Pengalaman Naik Pesawat Pertama Kali

Pengalaman Pertama Kali Naik Pesawat

Beberapa waktu lalu di twitter, ada topik yang membuat saya bernostalgia. Jadi mengingat hal-hal kocak tentang pengalaman naik pesawat pertama kali. Saya besar dikeluarga yang suka bepergian, terutama Ibu. Tapi, belum pernah sekalipun kami naik pesawat. Biasa naik bis, kapal laut, atau numpang mobil saudara. Paling mewah adalah naik kereta kelas ekonomi. Mewah karena kalau ke Jakarta naik kereta ekonomi, Ibu selalu masak banyak trus dibuat nasi bungkus. Jadi kami makan di kereta berbekal nasi bungkus buatan Ibu. Wahh, itu rasanya mewah sekali. Entah kenapa, berkali lipat enaknya. Padahal ya, kereta ekonomi pada jaman itu, sudahlah panas, tidurpun di lantai kereta beralaskan koran. Tidur di bangku kereta, sempit. Jadi lebih nyaman tidur di lantai kereta, beralaskan koran, lalu dilangkahi orang-orang yang lalu lalang dan para pedagang. Haha masa-masa itu. Indah untuk dikenang, tapi kalau disuruh mengulangi, saya tidak mau. Lagipula, katanya sekarang kereta ekonomi sudah jauh lebih nyaman.

Pengalaman Pertama Kali Naik Pesawat
Pengalaman Pertama Kali Naik Pesawat

Jadi tahun 2005, sebelum diwisuda, saya sudah diterima kerja di salah satu perusahaan Multinasional (sekarang PMA) yang ada di Surabaya. Sewaktu tandatangan kontrak kerja, saya diberitahu kalau sudah didaftarkan training di AC Nielsen – Jakarta, hari kedua kerja. Dikasih tau juga akomodasi dan lain-lainnya. Waahh, saya berasa keren sekali waktu itu dan juga rasa tak percaya baru masuk kerja sudah dikirim training. Saya naik Garuda Indonesia, makanya norak dan berasa keren. Tidak pernah naik pesawat sebelumnya, pertama langsung Garuda Indonesia dan dibiayai kantor pula.

Hari H tiba, saya naik taksi dari tempat kos. Naik taksi saja saya sudah merasa sangat keren karena dibayari kantor. Norak-norak bergembiralah intinya waktu itu haha. Berasa keren sejak awal. Hari itu, pertama kalinya saya tau yang namanya Bandara Juanda. Kalau lewat sih pernah beberapa kali sebelumnya. Tapi belum pernah sampai masuk ke dalamnya. Turun dari taksi, saya melongo, wah besar dan megah sekali. Lalu saya tersadar dan jadi deg-degan, semoga tidak nyasar. Oh ya, saya tidak pergi sendirian ke Jakarta, melainkan dengan rekan satu team dan manager. Pagi harinya kami sudah janjian akan bertemu di mana untuk sama-sama Check In. Sambil tetap deg-degan dan norak karena melihat Juanda pertama kali, akhirnya saya bisa menemukan mereka.

Saat Check In, meskipun judulnya tetap sama-sama, tapi kenyataannya sendiri-sendiri majunya. Saya pikir dikolektifkan. Saya urutan paling belakang, jadi deg-degan sendiri. Sampai depan, saking sudah tidak konsen, ditanya tiket pesawat, saya berikan briefing training hahaha padahal sudah saya siapkan lho. Cuma karena satu map, jadi salah kasih.

Selama di Bandara, saya diam saja beribu bahasa. Kalau tidak ditanya, ya saya tidak bersuara. Anak baru pun ya saya ini, tidak paham juga yang dibicarakan rekan kerja dengan manager itu apa. Saya juga bukan tipe orang yang suka basa basi atau sok-sok bisa masuk dalam pembicaraan. Sudahlah diam saja, daripada ketahuan ga pahamnya. Intinya selama menunggu masuk pesawat, saya ngintil mereka terus.

Tibalah saat masuk pesawat, ya itu pertama kali juga saya tahu dalamnya pesawat secara nyata. Sebelumnya cuma tahu dari film. Saat mulai pasang sabuk pengaman, sebelum Pramugari mempraktekkan, saya kembali resah. Duh gimana caranyaaa ini pasang sabuk pengamannya. Manager duduk sebelahan dengan rekan kerja. Sementara saya duduk terpisah namun masih satu deret. Saya yang awalnya pasang muka sok tahu, lalu bingung nengok kanan kiri, akhirnya menyerah bilang, “Bu, saya tidak tahu caranya pasang sabuk pengaman ini.” Manager saya biasa saja mukanya, lalu membantu memasangkan dan memberi tahu bagaimana cara melepaskannya.

Lalu pesawat tinggal landas, nah itu terharu sekali saya. Rasa : benar-benar naik pesawat nih, nyata! Tak berapa lama, pramugari mulai memberikan roti dan minuman sebagai camilan. Saat itu, saya tidak paham kalau itu diberikan sebagai salah satu fasilitas. Saya pikir seperti di bis, diberikan trus disuruh bayar kalau diambil. Jadi, setelah diberikan roti dan minuman, saya tidak langsung makan. Takut disuruh bayar hahaha. Ya maklum karyawan baru masuk dua hari, mana punya uang banyak ya kan. Di kepala saya, kalau berhubungan dengan Garuda Indonesia, pasti mahal semua. Wong tahun segitu tiket Surabaya – Jakarta pulang pergi, mahalnya tidak karuan. Jadi roti dan minuman tersebut tidak saya sentuh sama sekali. Sewaktu pramugari datang lagi untuk mengambil sampah plastik, saya mikir kok roti saya tidak diambil ya. Padahal kalau tidak makan, kan diambil saja, jadi saya tidak harus bayar. Ah, ya sudahlah pikir saya. Nanti kalau semua penumpang turun, pasti diambil juga dan saya tidak disuruh bayar.

Sewaktu bersiap-siap turun, manager saya bilang roti yang tidak dimakan bawa saja, taruh di tas. Nanti bisa dimakan di taksi. Saya bilang dengan polosnya : Memang sengaja tidak saya makan Bu, biar tidak usah bayar. Manager saya yang pada awalnya mukanya datar-datar saja, langsung tertawa ngakak “Den, itu dikasih rotinya. Kamu makan saja, ga akan disuruh bayar. Kan sudah dibayar kantor tiketnya.” Duh!! Muka saya berasa panas, entah berubah jadi merah apa tidak. Saya tersenyum kikuk, malu hahaha. Kocak bener kalau diingat.

Pengalaman naik pesawat pertama kali yang tidak akan pernah saya lupakan. Kocak, norak, berasa keren, tapi banyak bersyukur juga karena bisa naik pesawat pertama kali tanpa harus bayar sendiri.

Tahun depannya, saya pindah kerja di Jakarta. Di perusahaan baru ini, 70% pekerjaan saya di luar kantor. Jadi dalam 1 bulan, 20 hari selalu bepergian untuk perjalanan kantor seluruh Indonesia, 10 hari di kantor. Seseorang yang jarang sekali naik pesawat, menjadi orang yang sehari-hari akrab dengan bandara, pesawat, pramugari dan transit. Di kantor ini, fasilitas pesawatnya adalah Garuda. Dari GFF Blue sampai kelas Platinum saking seringnya bepergian. Lumayan, beberapa kali poinnya bisa saya tukarkan tiket untuk liburan. Kerja sering naik pesawat kadang sampai bingung sendiri, hari ini ada di kota mana, bangun tidur langsung kaget takut ketinggalan pesawat. Selama bepergian dengan pesawat, belum sekalipun ketinggalan pesawat. Tiga kali nyaris telat, malah dipindah ke kelas bisnis Garuda Indonesia. Wow, rejeki nomplok. Lumayan pas rute panjang : Jakarta – Makassar, Jakarta Manado, Jakarta – Medan. Lumayan bisa merasakan kelas bisnis haha. Karena kerja di kantor ini pula, saya jadi tahu banyak kota di Indonesia yang selama ini hanya tahu dari TV. Jadi punya kesempatan menyaksikan keindahan alamnya dan keragaman kulinernya.

Kalau bepergian sendiri tidak dibiayai kantor, saya naiknya pesawat yang terjangkau kantong harganya. Pernah naik Adam Air, Lion Air, Merpati, Air Asia, Tiger Air, Citilink, Sriwijaya, Mandala.

Pertama kali buat paspor, saya naik pesawat ke negara tetangga : Malaysia. Setelahnya, beberapa kali ke luar negeri (sampai akhirnya takdir mengirimkan saya tinggal di Belanda) dengan pesawat yang berbeda seperti Luthfansa, Etihad, Singapore Airlines, Ryan Air, KLM, Kroatia Air, beberapa saya lupa yang pesawat sekitaran Eropa.

Harusnya tahun ini naik pesawat ke Indonesia. Tidak jadi karena Pandemi. Naik pesawat terakhir kali ke Kroasia tahun kemaren. Tahun ini kami pergi liburan cuma dalam negeri saja.

Panjang juga ya cerita pengalaman pertama saya naik pesawat. Banyak kocaknya sih.

Cerita kalian sendiri bagaimana, pertama kali naik pesawat kemana perginya, pesawat apa, apakah ada cerita unik lucu dan menarik?

-25 Agustus 2020-

Enam Tahun Perkawinan

Enam Tahun Pernikahan

Minggu lalu, perkawinan kami genap berusia 6 tahun. Sebenarnya kami kenal satu sama lain 6.5 tahun. Tinggal satu atap 5.5 tahun. Enam tahun menikah, pasti ada saja ya naik turunnya. Menikah kan bukan hanya sebatas yang indah-indah saja, yang pahit-pahit juga harus dihadapi dan diselesaikan bersama.

Saya memang orangnya realistis, tidak mau hidup dalam dunia dongeng. Kalau ada yang bertanya pada saya, bagaimana kehidupan setelah menikah. Saya selalu bilang kalau kehidupan pernikahan itu bukan menyelesaikan sebuah permasalahan tapi membuat permasalahan baru dilipatgandakan. Ya karena setelah menikah semuanya dihadapi berdua. Ada masalah ya seringnya datang dari kedua belah pihak, maka dari itu masalahnya jadi ganda. Bedanya, setelah nikah ada yang diajak diskusi. Jadi menyelesaikan masalah juga berdua. Karena itu, buat mereka-mereka yang kebelet menikah diusia muda, lebih baik pikirkan berulang kali. Nikmati masa muda sepuasnya dulu, kejar yang perlu dikejar, raih setingginya yang perlu diraih. Nanti setelah menikah, orientasinya berbeda. Tentu saja masih bisa mengejar dan meraih, dengan diskusi berdua.

Biasanya saat ulangtahun pernikahan, kami lewati dengan jalan-jalan. Kali ini situasinya berbeda, Pandemi. Kami melewati hari di acara ulangtahun Anis. Tanggal ulangtahun dia dan ulangtahun pernikahan kami, persis sama. Jadi ketika kami memutuskan tidak jadi ke negara tetangga, kami mengiyakan undangan ulangtahun Anis. Seperti biasa, saya membuat tumpeng lalu membagikan nasi kuning ke para tetangga dan saudara. Spesialnya, saya membuat sendiri kue ulangtahun pernikahan kami. Tidak yang ruwet, sederhana tapi kekinian haha penting. Saya membuat Jelita Cake. Gampang sih bikin ini *huahaha sumboongg padahal sebelum bikin, deg-degan takut bantat, nanya terus sama Mita di twitter. Saya membuat dua, satu untuk kami makan sendiri dan bagi-bagi. Satu untuk dibawa ke ulangtahun Anis. Rasanya enak dan tidak bantat.

