

Saat ada panitia lewat, saya sempat bertanya apa tidak ada jalur atau antrian khusus untuk Lansia, orang sakit, wanita hamil, orangtua yang membawa balita (atau Ibu yang membawa bayi yang masih menyusui), disabilitas. Ibu panitia menjawab bahwa jalur khusus hanya untuk wanita hamil. Lalu saya bertanya lagi bagaimana Ibu yang membawa bayi dan butuh menyusui apakah tidak bisa dimasukkan jalur khusus. Dijawab : antri saja. 

Selama mengantri, sebenarnya banyak sekali hal-hal lucu sampai menjengkelkan yang saya temui. Ini saya bagi ceritanya beberapa saja ya :

  1. Ketika sudah 1.5 jam mengantr dan itupun masih panjang antrian di depan (belum setengahnya), saya mengeluh kepada orang di samping kenapa jalur khusus hanya untuk Ibu hamil saja. Lalu seseorang menyelutuk “lho saya hamil tapi kok tidak tahu kalau bisa langsung masuk tenda pendaftaran?” Lalu saya bilang : langsung saja Bu ke tenda. Ibu tersebut keadaannya segar bugar ya, bukan Ibu hamil yang pucat. Lalu Ibu tersebut diantar suaminya langsung ke tenda pendaftaran dan si suami ikut mengantri di belakangnya. Panitia yg di dalam tenda bertanya : Bapak juga hamil? Kalau tidak, silahkan kembali le antrian yang di luar. Saya sebenarnya ingin tertawa, tapi saya tahan.
  2. Ada seorang Bapak lewat di depan antrian saya. Orang-orang di sekitar saya langsung menyalami Bapak tersebut. Saya hanya melihat sambil berpikir keras siapa ya Bapak itu. Kayaknya pejabat tapi siapa. Lalu saya tanya ke sebelah saya. Ohh ternyata Bapak Dubes haha. Duh, kok saya tidak hapal ya muka Bapak Dubes. Padahal pernah sekali ketemu di Pasar Raya tahun lalu. Orang-orang sekeliling saya memandang tak percaya kalau saya tidak tahu bahwa Beliau adalah Pak Dubes. Duh biasa aja sih, ga usah dipandang aneh gitu.

Singkat cerita ya, akhirnya setelah 1.5 jam dalam antrian dan seorang panitia melihat, saya disuruh masuk ke dalam tenda pendaftaran. Jadi kalau ada yang bertanya berapa lama saya mengantri, saya jawab 1.5 jam karena memotong antrian yang normal. Kalau dengar cerita dari Crystal, dia antri 3 jam. Lalu kemudian di forum saya baca ada yg sampai 6 jam mengantri. 

Setelah di tenda pendaftaran, lalu masuk ruang tunggu per TPS, lalu masuk ke TPS. Saya mencoblos di TPS 1. Wah terharu juga ya akhirnya mencoblos dengan perjuangan ngantri, dingin, berangin dan sempat gerimis (kata teman sorenya bahkan hujan es dan salju). Melalui pintu keluar TPS, saya lalu tidak sabar beli sate Padang. Duh nikmatnya, karena perut sangat lapar. Selain gembira karena sudah mencoblos, makan sate padang dan bungkus pulang rendang serta ikan bakar, saya juga senang bisa bertemu beberapa teman di sana termasuk Crystal dan Yayang yang bertemu di bis menuju pulang. Bis menuju dan pulang dari Wassenaar gratis disediakan oleh KBRI. Berdasarkan pengalaman tahun ini, untuk pemilu selanjutnya, saya mencoblos lewat pos saja. Tak sanggup antri segitu lamanya.

Lapek Jo is the best!
Lapek Jo is the best!
Sate padang yang membuat saya terharu
Sate padang yang membuat saya terharu
Nasi Padang untuk sepupu
Nasi Padang untuk sepupu

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya dan sudah tersampaikan kepada salah satu panitia. Ini yang hanya berhubungan dengan yang saya alami. Karena sesungguhnya banyak sekali yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan pemilu di Belanda kali ini :

  1. Perlu diadakan antrian khusus untuk Lansia, Ibu hamil, orang tua, orang sakit, disabilitas, orangtua yang membawa balita (termasuk di dalamnya Ibu yang membawa bayi yang masih menyusui). 
  2. Tidak ada nursery room. Saya lihat ruang di tempat tenda-tenda makanan masih luas sehingga masih memungkinkan untuk mendirikan satu tenda supaya orangtua bisa mengganti popok anaknya atau Ibu yang mau menyusui bayinya. Di cuaca dingin, sangat kasihan melihat beberapa balita ganti popok di ruangan terbuka dan menangis kedinginan.
  3. Masukan saja, lebih baik sejak pintu masuk sudah dipisah antrian berdasarkan TPS, antrian khusus dan antrian buat mereka yg tidak membawa C6. Kemungkinan dengan antrian sudah dipecah sejak awal akan mengurangi keruwetan dan antrian yang mengular sampai ke jalan raya.

Bagaimanapun juga, terima kasih untuk tim panitia atas kerja kerasnya. Semoga ke depan lebih baik lagi pelaksanaannya dengan memperhatikan masukan-masukan yang ada sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.

Saya benar-benar terharu akhirnya ikut merasakan pesta demokrasi Indonesia di negara Belanda. Tidak menyangka bahwa saya akhirnya mempergunakan hak pilih. Diantara banyak hal yang terjadi selama di sana, komentar-komentar tak penting dan menyebalkan yang saya terima, tetaplah saya gembira sudah merasakan dan menyaksikan secara langsung suasana pencoblosan. Kelak, bisa saya ceritakan pada anak-anak kami, bahwa mereka bagian dari saksi sejarah ini.

Ada yang tahu saya yang mana dalam antrian? Foto milik KBRI
Ada yang tahu saya yang mana dalam antrian? Foto milik KBRI

Semoga presiden yang terpilih nanti amanah. Dan segala perseteruan tak penting antara teman, saudara, sahabat berakhir damai. Ingat, beda pilihan itu biasa, apalagi pilihan berpolitik, namun jangan sampai meretas apa yg sudah terjalin baik selama ini. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing. Mari saling menghormati saja. Tak perlu menjelek-jelekkan di belakang.

Buat pemilih di Indonesia, semoga apapun pilihan politik kalian tanggal 17 April 2019, selamat berpesta demokrasi. Gunakan hak pilih dengan bijak. 

Sah mencoblos langsung
Sah mencoblos langsung

-Nootdorp, 14 April 2019-

Cerita Akhir Maret

Suami : Aku berangkat lari pagi dulu ya

Saya : Oke, Veel plezier!

Saya yang masih leyeh-leyeh di kasur meneruskan kegiatan di pagi hari, menelusuri twitter. Tiba-tiba saya teringat kalau truk sampah hari ini jadwalnya mengangkut sampah di bak warna abu-abu. Saya bergegas turun mengejar suami supaya sekalian mengeluarkan bak sampah. Syukurlah dia masih pemanasan di bawah.

Saya : Bak sampah jangan lupa dikeluarkan ya. Soalnya sudah penuh sekali itu.

Suami cuma senyum-senyum sambil memberi kode mata supaya saya balik badan melihat apa yang ada di belakang.

Kejutan dipagi hari

Bunga dan kartu ucapan ulangtahun
Bunga dan kartu ucapan ulangtahun

Beberapa hari sebelumnya suami bertanya ingin kado ulang tahun apa. Saya menjawab sekenanya, “Saya sudah punya semua, keluarga sehat dan kita bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Tapi kalau dikasih kado ya tetap dengan senang hati diterima.” Haha tetep ya ujung-ujungnya. Tapi serius, karena sangat menikmati bulan Maret, saya tidak terlalu perhatian dengan tanggal ulang tahun. Jadi ketika ditanya mau hadiah apa, saya tidak ada persiapan memikirkan sebelumnya. Biasanya kalau ulangtahun, saya selalu minta liburan. Tahun lalu kami pergi ke Portugal. Tahun ini di Belanda saja.

Sorenya, kami semua pergi ke pusat kota. Sesuai permintaan, saya ingin merayakan ulangtahun di tempat favorit, apalagi kalau bukan Sushi All You Can Eat (sebenarnya saya ragu memilih antara restauran Indonesia juga, karena ingin makan bakso dan tekwan. Tapi saya tahan-tahanlah, dua minggu lagi ada undangan makan bakwan malang). Sebelum makan, kami jalan-jalan dulu sebentar karena cuaca menghangat setelah beberapa hari hujan, angin, dan mendung.

Makan malam ulangtahun
Makan malam ulangtahun

Senang bukan kepalang makan sushi sepuasnya lagi. Kami sampai rumah jam 8 malam.

Keesokan hari, cuaca masih cerah. Awalnya kami akan ke kebun binatang yang di Rotterdam, lalu berubah ke taman burung, lalu berubah lagi yang ujung-ujungnya ke taman bermain lalu pulangnya mampir ke kedai es krim

Taman Bermain
Taman Bermain

Maret sudah berakhir, bilangan umur bertambah satu, semoga saya sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan, dan semoga cuaca cerah sering-sering mampir Belanda pada bulan-bulan selanjutnya.

Musim Semi
Musim Semi

-Nootdorp, 31 Maret 2019-

 

 

 

Tentang Penerimaan Diri

Popeye Village, Malta

Beberapa waktu lalu rame tantangan 10 tahun banyak dilakukan dengan cara memasang foto dalam rentang 10 tahun tersebut.  Saya tidak ikut memasang foto. Alasannya sederhana : karena 10 tahun lalu saya masih belum memakai jilbab. Ya sejak memutuskan memakai jilbab pada tahun 2010, segala foto-foto yang belum menggunakan jilbab jadi koleksi pribadi saja. Bahkan saya juga sudah menghapus foto-foto tanpa jilbab yang ada di media sosial, meskipun saya tahu bahwa jejak digital tidak segampang itu menghapusnya. Mungkin itulah tantangan saya yang sesungguhnya :)).

Walaupun tidak ikut meramaikan memasang foto, tapi saya ikut meramaikan dengan bercerita apa sih perbedaan saya yang sekarang dibanding 10 tahun lalu. Apa saja hal-hal yang terjadi dulu dan sekarang. Tidak semua saya tuliskan di twitter, jadinya cerita yang singkat padat jelas saja.

