Tiga Tahun Lalu

img_2314

Tanggal ini tiga tahun lalu, pertama kali saya mengenal kamu. Satu bulan sebelum pernikahan yang seyogyanya akan dilaksanakan, tetapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya tepat sebulan sebelum kenal kamu. Perasaan saya datar, karena sedang dalam taraf berdamai dengan keadaan, dengan kekecewaan, dan mencoba menelaah serta menyusun ulang tentang konsep sebuah hubungan.

Tanggal ini tiga tahun lalu, saya pertama mengenal kamu ditengah sibuknya ritme perkuliahan, diantara padatnya timbunan tugas, dan disaat tema tesis tidak kunjung tuntas yang sempat menimbulkan ragu apakah kuliah layak dilanjutkan ataukah menyerah di tengah jalan. Sungguh saat tidak tepat untuk memulai sebuah perkenalan.

Tanggal ini tiga tahun lalu saya mengenal kamu. Sebuah perkenalan yang biasa, jauh dari kesan istimewa. Tidak disangka, jalan hidup manusia siapa yang bisa menduga. Dari sebuah perkenalan yang biasa meskipun caranya tak terduga, membawa saya dan kamu menjadi kita dalam sebuah pernikahan, 8 bulan setelahnya.

Tanggal ini tiga tahun lalu saya mengenal kamu. Mahar pernikahan yang diambil dari tanggal perkenalan kita, menjadikan tanggal ini akhirnya menjadi istimewa. Saya sering berkelakar, jika waktu itu saya sedang tidak bosan dalam ruang perkuliahan disaat mengulang mata kuliah tiga tahun lalu, mungkin kita tidak akan pernah saling tahu. Tapi Tuhan selalu mempunyai cara yang misterius untuk mempertemukan saya dan kamu.

Tepat sekarang tiga tahun lalu, bukan tanggal pernikahan tapi tanggal kita saling tahu. Awal dari segala keseruan dalam hubungan kita. Ada banyak doa yang terucap. Namun yang terpenting semoga kita selalu diberikan kesehatan yang baik, umur yang barakah untuk bersama saling memberikan dukungan melintasi segala petualangan. Semoga kita juga selalu berpanjang syukur atas semua anugerah dan berkah yang kita terima sampai detik ini dan nanti. Semoga kita selalu ingat bahwa masing-masing dari kita adalah titipan sehingga kita bisa menghargai setiap waktu dan kisah yang tercipta.

Terima kasih untuk kamu yang sudah menemukan saya pada tanggal ini, tiga tahun lalu.

“People fall in love in mysterious ways. Maybe we found love right where we are”

-Ed Sheeran-

Dua pasang sepatu ini yang menjadi saksi bisu perjuangan lintas benua dan dari sini semua cerita bermula.
Dua pasang sepatu ini yang menjadi saksi bisu perjuangan lintas benua dan dari sini semua cerita bermula.

-Den Haag, 30 Nopember 2016-

The significance of music

Music

Why does music play such a significant role in our lives? Do we know anyone who does not like music to some extent?

As humans we are blessed with the gift of creating, performing and passively enjoying music and are the only creatures on this planet who have all these capacities. As long as man inhabits this world he creates music. Through scientific research we know that music is a powerful tool in the development of a child’s brain and the brain in general. Music is an important means to identify you as a human, especially when you are in adolescent age. Music can play an important role to determine the social group you want to belong to or to be part of.

Music can give us consolation remembering experiences from the past, our beloved ones or special occasions in our lives. Music can make us relax or arouses us and lift up our spirits. Music brings us together and music makes us dance. Mathematicians have dealt with music because music and sound are bound to the laws of nature and therefor is a grateful subject for mathematicians since the days of the Greek and Roman physicians in Antiquity.

For musicians music can be a means to seek popularity. Or even look for a larger than life perspective, especially since mankind discovered ways to annotate and record music. So music could be reproduced for future performances which could take place long after its creator had deceased. Yet music is -like all forms of art- vulnerable and each generation creates its own music hoping it will stay relevant. Those chances are unfortunately minimal: we only have to look back at our own history to know that music recorded in the 1930s through 1980s is probably relatively unknown to most of the audience that nowadays listen to music. If we travel back further in time we find that only a handful of the compositions of composers from the Middle Ages and Modern Age are still being performed and listened to in our time (think Bach, Mozart, Beethoven and the likes). Music created before that time is practically lost to us, although there are a few exceptions.

When the industrial and scientific revolution in Europe boomed at the end of the 18th century it also had a profound impact on composers, musicians and the way the listener experience music. Composers of music no longer needed to make their income from physical performances but could arrange their compositions for sheet music. Musicians could buy this sheet music and perform the music without ever having heard the original from the composer. Early on in the 20th century new possibilities became available that even would take the reproduction music to a new level. Music could now be recorded and reproduced. First through the use of mechanical reproduction, then vinyl and finally through digital media like the CD and in our current era through the use of streaming media.

On a personal level I always had a great interest in sound and music, an interest that went beyond that of the average interested musician or listener. As a young person I mastered different instruments like flute, piano and guitar. Meanwhile I discovered I found it more interesting to record the results of music making than to play music together with other musicians or to perform live. Over the years I always felt intrigued and inspired by how instruments sound, from the most simple percussion instruments to complex electronic instrumenujts (and everything in between). Some of my favorite sounding instruments are: gamelan, dulcimerpipe organcelestaMoog synthesizer.

So I developed an interest in creating and recording music. Composing and recording music is a strange process. It is difficult to express how and why ideas emerge and why some ideas grow into a composition and other ideas land on a shelf or are forgotten over time. I save most ideas like making a notation that come to mind. Those ideas come from playing some piano chords or noodling on a guitar, but also riding on my bike is good for inspiration. At a certain point I decide that an idea is interesting enough to invest more time into it. When the time comes to record the music it is also a bit strange process. Sometimes things fall easily into place, sometimes you can struggle for weeks to ‘get it right’. What this ‘get it right’ exactly means is difficult to express but it has something to do with reaching a point where you find your composition and recording is ‘like it should be’ and can be considered finished.

Recently I finished a new album ‘Piano and Guitar, Vol. I’. Its title meaning that I return to these instruments and rely less on electronic instruments. You can listen to my new album on Spotify.

