Pasar Raya Indonesia 2017 dan Cerita Lainnya

1505630901786-1

Pada tulisan kali ini, saya mau bercerita yang santai-santai saja (padahal tulisan-tulisan yang sebelumnya juga santai 😁). Ada beberapa hal yang akan saya dokumentasikan dalam bentuk cerita dan foto.

  • PASAR RAYA INDONESIA 2017

Setelah mengetahui kapan akan dilaksanakan Pasar Raya Indonesia 2017 (selanjutnya akan saya singkat jadi PRI) dan tempat pelaksanaannya, saya semangat luar biasa akan datang. Pada tanggal pelaksanaan, saya juga tidak ada acara lainnya. Jadi pas. Lalu saya woro-woro ke 3 teman saya lainnya yang tinggalnya jauh dari Den Haag. Mereka juga antusias. Tahun 2015 saya datang yang di Wassenaar, sedangkan tahun 2016 absen.

PRI dulu dikenal dengan nama Pesta Rakyat. Biasanya diadakan di luar ruangan di Wassenaar. Tapi kali ini, acara tahunan yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan kemerdekaan Indonesia dilaksanakan dalam ruangan di Rijswijk. Acara yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 15-17 September 2017 jam 10.00 – 20.00. Ada 35 stand makanan dan sekitar 5 stand produk Indonesia seperti batik dan penjualan pernak pernik lainnya. Tidak hanya itu, ada juga stand-stand lainnya dari pihak sponsor. Yang tidak kalah hebohnya juga suguhan hiburan dari panggung. Ada undian yang hadiah utamanya tiket Garuda Amsterdam-Jakarta. Ada poco-poco juga.

Saya, tentu saja, sangat bersemangat datang ke PRI terutama untuk urusan makan. Ketika daftar stand makanan apa saja yang akan ada di PRI sudah keluar, langsung lah saya menyusun ingin makan ini itu. Sengaja sebelum berangkat saya makan dulu, supaya tidak terlalu kalap. Pada kenyataannya ya tetap kalap semua ingin dibeli rasanya, terutama jajanan pasar. Selain ingin berburu makanan, yang tidak kalah menyenangkan juga, saya bisa bertemu 3 teman lainnya yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Jadi sekalian temu kangen dengan mereka. Bersyukur juga, para suami tidak ikut serta, jadi kami bisa sepuasnya di PRI. Hampir 5 jam kami di sana.

Di PRI ini saya juga bertemu dengan Crystal. Bertemu Crystal di acara-acara seperti ini sebenarnya biasa, karena memang beberapa kali kami bertemu di acara lainnya, selain memang karena tempat tinggal kami tidak terlalu berjauhan area. Tapi yang paling epic, menurut saya, adalah saat bertemu Anis. Dari sekian banyak orang, dari sekian banyak stand, bisa gitu ketemu Anis. Kalau jodoh memang ga kemana ya *loh 😅. Jadi pas saya lagi makan sambil jalan bawa piring, kepala saya kan menunduk jelasnya khusyuk ke piring. Lalu saya berbelok di sebelah stroller. Sekilas saya lihat bayi yang duduk di sana. Saya tetap berjalan sambil berpikir kayaknya pernah lihat bayi itu di mana ya. Karena penasaran, saya balik lagi ingin lihat lagi wajahnya. Lalu saya ingat ini kayaknya bayinya Anis (pernah lihat foto sekeluarga di blognya). Lalu dengan muka tembok, saya menyapa lelaki yang saya pikir pasti suaminya Anis. Saya bertanya apakah dia suaminya Anis (sok PD gitu nyapa-nyapa haha). Trus dia bilang iya. Saya lalu memperkenalkan diri dan bilang tahu Anis dari blog dan belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu saya nanya Anisnya di mana. Ternyata sedang antri Martabak haha. Saya cari Anis lalu dadah dari kejauhan. Untung dia mengenali saya. Kalau nggak, kan tengsin *penggunaan kata tengsin menunjukkan era haha. Lalu kami ngobrol tidak terlalu lama, dia antri martabak lagi, saya cari makanan lagi. Semoga kapan-kapan bisa ketemuan lagi ya, Anis ūüôā senang bisa ketemu!

Yummm Yummm!!
Yummm Yummm!!
Rujak Cingur. Juara!!
Rujak Cingur. Juara!!
Tak Lupa Berfoto Ria
Tak Lupa Berfoto Ria

Pulang dari PRI, hati senang dan perut kenyang. Tapi saya masih kepikiran lupis. Waktu mau beli lupis, mikir dulu. Ternyata kembali ke stand yang jual, eh lupisnya sudah habis. Duh menyesalnya bukan main. Saking kepikirannya, saya sampai mimpi makan lupis. Trus bangun tidur, saya bilang suami kalau hari minggu mau ke PRI lagi khusus beli lupis. Sorenya saya ke sana lagi, niat haha. Suami ikut, ingin lihat dia seperti apa PRI konsep baru ini. Akhirnya keturutan saya beli lupis dan juga rujak cingur. Duh rujak cingurnya enaakkk. Tombo kangen. Waktu antri beli rujak, saya lihat ada bungkusan daun seperti lontong. Saya PD gitu bilang kalau mau beli lontongnya. Trus dijawab sama Ibu yang ngulek rujaknya, “itu bukan lontong Mbak, nogosari.” Haha sudah keras ngomongnya, salah pula.

Itulah cerita tentang PRI 2017. Senang karena bisa makan yang sudah diinginkan sejak awal tahun tapi baru keturutan, yaitu masakan Manado, bisa bergembira bersama teman-teman, bisa makan Combro Misro, Lupis, Rujak Cingur, Es Garbis dll (saking banyaknya 😅). Semoga tahun depan bisa ke sini lagi.

Sampai Jumpa Tahun Depan
Sampai Jumpa Tahun Depan
  • SYUKURAN

Dua minggu lalu, kami mengadakan syukuran. Seperti biasa, kalau ada acara syukuran saya masak nasi kuning dan pendampingnya. Karena saya sudah ada mood untuk kembali berkarya di dapur, jadi saya bisa masak nasi kuning lumayan banyak porsinya untuk dibagi ke tetangga-tentangga, saudara-saudara, dan beberapa kolega suami di kantor. Nasi kuning yang kami makan, saya bentuk tumpeng kecil. Pendampingnya : mie goreng bakso sawi kol, empal gepuk, perkedel, oseng sayuran, sambel goreng tahu tempe, dan sambel bajak.

Siangnya kami antar ke para tetangga dan para saudara. Keesokan paginya, suami bawa 10 kotak ke kantornya. Karena acara bagi-bagi nasi kotak ini, dia bertemu dengan beberapa orang yang sebelumnya cuma say hello saja, dan ternyata beberapa orang itu istrinya orang Indonesia. Owalaahh orang Indonesia di mana-mana. Semoga berkah syukuran kami.

Tumpeng Syukuran
Tumpeng Syukuran
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
  • PANEN ANGGUR

Di kebun belakang rumah kami, ada tanaman pohon anggur. Awalnya kami pikir anggur hijau. Ternyata anggur merah. Lumayan banyak juga buahnya meskipun tidak bisa besar-besar seperti di Supermarket. Kami panen besar sebanyak 3 kali. Panen ke tiga saya tidak sempat foto, sekitar 5kg. Sampai sekarang buahnya masih ada yang di pohon, tapi kami biarkan saja, buat para burung. Kami bagikan anggur-anggur itu ke tetangga, Mama, dan saudara-saudara. Tahun depan kata suami ingin buat wine dari anggur-anggur ini. Sak karep Mas! Tetangga ada yang mengolah anggur-anggur ini jadi selai. Trus mereka kasih ke kami. Jadi ceritanya oleh mereka, dari kami, untuk kami 😃

Kencur, jahe, kunyit, laos yang beberapa bulan lalu iseng saya tancapkan di tanah, mulai menampakkan hasilnya. Tumbuh subur, tapi saya biarkan saja. Belum saya otak atik. Lumayan sekarang punya tumbuhan empon-empon di rumah. Jadi kalau butuh tinggal ambil. Daun kunyit juga lumayan kalau mau bikin rendang. Strawberry yang saya beli satu pot lalu saya tanam sekarang sudah menjalar ke mana-mana. Mudah-mudahan tahun depan berbuah banyak. Untuk cabe rawit dan tomat masih belum ada hasil. Tahun depan mau coba tanam Kangkung, bayam, kenikir (dapat bibitnya dari Ibu). Oh iya, kemangi kemaren juga lumayan banyak daunnya, Pok Choy juga lebat. Tahun depan niat ingin memperbanyak variasi tanaman. Tahun ini sebenarnya juga dimulai dengan bagus, saya menyemai banyak bibit, lalu tanaman-tanaman yang disemai mulai menunjukkan hasilnya lalu tidak saya rawat, akhirnya perlahan berguguran haha.

Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Selai Anggur buatan Tetangga
Selai Anggur buatan Tetangga
  • HUJAN DAN DINGIN MULAI DATANG

Sejak awal September, cuaca mulai berubah. Hujan hampir tiap hari dan mulai dingin. Pagi juga beberapa kali berkabut. Yang paling sebel memang hujannya (walaupun di sini sering hujan sih meskipun musim panas), membuat malas kalau harus berangkat kerja pagi buta naik sepeda. Tapi akhir-akhir ini saya sudah jarang naik sepeda jarak jauh kalau hujan. Apalagi beberapa waktu lalu ada angin kencang sekali di Belanda, baru beberapa ratus meter keluar rumah naik sepeda, berasa oleng mau jatuh. Akhirnya saya kembali lagi ke rumah taruh sepeda lalu pergi naik tram.

Nah karena sudah hawa sudah dingin, menu andalan yang berkuah kembali muncul di dapur. Lumayan buat menghangatkan badan. Ini sudah mulai merancang setiap akhir pekan mau masak berkuah apa ya. Sudah ingin makan lodeh, rawon, soto, sayur bening, dll. Mood masak pun sudah kembali, jadinya ya masak kesenangan kami tapi yang gampang-gampang saja. Yang sret sret jadi biar waktu tidak habis di dapur.


Sup Labu dan Perkedel Tahu
Sup Labu dan Perkedel Tahu
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!


Ala warteg
Ala warteg

Itulah beragam cerita gado-gado pada tulisan kali ini.

Selamat beraktivitas!

-Nootdorp, 19 September 2017-

Road Trip : Jerman – Ceko – Austria

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1504790152453","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":275,"brushes_used":0}

Kami baru saja kembali dari liburan dengan menempuh perjalanan darat selama 10 hari. Rutenya adalah Jerman РCeko РAustria. Liburan kali ini tidak seperti liburan musim panas sebelum-sebelumnya yang direncanakan dengan sangat matang. Liburan dengan rute ini sangatlah mendadak. Awalnya, jauh hari sebelumnya, kami merencanakan liburan musim panas selama 3 minggu di Portugal. Jadi rencana awalnya akan road trip di beberapa kota di Portugal selama 3 minggu. Saya sudah mencatat kota mana saja yang akan dikunjungi, mau menginap di mana, sampai ke info kuliner. Lalu tiba-tiba akhir Juli, suami memberitahukan kalau dia tidak bisa cuti lama dari kantornya karena ada project yang kejar tayang. Akhirnya liburan ke Portugal tinggal wacana dan kami tidak ada pembicaraan sama sekali tentang liburan pengganti. Sampai saya dan beberapa teman punya rencana untuk girls trip ke Jerman 2 hari. Eh ternyata rencana girls trip ini pun buyar di tengah jalan karena ketidaksesuaian jadwal satu dengan lainnya. Yah, mungkin memang saya harus tinggal di rumah untuk beres-beres beberapa hal termasuk satu kamar yang akan datang mebel pengisinya di bulan September.

Sampai pada minggu ke dua Agustus, tiba-tiba suami bilang kalau dia butuh liburan karena penat dengan pekerjaan. Lah piye wong iki. Tapi tetap, liburannya tidak bisa terlalu lama dan ke negara yang tidak terlalu jauh karena dia inginnya dari Belanda bisa ditempuh dengan naik mobil. Mas Ewald memang suka sekali road trip. Setelah didiskusikan, akhirnya terpilihlah Jerman, Ceko, dan Austria. Sebenarnya tujuan utamanya ke Ceko terutama Praha karena dia belum pernah ke kota ini (saya juga). Lalu Austria dan Jerman pun kami kunjungi sebagai tempat berhenti untuk beristirahat saat menuju dan kembali ke Belanda. Karena memang waktu diputuskannya mepet sekali (satu minggu)  sebelum berangkat, akhirnya saya menyusun rencana perjalanannya juga ngebut. Memutuskan di kota mana saja kami akan berhenti, kota mana saja yang akan dikunjungi, menginap di hotel atau Airbnb, dan tentu saja informasi kuliner. Satu hari cukup untuk saya menyusun itu semua, walaupun tidak dengan sangat detail. Minimal ada gambaran liburan kami akan bagaimana nantinya. Nah, saat di Salzburg, saya sudah berencana harus bertemu dengan Mbak Dian yang sebelumnya pernah kopdar pertama kali di Berlin. Setelah menghubungi Mbak Dian, ternyata pada hari kami di Salzburg dia ada jadwal kerja, tetapi dia bisa menemui saya setelah selesai bekerja. Lalu saya teringat Nova, salah satu anggota #Mbakyurop #Uploadkompakan yang juga tinggal di Austria. Kalau dengan Nova, saya belum pernah ketemuan, makanya kalau waktunya cocok kami bisa ketemuan, ini akan jadi pertemuan pertama kami setelah sekitar 1 tahunan berada di grup whatsapp yang sama. Senangnya, Nova ternyata bisa ke Salzburg dari kota dia karena dia juga belum pernah ketemu dengan Mbak Dian. Asyiknyaa, liburan sekalian bisa kopdaran walaupun mungkin waktunya tidak akan lama.

Jadi, inilah rute perjalanan kami dengan kota-kota yang didatangi di setiap negara yang kami singgahi. Pada tulisan kali ini, saya akan memberi gambaran secara garis besarnya saja. Ditulisan terpisah, akan saya bahas masing-masing kotanya.

Rute
Rute

JERMAN

Jerman menjadi tempat pemberhentian kami saat akan menuju Ceko dari Belanda dan saat akan kembali ke Belanda dari Austria. Pada saat berangkat, kami menginap satu malam di Kassel dan pada saat kembali ke Belanda, kami menginap satu malam di Trier.

  • KASSEL

Awalnya sempat ragu apakah kami harus menginap di Kassel atau Gottingen. Tetapi suami lebih memilih untuk singgah di Kassel karena kotanya lebih menarik perhatiannya. Selain itu di Kassel ada acara Internasional yang bernama Dokumenta. Jadi Dokumenta ini adalah pameran seni berkelas Internasional. Yang dipamerkan semacam instalasi seni. Walaupun kami tidak mengunjungi secara khusus, tetapi kami bisa melihat beberapa karya seni yang ditaruh di luar gedung, seperti contohnya adalah pada foto di bawah ini. Bangunan di sebelah kiri, berbentuk seperti bangunan di Yunani namanya adalah Panthenon yang dibangun dari 25.000 buku-buku yang dilarang beredar pada jamannya. Disekitar Panthenon ini ada sekitar 20 orang petugas keamanan yang berjaga. Pengunjung bisa masuk dan melihat secara dekat buku-buku apa saja yang ada di sana.

Kassel
Kassel

Selain Dokumenta, di Kassel kami juga mengunjungi taman yang termasuk  UNESCO World Heritage Site, bernama Bergpark Wilhemshöehe yang didalamnya ada 3 bangunan bersejarah, satu diantaranya adalah kastil dan Hercules Monument. Kami naik ke Hercules Monument yang tingginya bikin ngos-ngosan ketika naik melalui tangganya. Saya hanya sanggup sampai 3/4 jalan, sedangkan suami sampai titik paling atas. Beberapa kali saya sempat mencari, siapa tahu ada cable car haha. Airbnb yang kami tinggali letaknya tidak jauh dari taman ini, hanya 5 menit berjalan kaki. Tetapi taman ini sangatlah luas. Kami mulai menjelajahi taman pukul 9 pagi, baru selesai sekitar pukul 2 sore, dengan berhenti-berhenti tentu saja.

Bergpark Wilhemshoehe
Bergpark Wilhemshoehe
Hercules Kastil - Kassel
Hercules Monument РKassel
  • TRIER

Trier adalah kota paling tua di Jerman, letaknya berdekatan sekali sekali dengan perbatasan Luxembourg. Beberapa bangunan di Trier tercatat sebagai UNESCO World Heritage Site, salah satunya adalah Porta Nigra. Kami juga mengunjungi Amphiteater di sana. Pada masanya, Trier adalah menjadi kota perdagangan yang paling diperhitungkan dan penting. Trier berkaitan erat sekali dengan Romawi .

Palace Garden - Trier
Palace Garden – Trier
Porta Nigra - Trier
Porta Nigra – Trier
Amphiteater - Trier
Amphiteater – Trier

CEKO

Ada tiga kota yang kami datangi saat di Ceko yaitu Praha (tentu saja), Kutna Hora, dan Cesky Krumlov. Dibandingkan Belanda, harga-harga di Ceko lebih murah (terlebih makanan).