10 tahun lalu, saya masih bekerja di Jakarta, sampai 7 tahun lamanya. Tahun 2009, berarti baru sekitar 4 tahun bekerja di perusahaan tersebut. Lembur sampai dini hari lalu paginya sudah harus siap presentasi. Dulu semangat banget ya, ambisi juga karena ingin mencapai satu posisi dalam departemen yang saya incar. Bersyukur ketika saya berhenti bekerja, jabatan terakhir sesuai dengan yang saya incar. Berasa kerja super keras (dan agak tidak cerdas) ada hasilnya. Membayangkan saya yang dulu, rasanya tidak ingin kembali ke masa itu haha. Kok ya saya kuat dulu hidup seperti itu. Benar-benar capek lho. Belum lagi jadwal  perjalanan bisnis yang padat merayap. Dalam waktu sebulan, 3 minggu saya perjalanan bisnis dan satu minggu di kantor. Ah masa-masa itu, memang nikmat untuk dikenang tapi jujur saya tidak ingin kembali ke masa itu. Walaupun saya bersyukur dalam rentang umur 20an digunakan secara maksimal. 10 tahun lalu saya bahagia dalam kondisi tersebut karena itulah yang saya inginkan. Meskipun mungkin bahagianya lebih ke arah duniawi. Mengejar ambisi.

10 tahun kemudian, siapa yang menyangka bahwa saya akan hidup di Belanda, melewati 4 tahun dengan banyak cerita. Saya dengan pilihan hidup saat ini, bahagia lebih ke arah spiritual. Lebih sadar dengan setiap langkah yang saya jalani. Lebih banyak bersyukur dengan segala apa yang ada dengan emosi yang lebih tertata. Jika dibandingkan 10 tahun lalu, saat ini saya lebih merasa bahagia.

Popeye Village, Malta
Popeye Village, Malta

Pencapaian yang saya raih lebih ke arah dalam. Tidak ada rasa ingin menonjolkan apapun. Sekarang terasa bahwa segala perjalanan yang telah saya tempuh selama ini benar-benar mendewasakan dalam arti sebenarnya. Segala keluh kesah, emosi, rasa gembira, suka cita lebih tau cara mengelolanya. Dulu selalu menggebu-gebu dalam hal apapun, bahkan menuangkan di media sosial. Segala apa yang ada di pikiran, dari caci maki, nyinyir sampai hal yang menggembirakan tumpah ruah di media sosial. Sekarang saya lebih tahu diri. Buat apa meluapkan hal-hal yang tak menguntungkan, hanya emosi sesaat. Lebih baik saya pergunakan energi untuk sesuatu yang membuat saya gembira.

Penerimaan terhadap diri sendiri juga membuat perjalanan hidup selama 10 tahun terakhir menjadi berwarna. Menerima bahwa tidak semua hal harus sesuai pengharapan. Jatuh bangun, segala air mata dan tawa yang menghiasi langkah kaki membuat saya saat ini bisa menerima sesuatu yang kadang sudah direncanakan dengan baik tapi meleset sampai tak nampak lagi jejaknya. Badan yang tak lagi sama seperti dulu, namun jiwa yang lebih bahagia dibandingkan 10 tahun lalu.

Mereka yang mengenal saya dengan baik sering bilang saat ini saya lebih tertutup. Ada benarnya, karena hidup saya pun saat ini sudah berbeda. Lebih tepat jika dikatakan saya sengaja membuat dan menjaga jarak. Tak mengapa jika ada bisik-bisik tetangga yang mengatakan saya lupa akar. Apapun yang orang katakan diluar sana, selama tidak mengganggu keluarga saya, silahkan.

Jika ada yang bertanya, mana yang lebih saya pilih. Saat ini atau saya yang 10 tahun lalu? Saya memilih untuk tidak memilih. Saya yang saat ini adalah hasil dari perjalanan 10 tahun lalu. Masing-masing fase hidup saya jalani dengan penuh kesadaran. Tubuh yang tak lagi sama bentuknya, pun saya jalani dengan rasa gembira dan penuh sadar. Nanti, jika memang waktunya sudah tiba, tubuh ini akan kembali seperti yang saya inginkan. Namun, penerimaan diri bahwa rasa bahagia melalui banyak pembelajaran, itu yang lebih utama. Tak lagi membandingkan pencapaian diri dengan hal lain diluar sana. Sebagai motivasi, boleh. Namun bukan sebagai hal yang malah membuat diri merasa jauh dibelakang.

Saya tidak pernah berangan-angan untuk kembali lagi seperti 10 tahun lalu. Disetiap fase hidup, saya selalu berusaha untuk menjadi pribadi paling baik menurut versi saya. Bukan untuk memuaskan orang lain, karena akan capek pada akhirnya. Saat ini saya bahagia dengan apa yang telah saya lalui dan apa yang terjadi saat ini. Semoga saya dapat menjadi versi terbaik yang saya bisa.

-Nootdorp, 14 Maret 2019-

 

Buku-Buku yang Tuntas Dibaca Tahun 2018

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018

Akhirnya kesampaian juga menuliskan di blog tentang buku-buku yang tuntas dibaca. Setiap tahun memang niatnya ingin rajin mendokumentasikan di blog tentang buku-buku apa saja yang tuntas dibaca, tapi apa daya selama ini hanya wacana belaka. Mumpung sekarang lagi rajin, jadi didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Jadi kalau dibaca lagi, bisa memotivasi untuk tetap dan semakin semangat membaca ditengah kesibukan sehari-hari.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, buku yang saya baca bukan hanya fiksi saja tetapi juga nonfiksi. Bukan hanya dalam bahasa Indonesia saja tapi juga bahasa Inggris (tahun sebelumnya malah rajin baca novel bahasa Belanda, sekalian belajar buat ujian).

BUKU FIKSI

Dari daftar buku fiksi, akhirnya saya membaca juga bukunya Eka Kurniawan. Padahal saya sudah punya dua buku ini sejak tahun 2016, tapi baru ada niatan membaca tahun 2018. Ternyata oh ternyata, saya langsung jatuh cinta dengan gaya penulisan dan berceritanya. Suka sekali!. Jadi menyesal kenapa telat bacanya. Saya pikir dulu itu gaya bertuturnya akan berat, eh ternyata tidak sama sekali. Nyastra sih tapi masih bisa mengikuti alur ceritanya dengan baik. Jadi ingin membeli buku Eka Kurniawan yang lainnya. Padahal saya sudah bertemu dengan Beliau sewaktu di Belanda, minta tanda tangan dibukunya, eh baru dibaca haha.

Jika buku Laksmi Pamuntjak sebelumnya yang berjudul Aruna dan Lidahnya membuat saya bosan sekali kecuali bagian cerita kulinernya, tidak dengan buku Laksmi yang berjudul Amba. Buku ini bisa menghipnotis saya dengan cerita fiksi yang dipadukan dengan sejarah. Seperti tidak rela berhenti sejenak tapi juga tidak rela cepat-cepat selesai. Sama rasanya ketika saya membaca semua tulisan Leila S.Chudori.

Kalau buku fiksi lain yang saya suka adalah Resign! Dari halaman awal, sudah mempesona ceritanya. Menarik, unik, lucu, dan segar. Mungkin karena ada kesamaan cerita yang pernah saya alami sewaktu bekerja di Jakarta selama 7 tahun (terutama bagian lemburnya), jadi sangat menikmati cerita dalam buku ini. Sayang ketika hampir selesai, jalan ceritanya terlalu seperti dipaksakan untuk berakhir. Tidak smooth. Kabarnya buku ini akan difilmkan, semoga sebagus bukunya atau lebih bagus dari bukunya.

Buku fiksi yang agak mengecewakan adalah Dilan. Saya sudah berharap terlalu tinggi dengan cerita dalam buku ini karena gaungnya di tanah air sangat kencang apalagi filmnya yang dielu-elukan. Ternyata membaca dua bukunya, tidak sesuai yang saya harapkan. Bukan tipe buku yang ingin saya baca. Ternyata saya bukan fans Dilan. Biasa saja.

BUKU NONFIKSI

Buku nonfiksi tahun lalu yang saya baca selain masih seputaran parenting juga ada topik lainnya misalkan tentang industri makanan dan revolusinya (terutama di Amerika) yaitu buku In Defense of Food. Dari buku ini saya jadi tahu tentang fakta-fakta industri makanan yang jarang terkuak (atau memang sudah jadi rahasia umum hanya saja saya yang tidak tahu). Misalkan tentang sapi-sapi yang dibiakkan secara instan supaya bisa lebih cepat dipotong salah satunya dengan digelonggong (kalau ini ada juga ya di Indonesia) atau disuntik atau ditempatkan di kandang yang sangat kecil dan sumpek. Bacanya jadi miris sendiri.

Nonfiksi favorit saya adalah The Childhood roots of adult happiness. Saya sampai memberi bintang lima untuk buku ini. Berkali-kali dibahas betapa pentingnya mengajak anak untuk sebanyak mungkin bermain di alam, bersinggungan dengan alam dan benar-benar meniadakan (tidak memperkenalkan terlebih dahulu) paparan teknologi (misalnya TV, gadget dll) untuk usia tertentu (dibawah dua tahun). Contoh yang diberikan misalnya di Jerman, anak-anak selalu diajak bermain di luar rumah minimal 1.5 jam setiap hari apapun musimnya. Jadi tidak ada alasan hujan tidak bermain di luar. Bukan musimnya yang salah, tapi memakaikan pakaian yang tepat untuk setiap musim, jadi anak-anak tetap bisa bermain di luar. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang tertarik membaca tentang parenting.

Imperfection juga jadi favorit karena saya seperti ditarik ke belakang jaman pencarian jati diri. Cara bertutur penulis di buku ini tidak menggurui karena memang berdasarkan pengalaman semasa masih dalam taraf pencarian jati diri dan menerima segala kekurangan yang ada, menjadikannya sebagai bahan lecutan untuk menjadi lebih baik. Terbaca klise ya,tapi tulisannya membuat saya malas untuk berhenti sejenak membaca buku ini. Inginnya langsung selesai, saking menariknya.