-The Hague, 20 november 2016-

Kenangan Masa Kecil Pada Semangkuk Rawon

img_1940-1

*Duh judulnya kok seperti FTV

Sudah lama tidak bercerita masak memasak meskipun akhir pekan ini saya juga tidak terlalu masak banyak. Malah kami makan jenis makanan yang sama pada hari Sabtu dan Minggu. Yang menjadikan istimewa karena saya memasak makanan masa kecil yaitu rawon. Bedanya, rawon yang biasa Ibu masak untuk saya dan adik-adik isinya bukan daging sapi melainkan kacang panjang dan labu siem. Kami tinggal di kota yang dekat pesisir, maka konsumsi daging sapi dikeluarga sangatlah jarang, lebih banyak mengkonsumsi makanan laut. Karena tidak terbiasa itulah yang membuat kami tidak terlalu suka makan daging bahkan saya sudah beberapa tahun ini berhenti mengkonsumsi daging (dan unggas). 

Seminggu lalu saat membersihkan gudang tempat menyimpan persediaan bahan makanan, saya menemukan sebungkus kluwak yang belum terpakai sama sekali. Lalu saya melihat freezer, ternyata stok bumbu rawon sudah habis. Akhirnya niat kalau minggu ini harus membuat stok bumbu rawon dan masak rawon. Kebetulan rendaman telur asin sudah waktunya di”panen”. Tinggal merendam kacang hijau untuk membuat kecambah pendek. Bumbu rawon untuk 4 porsi : 3 porsi untuk stok, satu porsi untuk dimasak. Wangi aroma rawon menyebar ke segala penjuru rumah. Sambil masak, jadi teringat masa kecil kalau Ibu masak rawon ini, saya dan adik-adik sangat lahap makannya. Salah satu makanan favorit di rumah (masakan Ibu lainnya khas rumah pernah saya tulis di sini). Jadi mrebes mili kangen Ibu dan adik-adik, namun terobati kangennya saat berbincang dengan adik di telepon. Dan saya kirimkan foto di bawah ini ke Ibu dengan keterangan : Deny kangen rawon buatan Ibu.

Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri :D sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri 😀 sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu

Saya selalu bercerita ke suami kisah dibalik setiap masakan Indonesia yang saya buat. Sekalian memperkenalkan kuliner Indonesia sekaligus memberitahu ada kedekatan apa antara saya dengan beberapa makanan tersebut. Seperti rawon, saya bilang kalau rawon biasanya isinya daging sapi. Jadi yang saya masak ini perkecualian. Ini kali kedua suami makan rawon dan dia tetap penasaran tentang kluwek. Mungkin dia heran ya ada bahan warna hitam dan bisa dimakan.

Terobati sudah kangen saya dengan rawon khas rumah. Minimal bentuknya sama meskipun rasa masih kalah jauh dengan buatan Ibu. Kenangan masa kecil pada semangkok rawon labu siem dan kacang panjang. 

Sabtu kami melihat Sinterklaas di dekat rumah. Meskipun udara dingin sekali, tapi penasaran dengan kemeriahannya. Ternyata benar, rame sekali. Anak-anak kecil bersuka cita bernyanyi dan menanti kedatangan Sinterklaas. 

Hari minggu saya bisa menyelesaikan 6k lari sementara suami 18k. Hawanya super dingin, saya pikir minus kok tangan rasanya beku sampai kibas kibas beberapa kali tetap rasa kebas. Ternyata begitu saya cek, masih 4°c tapi serasa minus. Siangnya saya masak semur tahu telur puyuh untuk bekal suami minggu depan. Saya juga membuat lemper isi ayam dan ikan tuna, pesanan teman-teman kantor suami. Sisa akhir pekan kami nikmati dengan berbincang-bincang santai sambil jemur baju.

Musim gugur tapi rasa musim dingin
Musim gugur tapi rasa musim dingin

Kalau kalian, adakah masakan rumah yang membuat teringat akan kenangan masa kecil?

-Den Haag, 13 November 2016-

Warna Warni Burano dan Murano

Warna Warni Burano dan Murano

Setiap hari sekarang langitnya berwarna abu abu, hujan, dan ditambah suhu sudah sekitar -1ºC di pagi hari sehingga kalau ada jadwal kerja dan berangkat naik sepeda dinginnya minta ampun. Belum lagi kalau angin kencang, rasanya saya ingin marah-marah sama anginnya (ojok ditiru :D). Tapi masih bersyukur belum (tidak) ada salju sementara beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Austria, Jerman, sudah turun salju. Daripada muram merasakan dingin, saya mau menuliskan sesuatu yang membuat hati bahagia saja. Ini adalah catatan perjalanan ketika kami sedang bepergian ke Italia beberapa bulan lalu. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Venice. Kota yang tersohor ini tidak luput kami kunjungi karena ingin melihat sendiri kanal-kanalnya, grand canal, gondola, pulau-pulau disekitarnya, air berwarna tosca, dan beberapa bangunan yang menjadi ikon Venice. Kalau tahun lalu kami mengunjungi Venice-nya Belanda yang bernama Giethoorn, siapa sangka tahun ini saya bisa mengunjungi Venice yang asli (kalau suami sudah dua kali ini ke Venice). Cerita Venice saya tuliskan lain waktu karena kali ini saya akan berbagi cerita tentang dua pulau yang kami kunjungi yang termasuk wilayah Venice, yaitu Murano dan Burano.

Ketika sedang menyusun rencana perjalanan ke Venice, banyak informasi yang saya dapat menuliskan untuk mengunjungi juga pulau-pulau yang berada di sekitar Venice. Ada beberapa pulau, sebut saja : Murano, Burano, Torcello, Punta Sabbioni, dan beberapa pulau kecil lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat tersebut, tergantung dari kecukupan waktu. Kami sampai di Venice dari Marghera, kota tempat kami menginap selama dua malam, sekitar pukul 8 pagi. Masih tidak terlalu banyak pengunjung. Kami lalu menuju loket pembelian Tourist Travel Card dan memilih kartu yang berlaku selama 24 jam seharga €20 per orang. Kartu ini bisa digunakan untuk naik perahu (ACTV Vaporetto) dan naik bis tujuan kota-kota sekitar Venice, asalkan masih dalam waktu 24 jam. Kami membeli kartu ini karena memang niat untuk naik perahu sepanjang Grand Canal dan menuju pulau-pulau di sekitar Venice.

Setelah puas menyusuri setiap lorong Venice dengan berjalan kaki dan mengunjungi beberapa bangunan yang ada, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan perahu. Ada banyak halte (sebut saja namanya halte, tempat penumpang menunggu) perahu yang sesuai dengan tujuan perahu. Jadi sebelum masuk ke halte tersebut, cek terlebih dahulu perahu yang singgah di sana akan menuju ke mana. Dan lihat juga rute yang terpampang di bagian depan halte. Jika tidak mengerti, bisa bertanya ke petugas perahu sebelum kita naik ke perahu, untuk memastikan. Perhatikan juga jam keberangkatan. Untuk tujuan tertentu (misalnya Burano, yang jaraknya jauh dari Venice), kita harus transit dahulu di beberapa pemberhentian untuk ganti perahu.