  • PRAHA

Siapa tidak kenal dengan kota yang terkenal romantis ini. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tahu tentang Praha. Yang pasti jauh sebelum film Surat Dari Praha. Entahlah, saya benar-benar tidak ingat. Tapi satu yang pasti, sudah sejak lama saya memendam keinginan untuk bisa mengunjungi kota ini. Ingin membuktikan sendiri hawa romantisnya seperti apa. Suami juga ternyata sejak lama ingin berkunjung ke Praha. Jadi pas sekali kalau kami ternyata akhirnya bisa sama-sama mengunjungi kota yang sudah lama kami ingin datangi. Hari itu, Praha sangat terik. Tetapi tidak menyurutkan langkah kami mengikuti free walking tour selama 3 jam menyusuri tempat-tempat bersejarah di Praha. Kami berjalan menyusuri Praha dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Badan rasanya rontok, tetapi hati senang. Tidak itu saja, kaki juga cenat-cenut. Belum semua tempat sempat kami kunjungi, mungkin ini pertanda kami akan kembali lagi lain waktu. Siapa tahu ūüôā

Charles Bridge Praha
Charles Bridge Praha
Praha
Praha dilihat dari atas kastil
Praha
Praha
  • KUTNA HORA

Kota Kutna Hora terletak tidak jauh dari Praha, 1 jam berkendara atau sekitar 2.5 jam naik kendaraan umum. Kutna Hora terkenal dengan gereja yang didalamnya banyak tengkorak manusia, namanya adalah Sedlec Ossuary. Ini tengkorak manusia betulan. ada sekitar 40.000-70.000 tengkorak manusia di dalamnya. Selain gereja ini, ada beberapa bangunan yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Kutna Hora kotanya tidak terlalu ramai oleh turis, sangat berbeda jauh dibandingkan Praha. Kami menghabiskan waktu satu hari untuk berjalan disekitar Kutna Hora. Jika ingin menepi sejenak dari Praha yang ramai, Kutna Hora bisa dijadikan pilihan.

Sedlec Ossuary
Sedlec Ossuary
Kutna Hora
Kutna Hora
St. Barbara's Church Kutna Hora
St. Barbara’s Church Kutna Hora
  • CESKY KRUMLOV

Saya mengetahui Cesky Krumlov ini dari twitter. Ada artikel perjalanan yang membahas kota-kota yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Sejak saat itu, saya sudah membuat daftar bahwa kota ini akan menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi jika kami akan berlibur ke Ceko. Kebetulan juga perjalanan kami menuju Hallstatt melewati Cesky Krumlov. Kami menginap satu malam di sini. Airbnb yang kami sewa, hanya berjarak 5 menit jalan kaki ke kota tuanya dan kalau malam, kami bisa melihat megahnya kastil dari kamar. Sungguh romantis. Sayang waktu kami ke sana, cuaca sedang tidak begitu bagus, hujan satu hari. Jadi tidak tampaklah awan biru. Meskipun begitu, menjelajah kota tua Cesky Krumlov membuat kami seperti ditarik ke abad 14 dengan bangunannya yang apik juga letak kotanya yang seperti labirin. Terus terang sewaktu kami awal datang, rasanya seperti di Monschau di Jerman yang pernah kami kunjungi.

Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov

AUSTRIA

Sedangkan saat di Austria, kami singgah di Hallstatt dan Salzburg

  • HALLSTATT

Hampir saja Hallstatt tidak masuk dalam daftar yang kami kunjungi, sampai ada salah satu kenalan yang mengatakan kenapa tidak mampir sebentar di Hallstatt karena letaknya tidak terlalu jauh dari Salzburg, kota tujuan utama kami di Austria. Setelah saya lihat, rutenya memang tidak terlalu nyempal. Ternyata desa¬†ini sudah lama saya lihat foto-fotonya yang indah jika saya sedang berselancar di dunia maya. Desa yang termasuk UNESCO World¬†Heritage Site ini cukup unik karena seperti terperangkap diantara lembah dan terletak di pinggir danau yang sangat luas. Kali ini, kami tidak cukup beruntung menikmati awan biru di Hallstatt. Walaupun awalnya sempat kesal dengan hujan deras yang turun dan kabut pekat yang menyelimuti¬†sehingga jarak pandang sangatlah terbatas, namun kemudian saya bersyukur bisa menikmati Hallstatt dengan keindahan yang berbeda. Seperti yang suami saya katakan pada saat itu, “Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Nikmati saja yang ada, sehingga kamu tidak akan lupa untuk bersyukur.” Saya jadi malu karena mengeluh di awal. Bersyukur saya berkesempatan ke Hallstatt dan menikmati keindahan desa ini dengan mata kepala sendiri dan menuliskan di blog ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
  • SALZBURG

Terus terang, yang mengusulkan untuk ke Salzburg adalah saya karena banyak cerita dan foto-foto indah yang Mbak Dian bagikan tentang kota ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Dan tentu saja, saya mengunjungi Salzburg karena ingin bertemu Mbak Dian yang tinggal di Salzburg dan akhirnya Nova pun bisa diajak ketemuan. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan dengan Airbnb di Salzburg yang menyebabkan kami memutuskan untuk pindah ke hotel di kota tua. Foto yang ditampilkan di Airbnb tidak seindah kenyataan. Akhirnya suami yang memang agak rewel masalah penginapan, memutuskan untuk pindah keesokan harinya. Beruntungnya kami mendapatkan harga yang tidak mahal di hotel ini dan letaknya yang strategis, persis di kota tua. Tentu saja yang tidak kalah menyenangkan adalah bisa kopdar dengan Mbak Dian dan Nova, selain menikmati keindahan Salzburg yang selama dua hari kami di sana diguyur hujan yang deras. Jika ingin melihat keindahan Salzburg dari lensa kamera Mbak Dian, bisa kunjungi IG nya di @dian_photo_journal atau jika ingin tahu tentang Nova, bisa dilihat IG nya di @inong_sam.

Nova dan Mbak Dian
Nova dan Mbak Dian

Pagi hari ketika kami meninggalkan Salzburg menuju Trier, matahari kembali bersinar terang. Suami sempat menggoda saya, “Gimana, apa harus kembali ke Hallstatt ini untuk bisa foto-foto dengan langit yang biru?” yang tentu saja saya sambut dengan cubitan kecil.

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg
Schloss Mirabell and Garden – Salzburg
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg
Salzburg. Ini favorit saya. Pretzel.

Itulah sekilas (yang ternyata panjang juga kalau dituliskan) rangkuman perjalanan liburan kami ke beberapa kota. Selama singgah di¬†beberapa kota ini, seperti biasa saya juga selalu mengirimkan kartupos ke beberapa teman dekat dan juga beberapa blogger. Tunggu saja, siapa tahu ¬†kartupos dari saya tiba-tiba muncul di rumah kalian ūüôā

Oh ya, saya menerima beberapa email yang menyarankan (atau menanyakan) kenapa saya tidak membuat Vlog tentang keseharian saya (termasuk membuat Vlog tentang memasak) dan suami di Belanda maupun tentang cerita perjalanan kami. Saya sudah punya channel youtube sejak lama untuk mendokumentasikan beberapa hal, tetapi bukan khusus tentang Vlog. Untuk Vlog tentang keseharian, sudah pernah saya singgung di tulisan (entah yang mana) bahwa ada banyak hal yang lebih baik kami simpan dan bagikan di dunia nyata, bukan dunia maya karena menyangkut kenyamanan dan privasi. Lagipula percayalah, saya jauh lebih baik ketika membagikan cerita dalam bentuk tulisan dibandingkan membuat Vlog tentang keseharian. Dan untuk Vlog perjalanan, saya tidak cukup telaten mendokumentasikan secara apik perjalanan kami dan tergantung cuaca hati. Beberapa rekaman memang saya kirimkan ke Net CJ, lumayan kan mendapat imbalan uang. Tetapi untuk Vlog, kembali lagi, memang mungkin bukan bidang saya yang sangat menikmati dunia menulis. Terima kasih untuk saran-sarannya tentang Vlog.

Sekelumit dokumentasi visul dari suami

Selamat berakhir pekan!

Di atas monumen Hercules
Di atas monumen Hercules

-Nootdorp, 7 September 2017-

Cerita dibalik Paris yang Romantis

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1503266435209","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":219,"brushes_used":0}

“Ke Paris yuk!”

“Kapan-kapan aja ya, kan dekat”

Di lain waktu

“Kamu kok ga tertarik ke Paris sih. Yang lain pada pengen ke Paris kamu malah gaya banget belum mau.”

“Takut aku, ntar aja ah kapan-kapan. Sekalian ke Disneyland nya.”

Bukan hanya sekali atau dua kali suami mengajak saya ke Paris. Jarak Belanda ke Paris tidak lah terlalu jauh. Dari tempat kami, sekitar 4.5 jam berkendara. Dia ingin sekali ke Paris karena ingin melihat keadaan di sana setelah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di Paris. Dia ingin mengamati beberapa hal di sana sekaligus bernostalgia yang entah beberapa tahun lalu terakhir ke Paris. Intinya dia ingin sekali ke Paris dengan saya.