Satu lagi yang menjadi favorit saya adalah Jatuh Hati Pada Montessori. Di buku ini tidak dijelaskan tentang teori Montessori melainkan pengalaman penulis sebagai praktisi Montessori yang mendirikan sekolah berbasis Montessori. Banyak sekali motivasi terselip disetiap ceritanya dan membuat saya berdecak kagum juga akhirnya jadi termotivasi untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

BUKU FIKSI DAN NON FIKSI

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018
Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018
Tiga buku parenting yang tidak ada di goodreads
Tiga buku parenting yang tidak ada di goodreads

BUKU CERITA ANAK

Selain buku-buku di atas, saya juga membeli dan membaca beberapa buku cerita anak bahasa Indonesia. Di rumah kami, untuk buku cerita anak memang difokuskan dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia karena sehari-hari kami aktif menggunakan dua bahasa tersebut. Untuk bahasa Inggris, kami tiadakan dulu. Karenanya koleksi buku cerita anak di rumah saat ini dalam dua bahasa tersebut. Dua penulis cerita anak favorit saya sampai saat ini adalah Clara Ng dan Watiek Ideo. Topik yang diangkat dalam karya tulisan merekapun beragam tapi saya senang membaca tentang toleransi dan perbedaan dalam hubungan pertemanan. Jelajah kota pun jadi salah satu buku favorit saya selain rangkaian kisah dari Nusantara (Kisah dari Alor, Kisah dari Sumba, dan Kisah dari Banggai).

Karena bahasanya yang sederhana, suami saya jadi suka juga membacanya dan jika ada kalimat atau kata yang dia tidak mengerti, langsung bertanya apa artinya. Saat ini, kemampuan berbahasa Indonesia suami jadi lebih meningkat dibanding sebelumnya. Semakin banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mampu dia ingat dan ucapkan dan juga bisa merangkai kalimat panjang. Lumayan kan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak

BUKU RESEP MASAKAN

Sejak mempunyai buku resep masakan karya Junita (Xander’s kitchen), saya jadi selalu mempunyai ide mau memasak apa. Biasanya pagi hari saat sarapan, saya mencari ide akan masak apa hari itu dengan membuka buku resep ini dan membolak baliknya, mencari apa yang sesuai dengan bahan yang saya punya di kulkas. Benar-benar membantu sekali dengan keberadaan buku ini.

Sebenarnya saya juga nitip ke sepupu untuk dibelikan buku Icha Irawan, karena tertarik ada resep kue kue juga. Eh ternyata laku keras terus.

Tidak hanya buku resep masakan dewasa yang jadi favorit saya tahun lalu, juga buku resep mpasi BLW.

Buku resep masakan penolong kalau lagi males mikir mau masak apa
Buku resep masakan penolong kalau lagi males mikir mau masak apa

Itulah cerita buku-buku yang tuntas saya baca ditahun 2018. Jadi ada 34 buku yang saya baca (Seingat saya malah 36 buku, tapi dua lainnya saya kok lupa baca buku apa). Untuk saya pribadi, ini sudah sebuah prestasi bisa membaca buku sebanyak itu tahun lalu mengingat kesibukan sehari-hari yang sepertinya tiada henti. Meskipun setiap tahun target membaca selalu saya pasang 50 buku, dan tidak pernah kesampaian sampai saat ini, tapi bisa membuat saya selalu semangat untuk terus membaca buku.

 

 

Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019

Kalau tadi sudah saya jabarkan dan perlihatkan buku-buku apa saja yang sudah saya baca tahun 2018, di bawah ini adalah buku-buku baru yang sudah nongkrong di ruang perpustakaan kami di rumah. Total ada 30 buku dan kebanyakan adalah Non Fiksi yang kali ini didominasi tentang topik Parenting dan Stoic. Ceritanya saya sedang tertarik memperdalam pengetahuan tentang Stoicisme (awalnya karena membaca Filosofi Teras, jadinya malah sangat tertarik dan pas banget suami saya pernah melakukan penelitian tentang filosofi ini jadi ada beberapa bukunya di rumah).

Semoga semua buku ini bisa saya baca. Target saya bisa membaca 40 buku tahun 2019. Mudah-mudahan bisa ya karena 2019 makin bertambah yang diurus jadi makin sibuk. Sampai saat ini dari buku-buku di bawah ini, sudah 9 buku selesai saya baca dan sekarang sedang membaca buku ke 10. Semangat!

Buku-buku yang rencananya akan dibaca rahun 2019
Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019
xBuku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019
Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019

Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019

Setiap tahun saya selalu rajin membeli buku fisik, ada buku-buku yang ingin saya koleksi, ada yang tidak ingin saya simpan lagi. Karenanya, setiap tahun saya selalu rajin menyortir buku-buku apa saja yang harus keluar dari rumah kami. Karena sesuai dengan prinsip yang saya anut sejak kecil : jika membeli satu barang, minimal satu barang harus keluar dari rumah. Hal tersebut berlaku juga untuk buku. Jadi awal tahun saya sudah woro-woro di twitter dan grup whatsapp, buku-buku apa saja yang saya tawarkan untuk dikirim seputar Eropa. Gratis hanya ganti ongkos kirimnya saja. Selain 25 buku di bawah yang ternyata laris manis sudah menyebar ke beberapa negara di Eropa, buku-buku tentang kehamilan, parenting dan perbayian yang pernah saya tulis di sini, juga saya berikan kepada kenalan yang lebih membutuhkan. Supaya manfaatnya terus mengalir. Jadi lumayan, rak buku di rumah jadi tidak penuh.

Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019
Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019

 

Begitulah cerita panjang saya seputar buku. Semoga apapun kondisinya, saya selalu punya semangat dan waktu untuk tetap membaca buku. Karena tahun 2019 ini salah satu komitmen saya adalah lebih mengurangi aktivitas bermedia sosial dan blogging, itu kenapa produktivitas membaca buku saya rasakan jadi meningkat.

Kalau kamu, setiap tahun punya target membaca tidak? Lebih suka membaca buku fiksi atau nonfiksi?

-Nootdorp, 5 Maret 2019-

Akhir Musim Dingin (yang Hangat)

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Hari ini adalah terakhir musim dingin. Besok sudah mulai masuk Maret yang artinya musim semi. Beberapa hari terakhir (tepatnya sejak sabtu minggu lalu), cuaca mulai menghangat sampai 18ºC. Agak aneh sih untuk ukuran musim dingin. Aneh dan membingungkan. Meskipun tak dapat dipungkiri saya senang ya dengan suhu hangat seperti ini yang artinya hasrat petakilan bisa tersalurkan, tapi saya juga khawatir bagaimana dengan musim panas nanti. Karena tahun kemaren, saya ingat betul suhu mulai menghangat ketika memasuki awal April dan musim panas benar-benar parah panasnya dan berlangsung panjang. Jadi kalau akhir Februari saja sudah mulai menghangat, siap-siap musim panas tahun ini akan lebih panjang, lama dan makin panas.

Karena sepupu saya sudah datang sejak minggu kemaren (dan akan tinggal di sini sampai tiga bulan ke depan) dan cuaca sedang hangat, maka saya ajak dia untuk jalan-jalan ke kota-kota sekitar Den Haag. Dimulai dengan ke pasar Haagse Markt haha. Ya karena dekat dengan rumah dan saya ingin menunjukkan ke dia bagaimana pasar tradisional di Belanda ditambah lagi memang ada banyak yang akan saya beli. Pengalaman pertama dia jalan-jalan di Belanda, ke pasar. Dia sampai terbengong melihat betapa pasar ini luas sekali dan betapa ragam barang yang dijual banyak. Dari pasar becek sampai pasar kering. Dan tentu saja membandingkan harga dengan di Indonesia.

Hari Sabtu saya ada acara di Gouda. Undangan kumpul-kumpul dari anggota Mbakyurop cabang Belanda. Tapi sejatinya yang datang malah bukan hanya dari Belanda tapi juga dari Belgia, Jerman, dan Perancis. Waahh seruuu kumpul-kumpul kali ini karena bukan hanya pasokan makanan yang melimpah ruah, tapi juga berkesempatan bertemu beberapa orang yang selama ini hanya ngobrol lewat whatsapp saja. Rurie sebagai tuan rumah (pemilik katering @kioskana -akun IG nya-), benar-benar menjamu kami dengan suguhan masakan yang enak sekali. Belum lagi tambahan yang lainnya juga membawa makanan. Makin melimpah ruahlah makanan sampai acara bungkus membungkus saat waktu pulang tiba, bingung mau bawa pulang apa saking banyaknya haha.

Saya pun bertemu lagi dengan Anis setelah terakhir ketemu lebih dari satu tahun lalu saat Anis ke rumah. Diberi hadiah lagi oleh Anis, jadi senang saya haha. Terima kasih ya Anis. Bertemu lagi juga dengan Maureen dan Patricia. Wah pokoknya ramai dan seruuu sabtu lalu. Tidak hanya makan-makan di rumah, kami juga menyempatkan ke pusat kota Gouda yang hanya selemparan kolor dari rumah Rurie. Rombongan rame-rame ke sana jadi seperti rombongan turis. Dan kok ya pas ada pasar di pusat kotanya. Saking berkesannya acara kemaren, kami sudah membuat rencana lagi ketemuan selanjutnya di mana. Tidak Sabar!

Keriaan di Gouda
Keriaan di Gouda

Beberapa hari kemudian berturut-turut saya (bersama sepupu saya tentu saja) menjelajah beberapa kota. (Delft, Den Haag, Rotterdam) sejak pagi sampai sore baru kembali ke rumah. Jadi kalau dihitung, total jalan kaki kami perhari minimal 10km dan sampai 15km. Lumayanlah melemaskan kaki. Senang sekali saya bisa mengajak dia keliling dengan cuaca cerah seperti ini. Sekaligus menjelaskan sistem transportasi di Belanda, jadi nanti kedepannya dia bisa jalan-jalan sendiri keliling Belanda bahkan ke negara tetangga.

Tujuan kami sewaktu ke Rotterdam adalah Markthal dan Rumah Kubus. Sewaktu kami ke sana, ada pasar rame sekali. Saya pikir pasar kaget. Ternyata kata Yayang itu namanya pasar Blaak dan memang selalu ada setiap hari selasa dan sabtu. Owalaahh saya baru tahu itu namanya pasar Blaak padahal sering dengar haha. Sayang sekali saya tidak janjian dengan Yayang padahal waktu itu ternyata berada di lokasi yang sama dengan dia dan si Kembar. Volgende keer ya Yang!