Murano
Murano
Murano
Murano
Murano
Murano

Karena jumlah perahunya banyak dan selalu tepat waktu, jadi meskipun pada saat kami ke sana puncak turis datang yaitu musim panas, kami tidak terlalu berdesakan di dalam perahu. Jadi kita bisa memilih duduk di dalam atau berdiri di bagian luar. Tujuan pertama kami adalah Murano. Letak Murano sendiri tidak terlalu jauh dari Venice, hanya beberapa menit saja kami sudah sampai. Dari kejauhan tampak rumah berderet dengan warna warni yang mencolok. Murano dikenal sebagai pulau yang menghasilkan barang pecah belah. Jika ingin ikut menyaksikan cara pembuatannya, bisa mendaftar yang informasinya bisa ditemukan online atau langsung bertanya ke toko-toko pecah belah yang ada di sana. Pada saat kami ke Murano, ada pabrik yang sedang mengadakan pelatihan dan mempertunjukkan proses pembuatannya, tapi kami tidak tertarik untuk melihat karena saat kuliah saya pernah masuk ke pabrik pecah belah yang ada di Surabaya dan menyaksikan proses pembuatannya. Jadi saya pikir akan sama saja. Ada juga Museum yang berisikan barang pecah belah dan sejarah yang menceritakan bagaimana Murano terkenal dengan kerajinan pecah belahnya.

Awalnya saya berpikir Murano tidak akan terlalu banyak dikunjungi turis. Ternyata saya salah, turis penuh di pulau ini. Karena pulaunya lumayan besar, jadi ada beberapa sudut yang tidak dipenuhi pengunjung. Lumayan untuk memotret. Lalu saya bilang ke suami kalau Burano akan lebih sepi dari Murano, begitu yang saya baca di beberapa artikel. Setelah puas berkeliling Murano dan duduk-duduk di pinggir kanalnya sambil menikmati roti dan minuman, kami melanjutkan perjalanan ke Burano. Cuaca yang sangat panas hari itu (sekitar 39ºC) membuat kami harus sering minum. Padahal sewaktu di Surabaya dengan suhu yang sama saya merasa baik-baik saja, sewaktu liburan ke Italia dengan suhu segitu saya rasanya mau dadah dadah ke kamera. Sudah terbiasa digempur dengan dingin dan hujan selama di Belanda jadi begitu merasakan cuaca panas langsung terasa bedanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano

Burano selain terkenal dengan rumah yang berwarna warni dan kanal-kanalnya yang indah, juga dikenal dengan pembuatan renda. Akan banyak ditemui toko-toko yang menjual beraneka bentuk renda, tapi pastikan sebelum membeli bahwa yang dijual tersebut adalah buatan tangan, bukan mesin yang memproduksi dalam jumlah yang banyak. Jika ingin tahu lebih lanjut tentang tradisi pembuatan renda, bisa mengunjungi Museum Lace. Awalnya saya menduga Burano akan lebih sepi dari Murano, ternyata salah besar. Burano lebih ramai dikunjungi turis. Saya yang suka memperhatikan tingkah turis dimanapun berada, jadi keasyikan sendiri melihat ada yang selfie dipinggir kanal dengan raut muka yang dibentuk sedemikian rupa, ada yang sibuk berputar-putar dengan tongsisnya, ada yang semacam foto prewed di depan rumah warna warni lengkap dengan busana yang apik, ada yang bergerombol berbicara dengan kencang, dan ada yang tertegun memperhatikan sekitar (iya, ini saya :D).

Warna warni rumah di Burano lebih berani dan lebih menyala dibandingkan Murano, begitu yang saya lihat. Satu rumah dengan lainnya mempunyai warna yang berbeda sehingga rumah-rumah yang berjajar tersebut terlihat kontras dengan sapuan warna stabilo, menyala, dan eye catching. Melihatnya sangat menggemaskan apalagi kami menemui beberapa rumah dicat dengan pola-pola tertentu. Pengecatan rumah ini dilakukan setiap dua tahun sekali dan jika ada penduduk yang ingin memperbarui warna catnya, harus mendapatkan persetujuan dahulu dari pemerintah. Bukan hanya mata saja yang terasa dimanjakan melihat kemeriahan warna di Burano, hati juga ikut gembira rasanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano

Saat kami sedang berfoto bergantian dengan latar belakang tembok yang berwarna warni (foto di atas), ada satu keluarga yang sedang melintas dan ketika mendengarkan saya dan suami berbicara menggunakan bahasa Belanda, salah satu diantara mereka menawarkan untuk mengambil pose kami berdua. Rupanya mereka keluarga yang berasal dari Belgia. Jadilah kami semua berbicara menggunakan bahasa Belanda dan berbincang-bincang sebentar. Ketika kami menawarkan untuk bergantian memotret, mereka menolak karena ingin segera makan di restoran tidak jauh dari tempat ini. Senangnya punya foto berdua suami di Burano, dengan kebaikan tawaran dari mereka.

Ada satu lagi kesamaan antara Murano dan Burano selain warna warni rumahnya yaitu jemuran ada dimana-mana, di setiap gang ataupun jalan utama. Melihat jemuran di sini nampak enak dilihat mata, tertata dan tidak semrawut. Jadinya jemuran pun mempunyai daya tarik tersendiri.

Burano
Burano
Jemuran di Burano
Jemuran di Burano
Burano
Burano

Setelah dari Burano, niatnya kami ingin mengunjungi pulau yang lainnya yaitu Torcello. Tapi setelah menghitung waktu, nampaknya tidak cukup karena kami ingin menyusuri Grand Canal menjelang matahari terbenam sambil melihat orang-orang yang menaiki gondola diiringi alunan suara dari yang mendayung gondola (tapi saya cuma menjumpai beberapa yang bernyanyi). Puas rasanya bisa mengunjungi dua dari tiga pulau yang terkenal disekitar Venice. Melihat secara langsung keindahan warna warni rumah dan menepi sesaat dari pikuknya Venice. Jika ingin membeli cinderamata, saya melihat banyak toko menjual beraneka bentuk topeng. Saya menduganya ini adalah cinderamata khas Venice.

Souvenir Venice
Souvenir Venice
Burano
Burano
Burano
Burano

Jadi terinspirasi ingin mengecat rumah dengan warna yang ngejreng?