Saya, justru kebalikannya, tidak merasa nyaman karena selain banyaknya kejadian yang meresahkan di Paris, juga mungkin karena saya banyak membaca berita-berita atau tulisan yang tidak menyenangkan tentang Paris. Dari penipuan, pencopetan, kumuh, banyak gelandangan, banyak pengemis, belum lagi tindakan kriminal lainnya. Semakin was was lah saya dan menjadikan Paris tempat yang nanti-saja-untuk-dikunjungi. Harus diakui bahwa saya termakan dengan pemberitaan tidak baik mengenai Paris. Padahal saya belum pernah ke sana, tapi entah kenapa ketakutan sudah hinggap terlebih dulu di otak saya. Melenyapkan ingatan pada masa remaja tentang kota Paris yang Romantis.

Cathédrale Notre-Dame de Paris
Cathédrale Notre-Dame de Paris

Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris
Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris 

Ketika Adik berlibur ke Belanda, dia tidak ada permintaan khusus ingin mengunjungi negara tertentu di sekitar Belanda. Suami lalu kembali dengan ide untuk mengunjungi Paris ditambahi dengan kata-kata, “mumpung Adik ada si sini, dia pasti senang sekali kalau diajak ke Paris.” Kali ini saya tidak bisa mengelak lagi. Saya pikir benar juga, selagi dia ada di Belanda, tidak ada salahnya kami ke Paris di akhir pekan. Rencana kami ini tentu saja disambut dengan wajah gembira dan penuh semangat oleh Adik. Saya mencoba meminggirkan segala pikiran buruk tentang kota ini dan mengingat kembali betapa Paris itu Romantis. Meskipun ya tidak sepenuhnya berhasil karena kecemasan tetap saja ada. Biasanya saya yang mengurusi tentang tempat menginap dan rencana perjalanan, tapi karena melihat saya agak malas-malasan, maka kali ini suami yang mengurus semuanya.

Pas sekali perjalanan kami ke Paris beberapa hari sebelum ulang tahun ke 3 ¬†perkawinan. Jadi saya pikir, hadiah untuk kami, ke tempat yang romantis. Nanti ada yang bisa diingat kalau kami ke Paris dalam rangka juga ulang tahun ke 3 perkawinan. Kurang romantis apa coba *dipas-pasin 😅

Kami berangkat Jumat pagi, karena sebelum ke Paris kami mampir dulu ke kota Leuven yang ada di Belgia. Selain istirahat sejenak menyetir juga dari hasil penelusuran di google, Leuven ini kotanya cantik. Singgah beberapa jam di Leuven, kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Sampai Paris sekitar jam 8 malam. Setelah menaruh barang-barang di kamar, (Adik mendapat kamar di lantai 1, kami di lantai 5 dan tidak ada lift nya pula. PR banget deh ini) kami makan malam di restoran sekitar hotel. Untungnya tidak jauh.

Menuju ke Louvre Museum
Menuju ke Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum

Keesokan pagi setelah sarapan, kami meninggalkan hotel sekitar jam 9 pagi. Saat sarapan, saya bertanya ke mas yang jaga tentang trik dan tips supaya tidak kecopetan. Masih lho saya cemas dicopet atau ditipu. Ya maklumlah, sewaktu di Jakarta saya pernah dua kali kecopetan dan itu membekas sampai sekarang. Jadi saya selalu punya rasa cemas yang berlebihan kalau di tempat yang ramai. Takut dicopet. Nah, mas yang jaga ini dengan penuh semangat memberikan tips supaya berhati-hati dengan barang bawaan kami. Misalkan, kalau selesai memfoto dengan Hp, lebih baik Hp segera disimpan lagi jangan ditenteng karena bisa diincar untuk dijambret, lalu kalau ada orang yang tiba-tiba menjatuhkan sesuatu jangan langsung diambil. Itu biasanya salah satu cara pengalihan perhatian karena komplotannya nanti yang akan beraksi mencopet. Sama juga kalau misalkan ada orang yang tiba-tiba datang sambil bawa peta, itu juga patut dicurigai jangan langsung percaya. Lebih baik menghindar saja. Dan ada beberapa tips lainnya tapi saya sekarang agak lupa apa. Karena mencoba berhati-hati juga saya sampai memperingatkan beberapa kali ke Adik yang membawa tas punggung untuk tidak usah bawa paspor, (bawa fotocopy saja) dompet ditinggal, tas diisi air saja dan camilan makanan, lalu kamera dicangklong di leher. Suami juga saya peringatkan beberapa kali untuk selalu menutup tasnya. Kebiasaan di Den Haag ya, santai aja gitu kalau tas terbuka. Saya mana bisa, selalu berungkali memastikan kalau tas tertutup dengan baik.

Kami naik metro menuju ke Notre-Dame dan membeli tiket yang paket satu hari. Sebelumnya, niat saya sebenarnya ingin ke toko buku Shakespeare and Company yang muncul di beberapa film salah satunya Before Sunset. Letak toko ini sebenarnya tidak jauh dari Notre-Dame. Tapi setelah turun dari metro, saya berubah pikiran. Lebih baik kali ini mengunjungi tempat-tempat yang ikonik dulu di Paris. Kalau kesempatan berkunjung ke Paris lagi, baru menjelajah ke tempat-tempat lainnya.

Kunjungan pertama kami ke Notre-Dame. Sesampainya di sana, sudah ramai sekali. Antrian untuk masuk katredal mengular dan berbelok-belok. Ternyata masuknya gratis. Meskipun antriannya panjang, tapi tidak terlalu lama menunggu. Saya semakin penasaran seperti apa di dalamnya. Kami mengantri bergantian antara saya, adik, dan suami. Jadi saya sesekali bisa duduk. Sesampai di dalam, saya tidak bisa berlama-lama karena rame sekali. Daripada pening, saya cepat-cepat keluar dan menunggu adik di luar bersama suami.

Setelah dari Notre-Dame kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Museum Louvre. Tempatnya tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan kaki ke Louvre di trotoar dipinggir sungai Seine, kami mampir-mampir melihat beberapa stan yang menjual kartupos atau barang antik lainnya. Saya tergerak untuk membeli beberapa kartupos dengan desain yang unik untuk dikirimkan ke beberapa teman dan untuk saya simpan sendiri. Senang deh memperhatikan stan-stan kecil di sepanjang trotoar menuju ke Louvre. Barang-barang yang mereka jual juga unik dan antik.

Sesampai di Louvre Museum, juga sudah ramai. Maklum, musim panas, musim liburan dan ini adalah Paris. Disetiap sudutnya pasti ramai. Saya terkesiap sesaat melihat bangunan kaca di depan saya, yang selama ini hanya saya lihat jika berselancar  di dunia maya. Megah, menarik, dan tentu saja ramai. Saya pernah membaca kalau untuk masuk ke museumnya, lebih baik membeli tiket secara online untuk memangkas antrian. Awalnya kami tidak ada rencana masuk ke museumnya. Tapi ya, suami pasti gatal lah ya kakinya sudah ada di area museum tapi tidak masuk. Akhirnya dia beli online tiketnya pada saat itu juga. Daya tarik terbesar museum ini adalah lukisan Mona Lisa. Tapi buat dia, yang namanya museum pasti semua isinya menarik. Kalau saya ya, langsung ke tempat yang paling jadi sorotan saja. Selebihnya mengamati seperlunya lalu duduk-duduk menunggu. Museum Louvre ini sangat besar. Butuh satu hari sepertinya untuk menjelajah semua ruangannya.

Awalnya saya tidak tertarik untuk mendekat karena melihat kerumunan yang berjubel. Tapi begitu melihat suami merangsek ke depan, jiwa kompetitif saya muncul, ikut masuk ke kerumunan haha. Lalu beberapa orang memberi saya akses untuk ke depan. Akhirnya saya benar-benar di depan persis lukisan Mona Lisa. Entah karena memang tersihir oleh senyumnya atau karena memang malas, saya tidak mengambil foto lukisan tersebut dari jarak dekat. Cukup saya simpan dalam memori otak kalau saya pernah sedekat itu. Ada lho yang niat sekali memoto menggunakan ipad segede gaban, pose sampai berkali-kali pula dan sampai pindah ke beberapa sudut.

Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀

Perjalanan selanjutnya menuju ke Arc de Triomphe. Saya mengusulkan untuk naik metro saja. Tapi suami bilang sayang kalau harus naik metro karena nanti kami akan melewati taman kalau ke sana sambil berjalan kaki. Masalahnya saya sangsi apa sanggup jalan kaki sejauh itu. Sepertinya sih dekat ya karena bangunannya nampak dari Louvre. Ya sudahlah, akhirnya kami berjalan kaki, dengan sesekali harus berhenti sejenak kalau saya sudah merasa capek, sambil makan crepes isi coklat 😅.