Alhamdulillah, ulangtahun pernikahan yang sangat bermakna. Kami lewati bersama para teman dan keluarganya. Pandemi ini sungguhlah luar biasa efeknya. Melewati hari jadi pernikahan bersama mereka, membuat hati menghangat. Untuk Anis, selalu bahagia, berkah melimpah, sehat dipertambahan umur periode yang baru.

Jelita Cake
Jelita Cake
Tumpengan
Jelita Cake untuk ulangtahun Anis
Jelita Cake untuk ulangtahun Anis
Jelita Cake

Sehari sebelum hari ulang tahun pernikahan, saya bertanya pada suami : Bagaimana rasanya 6 tahun menikah denganku, apakah terlalu berat? *sadar diri, kerasnya melebihi batu. Tapi sekarang kadar kerasnya sudah jauh berkurang.

Dijawab suami : Pasti naik turun ya, tapi aku merasakan banyak bahagianya dibandingkan yang pahit-pahitnya. Sampai kadang lupa bagian pahitnya, saking bahagianya *lalu hidungku mekrok2 karena dipuji.

Hidup dengan orang yang tepat, waktu berlalu sangat cepat. Mendadak kok sudah 6 tahun saja. Merasa kok sudah 5.5 tahun di Belanda. Ngapain saja aku selama ini *amnesia. Segala hal selalu kami perjuangkan bersama. Segala bahagia dan tertawa selalu kami rasakan berdua. Kata orang, 5 tahun pernikahan di awal sangatlah berat. Ujian akan datang pada rentang waktu tersebut. 5 tahun pertama kami lewati dengan mulus. Justru ujian datang beberapa bulan setelah 5 tahun. Saat saya keguguran mendekati akhir tahun lalu. Bersyukur, kami bisa melewatinya dengan baik. Peristiwa tersebut semakin menguatkan hubungan kami.

Enam tahun penuh dengan cerita, suka duka tawa bahagia. Saling menopang dan menguatkan, saling bahagia dan membahagiakan. Saling cinta dan mencintai. Enam tahun dengan dua malaikat yang sudah berpulang mendahului, namun selalu ada dalam hati, ingatan, dan doa kami. Enam tahun bersama buah hati yang terkadang membuat awut-awutan hari namun lebih banyak memberikan keceriaan dengan segala tingkah laku mereka. Kami terberkati dengan kebahagiaan ini, syukur yang tak pernah putus mengalir setiap hari. Semoga kami berjodoh panjang, sehat, berkah, dan bahagia.

-12 Agustus 2020-

Membicarakan Kematian

Duh kok agak horor ya malam Jumat begini nulis tentang kematian. Tenang, ini bukan tulisan tentang setan dan kaumnya. Saya ingin bercerita tentang perbincangan beberapa hari lalu dengan suami.

Dua tahun lalu, saya pernah menuliskan topik tentang kematian di blog ini. Lebih lengkapnya, bisa dibaca di sini. Dulu, saat belum menikah, membicarakan kematian adalah hal yang saya hindari. Kayak ga ada topik pembicaraan yang lebih menarik lainnya kan. Ngeri takut kejadian kalau ngobrol tentang kematian. Setelah menikah, budaya di Belanda ternyata berbeda. Membicarakan kematian jadi hal yang biasa, setidaknya di lingkungan keluarga kami dan beberapa rekan yang kami kenal.

Pada akhirnya, saya jadi biasa membicarakan tentang kematian. Jadi semacam, ya biasa saja. Jadi lebih realistis, ya memang meninggal itu butuh dipersiapkan. Lebih realistis ya semua orang memang ujung-ujungnya akan meninggal. Dulu, saya sudah wanti-wanti suami kalau saya meninggal terlebih dahulu, ingin dikuburkan dekat Bapak. Jadi jenazah saya, minta dipulangkan ke Indonesia. Karena keinginan yang seperti itu, kami lalu mencari informsi tentang asuransi, supaya nanti tidak kelabakan. Asuransi pemakanan, super mahal.

Jalan di kampung kami

Lalu beberapa hari lalu, saat saya sedang mencuci peralatan masak, tiba-tiba terlintas : kenapa harus dikuburkan di Indonesia ya kalau saya meninggal. Dulu ingin dimakamkan dekat Bapak dengan alasan supaya keluarga di sini tetap bisa untuk sesekali ke Indonesia menengok kuburan saya dan Bapak juga bisa bertemu dengan keluarga di sana. Jadi tidak putus hubungan dengan keluarga di Indonesia.

Lalu saya pikir-pikir lagi, kok ya repot sangat. Sudah jadi jenazah, kok ya jadi merepotkan yang masih hidup dengan harus mengirim ke Indonesia, mendampingi dan harus menempuh perjalanan sebegitu panjangnya. Padahal keinginan saya (dan suami), kalau kami meninggal tidak mau terlalu merepotkan yang sudah hidup.

Atas dasar pikiran yang tiba-tiba terlintas tersebut, saya utarakan ke suami kalau saya membatalkan rencana untuk dikuburkan di Indonesia. Saya ingin dikuburkan di Belanda saja. Saya tidak mau merepotkan yang masih hidup. Saya ingin yang simpel dan gampang saja, yang penting khidmat dan dikenang baik oleh keluarga. Yang datang di acara pemakaman juga hanya keluarga inti dan teman sangat dekat. Keluarga di Indonesia tidak perlu datang supaya tidak repot. Bahkan saya juga bilang, kalau misalkan tidak ada lahan untuk mengubur, dikremasi pun tidak masalah. Intinya, jangan dibuat susah dan tidak merepotkan. Sudah seikhlas itu.

Tanggapan suami : Ok, nanti mau diputarkan lagu apa waktu jenazah kamu disemayamkan. Bonjovi atau Coldplay?

Hahaha sungguh saya langsung tergelak. Belum terpikirkan tentang hal itu. Tapi saya sudah lega menyampaikan keinginan tersebut. Meninggal tanpa merepotkan yang masih hidup. Sederhana tapi manis dikenang. Obrolan macam ini memang sering kami lakukan.

Saya menulis begini jangan langsung dijadikan sebuah pertanda atau firasat atau apapun ya. Yang namanya umur tidak ada yang tahu. Inginnya diberikan kesehatan yang baik dan umur yang berkah. Ingin hidup yang lebih lama, berjodoh lama dengan suami, dan bersama dengan keluarga lebih lama. Utang puasa masih banyak dan belum lunas nih, jadi berdoa usia dipanjangkan.

Kalian pernah memikirkan tentang hal ini, atau sering ngobrol dengan pasangan tentang kematian?

-23 Juli 2020-

Klepon Cake

Klepon Cake

Orang Indonesia memanglah kreatifitasnya tak perlu diragukan. Saya sampai takjub. Ini spesifik ngomentarin kreatifitas dalam hal makanan. Ada saja idenya. Ya walaupun saat ini hanya dalam angan saya semata perkara rasa makanan-makanan yang banyak bermunculan, setidaknya bisa memberi hiburan buat saya yang suka nonton vlog kulineran.

Beberapa waktu lalu suami ulangtahun. Sejak jauh hari saya sudah berniat mau membuat taart sendiri. Ya sebenarnya antara niat tak niat karena faktor takut gagal. Terakhir membuat taart ulangtahun saat keponakan di sini merayakan ulangtahun ke 5. Sukses saat itu, semua suka. Setelahnya saya malas berhubungan dengan kue ulangtahun. Mending pesan atau beli jadi sajalah, tidak ruwet. Tahun ini kok makbedundug ingin membuat taart untuk ulangtahun suami. Efek mendekam di rumah.

Klepon Cake

Setelah bertapa beberapa lama, saya memutuskan membuat kue yang (pernah atau masih) fenomenal di Indonesia. Klepon Cake. Saya tahu fenomenal ya dari YouTube. Saya pikir wah ok juga nih kalau dijadikan kue ulangtahun. Bisa dibagi ke tetangga – tetangga dan para saudara. Pasti unik rasanya buat mereka. Lalu bersemangatlah saya mencari resep-resepnya. Langsung mules begitu tahu resepnya menggunakan emulsifier untuk telor yang tidak banyak. Masalahnya, saya tidak punya emulsifier. Bisa saja tanpa emulsifier tapi kuning telor yang digunakan alamak banyaknya, sampai 18 kuning telor. Langsung meriang membayangkan semisal gagal. Bisa nangis meraung-raung di pojokan rumah. Saya sampai konsultasi dengan Mita di twitter. Ingin cari jalan supaya tidak terlalu rumit perkara telur ini. Lalu detik-detik menjelang hari ulang tahun suami, terpecahkanlah permasalahan telur. Saya konsultasi dengan salah satu teman yang tinggal di Belanda juga dan dia jago membuat kue. Saya konsultasi lewat FB. Konsultasi lintas platform media sosial.

Klepon cake ini printilannya banyak jadi langkah pengerjaannya pun panjang. Membuat dasar kue, membuat unti, membuat frosting, lalu membuat klepon. Kuenya saya menggunakan resep dari channel Emma’s Goddies. Hanya ada sedikit modifikasi, yoghurt saya ganti santan dan adonan ditambahi pasta pandan. Sedangkan frostingnya saya menggunakan resep Farah Quinn dengan takara gula saya kurangi 50% dari resep asli. Unti resep dari Ibu : kelapa, susu, gula merah, vanilla, dan sedikit garam.

Klepon Cake

Untuk pemula, ya lumayanlah jadi juga membuat kue yang fenomenal di Indonesia. Lucu juga ya, klepon cake. Masih terkagum dengan kreatifitas orang Indonesia. Meskipun belum sempurna karena bagian atasnya masih menggelembung. Setelah konsultasi dengan Mita dan Kak Timmy di Twitter, disinyalir karena adonan terlalu banyak saat memanggang. Mustinya dibagi dua. Atau suhu oven yang terlalu panas. Bisa diturunkan 10 derajat celcius dari resep asli.

Klepon Cake
Klepon Cake

Saat dibagikan ke para tetangga dan para saudara, testimoni dari mereka positif. Katanya rasa kuenya unik karena ada kelapa manis dan kelapa kering. Mereka juga suka frostingnya, beraroma pandan. Lalu mereka kaget saat makan kleponnya, tidak menyangka ada gula merahnya. Saya memang sengaja tidak memberitahu perihal gula merah. Kejutan buat mereka. Ah senangnya, pertama kali membuat Klepon Cake langsung suka semua. Suami apalagi, dia sampai nambah-nambah makan cake ini. Ada satu kerabat yang datang ke rumah dan mencicipi klepon cake, setelahnya dia memesan dibuatkan untuk ulangtahunnya bulan depan. Lah, langsung kesengsem si klepon haha.

TUMPENGAN

Seperti biasa kalau ada yang perlu dirayakan, tumpengan tidak pernah absen. Dan seperti biasa juga, karena tidak punya cetakan khusus, jadi bentuk tumpengnya ya sesuai cetakan yang ada saja.