Lalu kami ke Den Haag, muter-muter pusat kota, menunjukkan Binnenhof dan danaunya lalu berakhir cari makan di restoran Indonesia. Saya makan bakso beranak (pake nasi), sepupu saya makan soto betawi. Bakso beranaknya rasanya ya biasa saja. Malah enak bakso buatan Rurie.

Keesokan harinya, karena saya ada jadwal ke RS di Delft, jadi sekalian saya ajak sepupu ke Delft. Kota favorit saya ini. Tempat nongkrong favorit, depan gereja sambil berjemur menikmati sinar matahari. Intinya saya benar-benar memanfaatkan sinar matahari yang cerah ceria beberapa hari ini.

Jalan - jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft
Jalan – jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft

Ada satu cerita kocak saat kami ke Markthal yang ada di Rotterdam. Ada satu stan yang menjual buah-buah tropis. Lebih lengkaplah dibandingkan Haagse Markt buah tropisnya sampai Manggis dan salak pun ada. Nah, saya tunjukkan ke sepupu sambil bilang harganya sekian per buahnya. Dia berkali-kali istighfar melihat harganya. Shock sambil bilang “Buset dah, ketelen itu ya makan Manggis seperempat kilo harganya €5, buah naga satu biji harganya €4. Di sana mah rambutan tinggal petik di halaman, buah naga sekilo ma belas rebu. Set dah! Ntar balik ke sana aku ga akan sia siakan lagi buah buahan ini. Ingat-ingat harga di sini” Hahaha langsung tobat dia. Saya terus terang meskipun ngiler-ngiler ingin makan buah naga sejak pertama kali tinggal di sini, tapi ga pernah kesampaian karena melihat harganya mendadak langsung kenyang. Nanti pas liburan ke Indonesia, saya puas-puasin makan apa yang tidak kesampaian makan di sini karena mahal. Maka bagi kalian yang tinggal di Indonesia, berlimpah ruah buah-buah tropis lokal, manfaatkanlah dan bersyukurlah dengan makan buah sebanyak-banyaknya. Ingatlah kami di sini terkadang cuma bisa ngiler menahan hasrat untuk beli karena harganya mahal.

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya
Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Itulah sekilas cerita seminggu terakhir musim dingin tahun ini. Maret akan datang, saya antusias menyambutnya. Mudah-mudahan meskipun cuaca jadi tidak karuan begini, musim panas nanti tidak menyengat sekali. Pada foto di bawah ini, perbedaan musim dingin tahun lalu dibandingkan tahun ini pada tanggal yang sama. Tahun lalu bersalju dan tahun ini suhu hangat 11ºC. Ngeri ya, pemanasan global itu nyata.

Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda
Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda

Selamat hari Jumat, selamat berakhir pekan, semoga keberkahan dan kebahagiaan menyertai kita semua. Selamat datang Maret!

-Nootdorp, 28 Februari 2019-

De Haagse Markt Den Haag – Salah Satu Pasar Tradisional Terbesar di Eropa

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada

Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang Haagse Markt di sini . Pada tahun 2015 tersebut, pasar ini belum direnovasi secara besar-besaran. Selang beberapa waktu kemudian Hagse Markt mengalami renovasi selama beberapa bulan. Hasilnya, pasar ini semakin bagus dan tertata rapi.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada

Sesuai namanya, De Haagse Markt yang artinya pasar Den Haag, letaknya berada di kota Den Haag, Belanda. Pasar Tradisional ruang terbuka ini terbesar se-Belanda dan salah satu terbesar se-Eropa. Panjangnya lebih dari 500 meter dengan jumlah stan tak kurang dari 500. Stan-stan yang ada di sini merupakan pertemuan dari berbagai budaya. Karenanya, Haagse Markt juga disebut sebagai pasar pertemuan berbagai macam budaya. Dari Asia (Thailand, Indonesia, Vietnam, Malaysia dll), Turki, Belanda, Maroko dan masih banyak lainnya.

Stan-stan yang ada di sini tidak hanya menjual sayuran, buah, daging ataupun ikan. Bukan hanya pasar basah, melainkan juga pasar kering seperti menjual kain, mainan anak-anak, berbagai macam warung makanan jadi, toko menjual baju-baju muslim. Istilahnya pasar ini komplit se komplit-komplitnya. Mau apapun ada. Yang saya sertakan fotonya dalam tulisan kali ini adalah pada bagian pasar basah karena biasanya kalau ke pasar ini, saya langsung menuju bagian belakang pasar yaitu pasar basah.

Pengunjungnya, kalau hari biasa bisa mencapai 40.000 orang dan akhir pekan bisa mencapai 60.000 orang.

Di Haagse Markt, selain bisa dijumpai berbagai sayuran yang tidak asing bagi saya yang datang dari Indonesia seperti daun kelor, klentang, kluwih, sampai belimbing wuluh. Harganya pun sangat terjangkau dibandingkan dengan supermarket tentunya. Bahkan super murah. Ada banyak sayuran dan buah yang ditaruh tempat, di sini menyebutnya “bak” itu harganya 1 euro. Tidak memandang berapapun banyaknya selama ditaruh dalam bak, harganya 1 euro (seperti dalam foto-foto di bawah). Awal ke Haagse Markt, saya sering kalap membeli yang serba 1 euro ini. Lama-lama sudah bisa menguasai diri, tidak gampang khilaf lagi haha.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro

Haagse Markt buka setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Konon katanya kalau sudah sore, banyak sayur dan buah yang diobral harganya jadi super murah. Saya tidak pernah ke pasar ini sore karena biasanya jam setengah 10 pagi saya sudah sampai di sini. Karena semakin siang, semakin ramai. Saya menghindari pasar ramai karena gampang pusing kalau lihat orang banyak.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kelengkeng dan belimbing? Jangan khawatir, adaa
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kelengkeng dan belimbing? Jangan khawatir, adaa
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kluwih dan sukun? Adaa
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kluwih dan sukun? Adaa
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Salah satu stan langganan karena bisa beli cabe rawit 1kg hanya 4 euro saja. Surga!
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Salah satu stan langganan karena bisa beli cabe rawit 1kg hanya 4 euro saja. Surga!
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Salah satu stan langganan yang lain karena hanya di stan ini yang menjual belimbing wuluh
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Salah satu stan langganan yang lain karena hanya di stan ini yang menjual belimbing wuluh
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Daun kelor pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Daun kelor pun ada

Pasar ini terletak di area Herman Costerstraat, Den Haag. Tahun 2018 Haagse Markt tepat 80 tahun sejak berdiri tahun 1938. Menuju pasar ini sangatlah mudah karena dilewati oleh tram no. 6, 11, 12 dan bus 25 turun di Halte Haagse Markt (bagian depan pasar). Dan bisa juga dengan tram no. 11, 12 dan bus no 50, 51 turun di halte Hoefkade (bagin belakang pasar). Selain menggunakan transportasi umum, parkir sepeda di pasar ini juga sangat besar serta gratis. Parkir kendaraan pribadi juga sangat luas.

Selain bagian sayuran dan buah, salah satu bagian favorit saya lainnya adalah stan-stan yang menjual ikan-ikan segar. Tips yang saya dapat dari penjual ikan di sini, ikan segar datang setiap hari Jumat. Jadi biasanya hari Jumat ikan-ikan yang dijual masih segar langsung datang dari pelabuhan. Tips yang lain, ada banyak ikan yang dijual murah dalam bak, itu harganya 5 euro. Yang dalam bak ini juga ikan-ikan segar. Kategori ikan segar di sini maksudnya yang masih belum masuk freezer.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ikan lele pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ikan lele pun ada

Nah, yang terakhir ini juga stan favorit saya. Penjual daging halal, karena di stan ini bisa pesan bagian-bagian seperti di Indonesia seperti otak sapi, babat, lidah, paru, bahkan kaki sapi. Saya tidak pernah pesan bagian -bagian tersebut. Tapi saya sering beli bebek yang sama kayak di Indonesia dan ceker ayam di sini. Otak sapi pernah beli juga untuk saya masak gulai, tapi bukan saya yang makan karena tidak doyan

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Penjual daging halal
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Penjual daging halal
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Penjual daging halal. Lidah sapi dan kaki sapipun mulus putih haha
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Penjual daging halal. Lidah sapi dan kaki sapipun mulus putih haha

Bagaimana, serasa bukan di Belanda ya pasarnya. Sama lah dengan pasar becek di Indonesia cuma di sini lebih bersih dan rapi. Ini saya bandingannya dengan pasar becek di kota saya berasal. Kalau di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, pasar beceknya sudah bersih dan rapi kayaknya. Saya sangat senang dengan keberadaan Haagse Markt. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami, harganya yang murah, juga jadi tempat pelipur lara kalau lagi bosan di seputaran rumah. Saya biasanya ke sini cuma beli beberapa barang, selebihnya jalan-jalan saja keliling pasar. Pulang-pulang hati sudah riang gembira. Saya juga sering mempromosikan pasar ini ke teman-teman dan kenalan yang di Belanda. Mereka tertarik, datang, dan kalap ingin dibeli semuanya. Bahkan sewaktu Ibu selama 3 bulan di rumah kami, sering ke pasar ini sendirian naik tram. Biasa di desa ke pasar kan ya, begitu tau ada pasar tradisional di Belanda, jalan-jalannya tetap ke pasar haha. Jangan lupa kalau misalkan lewat Den Haag, kunjungi pasar ini. Pesan saya cuma satu, jangan kalap!

Muka gembira bersama teman yang kena kompor datang dari Rotterdam khusus ke Haagse Markt. Saya gembira ada daun kelor, dia gembira karena bisa beli kedondong dan terong hijau. Gembira itu gampang ternyata haha
Akhir tahun 2018. Muka gembira bersama teman yang kena kompor datang dari Rotterdam khusus ke Haagse Markt. Saya gembira ada daun kelor, dia gembira karena bisa beli kedondong dan terong hijau. Gembira itu gampang ternyata haha

Satu yang saya rindukan, setelah belanja tidak bisa makan soto atau gule atau sate kambing karena tidak ada yang jualan di pasar ini haha. Kalau di Indonesia, biasanya setelah belanja bisa ke bagian penjual makanan lalu marung Soto atau sate atau gulai kambing haha. Duh kok jadi lapar malam-malam gini ngomongin gulai kambing. Ada sih di pasar ini warung Indonesia, bahkan menunya ada dawet juga. Ya disyukuri saja yang ada depan mata. Masih untung bisa makan es dawet, ya kan.