Sebelum sampai ke Arc de Triomphe, kami melewati Concorde. Di sekitar Concorde ini bagus-bagus bangunannya. Suasananya juga menyenangkan. Saya sempat bercerita ke suami sepanjang perjalanan kalau ada beberapa bangunan di Indonesia yang menyerupai bangunan-bangunan yang ada di LN. Contohnya di Kediri ada yang mirip Arc de Triomphe, di Bekasi ada yang mirip Louvre meskipun terbalik, bahkan saya beberapa waktu lalu membaca ada tempat wisata yang menyerupai Stonehenge. Saya juga tidak terlalu paham awal mula tempat-tempat tersebut ada.

Kami melewati area perbelanjaan dengan toko-toko segala merek terkenal. Nama areanya The Champs-Elys√©es. Sebenarnya area ini bukan hanya perbelanjaan saja sih karena ada restoran, hotel, cafe, cinema dan teater. Suami tiba-tiba nyelutuk, “ini semacam Malioboro kali ya kalau di Indonesia.” 😅 Lah, brand nya saja bedaaa Mas. Rame sekali di sini, kayaknya semua turis tumplek blek. Entah memang untuk berbelanja atau seperti kami, menuju ke Arc de Triomphe.

Akhirnya sampai juga ke Arc de Triomphe. Wah besar sekali ternyata. Megah. Sepertinya bisa naik karena saya melihat di atas banyak sekali orang. Tapi kami memutuskan untuk melanjutkan ke Eiffel. Kali ini naik metro karena untuk jalan kaki saya sudah tak sanggup haha. Sekalian menghemat tenaga juga.

Concorde
Concorde
Arc de Triomphe
Arc de Triomphe

Saya kok deg-degan ya selama di Metro menuju ke Menara Eiffel. Rasanya seperti mau ketemuan dengan seseorang yang ditaksir. Mungkin karena selama ini saya cuma melihat Eiffel dari berbagai media, tidak secara langsung, jadi begitu akan melihat secara nyata rasanya benar-benar membuat deg-degan.

Dan benar saja, semakin mendekati Eiffel, saya semakin antusias. Begitu sudah ada di bawahnya, duh rasanya girang sekali. Saya senyum-senyum terus, bahagia bukan main. Rasanya kayak, “ini beneran ya ada di Eiffel.” Haha norak ya, tidak masalah. Namanya juga gembira ya. Antrian untuk naik sangat mengular. Kami cuma lewat saja dan memilih mencari toilet untuk saya karena sudah menahan kencing. Kami sempat berpikir, di tempat yang ramai ini kenapa tidak nampak banyak polisi atau militer ya. Kalau misalkan ada kejadian trus bagaimana.

Eiffel sudah didepan mata, maka harus diabadikan dalam berbagai pose. Adik saya sampai bosen jadi tukang foto dadakan haha. Mumpung ya mumpung liburannya bertiga, jadi kami bisa punya banyak foto berdua.

Eiffel Tower
Eiffel Tower
Eiffel Tower jepretan suami
Eiffel Tower jepretan suami

Dari Eiffel, kami ke tempat selanjutnya yaitu Sacr√©-Coeur. Saya tidak naik sampai atas, sementara suami ke atas dan adik saya memilih duduk-duduk. Saya sendiri muter dari satu toko ke toko lainnya. Karena memang banyak sekali toko untuk membeli oleh-oleh di sini. Kenapa saya tidak ikut naik, karena sudah capek *lah tapi keliling toko masih kuat 😅

Sacré-Coeur
Sacré-Coeur
Stasiun Metro
Stasiun Metro dari twitter suami (@ewaldkegel)

Total satu hari kami berjalan kaki itu 24km. Saya tahu karena memakai jam tangan yang bisa menghitung langkah dan dalam km saat berjalan kaki. Pantas saja, ketika sampai penginapan jam 11 malam rasanya badan rontok, belum lagi harus naik ke lantai 5. Prestasi lah ini untuk saya saat ini, walaupun sering harus duduk sejenak kalau kecapaian dan ribet cari toilet berungkali karena beser.

Dan bagaimana tentang ketakutan saya akan hal-hal yang saya khawatirkan sebelumnya? Tidak terbukti meskipun memang perasaan was was itu terus bergelayut satu hari penuh. Hal ini yang membuat saya sangat awas dengan barang bawaan kami. Lebih baik awas daripada kehilangan.

Keesokan hari saat dalam perjalanan pulang, kami mendengarkan berita di radio. Ternyata sekitar jam 21.30 di Eiffel itu ada kejadian seorang lelaki membawa pisau menuju ke keramaian sambil bertakbir. Deg!!! Entah kenapa badan saya langsung lemes mendengar itu. Membayangkan kalau saya masih ada di sana, trus panik, dan saya tidak bisa berlari kencang. Padahal kami berencana akan tinggal lebih lama di sekitar Eiffel untuk melihat lampu di Eiffel, kan semakin romantis. Tapi karena saya ribet mencari toilet, akhirnya kami membatalkan untuk tinggal lebih lama di Eiffel. Saat kami pergi sekitar jam 19.30. Berarti dua jam sebelum kejadian. Alhamdulillah kami masih dilindungiNya. Memang tidak ada korban karena polisi langsung bergerak cepat. Tapi kalau saya masih ada di sana, aduh panik sekali! Dan ini jadi berita Internasional. Kalau penasaran, coba bisa dicari kejadian di Eiffel tanggal 5 Agustus 2017.

Terlepas dari Paris yang memang setelah saya buktikan sendiri ada tempat-tempat yang kumuh, ada banyak gelandangan, pengemis, kriminalitas, tapi setelah mengunjunginya, Paris tetaplah yang seperti bayangan saya saat masih usia remaja. Paris yang Romantis. Meskipun saya sepanjang hari waspada luar biasa saat berada di keramaian, tapi Paris tetaplah Indah, yang membuat saya mendadak jadi nempel terus ke suami sepanjang hari *biasanya nggak. Jika ada kesempatan dan waktu, saya ingin berkunjung kembali ke Paris. Mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu ramai, kembali merasakan Paris yang Romantis.


-Nootdorp, 20 Agustus 2017-

Kebiasaan Saat Makan

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1502646820682","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":388,"brushes_used":0}

Meskipun saya bukan tipe orang yang terlalu rewel dalam urusan makan, tetapi kadang juga termasuk tipe pemilih. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar atau menjadi kebiasaan saat makan. Kebiasaan ini ada yang masih berlangsung sampai saat ini tapi juga ada yang perlahan bisa dihilangkan.

  • Kuah Pisah

Saya paling tidak bisa kalau makan yang berkuah terus dicampur dengan nasinya. Jadi, nasi harus dipisah dengan kuah. Tapi kalau kuah dimakan dengan lontong, masih bisa. Entah kenapa rasanya geli kalau makan yang berkuah ada nasinya. Melihat nasi mengambang atau ada di dalam kuah itu, entahlah rasanya tidak bisa dijelaskan. Geli lihatnya haha. Jadi saya tim kuah pisah dengan nasi :))))

  • Lebih Suka Makan Pakai Sendok

Meskipun dari kecil kebiasaan melihat Ibu dan hampir seluruh keluarga besar kalau makan pakai tangan (tidak menggunakan sendok) dan saya biasa disuapin dengan tidak menggunakan sendok, tetapi saya tumbuh besar mempunyai kebiasaan makan dengan menggunakan sendok. Pada dasarnya saya ini memang orang yang suka geli-an. Geli di sini maksudnya agak jijik an, jadi kalau makan tanpa menggunakan sendok, saya geli saat lihat tangan sendiri kotor. Duh, sok ratu banget ya saya haha. Tapi memang begitulah kenyataannya. Tetapi lama kelamaan akhirnya saya belajar supaya tidak geli sendiri, belajar makan tanpa menggunakan sendok. Sudah lumayan sering sih, meskipun frekuensinya ya tidak sangat sering. Minimal sudah bisa meredam ke-geli-an saya kalau lihat tangan kotor. Ngomong tentang kotor, saya juga paling tidak suka kalau hujan terus kaki saya kecipratan air hujan dari jalanan trus akhirnya kaki saya kotor. Pasti langsung saya bersihkan, tidak bisa berlama-lama. Saya lebih suka pakai sandal dibandingkan sepatu, tapi tidak suka kalau kaki kotor *rewel :))))

  • Durasi Makan Lama

Kalau yang ini, tidak diragukan lagi. Lamanya tidak ketulungan, sampai suami saya selalu geregetan kalau makan bareng. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini awalnya mungkin karena sejak kecil (sampai sekarang) makan selalu sambil baca buku. Jadi konsentrasi makan terpecah antara makan dan baca buku. Saya makan bisa lebih dari setengah jam. Makanya, saya paling benci kalau makan diburu-buru. Saya ingat sekali pernah membentak teman kuliah waktu makan bakso di kampus karena dia buru-buru mau masuk kelas. Dia sampai kaget saya bentak hanya perkara makan yang super pelan haha. Tapi sekarang saya mulai belajar makan dengan tempo yang lebih cepat. Mulai membiasakan makan tidak baca buku, tapi tetap saja agak lama karena makan sambil ngelamun haha. Saya dan adik-adik sama saja, kami makannya lama. Padahal Ibu Bapak kalau makan cepet. Selama adik di Belanda, suami suka ngeledekin, “siapa nih yang menang, makan terlama” 😅

  • Suka Makan Sayur Kecuali ….