Tumpengan Ulang tahun
Tumpengan ulangtahun

Tahun-tahun sebelumnya, setiap suami berulangtahun, kami pasti mengadakan acara di rumah dengan mengundang tetangga dan seluruh saudara. Tapi tahun ini keadaan berbeda, kami masih belum berani dalam satu ruangan dengan banyak orang, terutama karena ruangan di rumah yang ukurannya tidak terlalu besar. Jadi tidak banyak ruang buat jaga jarak. Mau membuat acara di halaman belakang, terlalu riskan juga dengan cuaca Belanda yang susah ditebak. Lha ndilalah pas hari H ternyata hujan deras. Akhirnya diputuskan tahun ini absen dulu membuat acara yang mengundang banyak orang di dalam rumah. Demi keselamatan bersama ya, saling jaga. Jadilah masakan dan kue kami hantarkan ke rumah masing-masing. Untungnya semua dekat, bisa ditempuh dengan sepeda.

Beberapa yang dihantarkan

Semoga suami selalu sehat, berkah hidup dan langkahnya, diberikan umur panjang dengan bahagia dan selalu menikmati suka duka yang ada. Semoga langgeng terus sekeluarga.

Klepon cake dan tumpengan

-17 Juli 2020-

Merayakan Sebuah Proses

Bunga dari keluarga

Ini akan menjadi tulisan yang panjang. Bisa disimak buat para orangtua atau mereka yang merasa selama ini memandang sebuah proses haruslah berakhir menjadi berhasil. Mereka yang selama ini takut akan kegagalan. Tentang sebuah apresiasi terhadap proses.

KILAS BALIK

Saya tumbuh besar dididik oleh seorang Ibu yang sangat mendewakan sebuah keberhasilan. Bapak, justru kebalikan. Beliau selalu bilang, apapun hasil akhirnya tidak jadi masalah selama saya menjalani proses dengan sungguh-sungguh dan menikmatinya. Buat Bapak, tidak ada yang namanya gagal. Menurut Beliau, belum berhasil artinya diberikan kesempatan lagi untuk belajar lebih baik. Pesan Beliau : jadilah yang terbaik versimu.

Sayangnya, doktrin Ibu bahwa gagal adalah gagal itu selalu tertancap di otak saya sampai dewasa. Yang namanya gagal, ya gagal. Artinya tidak lalu menjadi keberhasilan yang tertunda. Sejak kecil, saya selalu berkompetisi dengan diri sendiri untuk membuktikan kepada Ibu bahwa saya bisa menjadi yang terbaik, versi Beliau. Berhasil? iya. Saya memang bisa membuktikan bahwa saya selalu menjadi yang terbaik, menjadi yang juara, menjadi Ter- Ter- versi Beliau. Apakah saya menikmatinya? Dulu saya pikir setiap keberhasilan yang saya raih membuat saya bahagia, membuat saya bangga. Dikemudian hari, saya menyadari bahwa selama ini saya tidak menikmati kebahagiaan sesungguhnya karena sudah menjadi seseorang yang berhasil meraih pencapaian tinggi. Bahagia, iya. Tapi rasa kebahagiaan yang saya rasakan seperti semu. Hanya sesaat saja.

Dikemudian hari saya juga menyadari bahwa untuk mencapai berhasil, saya tidak menikmati prosesnya. Tidak langkah per langkah saya pikirkan, tapi fokus saya selalu hasil akhir harus berhasil. Tidak boleh gagal. Kalau sampai gagal, kiamat dunia. Dulu, gagal buat saya adalah sebuah aib. Sebisa mungkin tidak saya suarakan, tidak saya beritahukan kepada orang lain. Saya akan simpan sendiri dan membuat jadi tertekan. Karenanya, saya akan berusaha lebih dari maksimal agar berhasil, menghindari tertekan karena gagal. Tanpa saya sadari, bahwa jalan menuju berhasil, prosesnya, itu yang membuat saya tertekan.

Ibu, juga mendidik saya dengan jarang sekali memberikan apresiasi. Walaupun berhasil, jarang terlontar pujian atau ucapan bahwa Beliau bangga pada saya. Keberhasilan semacam sebuah keharusan. Jika tercapai, ya memang selayaknya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Beliau tidak melihat jatuh bangun saya sampai dititik berhasil. Yang Beliau tanamkan, bahwa berhasil itu tidak perlu dirayakan, karena memang seyogyanya sebuah terget harus berhasil dititik akhirnya. Terbayang kan jika saya mengalamai kegagalan? Karenanya saya selalu berjuang lebih dari kata keras untuk berhasil.

Misal : sewaktu SMP saya pernah menjadi juara 1 di kelas. Waktu itu saya masuk kelas unggulan di mana isinya anak-anak pintar semua. Saya belajar mati-matian waktu itu. Tapi saya tidak mendengar ucapan selamat dari Ibu. Justru saya dengar bahwa Ibu bangga pada saya dari seorang teman Ibu. Saya ingat sekali sedihnya seperti apa. Lain waktu, saat SMA, saya pernah masuk dalam 10 besar pararel di sekolah. Pararel artinya juara antar kelas. Itu juga belajar mati-matian. Sekolah saya termasuk favorit di Surabaya, dan masuk 10 besar pararel artinya lumayan berprestasi. Saya bangga mengabarkan hal tersebut pada Ibu. Sambutan Ibu : kalau belajar lebih giat, mustinya bisa masuk 3 besar.

Walhasil, dibalik perjuangan keras saya untuk berhasil, ada satu harapan untuk mendapatkan sebuah apresiasi dari Ibu. Setiap langkah saya, setiap kerja keras, selalu yang terpikirkan adalah bagaimana caranya supaya Ibu memberikan pujian kepada saya secara langsung. Yang saya tahu, Beliau memberikan pujian, justru dilontarkan pada orang lain. Beliau bangga pada saya, tapi tidak saya dengar langsung. Saya justru tahu dari orang-orang yang mendengar lontaran bahwa Beliau bangga karena anak tertuanya sudah berhasil A, B, C dll. Hal tersebut malah membuat saya berpikir, kenapa ya kok Ibu tidak pernah memuji saya secara langsung? Tidak mengapresiasi apa yang saya lakukan secara langsung? Kenapa harus dilontarkan pada orang lain tanpa saya tahu.

Dengan keadaan seperti itu, menjadikan saya melakukan segala hal supaya selalu berhasil agar mendapatkan apresiasi dari Ibu secara langsung. Saya haus apresiasi. Sampai pada satu titik, akhirnya saya kelelahan dan mulai berhenti untuk menjadi yang terbaik versi Beliau. Saya lelah mengejar hal yang mungkin tidak akan pernah Beliau lakukan sampai kapanpun. Saya berhasil dalam banyak hal, tentu membahagiakan. Dilain sisi, ternyata saya tidak sebahagia yang saya pikirkan. Bahagia tapi kosong. Bahagia tapi lelah. Bangga karena bisa menyelesaikan sampai berhasil semua target yang saya pasang, tapi saya tertekan. Orang melihat saya selalu berhasil, nyaris tidak pernah gagal. Benar, tapi ternyata saya tidak pernah menikmati prosesnya. Saya kelelahan. Saking lelahnya, saya beberapa kali membutuhkan bantuan professional untuk mengatasi kondisi psikologis yang seperti ini.

Beberapa tahun belakang, saya memberanikan diri bertanya ke Ibu kenapa saya tidak pernah dipuji secara langsung ketika melakukan sesuatu hal yang sekiranya membanggakan Beliau. Ibu bilang karena tidak terbiasa jadi tidak tahu cara mengekspresikan langsung pada saya. Saya mencoba menerima apa yang Ibu utarakan tersebut. Mencoba berdamai dengan luka yang terlanjur ada.

SEMUA BERUBAH

Saat mulai tinggal di Belanda, saya makin menyadari bahwa yang saya lakukan saat tinggal di Indonesia benar-benar tidak sehat. Hidup penuh ambisi, penuh pembuktian kepada orang lain, ingin selalu jadi juara. Asal muasalnya satu : menjadi yang terbaik versi Ibu supaya Beliau selalu bangga pada setiap pencapaian yang saya lakukan. Saya tidak pernah menyisakan ruang untuk gagal. Saya tidak pernah merasakan langkah per langkah proses untuk menuju berhasil. Gagal adalah sebuah momok, aib. Gagal membuat saya jauh tertekan. Walhasil, saya hidup dengan gemuruh yang selalu ada di kepala. Positifnya, saya memang selalu dapat apa yang ditargetkan. Buruknya, kondisi psikologis saya yang tidak sehat.

Hidup di sini, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang yang saya temui, suami, mereka yang tinggal di lingkungan sekitar, dan lingkungan keluarga, mereka sangat menghargai yang namanya proses. Saat mendengar ada seseorang atau anggota keluarga yang merasa gagal melakukan sesuatu, tanggapan mereka selalu membesarkan hati, semacam : Nanti dicoba lagi, berarti waktu kamu buat belajar lebih panjang. Kamu sudah berhasil sejauh ini, sudah belajar keras. Kalau hasilnya belum maksimal, semoga setelah ini lebih baik ya sesuai yang kamu inginkan.

Maureen pernah membahas di tulisannya yang ini, tentang bagaimana menanggapi sebuah hal. Lebih spesifik tentang feedback. Seringnya, yang dilakukan oleh orangtua di Indonesia (pada masa saya, tapi tidak semua orangtua) adalah melihat kesalahan terlebih dahulu dibandingkan memberikan apresiasi. Mengkritik tapi lupa memberikan pujian. Padahal yang namanya usaha adalah proses panjang menuju titik yang ingin dicapai. Apapun hasilnya nanti, sebuah usaha layak mendapatkan apresiasi. Tidak usah muluk-muluk, ucapan selamat atau terima kasih sudah berjuang sejauh ini, itu sudah cukup.

Selama 5 tahun di sini, saya belajar akan hal itu. Memberikan apresiasi dan menerimanya. Sekecil apapun, setiap usaha layak mendapatkan apresiasi. Saya yang dulunya berjiwa ambisius namun cepat sekali merasa tersengal -lelah- sekarang lebih bisa merasakan setiap proses yang lakukan. Jika gagal, tentu saja kecewa, namun tidak berlebihan. Mulai bisa menerima konsep bahwa gagal juga bisa menjadi hal baik kedepannya. Ada waktu lebih untuk belajar. Menerima konsep bahwa gagal bukanlah sebuah aib. Menerima konsep bahwa gagal juga bagian dari proses pembelajaran dan bukanlah sebuah akhir.

Sejak di sini, saya berani untuk menjadi yang terbaik versi saya, bukan versi Ibu atau versi orang lain. Dan saya jauh lebih bahagia dengan hal tersebut.

BELAJAR MENYETIR MOBIL

Menyetir mobil bukanlah sesuatu yang saya rencanakan untuk dilakukan. Rumah kami dekat dengan transportasi umum : bis, tram, dan kereta. Mau ke mana-mana juga dekat karena lokasi rumah diantara 3 kota besar di Belanda. Kami juga ke mana-mana bisa naik sepeda. Lalu buat apa repot-repot belajar menyetir mobil, apalagi saya takut sekali yang namanya mengendarai kendaraan bermotor. Selain itu, kami juga tidak punya mobil.

Sampai sekitar September tahun lalu, saya mulai terpikir bahwa menyetir mobil itu termasuk salah satu skill yang harusnya saya punya. Saya tidak mau selalu bergantung ke suami jika suatu saat butuh untuk berkendara dengan mobil. Ditambah lagi, saya ingin menantang diri sendiri untuk melawan ketakutan mengendarai kendaraan bermotor. Singkat cerita, saya mendaftar les menyetir akhir tahun lalu.