-Nootdorp, 17 Februari 2019-

Minibieb : Perpustakaan Mini di Belanda

Minibieb

Dalam bahasa Belanda, perpustakaan adalah Bibliotheek atau sering disingkat Bieb (baca : Bib). Nah jika diartikan, Minibieb adalah perpustakaan mini. Maksudnya gimana nih? Jangan dibayangkan perpustakaan mini adalah sebuah ruangan kecil yang penuh dengan buku dan kita bisa meminjam buku-buku tersebut. Perpustakaan mini di Belanda adalah sebuah lemari kecil berkaca (biasanya dua atau tiga rak atau bahkan ada yang lebih besar) yang di dalamnya berisi buku-buku (kebanyakan dalam bahasa Belanda). Lemari buku ini dibuat oleh perorangan atau komunitas atau bahkan perusahaan dan diletakkan di tempat-tempat strategis yang dilewati orang-orang, misalnya di pinggir jalan besar, depan rumah, pojokan jalan  bahkan di taman bermain luar ruangan atau tempat di ruang publik lainnya. Yang saya lihat selama ini seringnya diletakkan di depan rumah orang yang mempunyai inisiatif membuat minibieb.

Minibieb
Minibieb di depan rumah

Lemari kaca yang berisi buku-buku ini tidak dalam keadaan terkunci. Jadi siapa saja bisa meminjam dan mengembalikan kapanpun setiap saat. Bahkan, siapapun juga bisa meletakkan buku yang sekiranya sudah tidak ingin mereka simpan lagi di rumah. Karena tidak dikunci, jelas sistemnya saling percaya. Yang meminjam nanti akan mengembalikan lagi jika sudah selesai membaca, yang mempunyai minibieb percaya bahwa buku-buku yang diletakkan akan dikembalikan atau bahkan diganti dengan buku lainnya. Apakah pernah ada kejadian minibieb ini dicuri atau tiba-tiba menghilang? Yang saya tahu, tetangga dekat rumah pernah kehilangan minibiebnya. Tapi beberapa hari kemudian ditemukan di sungai dekat rumah juga. Buku-buku masih ada lengkap di dalamnya. Jadi tidak tahu sebenarnya motivasi orang yang mengambil minibieb ini apa. Mungkin kejadian ini hanya satu dari banyak yang aman karena selama ini saya tidak pernah membaca tentang pencurian minibieb.

Minibieb
Minibieb

Lemari kaca bisa dibuat sendiri maupun membeli, tergantung lebih mudahnya bagaimana. Yang saya taruh foto-fotonya di sini adalah minibieb yang ada di sekitaran rumah, jadi lemarinya tidak terlalu besar. Namun beberapa kali saya melihat minibieb yang diletakkan di pinggir jalan raya besar itu lemarinya besar, ya seperti lemari baju berkaca berisi penuh buku. Menurut saya konsep ini sangat menarik. Jadi orang-orang yang kebetulan melewati dan punya keinginan membaca buku tidak perlu jauh-jauh untuk meminjam buku ke perpustakaan. Saya sering meminjam buku di minibieb yang ada di sekitar rumah. Seringnya buku cerita anak. Meskipun jarak rumah ke perpustakaan juga tidak terlalu jauh (hanya sekitar 200 meter dan saya sering ke sana), tapi meminjam buku-buku di minibieb dekat rumah juga mengasyikkan karena ragam bukunya juga banyak.

Minibieb
Minibieb di pinggir jalan untuk sepeda

Seiring makin banyaknya minibieb, sekarang tak kurang ada 900 jumlahnya yang tersebar di seluruh Belanda. Data ini saya baca dari portal berita AD. Tidak hanya jumlahnya yang makin bertambah sejak pertama kali minibieb ada yaitu tahun 2009, namun fungsinya saat ini juga mulai meluas tidak hanya sebagai perpustakaan mini untuk buku. Beberapa lemari kaca ini selain untuk menaruh buku, juga kadang ditemukan beberapa makanan atau bunga atau camilan yang bisa diambil juga secara gratis. Atau kalau misalkan ada yang ingin menaruh makanan di lemari ini juga bisa. Makin menarik saja fungsi dari minibieb dewasa ini.

Minibieb
Minibieb

Saya pernah mengutarakan pada suami tentang keinginan untuk memiliki minibieb di depan rumah. Jadi lumayan bisa menaruh beberapa koleksi buku yang ada di rumah dan bisa dipinjam untuk dibaca oleh mereka yang melintas depan rumah kami. Mungkin tahun depan mulai direalisasikan. Informasi tentang minibieb bisa dibaca pada website resminya.

Ada yang tertarik menerapkan konsep ini di lingkungan tempat tinggalnya? atau mungkin ada yang sudah punya di rumahnya?

-Nootdorp, 10 Februari 2019-

Empat Tahun di Belanda : Tentang Perkembangan Bahasa Belanda

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang

Saat menulis ini, persis empat tahun sejak kedatangan saya di Belanda, untuk pindah dan menetap. Empat tahun berlalu, rasanya seperti baru beberapa bulan lalu saya sampai Schiphol, membawa hampir 60kg koper dan tas dari Indonesia. Memantapkan hati memulai hidup baru di negara yang hanya pernah saya kunjungi sekali sebelumnya, sebagai turis, selama hanya dua minggu. Kedatangan empat tahun lalu berbeda, bukan lagi sebagai turis tetapi sebagai seseorang yang memutuskan meletakkan semua yang ada di Indonesia. Berniat tidak akan menoleh lagi apa yang sudah dirintis, didapat, dan apapun yang sudah dipunya. Memulai segalanya dari nol. Meminimalisir segala keluh kesah jika memang ternyata kenyataan tidak sesuai harapan karena keputusan pindah datang dari diri sendiri. Hidup dan menikmati waktu bersama suami tercinta walaupun saat itu tidak terpikir untuk membangun keluarga lengkap dengan menghadirkan anak. Tidak tercetus keinginan punya anak, pada saat itu.

Empat tahun berlalu. Apakah terasa? satu tahun pertama, sangat terasa. Bukan karena perkara jauh dari keluarga di Indonesia atau rindu akan makanan Indonesia. Saya sudah jauh dari keluarga saat merantau pertama kali sejak umur 15 tahun. Jadi jauh dari keluarga sudah biasa. Kangen dengan makanan Indonesia juga bukan permasalahan utama karena di kota tempat saya tinggal waktu itu, restoran Indonesia tinggal tunjuk jari saja asal bayar setelahnya dan menemukan bahan untuk memasak makanan Indonesia segampang menjentikkan jari tangan. Kendala utama saat itu adalah perbedaan bahasa dan cuaca yang bisa berubah 4 musim dalam satu hari.

Meskipun orang Belanda banyak yang bisa berbahasa Inggris, tapi buat saya belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Belanda adalah harus. Kenapa saya bilang harus? ya karena saya tinggal di sini, sehari-hari bertemu dan melakukan aktivitas dengan penduduk setempat (misalkan ke Supermarket, ke dokter, atau sekedar jalan-jalan ke taman kalau berpapasan saling mengucapkan salam). Selain itu, karena saya harus menyelesaikan ujian integrasi yang hanya diberi waktu 3 tahun sejak kedatangan. Dan tujuan lain kedepannya tentu saja untuk membuka kesempatan mendapatkan pekerjaan seluas mungkin.

Mempelajari bahasa di mana kita tinggal itu banyak keuntungannya. Ya paling nggak kita jadi bisa membaca koran (jadi bisa tahu berita lokal), menonton berita di TV, membaca panduan obat dari dokter, dan tentu saja untuk komunikasi sehari-hari. Itulah kenapa saya benar-benar fokus dan giat memperlancar kemampuan bahasa Belanda saya dengan menggunakan apapun medianya dalam berbagai kesempatan.

Selama sembilan bulan, saya mengikuti kursus bahasa Belanda, setiap hari di rumah berbicara dengan suami menggunakan bahasa Belanda -meskipun belum 100%- (walaupun selama dua tahun terakhir, kami di rumah menggunakan dua bahasa aktif yaitu bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris hanya sesekali saya gunakan kalau kepepet males mikir atau kalau lagi pengen ngomel haha), kalau ke luar rumah tidak takut memulai percakapan dengan bahasa Belanda. Setiap ada yang mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Inggris (biasanya orang Belanda akan ganti menggunakan bahasa Inggris kalau tahu ada yang kesusahan berbicara menggunakan bahasa Belanda), saya selalu jawab : Ik kan alleen mijn moeder taal en Nederlands spreken. Ik kan niet Engels spreken. Artinya : Saya hanya bisa berbicara menggunakan bahasa Ibu dan bahasa Belanda. Saya tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Kenapa saya tidak mau menggunakan bahasa Inggris meskipun saya bisa? Supaya saya tidak terlena dan lebih memacu semangat saya supaya bisa lebih lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, setahun pertama saya isi dengan sering mengikuti kegiatan sukarelawan yang komunikasinya menggunakan bahasa Belanda, sering mendatangi forum-forum diskusi yang menggunakan bahasa Belanda, dan memasuki tahun kedua saya diterima bekerja di tempat yang komunikasinya dengan bahasa Belanda. Dengan cara-cara yang saya sebutkan di atas, lumayan dalam waktu satu tahun saya merasa sudah lumayan berani kapanpun dan dimanapun berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda -kecuali jika berhubungan dengan tenaga medis, dua tahun pertama saya selalu memilih menggunakan bahasa Inggris untuk menghindari kesalahpahaman- dan bisa menyelesaikan ujian bahasa Belanda level B1 dan KNM. Kecuali satu ujian baru selesai tiga tahun kemudian (yaitu ONA. Perihal ujian ONA, saya pernah ceritakan di sini).