Meskipun Ibu adalah wanita pekerja dan di rumah ada pembantu, tetapi untuk urusan makan Ibu selalu memasak sendiri untuk semuanya. Jadi Ibu selalu bangun sebelum adzan subuh lalu mulai menyiapkan semuanya untuk memasak dari memasak nasi, lauk pauk dan sayur. Jam setengah tujuh pagi, Ibu sudah berangkat mengajar. Satu yang tidak pernah absen adalah sayur hijau harus selalu ada di meja makan. Jadi semacam sayur rebus gitu atau lalapan mentah. Meskipun kadang Ibu membuat sop sayur, tetapi tetap disediakan sayuran hijau. Akhirnya saya terbiasa sejak kecil makan sayur atau lalapan. Semua sayuran saya suka, kecuali kacang panjang. Saya kalau melihat kacang panjang seperti melihat ulat haha. Entah kenapa imajinasinya seperti itu. Karenanya, sayuran seenak apapun, tidak akan saya sentuh kalau ada kacang panjangnya. Tidak ingat pasti sejak kapan saya akhirnya mulai bisa makan kacang panjang. Kalau lodeh dikasih campuran kacang panjang, saya akhirnya bisa makan. Meskipun masih agak PR kalau mau makan lalapan kacang panjang.

  • Nasi Dikepel

Saya di masa kecil tumbuh jadi anak yang biasa disuapin. Ya sampai umur sebelum masuk TK. Nah, saya paling suka kalau disuapi nasi yang dikepel dengan lauknya. Dan favorit saya adalah nasi hangat yang dikepel dengan perkedel. Semakin besar, bertambah lagi kesukaan saya makan nasi dikepel dengan kuning telur ditambah sambel buje cabbi (sambelnya orang Madura, cabe dengan garam saja). Sampai sekarang, kalau saya sedang malas makan, ya akhirnya makan nasi dikepel kalau tidak dengan perkedel ya dengan kuning telur pakai sambel cabe garam.

  • Tidak Suka Bubur, Kecuali ….

Jika banyak orang suka sekali dengan yang namanya bubur ayam, tidak demikian dengan saya. Bahkan jauh dari Indonesia seperti ini, tidak membuat saya menjadi orang yang ingin sekali makan bubur ayam. Biasa saja. Sebenarnya secara keseluruhan saya memang bukan penggemar bubur. Meskipun bukan penggemar bubur, tetapi ada satu jenis bubur yang saya suka yaitu Tajin Palappa. Ini bubur khas Madura. Wah kalau bubur ini, saya doyan sekali. Saya pernah menjelaskan tentang Tajin Palappa di tulisan yang ini.

Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/
Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/

  • Tidak Harus Pakai Kerupuk Dan Sambal

Saya punya teman, kalau makan harus ada kerupuk dan sambal. Tanpa dua pelengkap tersebut terutama kerupuk, dia tidak bisa mulai makan. Jadi harus ada kerupuk disetiap dia makan. Kata dia, bukan orang Indonesia kalau makan tidak ada kerupuknya. Wah, berarti saya bukan orang Indonesia donk ya haha karena bisa makan tanpa kerupuk. Saya kalau makan tidak terbiasa dengan kerupuk berbarengan dengan makanan utama. Jika tidak makan kerupuknya di awal, pasti di akhir. Kalau makan berbarengan gitu, agak ribet buat saya. Tapi paling enak kalau makan soto atau rawon, atau bakso, kerupuknya dicelup di kuah. Ehhmm, Lekker! Sambel pun tidak harus ada sekarang. Jadi makan tanpa sambel pun tak mengapa. Sama seperti saya sekarang tidak harus makan nasi. Tapi yang pasti sehari harus ada karbohidrat satu kali yang saya konsumsi.

  • Lebih Baik Asin Daripada Manis

Nah ini, masalah rasa. Walaupun saya Jawa tulen, tapi saya tidak terlalu suka makan yang rasanya manis. Jelas ini terpengaruh dari lingkungan tinggal karena saya dari Jawa Timur apalagi lingkungan saya tumbuh besar yang memang mayoritas orang Madura. Terbiasalah saya mengkonsumsi makanan asin dibanding makanan manis. Sampai saya membuat perumpamaan : bisa hidup tanpa gula tapi susah kalau tanpa garam. Saya tidak terlalu suka kue yang rasanya manis. Mending makan dadar jagung yang rasanya asin haha perbandingannya jomplang banget. Saya tidak terlalu suka makan trus dicampur kecap. Tapi kalau nasi hangat dikasih kecap makan dengan telor ceplok, wah itu susah ditolak :))) Saya ingat punya teman kuliah yang kemana-mana (di dalam tasnya) bawa kecap. Makanan apapun pasti dikecapin sama dia. Sampai pernah dia makan sayur asem dikecapin juga. Untung sewaktu makan rawon tidak dikecapin juga haha.

  • Makan Jangan Dicampur

Ini masih lanjutan dengan rasa geli. Saya tidak bisa makan kalau isinya diaduk atau dicampur-campur. Contohnya : kalau makan nasi padang, selain saya tidak suka kalau nasi diguyur kuahnya, saya juga tidak suka kalau semua nasinya diaduk dengan kuah atau sayuran lainnya (nangka atau rebusan daun singkong). Kalau dibungkus pun, sebisa mungkin saya minta dipisah antara nasi dan lauknya biar tidak bersatu *terpisah sesaat :))). Sama saja dengan makan bubur, tidak bisa kalau saat makan harus diaduk campur semua. Makan mie ayam juga begitu, mienya dimakan sendiri tidak dicampur dengan kuahnya. Mienya harus bebas kuah. Intinya makan tidak diaduk dan dicampur. Btw, disaat banyak orang mengidolakan nasi padang, saya malah biasa saja dengan nasi padang. Entah kenapa, mungkin karena bersantan ya dan ada kuah kentalnya (padahal ya bisa saja pesan menu lainnya) . Saya kalau beli di restoran padang pasti menunya sama : ikan bakar dan sambel hijau plus sayur daun singkong. Sudah itu saja, tidak tertarik dengan menu lainnya.

  • Tidak Bersuara

Sejak kecil diajari oleh Bapak kalau makan mulut harus tertutup, tidak boleh mengeluarkan bunyi apapun, tidak boleh bersendawa. Jadi sampai sekarang terbiasa makan tidak berbunyi. Makanya paling tidak suka mendengar orang makan yang berbunyi dan bersendawa. Padahal untuk hal ini, masing-masing tempat berbeda ya. Ada yang kalau bersendawa atau makan berbunyi artinya pujian kepada yang masak dan artinya masakannya enak. Walaupun tetap saja, telinga agak risih kalau dengar orang makan berbunyi dan bersendawa. Cuma ya ditahan-tahan saja, kalau ga kenal ya masak langsung nyolot :)))) kalau adik saya sih ya langsung saya tegur.

Duh, rewel sekali ya kebiasaan makan saya. Untung dapat suami yang tabah haha. Tapi kalau dalam keadaan yang kepepet sekali, entah kenapa saya jadi mendadak bisa fleksibel. Terutama kalau sedang jalan-jalan. Tingkat kerewelan dan keruwetan saya mendadak melorot levelnya, jadi santai.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini sebenarnya bukan tentang kebiasaan makan, tapi masih ada hubungannya dengan makan. Jadi kami sekeluarga bukan dari keluarga yang berkelebihan, cukupanlah. Tapi untuk makanan yang beli, sangat jarang sekali kalau tidak ada hari yang spesial misalkan ulang tahun atau ketika Bapak dan Ibu ada sedikit lebih rejeki. Nah, salah satu kesempatan untuk makan enak (beli di luar maksudnya) justru datang saat sakit. Jadi kalau ada anak-anaknya yang sakit, Bapak dan Ibu selalu bertanya, ” mau beli makan apa? sate atau soto ayam atau martabak atau mie goreng atau apa?” Sedangkan kalau dipikir-pikir, kalau sedang sakit kan mulut ga enak ya buat makan. Agak pahit gitu. Jadinya ya males ditawari untuk beli makanan diluar. Kenapa gak kalau pas lagi sehat aja ditawarinnya :)))

Kalau kalian, apa kebiasaan makan yang unik atau bahkan kadang mungkin berasa agak merepotkan untuk kalian sendiri atau orang sekitar?

Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)
Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)

-Nootdorp, 12 Agustus 2017-

Tiga Tahun

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1502220198258","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":171,"brushes_used":0}

Tiga tahun berjalan sangat cepat. Menjelang tiga tahun pernikahan, hampir setiap hari kami membahasnya kalau tiga tahun yang kami lalui ini benar-benar tidak terasa. Dan kami suka membahas sambil cekikikan kalau diantara kami tuh sebenarnya banyak sekali perbedaan. Kalau dibuat daftar, banyak bedanya dibanding samanya.