Selama les, banyak kendala yang saya hadapi. Yang terbesar adalah : rasa takut. Itu benar-benar sebuah momok. Mengalahkan rasa takut dan tidak percaya diri itu susah. Tapi kembali lagi, saya sudah berniat untuk bisa menyetir walaupun prosesnya harus diselingi dengan tangisan. Terkadang saya lupa, bahwa saya memulai dari nol dan semua butuh waktu. Instruktur menyetir saya yang mengingatkan bahwa tidak bisa saya langsung menguasai semua hal yang berhubungan dengan menyetir mobil dalam sekali jalan. Layaknya anak kecil yang belajar melangkah, prosesnya harus dijalani. Tidak bisa langsung loncat tahapannya. Saya pernah ditegur oleh dia saat ditanya hal apa yang saya pelajari hari itu. Saya menjawab : banyak sekali salah yang saya lakukan hari ini. Dia lalu bilang : kenapa kamu selalu fokus dengan kesalahan yang kamu lakukan. Kenapa kamu tidak fokus dengan keberhasilan yang kamu lakukan hari ini dan berterimakasih ke diri sendiri kamu sudah melangkah sejauh ini. Setiap orang yang belajar pasti ada salahnya, tapi bukan berarti tidak melakukan yang benar kan. Salah buat bahan koreksi supaya kedepannya lebih baik. Tapi jangan lupa untuk berterima kasih ke diri kamu sendiri untuk setiap keberhasilan meskipun kecil bentuknya.

Saya terdiam. Sejak saat itu, saya selalu berusaha melihat hal positif setiap les menyetir. Kesalahan menyetir masih banyak yang saya lakukan. Tapi, bukan berarti tidak ada hal baik yang sudah saya lakukan sejauh ini. Saya berterima kasih dengan keras kepala saya untuk selalu belajar lebih baik lagi.

Kemarin, merupakan hal bersejarah buat hidup saya. Akhirnya ujian menyetir pun tiba setelah tertunda 3.5 bulan karena Corona. Saya sudah berjalan sejauh ini, saatnya menunjukkan apa yang saya pelajari ke pihak penguji. Ditahap ini, saya bilang pada diri sendiri, saya akan berusaha semaksimal mungkin selama ujian. Berhasil atau mengulang lagi, saya tetap melihat sebagai sebuah keberhasilan karena sudah berani menaklukkan ketakutan menyetir mobil.

Setelah ujian selesai, seperti yang sudah saya duga karena ada beberapa kesalahan yang saya lakukan saat di jalan, saya harus mengulang ujian. Kecewa tentu saja. Tapi saya langsung bilang ke diri sendiri : Hebat, kamu sudah melalui tahap ini. Terima kasih kamu sudah berani untuk menyetir mobil. Mari belajar lebih semangat dan menyetir dengan lebih aman setelah ini. Jangan menyerah ya, yuk sama-sama berusaha. Saya bangga dengan kamu.

Instruktur saya pun bilang : Kamu hebat sudah mengalahkan rasa takutmu. Sudah melangkah sejauh ini. Setelah ini, kita perbaiki lagi apa yang jadi bahan masukan dari penguji. Tetap semangat ya, jangan menyerah. Saya yakin kamu bisa.

Sesampainya di rumah, saat membuka pintu, saya mengabarkan kalau musti mengulang lagi. Suami memberikan bunga dan mereka memberikan ucapan selamat pada saya. Suami bilang bahwa saya layak mendapatkan bunga dan ucapan selamat atas proses panjang dari nol yang telah saya lakukan. Dia bilang : Lulus atau mengulang lagi, sama-sama dirayakan karena kamu sudah melangkah sejauh ini.

Bunga dari keluarga

Terharu rasanya mendapatkan dukungan seperti ini. Keluarga adalah pendukung utama saya. Siangnya saya bercerita pada beberapa teman, termasuk Yayang. Dia mengatakan satu hal : Kamu sudah menjadi seorang pemenang karena sudah mengalahkan rasa takutmu. Meskipun kamu harus mengulang ujian, kamu sudah menjadi seorang pemenang karena sudah berusaha paling maksimal.

Ah ya, saya sudah menjadi seorang pemenang. Terima kasih, Yang.

Sorenya kami merayakan apa yang terjadi hari itu. Merayakan sebuah proses. Kami memesan antar makanan dari restoran yang dekat dari rumah. Saat makan, suami bilang : Lulus atau mengulang, kamu tetap juara buat kami. Dari yang tidak bisa mengemudi mobil, sekarang sudah bisa mengemudi ke mana-mana selama les. Selanjutnya, tinggal meningkatkan jadi lebih baik supaya lulus ujian.

Terima kasih, kalian selalu mendukungku. Terima kasih juga buat Ibu yang mendoakan saya saat ujian kemarin.

BERIKAN APRESIASI PADA ANAKMU

Seorang anak, berapapun usianya, mempunyai perasaan. Bahkan seorang balita sekalipun. Hargailah perasaan anakmu. Belajar dari apa yang sudah Ibu lakukan pada saya. Sejauh ini, saya tidak menyalahkan sepenuhnya apa yang Ibu perbuat pada saya. Saya percaya, setiap keberhasilan yang saya lakukan, ada doa Ibu yang menyertai di dalamnya. Ada sujud panjang Ibu di Tahajjud, sholat-sholat wajib dan sunnah lainnya. Yang Ibu lupa adalah mengapresiasi setiap hasil yang saya lakukan. Berhasil ataupun gagal, ada proses panjang di dalamnya. Ibu lupa bahwa seorang anak juga ingin mendengar langsung bahwa Beliau bangga atas apa yang saya lakukan selama ini. Ibu lupa menanyakan apakah saya bahagia dengan segala pencapaian selama ini. Ibu lupa bertanya apakah semua ini benar-benar yang ingin saya jalankan dan inginkan.

Ada luka dalam batin menyertai proses tumbuh saya. Saat ini, saya perlahan menyembuhkan luka tersebut. Belum terlambat untuk berbenah. Semua harus berhenti di saya. Perlahan tapi pasti. Tidak ingin meneruskan pada keturunan saya, setiap proses harus diapresiasi. Setiap proses ada bahan pembelajaran. Gagal juga bagian dari hidup yang harus dihadapi. Tidak semua hal sesuai kehendak kita. Gagal bukanlah aib.

Semoga apa yang saya tuliskan kali ini bisa membuka wacana tentang hal yang mungkin dianggap sepele tapi berdampak sangat besar di kemudian hari. Mengapresiasi setiap proses yang sudah dilakukan.

Buat para orangtua, jangan segan-segan untuk memberikan apresiasi untuk anak-anakmu sekecil apapun itu.

Buat kamu sebagai pribadi, jangan lupa ucapkan terima kasih pada diri sendiri atas segala perjalanan yang sudah ditempuh sejauh ini. Terima kasih karena sama-sama belajar untuk berproses menjadi lebih baik. Jangan segan untuk merayakan meskipun gagal. Mari merayakan sebuah proses.

Selamat berakhir pekan!

-10 Juli 2020-

Rekap Baking Challenge Bulan Juni 2020

Baking Challenge June 2020

Seru juga ikut Baking Challenge yang digagas oleh Mbak Yoyen. Lebih lengkapnya bisa dibaca di blog Mbak Yoyen mengenai baking challenge ini. Ada dua roti yang pertama kali saya buat. Kok ya, dua duanya selama ini saya hindari karena alasan tertentu. Nanti saya sebutkan alasannya kenapa. Ok, saya akan tuliskan rekapan per minggu apa saja yang sudah saya buat.

MINGGU PERTAMA – ROTI SOBEK PANDAN

Minggu pertama, saya tidak membuat roti sobek pandan karena seminggu sebelum challenge ini dimulai, saya sudah membuatnya. Jadi saya hanya setor foto. Adonan rotinya saya menggunakan adonan Brioche. Jadi super lembut dan wangi butter nya saat dipanggang, kuat sekali. Brioche salah satu favorit di rumah karena lembut dan wangi butter.

Resep dasarnya saya adaptasi dari blog Passion for baking. Hanya yang saya buat ini sudah diotak atik berdasarkan beberapa kali percobaan karena tepung yang saya pakai tidak sebanyak yang diresep. Jenis tepungnya pun beda. Saya menggunakan Patentbloem (all purpose flour) ditambahi sedikit bubuk gluten. Jadi yang lain-lain juga menyesuaikan. Roti sobek pandan yang saya buat ini isinya keju dan meses.

Roti sobek pandan
Roti sobek pandan
Roti sobek pandan

MINGGU KEDUA – FOCACCIA GARDEN

Minggu kedua, Focaccia Garden. Sebelum membuat Focaccia Garden, saya sudah tiga kali membuat focaccia dengan hiasan rosemary dan bawang putih. Yang saya suka dari Focaccia adalah rasa gurih dan kaya akan olive oil. Setiap membuat Focaccia, pasti boros Olive oil.

Focaccia Garden
Focaccia Garden
Focaccia Garden

Resep dasar Focaccia dan cara membuatnya, saya sudah cocok dengan yang ditulis (dan ada di YouTube) di blog Just one bite please. Menggunakan metode poolish, menurut saya tidak terlalu ribet malahan. Cuma tarik dan lipat saja. Waktu proofingnya memang jadi agak lama.

Hiasan untuk Focaccia Garden ini saya menggunakan bawang merah, bawang putih, seledri, rosemary, paprika, cabe merah besar, tomat, irisan kulit jeruk nipis, pistachio, bawang daun, dan olive.

Focaccia Garden
Focaccia Garden

Untuk yang suka rasa gurih, bisa-bisa kalap saat makan Focaccia. Kami serumah doyan ngegado Focaccia.

MINGGU KETIGA – CINNAMON ROLLS

Nah, ini salah satu yang selalu saya hindari sejak belajar membuat roti hampir 4 bulan ini. Saya agak ngeri dengan gula ditabur dan tidak terlalu suka aroma kayu manis dicampur dalam roti. Tapi karena ada dalam salah satu tantangan, jadi saya singkirkan rasa tidak terlalu suka tersebut.

Cinnamon Rolls
Cinnamon Rolls
Cinnamon Rolls
Cinnamon Rolls

Resep roti dan frostingnya saya adaptasi dari blog Ambitious Kitchen. Anis yang memberitahu saya tautan tersebut. Anis masternya bikin Cinnamon Rolls, jadi saya (mencoba) percaya haha. Kata kuncinya : kata Anis rasanya tidak terlalu manis. Jadi saya langsung mencoba resep yang ada di blog tersebut. Yang saya modifikasi adalah tepungnya. Saya menggunakan patentbloem (all purpose flour) dan Speltmeel (tepung teraja. Masih satu keluarga dengan tepung gandum). Prosentasenya, tepung teraja hanya 25%. Lalu takaran gulanya saya kurangi. Yang agak PR dari resep ini adalah saya harus mengconvert semua ukurannya dalam bentuk gram. Walhasil agak lama diawal.

Cinnamon Rolls
Cinnamon Rolls

Campuran kayu manis dan gulanya selain saya tabur di dalam adonan roti, juga saya taburkan di pinggan. Jadi saat dipanggang, bagian bawah rotinya juga ada rasanya nanti saat dimakan. Menunggu Cinnamon Rolls matang, seisi rumah aromanya sudah seperti toko kue. Harum sekali dengan aroma kayu manis.