PERKEMBANGAN BAHASA BELANDA SAYA SAAT INI

Jadi apakah selama 4 tahun bahasa Belanda saya sudah sangat fasih? oh ya tentu belum haha pembaca kecewa. Bahasa Belanda itu susah kawan, setidaknya buat saya pribadi yang merasa lebih gampang mengerjakan penurunan rumus kalkulus dibandingkan mempelajari rumus tata bahasa Belanda. Bukan hanya tata bahasanya tapi juga kosakatanya yang agak tricky. Meskipun banyak juga kosakatanya yang sama atau mirip dengan kosakata bahasa Indonesia (ini bagian yang memudahkan dalam belajar bahasa Belanda), tetapi lebih banyak lagi kosakata baru yang harus dipelajari. Belajar bahasa itu memang butuh waktu, ketekunan, berkesinambungan, dan banyak praktek tentunya. Belajar bahasa tidak bisa hanya sekedar dihapal rumus tata bahasanya tapi minim praktek, percayalah itu tidak akan berhasil. Belajar bahasa butuh praktek yang banyak. Praktek, praktek, dan praktek. Dari membaca, menulis, mendengarkan, serta berbicara. Jika tidak diasah secara rutin, kapan lancarnya, ya kan?

Nah, bagaimana perkembangan bahasa Belanda saya sekarang ini? Di awal sudah saya tuliskan kalau saya sudah menggunakan bahasa Belanda nyaris di setiap lini kehidupan, kecuali jika berhubungan dengan medis. Bahasa Belanda yang saya gunakan dulu ya levelnya masih tingkatan tawar menawar di pasar, ngobrol dengan tetangga dan kolega kerja, melakukan aktivitas sehari-hari, membaca koran dan majalah dan resep dokter, menulis email, dan wawancara kerja. Tapi sejak dua tahun terakhir, sejak saya mulai sering bersinggungan dengan tenaga medis (dari pihak rumah sakit, dokter, bidan, perawat, pekerja di posyandu), secara tidak sadar saya mulai berani perlahan menggunakan bahasa Belanda. Padahal di sistem yang ada, sudah tertulis kalau saya lebih suka menggunakan bahasa Inggris. Karena itulah, dulu jika saya ada urusan dengan medis, otomatis mereka menggunakan bahasa Inggris karena sudah tertulis di sistem. Tapi sejak dua tahun terakhir, saya perlahan mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda ketika berhubungan dengan tenaga medis baik saat bertemu muka maupun ditelepon. Saya sudah tidak ragu dan takut lagi. Sampai suami ketika mendengar saya berbicara dengan dokter di telepon, kaget sendiri, kok mendadak jadi canggih katanya haha. Ya sebenarnya belum canggih-canggih banget. Cuma sekarang jadi berani. Kalau benar-benar ada penjelasan yang sudah berulangkali dijelaskan tapi saya tetap tidak paham dalam bahasa Belanda, baru saya minta tolong untuk dijelaskan dalam bahasa Inggris. Jadi intinya, level perkembangan bahasa Belanda saya sekarang sudah mulai merambah ke level medis. Lumayanlah buat saya, jadi makin percaya diri meskipun ya masih harus terus belajar mengasah kemampuan dengan tetap belajar dan praktek yang banyak.

Kenapa saya jadi punya keberanian? Karena saya mikirnya sederhana, kalau tidak mulai diniatkan belajar berani, ya kapan beraninya. Lagipula, tidak setiap kesempatan bertemu dengan tenaga medis suami bisa mendampingi. Dari dulu memang saya ini istri lepasan, nyaris dari awal kedatangan, urusan apapun saya urus sendiri. Ya pendeknya, kalau apapun menggantungkan ke suami, malah rugi ke diri sendiri. Jadi tidak berkembang kan kemampuannya.

Dan satu lagi, saya sudah lulus semua ujian integrasi dan sudah menerima diploma. Leganya, empat tahun sudah tanpa tanggungan ujian lagi. Saya mempunyai niat tahun depan ingin ikut ujian bahasa Belanda level B2. Semoga tahun ini bisa khusyuk belajar sehingga niat bisa terealisasikan dan bukan hanya sebatas wacana (seperti biasanya haha).

Bagaimana dengan urusan cuaca? semakin hari saya dan cuaca semakin berteman akrab. Meskipun kalau sedang musim dingin seperti sekarang, ada saja yang bikin saya agak “konslet” haha. Sepet rasanya kalau melihat langit setiap hari warnanya abu-abu. Walaupun jika sedang turun salju, ya saya masih norak lah melihatnya. Khusus hari pertama saja. Hari selanjutnya hati kembali empet karena jalanan jadi super licin. Nah, kalau musim dingin begini harus pintar-pintar memanfaatkan keadaan. Jika cuaca sedang cerah dan langit biru, pasti kami manfaatkan untuk jalan kaki meskipun suhu ya paling banter 3ºC. Satu jam jalan kaki lumayan lho bisa membuat hati gembira.

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.

Diantara suka duka dengan cuaca, saya selalu bersyukur karena masih punya rumah yang hangat untuk berteduh, persediaan makanan sehat yang cukup serta keluarga yang berkumpul dalam keadaan sehat.

Empat tahun yang sebenarnya tidak sebentar tapi terasa sebentar karena saya menikmati setiap prosesnya, jatuh bangun, suka duka dan apapun yang terjadi selama ini. Empat tahun belum berkesempatan untuk bertemu kembali dengan teman-teman dan keluarga di Indonesia. Empat tahun yang penuh perjuangan dan suka cita. Tadi siang (pada tanggal saat menulis), saya memandangi salju yang turun tipis di kampung tempat saya tinggal, sambil berucap syukur atas empat tahun yang terlewati dan berdoa semoga kedepannya makin berkah dengan apa ada sekarang ini. Kesehatan yang baik, keluarga yang mudah-mudahan selalu sehat dan bahagia, dan semoga setiap langkah kedepannya selalu membawa manfaat dan hal-hal positif minimal untuk diri sendiri dan keluarga, syukur-syukur bisa untuk orang banyak.

-Nootdorp, 30 Januari 2019-

Buku-Buku Tentang Persiapan Hamil, Kehamilan, Tumbuh Kembang Stimulasi Bayi, Parenting, dan Mpasi

Fertility Diet

Judulnya panjang ya. Daripada membuat tulisan secara terpisah, saya jadikan satu saja, supaya lebih ringkas. Beberapa waktu lalu, saya baru saja melungsurkan koleksi buku-buku yang berhubungan dengan persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW) kepada seorang kenalan yang tinggal di Eropa dan saya kenal lewat twitter (kami belum pernah bertemu sama sekali). Tidak semua buku yang saya foto dibawah ini saya berikan, ada beberapa yang masih saya simpan karena kedepannya ingin saya baca-baca lagi. Beberapa lainnya saya berikan dan dia dengan senang hati mengadopsinya. Saya juga senang karena buku-buku tersebut mempunyai rumah baru sekarang dan semoga manfaatnya juga terus mengalir.

Nah, daripada mubadzir cuma saya foto-foto saja, maka saya putuskan untuk berbagi cerita di blog tentang buku-buku ini. Saya pernah menuliskan di blog cerita tentang kehamilan pertama yang pada akhirnya keguguran, beberapa tahun lalu. Pada saat keguguran itu, awalnya jelas kami sedih karena kehilangan anak pertama kami. Namun selang beberapa waktu kemudian, saya malah bersyukur bahwa saya keguguran. Pasalnya, saya belum siap memiliki anak pada saat itu. Pengetahuan saya tentang dunia hamil, bayi dan seputar parenting, nol besar. Saya tidak ada persiapan pengetahuan sama sekali. Dan buat saya pribadi, memasuki satu fase penting dalam hidup tanpa persiapan matang, apapun jenisnya, tidak bisa saya lakukan. Minimal, saya tahu gambarannya seperti apa.

Dan alasan lainnya, sebenarnya pada saat itu saya belum yakin apakah benar saya ingin mempunyai anak. Tentang keputusan memiliki anak, sudah saya bicarakan dengan suami pada saat kami belum menikah. Waktu itu, saya bilang bahwa ada kemungkinan besar setelah menikah saya tidak ingin mempunyai anak karena saya merasa tanggungjawab memilik anak itu sangat besar. Kontraknya seumur hidup dan benar-benar keputusan berdua dengan pasangan (terutama saya karena badan dan hormon saya yang akan mengalami perubahan). Suami orangnya santai. Dia menikah dengan saya bukan dengan tujuan memiliki keturunan. Jadi kalaupun akhirnya saya memutuskan tidak punya anak, dia biasa saja. Begitu juga sebaliknya.

Pernah seorang teman di sini, menitipkan bayinya dua kali (waktu itu usia 9 bulan dan 12 bulan) untuk menginap di rumah kami saat akhir pekan. Kalau di sini, sudah biasa bayi-bayi dititipkan kepada teman dengan tujuan supaya bayi-bayi itu bisa beradaptasi dengan lingkungan diluar rumah sendiri dan dengan orang diluar lingkungan keluarga. Nah, selama bayi ini ada di rumah, saya merasa biasa saja haha. Seperti tidak ada naluri keibuan. Bahkan tugas mengganti popok semua dilakukan suami. Saya memang tidak mau mengganti popok terutama untuk urusan poop, jauh-jauh deh. Jadi terhadap bayi yang dititipkan ini, perasaan saya biasa saja, datar.

Dari pengalaman tersebut, saya lalu mempertanyakan lagi ke diri sendiri apakah benar saya ingin mempunyai anak. Karena pada dasarnya saya ini mempunyai jiwa riset yang sangat tinggi, akhirnya saya memperbanyak riset dulu dari buku-buku maupun jurnal-jurnal internasional yang berhubungan dengan kehamilan dan ilmu parenting. Saya mengibaratkan, sebelum memutuskan untuk hamil (kembali), saya perlu mempelajari kisi-kisi ilmunya. Seperti saat akan kuliah, minimal saya tahu mata kuliah apa saja dalam jurusan yang akan saya ambil. Jadi ketika keputusan sudah diambil, tidak ada kata menyesal kemudian dan menikmati segala alur serta perjalannya secara sadar. Berbekal ilmu juga (sebagai salah satu cara mempersiapkan mental), saya bisa memutuskan dengan sadar bahwa saya memang benar-benar mau atau tidak mau punya anak. Jadi keputusan memiliki atau tidak memiliki anak datang dari diri sendiri (bersama pasangan), bukan hanya sekedar ingin tanpa persiapan (lahir batin), apalagi hanya untuk memenuhi standar normal kehidupan pernikahan dalam masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan pernikahan, buat saya, memiliki anak bukanlah sebuah kewajiban tetapi pilihan hidup.