-Den Haag, 9 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

Klompen yang sudah jadi

Saya kembali memeriksa isi tas dan memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, terutama dompet dan tiket kereta. Setelah berpamitan pada suami, kaki tergesa melangkah ke stasiun kereta dekat rumah. Saya berharap tidak tertinggal kereta karena tadi begitu sibuk menyiapkan beberapa pepes ikan asin peda dan sambel teri, pesanan dua orang teman. Ikan asin peda saya buat sendiri karena saat beli ikan di pasar ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri, akhirnya saya punya ide kenapa tidak dibuat ikan asin saja, mumpung sinar matahari sedang berlimpah satu minggu ini pada bulan Agustus. Setelah menjadi ikan asin lalu saya buat pepes dan saya jual kepada dua orang teman yang sebelumnya sudah memesan sambal teri. Lumayan hasilnya bisa saya buat jalan-jalan. Aroma pepes dan sambel teri menguar dipangkuan saat saya sudah duduk di dalam kereta. Saya berharap aroma ini tidak sampai mengganggu penumpang lainnya. Cukup saya saja yang bisa menciumnya.

Setelah berganti kereta, saya mencari tempat duduk dekat jendela, tempat favorit. Masih jam delapan pagi dan aplikasi prakiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini hujan tidak akan datang dan suhu berkisar 15 derajat. Untuk ukuran bulan Agustus, seharusnya suhu bisa lebih dari ini. Tapi dengan tidak hujan saja sudah lebih dari cukup, apalagi saya melihat semburat matahari. Bisa kacau rencana hari ini kalau sampai hujan turun. Melalui jendela kereta, saya menikmati suasana pagi sepanjang jalan. Sapi dan domba yang merumput, rumah-rumah mungil tertata rapi, area pertanian, gedung-gedung perkantoran, dan tak luput saya amati juga kegiatan penumpang yang di dalam kereta. Ada yang sibuk membaca buku, asyik mendengarkan musik, berbincang, dan ada yang menikmati sarapan paginya yaitu roti dan segelas kopi. Tiba-tiba saya kangen sarapan nasi pecel pakai peyek teri.

Jam 9 pagi, kereta sampai di Amsterdam Centraal. Saat kaki keluar dari kereta, kepala mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok seorang teman. Ah, dia sudah berdiri di dekat papan pengumuman. Setelah berbincang sesaat, kami lalu bergegas ke kantor informasi turis (VVV) yang berada tepat di depan Stasiun Amsterdam. Ya, hari ini kami akan menjadi turis sehari dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan favorit para turis kalau sedang berkunjung ke Belanda. Tempatnya tidak jauh dari Amsterdam. Dengan berbekal tiket bis terusan seharga €9 yang bisa dipakai selama 24 jam serta mempunyai fasilitas wifi gratis dan peta yang kami dapatkan dari VVV, kami akan mengunjungi tiga tempat yang menjadi bagian dari Waterland. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Edam, Volendam, dan Marken. Sebenarnya tempat-tempat yang jadi bagian Waterland selain yang saya sebutkan tadi adalah Monickendam, Purmerend, Broek in Waterland, Middenbeemsteer, Graft-De Rijp, Hoorn, dan Landsmeer. Info lengkap tentang rute bus bisa dilihat langsung di website ini. Tiket bus selain bisa dibeli di kantor VVV, juga bisa dibeli online, dan dengan membeli langsung ke sopir di dalam bis. Tidak harus membeli tiket terusan jika memang tujuannya tidak mengunjungi semua tempat itu. Tapi kalau mengunjungi tiga tempat, seperti yang kami lakukan, lebih menghemat kalau membeli tiket terusan saja.

EDAM

Tentu saja saya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Saya sudah mengajak suami untuk mengunjungi beberapa tempat ini sejak setahun lalu, tapi dia nampak tidak antusias. Dia selalu beralasan kalau Volendam itu sangat ramai dengan turis. Tapi kan tidak afdol rasanya kalau saya tidak ikut berkunjung ke tempat yang menjadi daya tarik turis. Untung saja saya punya teman yang suka kelayapan juga, yang pernah saya ceritakan pada tulisan kunjungan ke Kinderdijk. Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke Edam, Volendam, dan Marken. Bisa saja saya bepergian sendiri, tapi kalau ada teman yang sejiwa akan semakin seru.

Tujuan pertama kami adalah Edam. Kalau yang suka sekali dengan keju, pasti tidak asing dengan keju Edam. Ya, Edam adalah salah satu tempat penghasil keju di Belanda. Saya pernah menuliskan tempat lain penghasil keju di blog ini, yaitu Gouda. Edam adalah kota kecil yang ada sejak abad ke-12 saat petani dan nelayan mulai menetap di sepanjang sungai Ye. Kota kecil ini berkembang menjadi sebuah kota yang semakin makmur pada abad ke- 17. Kapal memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Setelah membuat 33 kapal, Edam menghasilkan banyak kapal yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah “Halve Man”, kapal milik orang Inggris Henry Hudson, yang berlayar pada tahun 1609 untuk mencari rute utara menuju Hindia Timur. Perjalanan yang sia-sia karena akhirnya dia berakhir di pulau Manhattan. Selain kapal, perdagangan juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, dan Edam adalah kota-kota komersil yang penting di Belanda.

Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
jajaran-rumah-di-edam
jajaran-rumah-di-edam

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asosiasi kata yang langsung muncul di kepala saat disebutkan Edam adalah keju. Selama berabad-abad keju Edam sudah tersohor di seluruh dunia. Edam juga terkenal dengan pasar keju yang ada setiap musim panas, setiap hari rabu. Pada saat kami ke sana, ada jadwal tambahan pasar keju. Sayangnya pasar keju tersebut baru dimulai jam 5 sore, jadi kami tidak bisa menyaksikan. Kami masuk ke salah satu toko keju dan saya memutuskan untuk membeli keju rasa pesto, oleh-oleh untuk suami. Sedangkan teman saya selain membeli keju rasa pesto juga membeli rasa yang lainnya. Dia mencoba contoh-contoh keju yang disediakan, menurutnya yang rasa daging asap juga enak, ada yang rasa cabai juga.

Edam
Edam
Tempat Pasar Keju
Tempat Pasar Keju
Timbangan Keju
Timbangan Keju
De Kaasdragers
De Kaasdragers

Kami bisa membayangkan bagaimana keadaan Edam berabad-abad lalu. Menyusuri rumah-rumah dan jalan-jalan tua di Edam, melewati sungai-sungai kecil, berhenti di depan gereja yang merupakan salah satu gereja terbesar di Belanda dan singgah ke beberapa toko yang ada hanya sekedar melihat saja, membuat waktu tak terasa berjalan cepat. Hampir dua jam kami habiskan di Edam. Tidak terlalu banyak turis yang berkunjung, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati Edam dengan leluasa.