Waktu yang mendebarkan pun tiba, mencicipi hasilnya. Saya takutnya pada ga doyan karena aroma kayu manis dan mungkin terlalu manis. Ternyata di luar dugaan, semua suka. Sekali makan, 6 potong langsung habis. Saya cuma mencicipi saja. Lidah saya masih terlalu susah untuk makan roti yang manis seperti ini. Unsur Jawa Timurnya masih terlalu kuat. Frostingnya juga saya suka, pas dengan yang saya inginkan tidak terlalu manis dan rasa kejunya dapat. Frostingnya menggunakan adonan cream cheese.

Cinnamon Rolls
Cinnamon Rolls

Sebagai pemula, lumayan ok lah ini hasil saya membuat Cinnamon Rolls, dari segi rasa dan tekstur. Dalam dua hari, 12 potong tandas tak bersisa.

MINGGU KEEMPAT – BAO BUN

Sewaktu membaca ada Bao Bun di unggahan Mbak Yoyen, saya tidak terlalu ngeh, Bao Bun itu apa. Apa bedanya dengan Bapao ya. Membuat Bapao saja selama ini selalu saya hindari karena dengar-dengar agak tricky.

Sebelum membuat Bao Bun, saya cari di YouTube mana yang sekiranya gampang. Lalu pilihan saya jatuh menggunakan resep Marion’s Kitchen. Saya pelajari dengan seksama langkah-langkahnya, bagaimana cara mengukusnya. Setelah dipraktekkan, ternyata tidak sesusah yang saya bayangkan. Hanya saja, kulitnya tidak semulus yang dia punya. Ah tak apa, yang penting tidak bantat.

Bao Bun
Bao Bun

Sebelum eksekusi, saya juga sempat konsultasi dengan Dila di twitter tentang bagaimana dan berapa lama mengukusnya. Asli, dari keempat tantangan, yang terakhir ini paling bikin deg-deg an. Lalu Dila bilang kalau sisa adonannya dibuat Bapao. Wah ide cemerlang juga. Jadi satu resep bisa dibuat dua macam. Saya akhirnya mengekor langkah Dila.

Bapao

Isian Bao Bun : Ayam fillet bumbu kebab saya tambahi berbagai macam saos. Rasanya gurih. Lalu sayurnya saya pakai bayam, wortel, diberi daun koriander, dan ditaburi wijen. Isian Bapaonya sama dengan ayam bumbu saos.

Sewaktu membuat Bao Buns, cuaca di Belanda sedang panas-panasnya, sampai 30 derajat celcius. Saya membuat Bapao 9 buah dan Bao Buns 6 buah, semua ludes tandas tak bersisa saat makan malam. Saya hanya makan 3 Bao Buns.

Melihat antusias para pasukan, jadi saya berencana membuat Bao Buns dan Bapao lagi minggu depan. Awalnya males-malesan, sekarang malah ketagihan haha.

Makan malam Bao Bun dan Bapao

Selesai juga tantangan selama 4 minggu di bulan Juni. Seru sekali, saya jadi kenal satu orang di twitter yang ikut tantangan ini juga (selain Dila), yaitu Mita. Wah Mita ini jago membuat kue. Saya sampai konsultasi di twitter cara membuat kue ulangtahun. Dijelaskan sejelas mungkin oleh Mita. Akun IG Mita @Pramitayaa. Senang karena tantangan baking jadi menambah kenalan baru.

Selamat berakhir pekan!

-27 Juni 2020-

Liebster Award 2020 – Mijn Versie

Menarik juga ya postingan tentang Liebster Award ini. Dulu sering dapat dari beberapa blogger, tapi entah kenapa saya tidak mengerjakan PR dari mereka. Mumpung sekarang sedang rame lagi, niat saya kerjakan.

Kali ini saya mendapatkan PR dari tiga blogger, yaitu Rahma, Maureen, dan Anis. Terima kasih ya sudah dikasih PR. Aturan main Liebster Award ini bisa dibaca di infografis di bawah. Karena saya mendapatkan pertanyaan dari tiga orang, jadi saya langsung menjawab 33 pertanyaan dalam satu postingan ya, males kalau harus memisah.

11 fakta random tentang diri sendiri :

  1. Belum pernah makan jengkol dan tidak tertarik ingin mencoba. Tapi doyan sekali makan pete.
  2. Belum pernah makan durian, tidak ada hasrat untuk mencoba karena dari jarak jauh kalau sudah tercium aromanya jadi keliyengan.
  3. Pernah menjadi Pestecarian selama 11an tahun. Jadi tidak mengkonsumsi daging merah dan ayam, tapi konsumsi makanan laut. Kembali lagi ke jalan yang benar sekitar 3 tahun lalu karena badan butuh zat besi yang lebih banyak.
  4. Bukan penyayang hewan, tapi juga tidak benci.
  5. Bukan penggemar nasi padang.
  6. Tukang pamer foto makanan di segala media sosial yang dipunya (cuma 2 biji) hasil masak sendiri, hasil beli, maupun hasil dikasih orang lain.
  7. Punya ambisi menjelajah Afrika, sejak usia SD sampai saat ini.
  8. Tidak terlalu hobi mandi menyeluruh.
  9. Suka bersih-bersih rumah, bersih-bersih halaman, buang-buang barang yang lama tidak terpakai, meminimalkan barang yang ada di rumah. Tidak betah dengan rumah yang berantakan. Paling geli kalau menginjak lantai rumah kotor dengan kaki telanjang. Tiada hari tanpa bersih-bersih, kecuali sedang males gerak.
  10. Pernah makan babi dan rasanya enak sekali. Pernah banyak kali minum minuman yang mengandung alkohol dan ternyata lebih cocok minum air mineral.
  11. Paling tidak suka dengan orang yang Humble Brag dan kebanyakan basa basi.

Saatnya menjawab pertanyaan.

Dari Anis :

  • Apakah kamu night owl atau morning person?

Jam berapapun tidurnya di malam hari, bangun selalu antara jam 4-5 pagi. Bisa jadi kalong, bisa tidur cepet. Tergantung kebutuhan. Tapi bangun selalu pagi dan selalu produktif kalau pagi (kecuali jaman kerja, baru produktif jam 3 sore haha, pantes lembur mulu)

  • Seandainya bisa memilih, di lokasi mana kamu mau tinggal/menetap?

Di manapun keluarga saya berada dan hidup nyaman terjamin serta bahagia lahir batin. Saat ini, Belanda.

  • Pilih mana, liburan di gunung atau pantai? Jangan lupa alasannya

  Gunung karena suka mendaki dan tantangannya lebih dibandingkan pantai.

  • Siapa idolamu dahulu kala dan masih tetap jadi idola sampai sekarang atau udah nggak lagi?

Jon Bon Jovi. Jaman masih SMP malah punya ambisi pengen kawin sama Bon Jovi hahaha konyol. Masih suka sampai sekarang.

  • Apa menu sarapan favoritmu?

Sewaktu di Indonesia, sarapan menu warteg. Favorit cumi sotong dan oseng buncis, nasi anget. 1.5 tahun ini hampir tidak pernah sarapan. Males tidak ada hasrat. Jadi langsung makan siang. Tapi kalau ingin sarapan, menunya agak horor semacam mie goreng instan pakai cabe rawit.

  • Buku apa yang terakhir kali kamu baca?

Teori Menyetir Mobil di Belanda

  • Barang apa yang buat kamu sangat berat/susah untuk melepasnya dan kenapa?

Tidak pernah punya ikatan batin dengan barang apapun. Kalau memang sudah tidak berfungsi lagi, ya secepatnya dienyahkan.

  • Sebutkan satu produk (boleh apa aja, sebut merek juga gapapa hihi) yang menggambarkan kepribadianmu 

Sneakers, Backpack, dan rok (lebih dari satu). Merek apa saja yang penting awet dan harga terjangkau (kalau perlu diskon 90%).

  • Kamu lebih dekat dengan siapa, Ayah atau Ibu?

Bapak

  • Nasihat terbaik apa yang pernah kamu terima dalam hidupmu sampai sekarang?

Dari Bapak : Hidupmu adalah tanggungjawabmu. Apapun pilihan hidupmu, jadilah yang terbaik versimu.

Dari Ibu : Perempuan apapun statusnya, harus berpenghasilan sendiri supaya punya harga diri.

  • Boleh share link postingan blog milikmu yang paling berkesan buatmu dan cerita dibaliknya?

Tulisan tentang Keguguran : Yang Terjadi Pada Kehidupan Setelah Keguguran. Salah satu kehilangan yang cukup berat untuk saya. Setiap mengalami keguguran, hidup rasanya jungkir balik. Sedih tidak bisa digambarkan.

Dari Rahma :

  • Alasan tetap bertahan ngeBlog

Dasarnya suka menulis jadi selama ada sarana menulis seperti WP, akan tetap ngeblog.

  • Negara yang tidak ingin dikunjungi

Belum terpikir karena cita-cita mulia ingin mengunjungi semua negara di dunia.

  • Kalau bisa jadi time traveler, maunya kembali ke masa apa, bertemu siapa

Bertemu diri sendiri sekitaran tahun 90an. Ingin bilang agar tidak terlalu banyak berpikir yang mboten mboten dimasa akan datang. Jangan menjadi orang yang overthinking.

  • Kalau misal jadi penyanyi, maunya jadi seperti siapa?

Sundari Soekotjo

  • Sebutkan 1 Pengalaman paling memalukan ketika traveling

Sewaktu bulan madu di Pulau Menjangan, Bali, nyaris tenggelam. Sok tidak mau memakai pelampung saat snorkeling di tengah laut dan mengaku bisa berenang. Bisa sih berenang, tapi tidak jago. Walhasil saat arus mulai kencang, saya kebingungan dan mendadak panik. Suami jaraknya sangat jauh. Mencoba mencari pegangan yang terdekat, ada turis perempuan yang memakai pelampung. Saya pegang badannya, dia teriak-teriak. Ternyata dia tidak bisa berenang. Hebohlah Malu saat itu.

  • Apa moment terbaik tahun lalu

Bisa menyelesaikan target membaca 50 buku

  • Apa makanan di dunia yang belum sempat dicicipi sampai detik ini.

Durian dan jengkol. Memang tidak mau mencicipi.

  • Kalau boleh memilih, negara mana yang diinginkan ketika ada kesempatan untuk pindah menetap ke luar negeri, sebutkan dengan alasan.

Belanda karena sejak 15 tahun yang lalu ingin melanjutkan kuliah di Belanda.

  • Semisal dikasih kesempatan bisa interview Donal Trump dan Kim jong un, 1 pertanyaan penting apa yang ingin ditanyakan.

Melepaskan kesempatan tersebut.

  • Semisal teman dapat kesempatan 1 hari jadi Mark zuckenberg dan dapat mengendalikan sosial media miliknya, 1 langkah apa yang ingin diambil

Membekukan akun-akun yang promosi Nikah Muda dan Poligami.

  • Kata motivasi terbaik yang paling menyentuh dan selalu dijadikan api penyemangat diri ketika jatuh dalam kegagalan agar bisa bangkit lagi?

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Dari Maureen :

  • Apa 1-2 hal yg dipelajari dari masa lalu?

Pantang menyerah dan selalu mengosongkan diri supaya banyak hal baru yang bisa dipelajari.

  • Apa deskripsi dari makan pagi yang ideal?

Bisa membuat sepanjang hari cerah gembira. Semisal : Ceplok telur dan nasi putih hangat yang diberi kecap manis.