Oke, mari mulai bercerita tentang buku. Semua buku-buku dalam postingan ini saya baca dalam kurun waktu 2016-2018. The Fertility Diet adalah buku pertama yang saya baca setelah riset sana sini tentang jenis makanan apa saja yang dikonsumsi sebelum persiapan hamil. Setelah membaca keseluruhan isi bukunya, ternyata isinya sangat menarik, bukan hanya membahas tentang jenis makanan maupun jenis diet yang bisa dilakukan untuk mereka sebelum hamil, tapi  juga menjelaskan tentang jenis-jenis makanan dan kandungannya secara umum. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang PCOS (Polycystic ovary syndrom), makanan apa saja yang bisa dikonsumsi dan juga diet apa saja yang bisa dilakukan. Buat saya, buku ini penuh penjelasan ilmiah dan penuh riset yang sangat menambah pengetahuan. Buku ini sudah saya berikan kepada seorang teman di Belanda.

 

Fertility Diet
Fertility Diet

Nah dua buku di bawah ini saya baca untuk mengetahui gambaran selama hamil dan ketika melahirkan itu seperti apa. Buat saya, gambaran melahirkan pada saat itu sangatlah menyeramkan. Entah, di kepala saya selama ini yang namanya orang melahirkan itu terbayang menyeramkan. Karenanya saya perlu membaca buku yang minimal memberikan saya pengetahuan tentang hamil, proses selama hamil, persiapan melahirkan dan melahirkan secara sadar. Dan dua buku ini cukup membuka gerbang pengetahuan dan memenuhi rasa ingin tahu saya tentang hal tersebut.

Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar
Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar

Mempersiapkan dan menjalani kehamilan bukan hanya tugas perempuan, dalam hal belajar dan mencari informasi. Yang namanya hamil, dibuatnya berdua, maka segala persiapan, belajar dan apapun itu juga dilakukan berdua, sampai anak lahir nantinya. Dua buku di bawah ini bukan hanya saya yang baca, tetapi suami juga.

Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar
Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar

Kalau buku What to Expect ini semacam bible nya orang hamil ya. Bukunya tebal sekali. Meskipun ada aplikasinya yang juga saya unduh, tapi bukunya lebih lengkap dibandingkan apa yang dikirimkan lewat aplikasi. Kalau buku resep masakan dari Annabel Karmel bukan hanya menyajikan resep masakan saja, tetapi juga mengupas nutrisi yang terkandung dalam jenis makanan yang bisa menunjang kehamilan sehat untuk Ibu dan bayi. Resep masakannya enak dan cepat masaknya.

Panduan selama kehamilan
Panduan selama kehamilan

Nah setelah membaca buku-buku sampai masa kehamilan, saatnya membaca buku-buku yang berhubungan dengan bayi. Buku yang sebelah kiri itu juga ada unduhan aplikasinya, tapi versi buku lebih lengkap. Sedangkan buku How Smart Is Your Baby isinya tentang stimulasi apa saja yang bisa diberikan pada bayi demi menunjang tumbuh kembangnya secara maksimal dan memaksimalkan kemampuan bayi sejak hari pertama lahir. Saya sangat merekomendasikan buku ini karena buat saya buku ini seperti membuka mata bahwa apa yang selama ini oleh orang tua (jaman dulu) tidak boleh dilakukan kepada bayi, sebenarnya bisa dilakukan karena ada dasar risetnya.

Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak
Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak

Tiga buku di bawah ini sudah masuk kepada buku parenting. Dua buku parenting yang berhubungan tentang Belanda, benar-benar memberikan banyak pengetahuan kepada saya tentang cara mendidik anak (dari lahir sampai masuk sekolah) di Belanda. Minimal saya tahu, ketika memiliki anak di Belanda, lingkungannya seperti apa, persiapannya apa saja, pendidikannya bagaimana. Apalagi saat membaca buku The Happiest Kids in The World, saya manggut-manggut. Jadi tahu kenapa anak-anak kecil di Belanda. misalnya kalau masuk sekolah selalu mukanya sumringah tanpa keterpaksaan, bagaimana orangtua di Belanda mengajarkan anak-anaknya mandiri dalam hal makan dan tidur sejak bayi dan masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini tentang parenting di Belanda (yang dibandingkan dengan parenting di Amerika dalam beberapa aspek). Sedangkan buku The Childhood roots of adult happiness juga bagus sekali. Intinya, anak harusnya sering-sering diajak main diluar ruangan, diperkenalkan dengan alam, distimulasi sebanyak mungkin berdekatan dengan alam (misalnya main pasir dengan kaki telanjang atau sering-sering menginjak rumput, main tanah) dan seminim mungkin terpapar oleh teknologi (misalkan TV, Hp dan gadget lainnya). Saya senang sekali membaca buku ini, banyak quote-quote menarik.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Buku-buku parenting selanjutnya dalam bahasa Indonesia. Ini juga isinya bagus-bagus. Jatuh hati pada Montessori isinya berbeda dengan buku-buku montessori lainnya. Buku ini menuliskan bukan tentang teori montessori tetapi pendekatan montessori dalam mengasuh anak dan memaksimalkan kemampuan anak sejak usia dini. Saya merekomendasikan buku ini jika ingin belajar tentang pendekatan montessori dari kacamata yang berbeda. Buku Adhitya Mulya juga favorit saya. Banyak poin poin dalam ceritanya yang saya amini (karena saya mengalami sendiri), meskipun beberapa poin lainnya saya tidak sepaham. Tapi secara keseluruhan, buku ini bagus. Sedangkan dua buku lainnya, ditulis oleh pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia, juga favorit saya.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Nah, buku ini sebenarnya bukan buku tentang parenting (menurut saya), melainkan bercerita tentang pengalaman mendidik sejak bayi seorang anak namanya Kirana. Saya tidak mempunyai IG, jadi saya tahu tentang buku ini malah dari twitter. Meskipun bukan buku parenting, tapi cerita yang dituliskan secara mengalir dan enak dibaca, bahkan ada beberapa bagian yang membuat saya menangis, banyak memberikan pelajaran berharga.

Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga
Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga

Tiga buku terakhir ini adalah buku Mpasi dengan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya tertarik mempelajari metode ini lebih lanjut karena metode ini sebenarnya bukan metode yang baru, sudah diterapkan sejak jaman dulu (bahkan di Indonesia pun). Intinya, bayi diperkenalkan dengan makanan solid sejak awal dia mulai makan. Bayi diberikan kebebasan menentukan sendiri sebanyak apa makanan yang masuk dalam tubuhnya berdasarkan kenyang yang dia rasakan serta bayi sejak awal sudah dibiasakan makan sendiri dengan makanan dalam bentuk asli. Kalau di Belanda, bayi mulai bisa diperkenalkan dengan makanan sejak umur 4 bulan (tanpa adanya indikasi medis). Buat saya, metode BLW ini sangatlah membantu dan cocok. Membantu karena tidak perlu selalu menyuapi dan mengajarkan anak mandiri sejak awal dan jadinya tidak picky eater karena sudah diperkenalkan makanan dalam bentuk asli sejak awal dari berbagai variasi makanan, bahkan yang sekiranya menimbulkan alergi (di stop dulu untuk beberapa waktu, nanti diberikan lagi untuk melihat apakah tetap menimbulkan alergi ataukah tidak).

Buku Panduan Mpasi Metode BLW
Buku Panduan Mpasi Metode BLW

Begitulah tulisan saya kali ini yang berbagi cerita tentang beberapa buku yang sudah saya baca. Kembali lagi, buat saya pribadi, membekali diri dengan ilmu itu sangat penting, dalam hal apapun. Karena saya senang membaca, saya membekali diri dengan banyak membaca supaya referensi dan ilmu saya selalu bertambah. Meskipun pada akhirnya yang namanya mendidik anak tidak selalu sama berdasarkan teorinya karena setiap anak itu unik, tapi minimal saya punya bekal ilmu. Meskipun seringnya mendidik anak pada akhirnya berbekal insting, tapi minimal insting saya punya dasar ilmu. Sampai sekarang pun saya tetap membaca buku-buku tentang parenting karena sesungguhnya yang namanya belajar itu tidak mengenal batasan media dan waktu. Kapan-kapan akan saya bagi beberapa buku bagus tentang parenting yang sedang saya baca.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi yang sedang membutuhkan bacaan seputar persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW).

-Nootdorp, 27 Januari 2019-

Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 2-Selesai)

Pemandangan dari teras restoran

Sesampainya di Malta, badan saya langsung meriang. Bukan, bukan karena perubahan suhu tapi memang seminggu sebelum berangkat tenggorokan sudah tak nyaman dan saya merasa, pasti akan flu. Ternyata benar, selama seminggu di Malta, hidung meler terus, bersin ga selesai-selesai, badan meriang, pusing, batuk, wah lengkaplah. Tapi karena suasana liburan ya, jadi kalau pas jalan ke luar siang hari, tidak terlalu berasa. Begitu sampai hotel, langsung deh meriangnya kumat lagi. Eh, begitu  kembali ke Belanda, keesokan harinya datang salju pertama kali. Kebayang kan dari suhu 20ºC langsung ke -1ºC. Walaupun begitu, saya tetap menikmati liburan kami seminggu di sana. Sangat menikmati malah sampai-sampai trekking dan jalan kaki setiap hari 10-15 km tidak dirasa.

Baca : Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 1)

Saya teruskan ya cerita tentang Malta. Bagian pertamanya bisa dibaca pada tautan di atas. Untuk mengingatkan kembali, Saya tampilkan peta Malta, jadi terbayang kalau negara pulau ini tidak terlalu besar.

Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
  • Hotel Yang Cihuy Lokasi dan Fasilitasnya

Hotel yang kami tempati namanya Mellieha Bay yang letaknya di kota Mellieha. Kalau dilihat di peta, letaknya di ujung utara Malta. Meskipun nampaknya jauh sekali, tapi ke mana-mana kami tidak merasakan kesulitan karena kemudahan transportasi yang ada di Malta (hotel ini letaknya dekat dengan halte bus). Yang akan saya tuliskan selanjutnya bukan postingan berbayar ya, murni opini dari konsumen yang puas.