Edam
Edam
Ngaso sejenak, nunggu tukang jualan tahu tek lewat :D
Ngaso sejenak, nunggu gerobak abang nasi goreng lewat 😀

VOLENDAM

Setelah dari Edam, kami melanjutkan perjalanan ke Volendam. Dari kota kecil yang tidak terlalu ramai, tiba di Volendam suasana langsung berubah, kontras berbeda. Volendam sangat terkenal di kalangan turis, sepertinya semua turis dari penjuru dunia tumplek blek di sini. Rame sekali. Tidak mengherankan karena ada yang mengatakan bahwa jika ingin melihat keindahan Belanda, pergilah ke Volendam. Desa nelayan ini terletak arah timur laut dari Amsterdam, terkenal dengan rumah berwarna warni dan kapal-kapal tua yang bersandar di pelabuhan. Selain itu, di Volendam juga ada pabrik keju. Kita bisa masuk dan melihat proses pengolahan keju, membeli hasil keju, atau masuk ke museum keju. Volendam ini adalah tempat favorit yang nampaknya wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Namun hari itu kami tidak bertemu satupun orang Indonesia.

Volendam
Volendam
Ramainya Volendam
Ramainya Volendam
Volendam
Volendam
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Pabrik keju Volendam
Pabrik keju Volendam
Museum
Museum

Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam
Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam

Hal lainnya yang terkenal dari Volendam adalah pakaian tradisional Belanda. Kita bisa mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen serta latar belakang negeri Belanda dan mengabadikannya dalam foto di banyak studio foto di Volendam. Kami masuk ke salah satu studio foto dan melihat kisaran harganya. Salah satu pegawainya mengenali kalau kami berasal dari Indonesia. Dia lalu mengatakan bahwa 70% pengunjung studionya adalah orang Indonesia. Saya tidak bertanya lebih lanjut 70% tersebut dari total berapa pengunjung selama rentang waktu berapa lama. Tetapi dengan melihat beberapa wajah yang saya kenali lewat televisi terpampang di etalase semua studio foto, semakin meyakinkan saya bahwa Volendam memang salah satu tempat wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Teman saya sampai terbahak ketika melihat wajah Maya Rumantir dan bertanya tahun berapa foto tersebut sudah ada di sana karena wajah Maya Rumantir masih sangat muda. Dengan membayar €15 untuk satu kali jepret dengan ukuran standar (saya lupa berapa), maka kita sudah punya bukti pernah ke Volendam. Bagaimana dengan kami? Mungkin lain kali kami akan kembali ke Volendam, khusus untuk foto dengan pakaian tradisional Belanda.

Salah satu studio foto di Volendam
Salah satu studio foto di Volendam
Ada wajah yang dikenali?
Ada wajah yang dikenali?
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia

Jadi, jangan lupa kalau ke Volendam untuk foto mengenakan pakaian tradisional Belanda, biar dikatakan sah pergi ke Belanda.

MARKEN

Kami menuju Marken menggunakan kapal dengan membayar €7.5 untuk sekali jalan dan tiketnya bisa langsung beli di tempat. Jika memilih pulang pergi maka harga kapal menjadi €9.95. Kami memilih untuk membeli tiket kapal sekali jalan karena kami tidak akan kembali lagi ke Volendam dan setelah dari Marken akan menggunakan Bus untuk melanjutkan perjalanan karena masih punya tiket terusan. Kapal berangkat setiap 30 menit. Jika ingin pergi menggunakan Bus dari Volendam ke Marken, juga bisa. Karena cuaca mendung dan angin lumayan kencang, saya menggigil kedinginan selama perjalanan 20 menit menuju Marken, ditambah lagi saya tidak membawa jaket. Bersyukurnya di tengah jalan tidak hujan.

Tempat kapal menuju ke Marken
Tempat kapal menuju ke Marken
Marken
Marken
Marken
Marken

Dari hiruk pikuk Volendam, sesampainya di Marken suasana kembali sunyi. Marken tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Marken adalah sebuah desa bagian dari wilayah Waterland dengan jumlah penduduk 1.810 pada tahun 2012. Marken membentuk sebuah semenanjung di Markermeer dan sebelumnya sebuah pulau di Zuiderzee. Marken dipisahkan dari daratan setelah mengalami gelombang badai pada abad ke-13. Dulu mata pencaharian utama penduduk Marken adalah nelayan, sedangkan saat ini juga ditunjang dari sektor pariwisata. Dulu banjir kerap datang ke Marken, karenanya tipe rumah di Marken adalah rumah panggung. Kita akan menemui banyak jembatan di Marken dan uniknya jembatan-jembatan ini diberi nama dari nama-nama anggota keluarga kerajaan seperti Maxima, Beatrix, Amalia, dll.

Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan

Suasana di Marken sangat tenang. Menyusuri setiap sudutnya, mata dimanjakan oleh tata letak rumah yang sangat rapi dan berwarna nyaris seragam yaitu hijau. Saking sepinya Marken, saya sampai bilang tidak mungkin ada orang Indonesia yang tinggal di sini. Ternyata dugaan saya salah besar. Dari salah satu rumah, saya mendengar ada yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia (dengan logat Jawa). Ketika kami mengintip dari sela-sela pagarnya ternyata memang ada beberapa orang Indonesia di sana. Kami sampai mengikik, tidak menyangka ada orang Indonesia yang tinggal di Marken.

Marken
Marken
Toko dan tempat pembuatan klompen
Toko dan tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen. Yang diatas itu klompen yang sudah dibentuk tetapi belum dipercantik.

Jika berkesempatan mengunjungi Marken, jangan lewatkan untuk mampir ke tempat pembuatan klompen. Selain bisa menyaksikan langsung bagaimana klompen dibuat, kita juga bisa langsung membeli klompen dengan berbagai ukuran dan beraneka rupa warna. Selain sebagai oleh-oleh, klompen yang berada di sana juga bisa digunakan sebagaimana fungsi klompen yaitu sebagai alas kaki. Sayang sewaktu kami ke sana, proses pembuatannya sedang tidak berlangsung. Saya mengincar klompen kecil, rasanya ingin kalap membeli kalau tidak ingat harganya yang sudah disesuaikan dengan harga turis.

Klompen yang sudah jadi
Klompen-klompen yang sudah jadi

Perjalanan kami menyusuri Edam, Volendam, dan Marken berakhir saat jam menunjukkan angka lima disore hari. Perjalanan yang menyenangkan karena akhirnya tahu tempat-tempat yang menjadi favorit turis jika datang ke Belanda. Sehari menjadi turis di tempat yang turistik. Kami bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami menuju ke Amsterdam Centraal. Sepanjang jalan perut kami keruyukan mencium aroma pepes dan sambal teri. Ingin segera rasanya sampai di rumah seorang teman yang sudah siap menyambut kedatangan kami dengan beraneka ragam masakan Indonesia. Sabtu kami ditutup dengan perbincangan dan gelak tawa sembari menikmati hangatnya nasi, tempe tahu goreng, balado terong, sambel terasi, ikan goreng, dan oseng ikan asin.