  • Kapan tahun terbaik dalam hidupmu?

Tahun-tahun saat sudah pindah ke Belanda. Banyak pembelajaran berharga dan banyak belajar hal baru dengan jatuh bangun perjalanannya.

  • Barang apa yang sedang diinginkan saat ini?

Bukan barang, tapi makanan. Petis ikan Madura, persediaan di rumah sudah tak ada, tinggal sak ndulit.

  • Apa yang masing ingin kamu pelajari lebih lanjut?

Tentang cara kerja otak. Sedang mengambil kursus online untuk belajar hal ini

  • Bisa memberi saran satu kebiasaan sederhana yang bisa membuat dunia lebih baik?

Mandi seperlunya saja, tidak perlu sering-sering dan tidak perlu lama durasi mandinya. Lumayan kan bisa menghemat air di bumi. Air jadi bisa digunakan untuk keperluan yang lebih penting lainnya.

  • Postingan blog tentang apa yang menarik buatmu?

Tentang makanan, cerita sehari-hari yang tidak terlalu berlebihan, dan tentang perjalanan.

  • Seandainya ada tawaran menulis buku, apa yang menjadi judul bukumu nanti?

Cara cepat, singkat, dan gampang mempelajari Sistem Dinamika dan Metaheuristika.

  • Apa sosial media yang masih digunakan?

Twitter dan Facebook.

  • Theme blog yang seperti apa yang kamu suka?

Simpel tidak terlalu banyak warna.

  • Postingan apa yang view-nya paling banyak, sertakan linknya ya.

Ada dua yang setiap tahun viewnya selalu banyak : Pelangkah dan Langkahan, mitos atau fakta dan Mengurangi Nasi Putih, Minyak, dan Garam untuk hidup lebih sehat.

Pfiuhh akhirnya selesai juga menjawab 33 pertanyaan.

PERTANYAAN DARI SAYA

  • Apa yang kamu tidak sukai dari ngeblog?
  • Topik tentang apa yang paling kamu suka saat menulis blog?
  • Perbedaan dunia blog saat ini dibandingkan 10 tahun lalu, menurutmu seperti apa? –> jika ngeblog belum 10 tahun, perbandingannya saat kamu awal ngeblog.
  • Boleh tau blogger siapa saja yang kamu suka baca tulisannya (sekalian sertakan linknya)? Alasannya kenapa? —-> pertanyaan ini supaya menambah wawasan saya tentang blogger-blogger yang ada saat ini.
  • Apa arti media sosial buat hidupmu?
  • Media sosial apa yang paling menarik dari yang kamu punya saat ini?
  • Bagaimana kamu dalam bermedia sosial : Tanpa batasan semua tidak masalah dibagikan, ada batasan tertentu, atau banyak batasan? kenapa?
  • Pamer tentang hal apa yang paling tidak kamu sukai di media sosial? Apakah kamu dulu juga pernah melakukannya?
  • Pernah mendapatkan Bullying di media sosial? Jika pernah dan tidak keberatan, bisa tolong ceritakan karena apa?
  • Bagaimana kamu menilai dirimu sendiri saat ini : Apakah sudah merasa matang secara sikap dan pemikiran? Apakah merasa masih labil? Atau ada hal lainnya?
  • Masakan apa yang paling juara yang pernah kamu buat dan selalu mendapatkan pujian dari orang terdekat yang memakan?
  • Apa yang paling kamu banggakan dari dirimu sendiri, saat ini?
  • Apa kabarmu selama Pandemi ini?

Jika tidak ingin mengikuti award-award an ini, tidak masalah. Lewatkan saja. Buat seru-seruan. Jika berkenan, monggo pertanyaan di atas dijawab di blog masing-masing dengan bahasa yang biasa digunakan di blog. Pertanyaan di atas, saya tujukan untuk 13 blogger (harusnya cuma 11, tapi saya lebih suka angka 13) di bawah ini :

Terima kasih sebelumnya untuk kesediaan rekan-rekan blogger terhadap keikutsertaannya pada Liebster Award ini.

Selamat berakhir pekan.

-19 Juni 2020-

Mereka Hanya Manusia Biasa

Mereka Hanya Manusia Biasa

Sebenarnya dari dulu ingin menuliskan topik ini karena beberapa kali mendapatkan komentar yang berhubungan dengan hal ini. Sengaja saya tidak menggunakan judul Bule karena sejak dulu tidak mau numpang beken dengan menggunakan kata tersebut. Tidak mau menggunakan embel-embel Bule supaya terkenal. Biarlah saya terkenal karena usaha sendiri *huwopooo ae.

Jadi begini, beberapa kali di blog dan di twitter saya mendapatkan komentar tentang beruntung dapat suami bule. Kata mereka, punya pasangan bule itu tiap saat pasti romantis dan mereka membaca dari cerita saya di blog atau beberapa cuitan di twitter yang disimpulkan rumah tangga saya adem ayem saja. Jadi ada beberapa yang minta dicarikan bule untuk dijadikan pasangan (entah pacar atau untuk status pernikahan).

Begini ya, yang namanya rumah tangga itu pasti ada saja celahnya untuk tidak adem ayem. Dua kepala yang tiap hari bertemu satu rumah ya pasti ada saja berselisihnya. Dari hal kecil sampai hal kecil yang dibesar-besarkan. Mau menikah dengan yang sama sebangsa ataupun yang tidak sebangsa, kemungkinan untuk berbeda pendapat dan bertengkar, akan selalu ada. Bule romantis? tergantung definisi romantis seperti apa. Setiap orang pasti punya standar romantis yang berbeda. Buat saya, romantis itu kalau suami pulang dari belanja lalu bilang dia tidak lupa membelikan cabe, tempe, dan tahu. Itu menurut saya romantis karena dia mengingat fovorit istrinya dan membelikannya tanpa saya minta. Jadi merasa dia mengingat saya setiap melihat cabe haha.

Kalau memberikan bunga, mungkin buat orang lain romantis, tapi buat orang Belanda itu sudah jadi hal yang biasa. Saya tetap senang kalau diberikan bunga oleh suami. Tetap ada rasa kupu-kupu di perut jika dikasih bunga. Tapi buat saya bukan masuk definisi romantis. Mungkin jika patokan romantis seperti yang ada di film-film, saya rasa pria Indonesia juga banyak yang romantis. Jadi, jangan dijadikan patokan jika setiap Bule pasti romantis.

Kembali ke pembahasan rumah tangga yang nampak adem ayem. Alhamdulillah kalau ada yang berpikir seperti itu dan saya amini sebagai doa. Saya tidak pernah mau membawa apapun permasalahan yang terjadi di rumah sampai ke luar rumah. Apa yang terjadi di rumah, kami selesaikan di rumah. Tidak perlu dunia tahu apalagi diumbar ke media sosial. Saya selalu ingat perkataan Ibu : simpan baju kotormu di rumah, tidak perlu tetangga dan saudaramu tahu. Sejauh ini, wejangan itu yang selalu saya ingat dan suami satu pemikiran. Saya menceritakan hanya yang ingin saya ceritakan di blog atau di media sosial. Selebihnya, biarkan jadi ruang privasi saya. Jikapun mungkin ada masalah, kami akan menyelesaikan sendiri, tidak perlu seluruh lapisan masyarakat berperan di dalamnya. Lha wong kami ini bukan orang terkenal, buat apa woro-woro, ya tho? Jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, kami akan minta bantuan professional. Sebisa mungkin tidak melibatkan saudara apalagi teman, supaya tidak ada keberpihakan. Apalagi sampai dijadikan status di media sosial, buat apa. Malah saya pikir jadi membuat banyak orang bersorak sorai. Saya tidak bisa mengontrol apa reaksi orang, tapi saya bisa mengontrol apa yang perlu saya bagikan. Semakin bertambah umur, semakin saya berhati-hati dengan yang namanya kecepatan jari.

Setiap rumah tangga punya rambu-rambu dan tidak bisa disamakan dengan yang lainnya. Kepentingan juga berbeda, sehingga aturan yang dibuat juga disesuaikan kondisi yang ada. Yang penting dibicarakan sama-sama dan disepakati bersama supaya menjalani dengan bahagia. Tidak ada yang paling sempurna. Hidup memang sawang sinawang. Orang melihat kawin dengan bule kok terlihat bahagia, padahal ya jatuh bangunnya selalu ada. Hanya kami memilih untuk tidak berbagi bagian jatuh ndelosornya. Bukan untuk pencitraan, bukan untuk menampilkan yang baik-baik saja. Kembali lagi, saya hanya ingin berbagi yang ingin saya bagi. Jika dari yang membaca blog ini ada yang mengikuti akun twitter (atau FB) saya, tahu jika saya jarang sekali berbincang hal-hal yang menyangkut suami (atau keluarga kami). Saya saling follow dengan suami di twitter, tapi kami tidak pernah saling “berbincang” di media sosial. Lah yo buat apa tho, wong satu rumah. Malah nampak aneh kalau segala sesuatunya dibicarakan lewat media sosial padahal tidur juga sebelahan. Eh, tapi ini menurut saya lho ya, kalau berbeda dengan yang lainnya ya monggo tidak masalah.

Mereka Hanya Manusia Biasa
Mereka Hanya Manusia Biasa

Bule itu juga manusia biasa. Sama saja dengan segala bangsa di dunia ini. Ada yang baik, ada yang blangsak. Ada yang mampu mengingat setiap tanggal bersejarah, ada yang ingat nama lengkap pasangannya saja sudah untung. Banyak yang pinter, yang tidak pintar juga tidak kalah banyak. Ada yang anti air, ada yang ketetesan keringet sebiji aja langsung mandi. Ada yang pintar masak, ada yang lebih baik istrinya saja yang masak daripada dapur berubah kayak Pasar Gembrong. Yang penting, sebelum memutuskan melangkah terlalu jauh untuk berkomitmen yang serius, ditinjau dulu segala sesuatunya, jangan silap mata dengan status bule. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melangkah untuk serius.

Jangan berpikir tentang setiap hari akan dapat bunga dan lantunan puisi. Mungkin memang ada yang tipe seperti itu, tapi prosentasenya saya yakin tidak banyak. Jangan berpikir semua bule pasti cakep. Yang tampang pas-pasan juga luber ke mana – mana. Sama saja intinya. Di Indonesia juga ada NicSap yang cakep tho *Loalaahh mbak, ga iso mup on teko mas iku. Jangan berpikir nikah dengan Bule hidup pasti terjamin. Ingat, seperti halnya semua bangsa, tidak semua bule punya harta berlimpah. Yang pas-pas an juga tak kalah banyaknya. Belum lagi perjalanannya panjang dengan sederet dokumen yang harus dipenuhi. Jika memutuskan pindah negara, sudah siap kalau pas kangen ingin makan tempe tapi ga ada yang jual tempe? Sudah siap ngonthel sepeda ditengah hujan salju? siap lapar tengah malam pengen makan sate tapi yang ada roti dingin?

Rawat tanaman di halaman sendiri supaya tetap segar dan menarik dilihat. Kalau tidak punya tanaman, ya rawat apa yang ada. Sesekali nengok halaman tetangga ya tidak apa-apa, siapa tahu mendapatkan inspirasi, atau malah berjodoh dengan tetangga. Berjodoh dengan siapapun, jangan jadikan kewarganegaraan tertentu untuk dijadikan patokan, apalagi sampai niat untuk memperbaiki keturunan. Lha memang keturunannya yakin baik kalau nikah dengan yang berbeda warna kulit? kalau tidak sesuai yang diharapkan, lalu bagaimana? kalau pasangannya tidak mau berketurunan, lalu bagaimana?