Selama seminggu menginap di hotel ini, kami sangat puas sekali dari semua fasilitas yang ada yang kami gunakan, bahkan sampai ke para pegawai di sana yang sangat cekatan membantu dan juga sangat ramah. Saat malam terakhir kami makan di sana, saya mengucapkan terima kasih kepada manajer restoran yang selalu membantu kami di sana. Malah saya sampai dikasih bekal  pisang dua biji untuk dibawa ke Bandara keesokan paginya (karena kami dijemput jam setengah 5 pagi dari hotel, penerbangan jam setengah 8) karena tahu setiap pagi saya pasti mengambil pisang. Sampai terharu saya.

Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari teras restoran
Pemandangan dari teras restoran

Di hotel ini, kami mendapatkan dua kali makan yaitu  sarapan dan makan malam. Menu sarapannya sih standar ya, tapi menu makan malamnya sungguh luar biasa mewah dan pilihannya banyak sekali. Saya tidak ada fotonya karena hampir setiap waktu makan malam di restoran tidak membawa kamera (bahkan Hp seringnya saya tinggal di kamar). Tapi percayalah, pilihan makanannya sungguh mewah sekali dan makanan penutupnya juga tidak kalah mewahnya. Sebagai gambaran, saya tiap hari pasti makan es krim dan taart sebagai makanan penutup. Kalau menu-menu utamanya setiap hari ganti-ganti tidak ada yang sama, Sistemnya Buffet. Misalkan menunya satu malam ada daging kambing, ikan bakar, ayam panggang, nasi, pasta, sayuran yang beberapa macam, duh pokoknya banyak deh. Restorannya bisa menampung 340 orang dan untuk yang punya balita jangan khawatir ada banyak high chair disediakan. Hotel ini juga Kids friendly karena banyak fasilitas yang disediakan untuk anak-anak juga.

Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Ini iseng juga motonya
Ini iseng juga motonya

Nah yang paling saya suka dari hotel ini adalah tempatnya yang pinggir pantai, tepatnya di pantai Ghadira yang merupakan pantai terbesar di Malta. Jadi setiap bangun tidur melihat dari balkon ya pantai, malamnya bisa melihat kelap kelip kota berasa romantis karena cahanya terpantul di air laut. Keren lokasinya. Fasiltas lainnya seperti tempat bermain anak-anak, kolam renang yang super besar dan ada di beberapa lokasi, gym, kotak pos, dll. Intinya hotel ini memudahkan tamunya. Letaknya juga hanya 5 menit jalan kaki dari halte bus terdekat dan tidak jauh kalau mau ke pulau Gozo atau Comino. Kalau satu selera, saya sangat merekomendasikan hotel ini jika berkunjung ke Malta.

DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
  • Transportasi Mudah

Transportasi di Malta sangatlah mudah. Sewa mobil, kendaraan umum seperti bus umum atau bus wisatawan. Selama di Malta, satu minggu kami wara wiri dengan memanfaatkan bus umum. Kami membeli tiket bus yang berupa kartu, berlaku selama 7 hari dengan harga €21. Kartu transportasi ini ada tiga macamnya, yang dua lainnya terbatas hari dan tujuannya. Sedangkan yang kami gunakan ini benar-benar bisa digunakan sepuasnya selama7 hari tersebut. Jika dibandingkan dengan Belanda, harga tersebut sangatlah murah karena kami bisa melancong kemanapun di Malta bahkan ke Gozo dengan menggunakan kartu transport ini. Kalau tidak ingin membeli kartu paketan seperti ini, bisa membeli langsung tiketnya pada supir bis. Sekali jalan jauh dekat harganya kalau tidak salah sekitar €1.5.

Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta
Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta

Biasanya kalau kami liburan dalam waktu lama, suami lebih senang sewa mobil dan road trip. Tapi kali ini beda, karena setelah membaca di beberapa forum kalau transportasi di Malta itu gampang, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan transportasi umum sehari-harinya. Apalagi ternyata setirnya sebelah kanan, makin males lah suami. Dia tidak terbiasa. Bus umum di Malta buat saya sangat nyaman dan tepat waktu sesuai jadwal yang tertera pada masing-masing halte. Rata-rata bus umum beroperasi sampai sekitar jam 11 malam dan beroperasi kembali pagi hari sekitar jam 5. Jangkauan rutenya pun sangatlah luas, bahkan sampai pelosok ada. Jadi kalau ke Malta dan tidak ingin menyewa kendaraan sendiri, dengan naik bus umum pun sudah sangat nyaman. Ada tempat khusus stroller dan khusus lansia serta Ibu hamil. Di dalam bis pun ada AC nya.

Jadwal bus yang tepat waktu
Jadwal bus yang tepat waktu
Ada tempat khusus stroller
Ada tempat khusus stroller
Busnya nyaman dan ber AC
Busnya nyaman dan ber AC

Tips 1: Kalau menunggu di Halte dan dari jauh bisnya sudah terlihat, acungkan tangan ya untuk memberi tanda bahwa kita akan naik. Kami waktu hari pertama tidak tahu dan berpikir kalau bus pasti akan berhenti di setiap halte jadi tidak perlu memberi tanda. Ternyata, harus memberi tanda. Maklum, kalau di Belanda saya tidak pernah memberi tanda kalau ingin naik bis haha.

Tips 2 : Jangan kaget ya kalau supir bisnya meliuk-liuk saat menyetir dan sering mengerem dadakan. Bukan karena mereka ugal-ugalan, tapi kontur jalan di Malta memang sempit, naik turun dan belokannya curam. Setelah berada di sana dan tahu bagaimana kondisi jalan di Malta, kami bersyukur tidak menyewa mobil dan menyetir sendiri, bisa stress mendadak suami. Kalau melihat gaya menyetir sopir bis di sana, mengingatkan saya akan sopir bis metromini dan kopaja di Jakarta haha.

Tips 3 : Kalau menggunakan kartu transportasi, alat tap kartunya dekat sopir. Hanya saat masuk saja, kalau keluar tidak perlu check out.

  • Harga Lebih Murah

Jika dibandingkan dengan Belanda tentu saja. Saya membandingkannya dari harga makanan dan beberapa minuman yang kami beli. Tidak terlalu murah sekali, tapi relatif lebih murah. Mata uang yang digunakan Euro.

  • Kuliner Malta

Terus terang selama di Malta kami tidak terlalu banyak mengeksplor kuliner khas Malta itu bagaimana. Berbeda dengan kebiasaan kami sebelum-sebelumnya kalau liburan, mengeksplor kuliner merupakan bagian dari agenda. Tapi untuk kali ini tidak. Hal ini ditunjang oleh makan malam kami yang disediakan hotel dan menunya yang memuaskan dan bercitarasa kuliner Malta. Dan kami juga tidak bisa sampai malam berada di luar hotel. Maksimal jam 7 malam kami sudah harus sampai di hotel lalu makan malam. Nah yang saya rasakan tentang kuliner di Malta (dari yang kami makan di hotel), lebih terasa citarasa masakan arab meskipun rasa rempahnya tidak sekuat makanan arab. Mungkin karena perpaduan dengan rasa dari Italia sehingga rasa masakan arabnya tidak terlalu dominan. Sebenarnya ada makanan khas Malta yang ingin saya coba waktu itu yaitu kelinci yang dimasak secara tradisional Malta namanya Fenek, yang merupakan makanan nasional. Tapi saya kok tidak tega makan kelinci, akhirnya saya urungkan niat tersebut.

Ada beberapa jajanan di Malta yang kami coba salah satunya seperti foto di bawah, namanya honey ring. Ini rasanya manis dan beraroma kayu manis. Buat saya, tidak terlalu masuk untuk lidah. Dasarnya saya tidak suka jajanan manis. Nah jajanan di Malta, rata-rata manis. Jarang yang asin atau gurih. Seperti halnya jajanan arab yang kebanyakan juga berasa manis.

Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
  • Turis Asia Lebih Sedikit

Mungkin karena waktu kami ke sana bukan musim liburan, jadinya cukup kaget juga nyaris tidak bertemu dengan turis Asia. Selama 7 hari, rasanya kami bertemu turis Asia sewaktu di Popeye Village saja. Maklum selama ini kalau liburan kan selalu ada turis Asia terutama Jepang atau Korea. Jadinya pas ke sana sepi turis Asia berasa gimanaaa gitu rasanya. Berasa nyaman maksudnya haha karena mereka tidak mendominasi tempat-tempat tertentu dengan berfoto berlama-lama atau menjulurkan tongsis sepanjang mungkin. Jangan salah, saya juga membawa tongsis kok, tapi selalu lihat tempat. Kalau ramai, tidak saya keluarkan, daripada mengganggu orang lain.

Malah selama di sana, saya bertemu dengan orang-orang Asia terutama dari Filipina dan Thailand, bukan sebagai turis tetapi sebagai penduduk di Malta. Saya pernah bekerja di perusahaan Filipina, karenanya bahasa tagalog tidak asing buat saya. Begitu mendengar banyak orang berbicara bahasa Tagalog, saya langsung tahu. Suatu hari saat kami sedang di bis, ada seorang perempuan (dan satu temannya) menyapa saya dan menanyakan saya dari mana. Ketika mereka tahu kalau asal saya dari Indonesia, mereka lalu bercerita kalau selama ini jarang menjumpai turis dari Indonesia, bahkan saat musim liburan. Karenanya, restoran Indonesia juga jarang dijumpai. Hanya ada satu dua saja. Dari mereka juga saya tahu kalau di Malta banyak pendatang dari Filipina dan Thailand dan bekerja kebanyakan jadi pengasuh anak dan supir bis. Pantas saja, saya seringnya menjumpai sopir bis dengan wajah Asia.

 

Nah begitulah cerita saya tentang hal-hal yang saya jumpai selama di Malta. Liburan di Malta berbeda dengan liburan dalam jangka waktu lama yang selama ini kami lakukan. Karena kali ini tidak pindah-pindah hotel,jadi berasa santainya karena ada satu tempat tujuan yang sama sebagai persinggahan setiap harinya. Sama mungkin ya seperti hati, kalau ada yang dituju setiap waktu ,sama, dan tidak berpindah, rasanya nyaman *Lah, ujung-ujungnya nyambung ke masalh hati haha.

Selanjutnya akan saya tuliskan tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Malta.

-Nootdorp, 20 Januari 2019-