Zaanse Schans
Zaanse Schans

 

– Yang satu tukang ngegombal setiap detik setiap saat, yang satu cuma senyum-senyum saja sambil lempeng bilang thank you.

– Yang satu selalu ribet nyari kunci (apapun) di pagi hari, yang satu selalu gemes ngelihatnya dan mengulang omongan kalo kunci musti ditaruh tempat yg disediakan setiap nyampe rumah.

– Yang satu suka banget pakai sepatu dan sandal di dalam rumah tapi nyeker kalau ke luar rumah, yg satu tukang ngomel dan kayak kaset rusak ngomong setiap masuk rumah alas kaki harus dicopot dan suka geli kalau kaki sendiri basah dan kotor jadi harus cepat-cepat dibersihkan.

– Yang satu suka banget makan kue yang manis-manis, yang satu suka banget makan camilan yang banyak micinnya meskipun setelahnya pasti sakit tenggorokan.

– Yang satu hobi banget naik kendaraan umum, yang satu ga bisa hidup tanpa ngayuh sepeda setiap hari.

– Yang satu suka banget nanya ini dimana itu ditaruh mana dan kalau nyari ga ketemu, yang satu entah kenapa kayak punya kekuatan bulan selalu menemukan yang dicari.

– Yang satu tukang beberes dan paling tidak bisa lihat rumah berantakan, yang satu bagian ngeberantakin dan selalu komentar “ini kan rumah bukan museum, jadi ga usahlah terlalu bersih”

– Yang satu sukanya makan tempe, yang satu doyannya makan tahu.

– Yang satu bisa ngunyah buah sampai 4 jenis berbeda setiap harinya, yang satu suka banget sama sayuran mentah.

– Yang satu suka sekali dengan sejarah dan ga suka matematika, yang satu hobi utak atik rumus matematika kayak kurang kerjaan dan ga terlalu mudeng dengan geografi dan sejarah.

– Yang satu jago dan rapi sekali kalau pasang seprei, yang satu mending nyetrika daripada masang seprei.

Kalau mau dijabarkan perbedaan yang ada, bisa lebih panjang dari novel-novel yang beredar di pasaran. Bagaimanapun juga, kami menjalankan pernikahan ini atas nama perbedaan dan bukan untuk menyamakan yang beda tapi mengharmonikan hal-hal yang tidak sama.

Satu yang pasti, banyak perubahan yang terjadi termasuk perasaan kami tidak lagi sama seperti tiga tahun lalu atau getaran itu tidak lagi sama seperti 3.5 tahun lalu saat pertama kali bertemu. Perasaan dan getaran yang ada semakin hari semakin menguat. Selalu ada pipi yang menghangat dan kupu-kupu yang beterbangan di perut saat ucapan tulus terlontarkan atau celutukan-celutukan manis walau cuma selewat. Kadang-kadang kalau lama tidak bertengkar, yang satu suka iseng cari gara-gara tapi kalau salah paham beneran ngambeknya susah hilang.

Bersyukur atas tiga tahun yang terlewati. Semua yang hadir dalam tiga tahun ini datang pada waktu yang tepat, tidak terlalu cepat pun tidak lambat. Perbedaan atau persamaan, bukanlah hal yang besar buat kami saat ini. Karena sejak awal, kami sama-sama yakin bahwa kami dipertemukan untuk bisa saling belajar dan menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Doa setiap tahun, semoga kami terus bersama dalam keadaan sehat dan bahagia, saling menguatkan dalam susah dan tidak takabur dalam senang, diberikan umur panjang yang barokah agar bisa saling beriringan berjalan dalam pernikahan sampai berpuluh tahun kemudian.

Di Leuven, Belgia
Di Leuven, Belgia
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅

-Nootdorp, 9 Agustus 2017-

Sakit di Perantauan

Dini hari sekitar jam 2 saya terbangun karena rasa nyeri yang saya rasakan di perut. Saya mengubah posisi tidur yang miring ke kiri menjadi terlentang kemudian mencoba untuk duduk. Semakin lama nyeri yang saya rasakan semakin menusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan nyeri yang seperti ini. Dalam rentang dua bulan, ini sudah ke empat kalinya. Tiga nyeri terdahulu sudah dikonsultasikan kepada pihak medis dan hasilnya masih dalam tahap normal, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Karenanya ketika rasa nyeri ini datang, saya tidak terlalu khawatir karena sudah “berpengalaman” sebelumnya. Selang satu jam kemudian, nyerinya semakin hebat. Saya terpaksa membangunkan suami yang terlelap. Tujuannya cuma satu, kalau misalkan saya pingsan, minimal ada yang tahu lah. Suami bangun lalu bingung juga apa yang musti dilakukan. Dia mengelus punggung saya. Sedangkan saya duduk sambil berusaha mengatur nafas. Satu jam berlalu, nyerinya tetap datang tapi saya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya coba untuk tidur dengan harapan ketika bangun rasa nyerinya hilang.

Pagi datang, saya terbangun. Saya rasakan nyerinya masih ada. Suami lalu menyarankan untuk menelepon pihak medis. Saya menahan, “jangan sekarang, biasanya ga lama lagi hilang.” Setelah membawakan sarapan roti dan segelas susu coklat, suami berangkat ke kantor karena saya bilang sudah agak baikan. Tinggallah saya di rumah dengan adik. Saya bilang ke adik kalau rencana hari ini ke Amsterdam terpaksa dibatalkan karena untuk bergerak dari tempat tidur saja sangat susah. Sayang sebenarnya karena cuaca sangat cerah. Tapi adik memaklumi melihat kondisi saya yang kesakitan. Berbicara saja terbata-bata karena menahan sakit. Saya bilang ke adik untuk sering-sering mengecek kondisi saya di kamar. Takutnya saya pingsan tanpa ketahuan. Bersyukur ada adik di rumah. Jadi saya agak tenang kalau misalkan keadaan makin memburuk, setidaknya dia bisa telpon suami atau memberitahu tetangga.

Sekitar jam 10, suami telpon. Saya bilang nyerinya semakin hebat dan datangnya sering. Saya sebutkan di bagian mana saja yang nyeri dan tanda-tanda lainnya. Dia lalu bilang akan menelepon pihak medis. Selang berapa lama, dia menelepon saya kembali. Kata pihak medisnya, setelah mendengar keluhan dan tanda-tandanya yang masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, saya hanya disuruh menunggu, banyak minum air putih dan sering bergerak. Saya bingung juga ya mau bergerak yang bagaimana. Ke kamar mandi saja rasanya pengen ngesot saking tidak kuatnya jalan. Tapi akhirnya saya paksakan juga turun ke lantai bawah dengan menahan nyeri yang amat sangat. Nyeri yang saya rasakan itu seperti sakit maag yang sakitnya sampai ke ulu hati dan seperti ketusuk-tusuk. Nyerinya datang dan pergi.

Karena sudah jam makan siang, saya mempersiapkan makan dibantu adik. Dalam keadaan seperti ini, kangen deh dengan warung. Tinggal beli langsung makan. Ingin makan nasi pecel pakai lauk dadar jagung. Sempet kesel juga kenapa pas sakit gini, makan saja musti tetep masak sendiri. Tapi pikiran itu langsung saya enyahkan, karena bersyukur saya masih bisa makan dan mempersiapkan makanan meskipun dengan keadaan yang tidak ideal dan ditemani adik. Akhirnya saya makan dengan oseng sayuran dan tahu tempe sembari menahan nyeri. Sebenarnya bisa makan yang simpel seperti roti, tapi saya ingin makan yang ada sayurnya.

Siang menjelang sore, keadaan tidak semakin membaik. Saya coba untuk tidur dengan harapan yang sama, pas bangun nyerinya hilang. Sementara adik bilang akan jalan-jalan sebentar ke kota. Ternyata setelah satu jam tidur dan ketika terbangun, sakitnya makin tidak karuan. Saya mencoba menyeret pantat menjauh dari tempat tidur dan mengatur nafas ketika bergerak. Tapi nyerinya makin sering datang. Tidak berapa lama, suami datang. Dia menyarankan untuk telepon lagi pihak medis. Saya menyetujui. Yang saya khawatirkan bukanlah rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi, karena untuk menahan sakit, saya masih bisa. Tapi karena sudah lebih dari 12 jam nyerinya tidak hilang, jadi khawatir juga pasti ada sesuatu di dalam sana. Setelah menelepon, pihak medis bilang akan segera datang ke rumah dan jika ada sesuatu yang genting ditemukan, saya akan langsung dikirim ke RS. 10 menit kemudian Beliau sampai rumah dan langsung menuju ke kamar. Setelah ditanya ini dan itu untuk diagnosa awal, lalu dilanjutkan pemeriksaan luar dan dalam. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dikatakan ulu hati saya tertekan (semacam itulah kesimpulannya). Saya disarankan minum paracetamol untuk meredakan nyeri, lebih banyak minum air, dan makan buah. Kalau sudah menjalankan itu semua tetapi nyerinya belum hilang, disuruh telpon lagi. Saya sempat bilang ke Beliau, baru kali ini saya kesakitan trus diperiksanya di rumah. Semacam seperti di film-film yang saya tonton. Biasanya kalau saya sakit walaupun sampai susah berjalan (sewaktu sakit usus buntu), ya saya yang pergi ke dokter. Beliau langsung tertawa mendengar guyonan saya dan memuji daya tahan saya terhadap sakit. Maksudnya bisa menahan sakit dengan tidak panik sampai lebih dari 12 jam.