Banyak hal yang perlu dipikirkan lebih panjang, bukan hanya sekedar bule. Mereka juga manusia biasa, yang punya kelebihan dan kekurangan. Mereka manusia biasa, bukan dewa, jadi tak perlu didewa-dewakan.

-12 Juni 2020-

Belajar Membuat Roti

Belajar Membuat Roti

Baking is not my thing. Kenapa? karena harus patuh dan saklek dengan takaran, tidak bisa seperti memasak yang kalau kurang rasa bisa ditambahkan bahan tanpa takaran. Terus terang selama ini kalau memasak saya tanpa takaran. Pakai feeling saja. Sedangkan kalau membuat roti atau kue kan tidak bisa seperti itu. Makanya saya paling males berurusan dengan oven untuk membuat kue atau roti. Jarang sekali malahan. Oven seringnya dipakai untuk urusan yang berhubungan dengan memasak. Setahun palingan hanya 2 kali saya membuat kue. Membuat roti? Duh ya ngapain bikin sendiri wong membeli di toko kue atau supermarket lebih gampang. Apalagi rumah kami dekat ke toko roti.

Itu cerita sebelum 3 bulan lalu. Saat itu belum terpikir sama sekali kalau keadaan yang akhirnya membuat saya “terpaksa” untuk belajar membuat roti. Pandemi. Terakhir saya ke pusat perbelanjaan yang dekat rumah, 13 Maret 2020. Nyaris 3 bulan lalu. Setelahnya sampai saat ini, kami memutuskan untuk berbelanja mingguan online, sudah tidak pernah ke Supermarket fisik lagi (kecuali suami masih beberapa kali ke supermarket retail). Intinya kami menghindari pusat keramaian, termasuk toko roti. Permasalahannya adalah, anggota keluarga lainnya (kecuali saya), nyaris setiap hari makan malam dengan roti. Lah kalau tidak ke toko roti, bagaimana dengan makan malam? sedangkan belanja mingguan online hanya datang setiap akhir pekan, itupun harus berjuang ekstra untuk mendapatkan slot.

Akhirnya saya bilang suami, ok aku akan belajar untuk bikin roti sendiri. Suami nanya : tepung apa yang kamu butuhkan, biar aku belikan di supermarket retail. Saya terdiam sesaat, karena tidak tahu tepung apa untuk roti. Pengetahuan saya tentang roti nul putul.

Beberapa roti empuk yang pernah saya buat

KEBERADAAN TEPUNG DAN RAGI MENJADI LANGKA

Sewaktu kami terakhir ke Supermarket, sempat iseng-iseng melihat tepung terigu. Lho kok semua habis. Stok ragi pun habis. Kami sempat ke toko turki, ada beberapa pak sisa tepung terigu. Saya ambil 2kg. Waktu itu juga tidak berpikir tepung terigu ini buat apa. Asal ambil saja, latah. Sampai rumah, saya ternyata punya satu wadah ragi. Keesokan harinya, isenglah saya mulai membuat roti isi. Resep awal cari di YouTube. Di tutorialnya dijelaskan untuk mengetes raginya aktif atau tidak. Namun saya lewatkan bagian ini. Walhasil, dengan keterbatasan pengetahuan ditambah kengeyelan yang hakiki, roti pertama yang saya buat bantet sodara-sodara. Miris. Tapi kok ya habis aja dimakan. Entah orang-orang memang senang rasanya atau memang saking laparnya.

Setelah itu, suami dengan inisiatif yang tinggi, ke supermarket retail. Pulangnya dia dengan bangga bilang sudah beli tepung dan ragi. Tapi saya belum melongok. Baru sempat lihat ke pantry, lah saya langsung ketawa ngakak. Dia beli tepung terigu (terwebloem) 25kg. Gawe oppooo tepung sak mene akehe. Dipikir aku arep luluran tepung ta piye. Dia bilang, yang kemasan kecil tidak ada. Hanya kemasan 25kg tersisa beberapa karung. Selain itu, dia juga beli tepung gandum utuh 10kg. Dan satu lagi, dia beli ragi fresh 1kg. Cleguukkk. Ragi 1kg ini buat dicamilin ta yok opo. Antara ngakak juga berpikir keras, haduh piye iki. Akhirnya saya bagi-bagi ke beberapa teman yang memang kesusahan mendapatkan terigu dan ragi. Mengurangi rasa bersalah karena punya terigu dan ragi banyak. Dua benda ini sangat langka saat Maret dan April. Saat ini sudah mulai ada lagi meskipun ya belinya musti tahu diri. Jangan sampai menumpuk.

Focaccia dan Brioche salah dua favorit di rumah
Focaccia dan Brioche salah dua favorit di rumah

BELAJAR TENTANG JENIS TEPUNG

Diantara puyeng bagaimana harus memulai membuat roti, bersyukurnya saya ada grup WhatsApp yang anggotanya suka berbagi ilmu tentang dunia per-roti-an. Ini grup kecil sih hanya beberapa orang saja yang kebanyakan tinggal di Belanda, ada yang tinggal di Perancis, Belgia, Indonesia, dan Scotlandia. Bahkan mereka sudah canggih membuat roti menggunakan ragi alami. Saya kelas ragi fresh. Akhirnya saya mulai serius belajar tentang tepung dari grup ini. Selain itu saya juga mulai sering membaca artikel-artikel tentang tepung dan memperbanyak mencari sumber-sumber terpercaya di YouTube. Kalau ada yang tidak paham, saya langsung tanyakan di grup.

Sejauh ini, grup inilah yang banyak membantu saya dari nol putul tentang tepung dan roti, sekarang perlahan menjadi sedikit mudeng. Teman-teman di grup TaBas (Tahu Bakso) sangat membantu. Khususnya buat Bude Tari, yang tetap telaten menjelaskan apapun kebingungan saya. Beliau sejak bertahun-tahun sudah konsisten membuat roti sendiri, bahkan menggunakan ragi alami. Sebagai informasi, di Belanda jenis-jenis tepungnya agak membingungkan saya, saking banyaknya. Ini diluar tepung yang sudah berkawan akrab dengan saya macam tepung beras, tapioka, ketan, terigu, dll. Beda dengan di Indonesia yang tepung terigunya ada spesifikasi yang jelas : terigu protein tinggi, sedang, dan rendah. Nah di Belanda tidak ada yang seperti itu. Tidak ada pembagian yang jelas. Jadi ya dicoba dan dilihat sendiri kandungan proteinnya di tiap kemasan. Tapi, setiap merek kandungan proteinnya bisa jadi berbeda. Nah, nanti sejalannya waktu dan sudah banyak mencoba, jadi tahu tepung mana yang cocok untuk membuat roti.

Sandwich dan Burger buatan sendiri, Bun juga buat sendiri
Sandwich dan Burger buatan sendiri, Bun juga buat sendiri

Jenis tepung yang selama ini pernah saya gunakan untuk membuat roti adalah : Tarwebloem (basic flour), Patentbloem (all purpose flour), Volkoren (tepung gandum utuh), Semolina, Speltmeel, dan Zelfrijzendbloem. Pusing ya membaca deretan jenis tepungnya. Ini masih sebagian kecil dari banyak jenis-jenis tepung di sini. Paling tidak, dari tepung-tepung tersebut saya jadi tahu mana yang cocok untuk jenis roti apa. Saya sih tidak rewel, mau membuat roti tergantung persediaan tepung yang ada saja di rumah. Tinggal campur-campur sesuai prosentase proporsi, lalu ditambahi bubuk gluten untuk menaikkan kadar gluten sehingga adonan bisa kalis dengan bagus. Bubuk gluten pun selama ini masih belum sempat beli. Dapat donasi dari Anis.

ULENI TANGAN DARIPADA MESIN

Persoalan tepung sudah lumayan terlewati, meskipun sampai sekarang saya tetap tekun membaca dan menyimak diskusi tentang tepung. Menarik. Orang lain koleksi tas bermerek, saya koleksi jenis-jenis tepung. Selalu tertarik mencoba kalau tahu ada jenis tepung yang baru dipelajari.

Dua bulan pertama membuat roti, saya konsisten menguleni dengan tangan, manual. Saya tidak punya mixer khusus roti atau mesin pembuat roti. Saya punya mixer sih, tapi bukan khusus untuk adonan roti. Ya mixer biasa. Frekuensi saya membuat roti, hampir tiap hari. Dalam seminggu, mungkin hanya dua hari menu makan malam selain roti. Selebihnya, tetap ngeroti. Kalau ada yang tahu saya menguleni pake tangan, pasti terkedjoet. Menurut mereka, hebat bisa telaten menguleni tanpa bantuan mesin. Padahal menurut saya, sejauh ini sangat menyenangkan menguleni pakai tangan. Sambil ngelamun, tahu-tahu adonan sudah kalis. Saya kalau menguleni tidak pernah lama. Paling lama 15 menit. Tapi 10 menit sudah cukup. Pernah nyoba sampai 30 menit saat adonan Brioche yang memang lengket sekali.

Sebulan lalu, saya kepikiran untuk membeli mixer, penasaran apa bedanya mengadon dengan manual tangan. Bertanya-tanya di grup, disarankan untuk membeli Den Bosch yang memang khusus untuk mengadon roti. Bukan Stand Mixer. Tipe yang saya beli adalah Bosch Keukenmachine Universal Plus MUM6 N11. Dari review yang saya baca dan lihat di YouTube, produk ini bagus dan memang khusus untuk membuat roti. Lebih direkomendasikan dibandingkan stand mixer, jika kebutuhannya digunakan setiap hari (atau untuk jualan). Dila menanyakan ini, jadi sekalian saya cantumkan di sini.

Akhirnya, sebulan ini saya sudah punya mesin mengadon roti. Walaupun begitu, baru tiga kali saya menggunakannya, saat itu sedang repot mengerjakan beberapa hal, jadi mesin ini sungguhlah membantu. Saya puas menggunakannya. Selebihnya, saya masih setia mengulen pake tangan. Entahlah, ada kepuasan tersendiri kalau menguleni sampai kalis. Dan tangan menyentuh adonan dari yang awalnya lengket sampai menjadi kalis, itu rasanya menyenangkan. Puasnya tidak bisa digambarkan.

JENIS ROTI DAN SUMBER BELAJAR

Selama 3 bulan ini, jenis roti yang saya buat lumayan beragam. Dari roti empuk manis ala Indonesia, rustic bread, beberapa roti Italia, Roti perancis, dan beberapa roti lainnya. Saya membuat roti bukan hanya sekedar untuk mencoba rasa ingin tahu, tapi yang lebih penting apakah yang memakan akan doyan apa tidak. Pasokan rustic bread untuk suami selalu bisa terpenuhi. Untuk makan malam, bisa terakomodasi. Semua aman dan senang. Roti tawar juga begitu. Semua jenis roti yang selama ini kami beli, sejauh ini saya bisa membuatnya.

Karena tiap hari selalu mengotak atik resep roti dan banyak belajar, sekarang lumayan PD membuat formula roti sendiri, memadu padankan metode, trial and trial, mengkombinasikan isi, mengkombinasikan biji-bijian yang akan dimasukkan dalam roti, mengkombinasikan tepung, belajar membuat bentuk-bentuk roti lebih bervariasi, dll. Intinya selalu merasa ingin belajar lebih baik lagi. Sempat terpikir untuk membuat serius tentang roti ini dengan cara ambil kursus atau sekolah. Tapi nanti saja kalau keadaan sudah aman. Sekarang belajar otodidak dulu.