Marken
Marken

Jika suatu saat ada kesempatan ke Belanda, kalian ingin berkunjung kemana?

Sumber : Edam , Marken , Volendam

-Den Haag, 2 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Keindahan Naarden, Kota di Dalam Benteng

Het Arsenaal Restaurant

Naarden adalah kota dan kotamadya yang terletak di provinsi Noord Holland, dimana kotanya berbentuk menyerupai bentuk bintang. Naarden terletak 24 km atau sekitar 30 menit berkendara dari Amsterdam. Kota kecil ini dikelilingi oleh benteng dan menjadi contoh yang terkenal di Eropa selama abad ke-16. Benteng di Naarden yang berbentuk bintang, lengkap dengan dinding berlapis dan parit di sekelilingnya. Kondisi benteng ini masih sebagus saat pertama kali dibangun, yaitu 5 abad yang lalu, meskipun pernah mengalami renovasi pada beberapa bagian. Bahkan sampai saat ini, Naarden adalah salah satu kota yang mempunyai benteng terbaik di Eropa

Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)
Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Naarden. Bukan kunjungan yang disengaja untuk jalan-jalan karena saya ikut suami yang sedang ada keperluan kerja di Naarden. Kami berdua baru pertama kali ke sini. Beberapa jam sebelum berangkat, suami sempat mencari informasi apa saja yang bisa dilihat di sana, supaya saya bisa jalan-jalan sendiri sementara dia menyelesaikan urusannya. Ternyata dia menemukan beberapa fakta yang menarik tentang kota di dalam benteng ini.

Berjalan di atas bangunan benteng
Berjalan di atas bangunan benteng
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden
Salah satu taman di Naarden
Salah satu taman di Naarden
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden

Pada abad ke-17 saat Raja Perancis Louis XIV dengan bantuan sekutu-sekutunya : Inggris, Cologne, dan Munster, menyerbu Belanda, Naarden dapat diambil alih dengan mudah. Pada saat itu, Belanda merupakan negara yang penting di Eropa Barat karena kekuatan ekonomi dan politik yang dimilikinya. Mereka menguasai Utrecht dan menjadikan kota ini sebagai basis untuk menguasai seluruh Belanda. Sangat disayangkan niat mereka tidak terlaksanakan dengan baik karena beberapa saat kemudian Belanda mengalami tragedi banjir yang sangat besar sehingga menyebabkan mereka susah untuk bergerak. Pada tahun 1673, Naarden kembali ke tangan Belanda dan setelahnya mengalami renovasi di beberapa bagian dengan standar modern.

Naarden
Naarden
Hotel de Ville
Hotel de Ville
De Grote Kerk (Gereja)
De Grote Kerk (Gereja Besar). Kita bisa melihat sekeliling Naarden dari tower di dalam Gereja ini. Sayang waktu kami ke sana bukan jadwal tower ini buka.
Het Spaanse Huis
Het Spaanse Huis

Menyusuri pusat kota Naarden saat jam kerja mungkin pilihan yang tepat karena jalanan sangat sepi. Atau memang keseharian di kota ini juga sepi, saya juga tidak tahu pasti. Tetapi ada untungnya juga kalau suasana sepi seperti ini. Saya bisa mengamati perlahan setiap bangunan yang saya lalui. Merasakan lengangnya jalanan utama, melihat restoran yang menampakkan geliat aktifitasnya saat jam menunjukkan pukul satu siang, dan beberapa toko yang masih tutup, tidak ada tanda-tanda akan membukakan pintu untuk pelanggan yang akan berkunjung. Kota ini tidak terlalu populer dikalangan turis nampaknya. Saat saya datang ke kantor informasi turis, hanya ada dua orang yang memegang peta kota Naarden, yang bisa didapatkan secara gratis di kantor ini. Dan mereka berbincang menggunakan bahasa Belanda.

Naarden
Naarden
Het Arsenaal. Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 195 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 19, gedung ini menajdi milik militer. Saat ini Het Arsenaal meruakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie
Het Arsenaal  (=gudang). Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 1954 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 1987, gedung ini menjadi milik militer. Saat ini Het Arsenaal merupakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie.
Het Arsenaal
Het Arsenaal
Het Arsenaal Restaurant
Arsenaal Restaurants
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar

Meskipun tidak sampai dua jam singgah di Naarden, kota ini meninggalkan kesan yang tersendiri untuk saya. Bukan hanya karena  sejarahnya dan tata kotanya yang unik, tetapi juga saya bisa melihat secara langsung satu-satunya benteng di Eropa yang mempunyai dinding ganda dan parit (Sumber : Amusing Planet). Selain itu, ada alasan lainnya yaitu karena saya selalu tertarik dengan kota-kota kecil dan tidak terlalu ramai turis.

Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Kantor informasi turis (VVV)
Kantor informasi turis (VVV)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)

Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Naarden
Naarden

Jika sedang berkunjung ke Belanda atau ada rencana ke Belanda, Naarden bisa dijadikan pilihan kota untuk disinggahi. Mencari suasana lain, menepi dari ramainya kota-kota turistik yang ada di Belanda.

-Den Haag, 30 Oktober 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Imani dan Amini Setiap Mimpi

Burano, Italy

Membaca postingan Helena tentang impiannya ke Eropa dan berlanjut dengan saling berbalas komentar, melemparkan ingatan saya akan tulisan 2 tahun lalu di blog ini (bisa dibaca di sini). Tulisan tentang salah satu impian terbesar saya bertahun-tahun lalu ingin menginjakkan kaki ke Belanda dengan tujuan ingin kuliah S2. Jalan hidup, siapa yang bisa menebak. Pada akhirnya saya malah tinggal di Belanda bukan karena kuliah tapi menikah, setelah menyelesaikan S2 di universitas yang lain. Dan impian untuk kembali ke bangku kuliah di salah satu universitas di Belanda masih tetap saya imani sampai sekarang.

Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya yang bermula dari sebuah mimpi. Satu hal yang selama ini saya lakukan jika mempunyai mimpi. Saya akan imani mimpi tersebut selain dalam bentuk keyakinan yang kuat juga dengan usaha yang maksimal. Lalu saya amini mimpi itu dalam setiap doa di manapun dan kapanpun. Setelahnya, biarkan semesta dan Yang Kuasa yang menentukan akan dijadikan apa mimpi itu. Apakah akan diwujudkan sesuai dengan harapan? Apakah akan diwujudkan berbeda dengan yang diinginkan? Apakah tidak diwujudkan sama sekali? Apakah akan ditunda entah sampai kapan bisa terwujud? Pasrah dan percaya saja bahwa Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi para pemilik mimpi dan bagi setiap mimpi yang telah diamini.