Variasi rustic bread dan roti tawar
Variasi rustic bread dan roti tawar

Kalau sumber belajar, saya lebih banyak dari YouTube karena langsung bisa melihat caranya. Tapi saya juga rajin membaca blog-blog para pembuat roti. Selain itu, saya juga beberapa kali nanya-nanya ke Dila di twitter yang berhubungan dengan Roti. Kami lagi seru-serunya belajar tentang roti. Pengalaman Dila bisa dibaca di sini.

Beberapa sumber ini yang saya sering lihat untuk mencari ide dan belajar :

  • Bake With Jack. Yang menyarankan Channel ini, Bude Tari. Ternyata memang benar, cara penyampaiannya simpel dan enak buat dijadikan bahan belajar buat pemula macam saya.
  • Apron. Ini untuk cari-cari ide roti lembut.
  • Cook Kafemaru. Ini sama kayak Apron karena base nya sama dari Jepang.
  • Kalau yang punya IG, bisa ditengok akun IG nya Bude Tari @pawone_tari. Sering dibagi resep-resep roti (dengan ragi alami, ragi instan, maupun ragi fresh) dan informasi apapun sehubungan dengan memasak dan membuat roti juga kue. Saya satu grup dengan Bude Tari.
  • Weekendbakery. Awal-awal belajar membuat roti juga dari sini.
  • Karena saya tidak punya akun IG, jadi yang sering saya buka ya YouTube dan blog. Sebenarnya ada beberapa lagi sumber belajar dan ide, tapi kok mendadak lupa. Nanti kalau ingat, saya tambahi lagi. Intinya di YouTube banyak banget sumber yang bisa dibuat belajar. Saya juga berbagi informasi dengan beberapa teman di FB.

TANTANGAN BARU

Ingin menantang diri sendiri untuk belajar tentang Sourdough. Nanti tapi kalau sudah mood dan ragi fresh yang saya punya tinggal sedikit. Sebenarnya sekarang saat yang tepat. Mumpung cuaca menghangat. Jadi, mari niatkan.

Sekarang saya ingin mengikuti Baking Challenge yang diadakan Mbak Yoyen di blognya. Semoga konsisten.

Belajar membuat roti
Belajar membuat roti

Lho, panjang juga ya cerita saya kali ini. Semoga tidak bosan membaca. Mumpung niat menceritakan awal mula belajar membuat roti. Apakah mulai bosan? Sejauh ini, belum. Mudah-mudahan tidak, karena saya senang saat mereka doyan sekali makan roti buatan saya lalu muncul komentar : Lekker, Heerlijk sampai dicium2 pipi saya haha terharu. Belum lagi mencium aroma roti yang sedang dioven, menyenangkan, menenangkan, dan membahagiakan. Keseluruhan proses membuat roti, sangat saya nikmati. Kepuasaan karena bisa membuat sendiri semua roti yang kami konsumsi selama ini, tidak ada duanya.

-2 Juni 2020-

Cerita Lebaran Keluarga di Indonesia

Pertengahan Maret 2020, setelah berunding dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk tidak mudik. Keputusan sangat berat, terutama buat saya. Setelah 5 tahun belum ada kesempatan mudik, tahun ini kami sungguhlah niat untuk mudik bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran. Mudik yang sangat dinanti. Bukan hanya kami, keluarga di Indonesia yang kami kabari, sudah tak sabar menunggu bulan Mei tiba untuk bisa segera bertemu. Kami sudah 90% siap. Ibupun sudah mempersiapkan segalanya di sana. Hampir setiap hari Ibu bertanya, apa yang kami butuhkan, apa yang perlu Ibu persiapkan. Ibu sudah sangat siap menyambut kedatangan kami sekeluarga.

Sampai pada hari di mana keputusan untuk batal mudik dibuat. Saya bilang ke suami akan mengabarkan hal ini kepada Ibu, “tapi kasih aku waktu. Saat aku siap, aku akan bilang ke Ibu.”

Memberitahukan pengunduran mudik kami selalu saya tunda, sampai awal April, baru saya menguatkan hati untuk memberi tahu Ibu. Berat rasanya. Membayangkan betapa kecewanya Ibu. Saya memberitahukan tentang alasan-alasan kenapa kami memilih untuk tidak mudik saat ini dan mengundurkan entah sampai kapan. Lalu menutup percakapan di WhatsApp, saya mengatakan ke Ibu, “Demi keselamatan kita bersama Bu. Saya tidak mau membawa virus ini ke tempat Ibu. Belanda sekarang sedang dalam situasi yang genting. Saya juga tidak mau liburan di sana dengan perasaan was-was dan cemas. Maaf Bu, semoga Ibu legowo.”

Lalu panjang lebar Ibu menanggapi, “Sejak awal virus ini masuk Indonesia, sebenarnya Ibu ingin menyarankan kalian untuk menunda mudik. Ibu tidak ingin ada hal buruk yang terjadi. Ibu ingin kita semua sehat. Tapi, Ibu tidak mau mengatakan itu karena kamu pasti sudah mempersiapkan semua. Saat kamu akhirnya bilang akan menunda mudik, Ibu sangat lega. Lebih baik menunda bertemu Ibu dan keluarga di sini tapi semua sehat, daripada memaksakan mudik tapi malah bisa menimbulkan marabahaya. Mari kita saling jaga sebagai keluarga, di tempat masing-masing, dengan cara-cara yang bisa kita lakukan. Turuti apa yang saat ini pemerintah anjurkan. Mari kita saling berdoa semoga dipanjangkan umur dan sehat sehingga bisa bertemu kalau keadaan sudah aman.”

Saya lega luar biasa dengan jawaban Ibu. Terharu karena Ibu justru lebih berpikir panjang dibanding saya. Setelahnya, saya menghubungi pihak maskapai untuk mengurus penundaan keberangkatan.

Awal Mei, menjelang Ramadan, saya bertanya ke Ibu, apakah ada rencana untuk Taraweh di Masjid? dan apakah selama ini tetap shalat berjamaah di Masjid? Kata Ibu,”Sejak daerah ini ditetapkan sebagai zona merah, Ibu sudah tidak pernah lagi jamaah di Masjid. Nanti rencananya Taraweh juga di rumah saja. Kalaupun pada akhirnya Ibu meninggal, Ibu berikhtiar supaya meninggal bukan karena virus ini. Ibu juga ingin menjaga supaya tidak menularkan pada orang lain. Sholat di rumah tidak berjamaah di situasi sekarang ini, toh tidak lantas berkurang pahala.” Sebagai infornasi, Ibu selama ini tidak pernah meninggalkan satu waktu sholatpun untuk berjamaah di Masjid. Jadi ketika saya membaca apa yang Ibu tuliskan, jadi terharu sendiri. Ibu lebih baik tidak sholat di masjid untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Lain waktu, saya bertanya kepada adik laki-laki apakah masih sholat Jumat di Masjid? Dia bilang sudah sejak awal April tidak pernah lagi sholat Jumat di Masjid. Dia sholat Jumat sendirian.

Menjelang Idul Fitri, Saya kembali bertanya ke Ibu apa rencana Idul Fitri nanti tentang sholat dan unjung-unjung antar saudara dan tetangga. Ibu bilang, “Ibu sholat Ied di rumah saja. Apa fungsinya sholat berjamaah di Masjdi dan lapangan tapi shaf diberikan jarak. Dan lagi, disituasi saat ini, apakah bijak jika sholat Ied berjamaah di Masjid atau lapangan sedangkan meskipun katanya mengikuti protokol, tapi malah kemungkinan menimbulkan bahayanya tinggi. Adik-adikmu tidak Ibu perbolehkan datang ke sini. Lebih baik Ibu lebaran sendirian tapi aman daripada rame-rame tapi beresiko tinggi. Lebaran kali ini beda, tidak usah dipaksakan sama. Toh masih bisa saling telpon. Toh bisa sholat sendiri di rumah. Yang penting semua sehat, semua selamat.”

Adik-adik saya juga sholat Ied di rumah masing-masing. Hari Raya, saya melakukan panggilan video ke Ibu dan adik saya yang laki-laki. Sebenarnya ada rasa sedih karena ini lebaran pertama bagi Ibu benar-benar sendirian dan lebaran pertama juga buat adik-adik tidak berkumpul dengan Ibu dan saudara-saudara di desa. Tapi, ada perkataan Ibu yang membuat saya bangga pada Beliau, “Yang lebaran sendirian kan bukan cuma Ibu. Banyak. Yang sedih juga bukan cuma Ibu, tapi banyak. Akhirnya Ibu tidak terlalu sedih, karena banyak temannya di dunia ini.” haha ya benar juga sih. Di suasana haru, Ibu saya masih juga bisa membesarkan hati anak-anaknya (dan juga hati beliau sendiri).

Saat saya melakukan panggilan video ke Ibu, Beliau sedang bersantai di tempat tidur. Saya bertanya, apa ada yang datang ke rumah? Ibu bilang ada beberapa yang Ibu dengar kasak kusuk di depan rumah. Ibu menutup gordijn seluruh rumah, menutup semua pintu. Tamu-tamu yang sudah datang bilang mungkin Ibu sedang ke luar rumah. Nyatanya Ibu di dalam rumah tapi tidak mau menerima tamu. Sore harinya Ibu hanya ke tempat Bude untuk silaturrahmi, datang sebentar tanpa salaman lalu pulang lagi.

Beberapa hal yang Ibu lakukan selama ini benar-benar membuat terharu saya. Ibu sudah tidak pernah lagi kumpul2 bahkan pengajian pun yang dulunya rutin dilakukan, sudah tidak didatangi lagi sementara ini, tidak pernah sholat jamaah di masjid lagi, ke luar rumah hanya untuk hal-hal yang sangat penting, tidak mau salaman, ke luar rumah pasti menggunakan masker, dan tidak mau dekat-dekat dengan orang. Ibu yang dulunya sangat bersosialisasi sampai rasanya seluruh pasar dan seluruh kecamatan kenal, sekarang duduk anteng duduk di rumah.

Saya pernah bertanya apakah tidak bosan? Ibu bilang, “Ibu ini tidak melakukan apa-apa, kenapa harus merasa bosan? Wong tinggal duduk santai-santai di rumah, kan enak tho. Banyak orang yang saat ini tidak bisa merasakan kemewahan duduk santai di rumah. Banyak yang harus tetap kerja di RS, di tempat-tempat yang rawan penyakit. Mereka tidak punya pilihan untuk bosan. Kita yang masih punya pilihan, mbok ya nurut saja melakukan hal-hal untuk melindungi diri dan orang lain. Wes tho, wong-wong iku ga usah ibadah di Masjid dulu, ga usah pengajian, ga usah kumpul-kumpul dhisik. Ditahan. Sing penting kabeh sehat selamet.”

Di luar kenyataan bahwa kami sering mempunyai perbedaan pendapat dan bersitegang, sebenarnya saya sering mengagumi cara berfikir Beliau yang memang nyantai tapi jauh ke depan.

Mari saling jaga dengan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan saat ini, demi keselamatan kita, demi keselamatan orang lain. Jangan lengah dulu. Semoga pandemi ini segeran berlalu.

-1 Juni 2020-