Imani dan amini setiap mimpi yang kita punya. Karena seperti kata pepatah bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Apapun hasilnya, semoga itu yang terbaik yang diberikan olehNya.

Imani dan amini apapun mimpi kita. Pasti ada jalan untuk menuju ke sana. Tidak usah takut bermimpi, gratis ini.

Burano, Italy
Burano, Italy

– Den Haag, 27 Oktober 2016-

Movie Review : Deepwater Horizon

Deepwater Horizon

Deepwater Horizon is the movie we watched last weekend in The Hague’s Pathe Theatre. For a moment we were doubting between this movie and Inferno. Watching the Inferno trailer it looked to us like a (expensive) rehash of the DaVinci Code, so we decided to head for Deepwater Horizon.

I was not familiar with the original story of the mobile oil platform and the horrific accident in 2010. Under time pressure for rigging results, the platform would ultimately completely destroyed after some human failures with safety and testing procedures. From the trailer it looked to us like a detailed documentary style movie about how events developed until the final shocking disaster. Although the movie did try its best to put some detail in the events and circumstances, above all it remained a simple disaster movie. People make wrong decisions in the first part of the movie, things spiral out of control in the middle part and the hero (Mark Wahlberg) sacrifices his life to save what is left of the crew on the platform.

The movie starts a bit awkwardly with a family scene where the daughter of the hero-to-be explains the working of the mobile platform because she has an upcoming presentation. Of course it was meant for the movie audience to gain some understanding to the background about what will happen in the next two hours. There are many small talk conversations between the platform crew to create some intimate and sympathy with the characters that soon will be tested to the most horrible conditions. But it is all a bit too obvious to really become acquainted with the crew members and feel sympathy for their suffering to come. The part where the trouble on the platform starts and the platform disintegrates into a big ball of fire is taking too long. Although this should be the most ‘exciting’ part of the movie i felt it became quite boring after seeing one fireball after one other and collapsing structures.

All in all this movie is more about entertainment than offering you a glimpse into what really happened on board of the Deepwater Horizon. The characters are stereotypes (the bad guys from BP versus the good guys from the platform crew) and the script does carefully follow the Hollywood rules of a disaster movie. Nevertheless I enjoyed the performances of John Malkovich as the cynical guy from BP and Gina Rodriguez who played the part of a female crew member. I think the movie might have been more interesting and sticking if it did not follow the typical disaster movie scripting and would have focused more on the events as they really happened.

-Den Haag, October 25th 2016-

Dobbeloop – 10 KM

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap

Hari minggu pagi (jam 11) kami kembali ikut race lari 10 km. Ini lomba lokal yang diikuti oleh mereka yang tinggal di sekitar Nootdorp. Lokasi lomba di seputaran hutan dan danau Dobbeplaas, karenanya lomba ini dinamakan Dobbeloop. Acara ini diadakan setiap bulan. Jaraknya terbagi : 750m untuk anak-anak kecil, 1.5km untuk anak-anak yang lebih besar, dan 3.2-5-10-15km untuk usia dewasa. Karena peserta dari segala usia, maka acara ini banyak peminatnya. Saya tidak mengira kalau pesertanya akan banyak. Ditambah lagi hari minggu ini memang cuaca sangat bersahabat. Meskipun memang dingin – suhu 5 derajat celcius – (sewaktu bersepeda menuju tempat lomba, padahal saya dan suami sudah berjaket tebal, tetep saja rasanya dingin kayak masuk freezer, tangan saya sampai kebas karena lupa bawa sarung tangan), matahari bersinar cerah sepanjang hari.

Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.
Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.

Saat kami sampai di tempat acara, ternyata untuk kategori anak-anak baru saja selesai. Senang sekali melihat anak-anak usia sekitar 3 sampai 5 tahun lari-lari kecil bersama orangtuanya. Iya benar, usia 3 tahun sudah ikut bersenang-senang lari bersama orangtuanya. Mereka terlihat senang sekali, seperti bermain mungkin ya rasanya. Saya sampai ikut gemes dengan balita-balita ini. Untuk kategori 750m, saya perhatikan tidak saja diikuti oleh anak-anak kecil tapi mereka yang berkebutuhan khusus juga, dengan pendampingan tentunya.

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Peserta kategori anak-anak
Peserta kategori anak-anak. Kecil-kecil begini larinya melesat cepat.

Setelah kategori anak-anak kecil, selanjutnya untuk anak-anak yang lebih besar bersiap berangkat. Kira-kira yang ikut usia 6 sampai 9 tahunan. Meskipun usia masih kecil, tapi mereka larinya cepat sekali. Saya sampai melongo melihat bagaimana mereka berlari sangat kencang dan ada yang memakai teknik berlari juga. Jarak 1.5 km ditempuh sangat cepat. Sebelum 10 menit (bahkan ada yang baru 7 menit), banyak yang sudah sampai finish. Saya sampai senyum-senyum sama suami karena untuk jarak 1.5 km saya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit. Senang sekali melihat semangat berolahraga anak-anak ini, didukung oleh orangtua mereka yang juga ikut lari untuk kategori yang berbeda.

Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat
Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat

Selanjutnya kategori terakhir yang bersiap. Suami memberi semangat dengan mengatakan kalau kali ini pasti waktu saya lebih baik dari 10 km bulan kemarin di Rottermerenloop bahkan CPC Loop tahun kemarin. Saya juga merasa yakin, setidaknya jika dilihat dari cuaca yang cerah dan tempatnya yang tidak asing karena saya dan suami sering lari di area ini. Seperti biasa setelah start, suami melesat sedangkan saya dengan ritme lari seperti biasanya. Sampai di km ke 4, saya belum yang paling belakang karena ketika belokan dan saya sempat menoleh, masih ada beberapa orang di belakang. Ternyata dari beberapa orang tersebut, mengikuti untuk kategori 5km. Dan sisanya menyusul saya bahkan setelahnya lari jauh di depan. Akhirnya saya menjadi yang paling belakang lagi. Tetapi saya tidak khawatir karena pasti “ditemani” oleh mereka yang 15 km. Dan benar saja, sekitar km ke 7, beberapa yang  kategori 15 km sudah menyalip saya. Saya sampai senyum-senyum sendiri, karena saking santainya saya lari, sampai terkejar oleh mereka yang 15km. Dan beberapa meter sebelum sampai finish, suami sudah menunggu lalu dia menemani saya berlari beriringan menuju finish (dia hanya menemani saja, karena sudah selesai duluan). Waktu tempuh Mas Ewald untuk 10km : 47 menit, sedangkan saya untuk 10 km : 1 jam 20 menit. Waktu ini 5 menit lebih cepat dibandingkan bulan kemarin. Suami bilang kalau waktu dia kali ini adalah catatan tercepat selama mengikuti race 10 km. Saya bilang ke dia kalau saat 47 menit itu, mungkin saya masih di km ke 6. Karena sewaktu saya di km ke 5, waktu menunjukkan 36 menit. Sedangkan mereka yang ikut 15km ada yang sampai finish sebelum 1 jam. Terbayang ya bagaimana cepatnya orang Belanda ini kalau lari. Tapi tetap, yang dari Kenya lebih cepat untuk urusan lari.

Inilah kami setelah lomba. Sebelah kir atas itu jalan yang dilalui.
Inilah kami setelah lomba. Sebelah kiri atas itu jalan yang dilalui. Saking dinginnya, setelah sampai finish suami kembali berjaket.

Cuaca yang sangat bagus hari ini benar-benar sangat sempurna dan mendukung saya untuk tidak berhenti sekalipun sepanjang 10km. Pemandangan sepanjang 10km tersebut adalah hutan, padang rumput, sapi yang sedang merumput dan danau. Benar-benat tidak membosankan. Oh iya, kali ini saya tetap menjadi yang terakhir sampai finish untuk 10km, tetapi di belakang saya masih ada beberapa orang untuk kategori 15km. Namanya juga lari santai, jadinya waktu tempuh segitu sudah bagus. Mudah-mudahan race berikutnya bisa lebih cepat lagi sampai finish.

Bagaimana dengan cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 23 Oktober 2016-

Thierry Baudet: about national identity and political reforms

het_binnenhof-den_haag-nl-3426

October 18th I attended a presentation of Thierry Baudet, a Dutch intellectual and since recently aspiring a political career. Baudet is in the Netherlands known as one of the initiators of the ‘Ukraine referendum’ from April 2016.  Dutch citizens could vote in favor or against a trade association between the Ukraine and the EU. The referendum resulted in a strong ‘against’. Afterwards the Dutch government struggled -and failed so far- to find a clear and decisive response to other EU members concerning the verdict of the Dutch referendum. The referendum was unique: it was the first of its kind based on new legislation that allowed Dutch citizens to organize a referendum for new bills that had passed both chambers of the parliament.

The April referendum sparkled interest from the Dutch public in the affairs of politics, the first time since the rise of Pim Fortuyn’s LPF party in 2001. After Fortuyn’s was brutally murdered in May 2002 the interest of the Dutch in political affairs gradually waned over the years. In his presentation Baudet outlined that the success of the Ukraine referendum called for more permanent referenda: not only for new bills but also the possibility to organize referenda to re-evaluate existing bills. This raised the question from the audience if ‘referenda activists’ could frustrate the democratic process and make any kind of legislation impossible or questionable by provoking referenda.

Through a series of books Baudet’s intellectual baggage and ideas about politics gradually evolved. He concluded that for citizens of a country it is important to have a national identity. Baudet considers this national identity essential for a democratic process within the nation. Yet in his opinion a small, powerful elite in Dutch society acts reversely as they consider a national Dutch identity to be a burden from the past. A past when the Dutch nation gathered much of its wealth as a colonizing nation, slave transporter and introducing ‘racist’ phenomena like Zwarte Piet (the assistant of Sinterklaas). This elite, though small in numbers, has its tentacles in all important Dutch social and political institutions. It controls education facilities (from kindergarten to university), traditional media (radio, television, papers) and has a strong presence in all levels of civil administration and subsidized non-governmental institutions The most conspicuous manner to undermine the national identity and to replace it with a new one is their strive for a new multicultural European identity. The introduction of the Euro as a common currency was a remarkable exponent to aim for such a shared European identity. The allowance of mass immigration is another key policy in undermining the belief in a national identity.

According to Baudet most citizens from an individual perspective have a very good intuition about what is ‘wrong’  or ‘right’ to contain the stability of the nation and to keep their national identity. Yet the Dutch citizens have no platform or means to express their intuition. On contrary, they are often being marginalized or criminalized by the elite for expressing challenging opinions. On a personal level Baudet notes that for him and other intellectuals it became impossible to express their opinion through traditional media outlets. Baudet told he became an outcast in the world of Dutch universities, while universities should be the ultimate place for debate on social and political matters from all points of view.

From intellectuals educated in Dutch universities, again according to Baudet, no miracles could be be expected to oppose the views of the elite. These intellectuals are educated in the universities and think along the lines developed by their teachers in the 60’s and 70’s. They want to invent, plan, regulate and control every aspect of social and economic life. For them the unpredictability of the free market consisting of its small and autonomous parts is a horrendous thought.

Baudet explained his decision to join with his Forum voor Democratie next year’s Dutch parliament elections. In the past he was not interested in becoming involved in the field of politics. The inability of Dutch politicians to renew and reform within made him change his mind. His Forum voor Democratie now wants to join the political world in order to reform and break out from within the political system. Besides expanding the possibilities of referenda other targets included an elected mayor. Mayors for Dutch cities are nowadays chosen from the small political elite. Dutch citizens should directly influence politics through the use of digital technology: a dashboard should indicates the current status and opinions of important political subjects.

Baudet’s ideas are interesting and at the same time they leave one wondering about consistency and practicality of his ideas. His thoughts about the nation state and national identity are applicable to many nations within the Western hemisphere and do not particularly apply to the Dutch situation alone. So this might need to further investigation why they face similar tendencies as in the Netherlands.

Personally my belief is that the nation state as an instrument of identity will become less relevant in a not too distant future. As the world opens up, physically and virtually people will adapt themselves to new identities from completely different perspectives and for example adapt to virtual identities (something we already can witness with the growth of social media groups). As people consider the world a commonplace to work and live in, new identities will arise from those perspectives too. The combination of the continuation of the importance of an identification with the nation state in comparison to a rapidly changing world through digital innovation seems to me a bit weird. I do agree though with Baudet it is silly to keep the processes of democracy embedded in a 19th century world when many of the nation states emerged. The same digital innovations open up completely new ways to improve the democratic process.

A second thought was if Baudet’s ideas will really appeal to an already lukewarm audience or will they die in theoretical and idealistic beauty? Participating in daily political affairs opens an opportunity to realize reforms, but within the crowded Dutch political landscape with its many political parties there is a big risk that ideas will get lost in watery compromises. There is the famous example of D66, a political party started 50 years ago with similar and radical plans to reform politics from within the system. Nothing substantial from their original revolutionary ideas ever materialized. D66 is nowadays considered to be part of the Dutch political elite, having dropped all of its initial principles.

-Den Haag, 19 Oktober 2016-