Mendengar bahwa semuanya baik-baik saja, saya agak tenang. Saya tidak langsung mengkonsumsi paracetamol, tapi langsung hajar dengan buah lalu guyur dengan minum yang banyak. Saya bilang suami, kalau sampai malam nyerinya tidak hilang, baru akan minum paracetamol. Saya lalu banyak bergerak jalan ke sana ke mari. Sekitar jam 9 malam, saya merasakan nyerinya jauh berkurang. Dan ketika menulis ini, nyerinya tinggal sekitar 10% dari awal. Semoga nyerinya tidak kembali lagi sehingga besok saya bisa mengantarkan adik jalan-jalan ke Amsterdam *loalaaahh lak pecicilan maneh. Suami bilang rasanya tidak tega melihat saya kesakitan yang sedemikian hingga sampai beberapa kali dia berkata, “andaikan nyerinya bisa ditransfer sedikit ke saya,” sambil memeluk dan mengelus punggung saya.

Kejadian hari ini mengingatkan saya tentang tidak enaknya sakit terutama jika sedang merantau. Sakit saja sudah tidak enak, apalagi kalau jauh dari keluarga. Mulai hidup ngekos sejak umur 15 tahun, saya sangat berhati-hati sekali dalam menjaga kesehatan. Saya berpikirnya, kalau sakit jauh dari keluarga pasti rasanya sangat nelongso dan bingung ya mau minta tolong siapa kalau ada apa-apa. Tapi yang namanya musibah, bisa datang kapan saja tanpa terduga. Sewaktu di Surabaya, masih enak lah kalau sakit tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke rumah (6 jam perjalanan). Waktu itu saya sakit usus buntu yang akhirnya harus operasi. Tapi sewaktu di Jakarta, kalau sakit ya harus dihadapi sendiri, kalau semakin memburuk baru saya telepon teman untuk mengantarkan ke dokter atau RS. Sewaktu di Jakarta sempat 2 kali harus dirawat di RS. Saya ini bukan tipe kalau sakit langsung memberi tahu ke orangtua. Sebisa mungkin saya tangani sendiri dulu. Kalau sudah semakin parah, baru memberi tahu mereka. Tapi satu yang pasti, kalau sedang sakit saya pasti memberi tahu orang di sekitar dengan tujuan untuk sering-sering menengok saya di kamar. Jadi kalau saya pingsan atau katakan kalau keadaan buruk saya meninggal, ketahuan. Jadi ga pingsan atau meninggal tanpa ketahuan.

Yang paling nelongso kalau sakit jauh dari keluarga itu adalah urusan makan. Kalau di Indonesia masih bisa minta tolong teman kos untuk nitip beli makan. Atau setidaknya saya bisa jalan sendiri ke warung terdekat untuk beli makan. Tapi kalau seperti hari ini, sedih sekali pas ingin makan sesuatu yang diingini, malah makannya yang lain dan harus masak dulu pula. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh karena bersyukur masih bisa makan dan masih ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Itu tandanya sakit masih bisa saya tahan. Dan bersyukur ada ada adik di rumah. Dan sangat bersyukur meskipun suami ngantor hari ini tapi tetap memantau keadaan saya bahkan mengurus ke pihak medis dan mengurus saya di rumah. Dia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya tenang ada keluarga di sekitar saya. Memang musti dicari celah supaya ditengah kesusahan masih ada yang bisa disyukuri. Hidup jauh dari keluarga sejak usia muda, lumayan menempa jiwa kalau saat-saat sulit datang. Minimal tidak panik.

Ada yang punya pengalaman sakit di perantauan, jauh dari keluarga?

-Nootdorp, 31 Juli 2017-

Tentang Menikmati Hidup

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1501178854065","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":220,"brushes_used":0}

Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka yang membaca blog kami. Dari bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan tinggal di Belanda, ujian bahasa Belanda, pernikahan dengan WN Belanda, pasar di Belanda, bahkan sampai bertanya harga cabe di Belanda. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya jawab langsung karena memang tidak terlalu tergesa dilihat dari tingkat kepentingannya. Saya menunggu sampai bisa duduk manis di depan komputer karena saya tidak membiasakan diri untuk terlalu banyak menghabiskan waktu dengan telefon genggam. Selain pertanyan, tentu juga saya menerima email yang isinya tentang komentar bahkan nasihat. Komentar yang disampaikan berkaitan dengan saya pribadi, saya dan suami, maupun komentar tentang blog ini. Sedangkan nasihat, beberapa kali saya menerima masukan yang berhubungan dengan agama. Kadang ya bikin gemas, kadang ya biasa saja. Dan yang terakhir, tentu saja blog kami ini tidak luput dari kritikan. Semuanya kami terima, khususnya untuk saya, sebagai bahan evaluasi dalam menulis dan berbagi cerita, merenung, maupun sekedar bahan bacaan. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan menulis email.

Dari sekian email, ada beberapa yang bernada serupa menanyakan atau memberi komentar betapa saya terlihat sangat menikmati hidup dan kehidupan selama di Belanda, terlihat dari cerita-cerita yang saya bagikan di blog ini. Mereka menanyakan bagaimana caranya beradaptasi dengan semua hal yang baru di Belanda atau caranya supaya hubungan dengan suami selalu baik-baik saja (karena ada beberapa yang menuliskan sepertinya hubungan kami lancar dari awal kenalan sampai menikah. Padahal saya tidak pernah bercerita sekalipun di blog ini tentang kehidupan sebelum pernikahan, tentang bagaimana kami bertemu sampai menikah). Saya tentu saja senyum-senyum membaca hal tersebut.

Apa yang kami tuliskan di blog ini murni adalah apa yang kami alami, apa yang kami pikirkan, apa yang kami jalani tanpa harus dipoles sana sini. Tetapi, tidak semua hal dalam kehidupan kami perlu dituangkan di sini. Ada banyak hal yang sekiranya berguna, tentu saja kami bagikan, siapa tahu ada yang memerlukan informasinya, atau ada beberapa pemikiran yang tertuliskan setidaknya kami belajar menyampaikan pendapat melalui tulisan. Tetapi ada banyak hal juga yang harus kami simpan sendiri, biarlah kami saja yang tahu, tidak perlu sampai dunia luas ini mengetahui setiap peristiwa yang terjadi. Buat saya, lebih baik menuliskan hal-hal yang membuat hati gembira, meskipun tidak dipungkiri beberapa tulisan di blog ini terinspirasi dari kisah sedih saya (atau kami), keresahan yang saya rasakan, atau kerinduan akan tanah air dan keluarga. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan sangat pribadi, biarlah itu menjadi bagian kehidupan nyata kami. Mungkin karena beberapa hal tersebut yang kami terapkan dalam menulis blog, jadi terbaca bahwa saya nampak sangat menikmati hidup, selalu gembira, dan tidak pernah ada masalah.

Selama masih¬†hidup, masalah akan selalu ada. Namanya juga manusia ya, siapa juga yang tidak pernah tertimpa masalah dari hal-hal yang kecil sampai yang nampaknya mustahil untuk diselesaikan. Hal tersebut berlaku juga untuk saya. Bedanya, mungkin karena saya jarang sekali berkeluh kesah di dunia maya (blog atau twitter), jadi nampak semua baik-baik saja. Padahal kalau mau ditelisik lebih dalam, ada saja masalah yang menghampiri. Bukan ingin menampilkan pencitraan yang baik-baik saja, tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu berkeluh kesah di media sosial, karena untuk saya, tidak ada gunanya. Saya rasa orang juga males membaca kalau misalkan saya ngomel-ngomel terus di media sosial. Saya memilih untuk menyelesaikan masalah yang datang, menghadapinya, mencari solusinya, dan berdiskusi dengan suami. Sejak menikah, tentu saja tempat saya untuk berdiskusi adalah suami. Dari suami juga saya belajar banyak hal tentang penyikapan terhadap suatu masalah. Saya yang dulunya berjiwa senggol bacok, sekarang jadi lebih tenang kalau menghadapi sesuatu meskipun tetap sih sesekali “api” nya muncul, tapi setidaknya lebih terkendali. Kalau kami yang sedang bermasalah, maka masalah itu harus berhenti di kami, tidak sampai keluar. Bahkan dengan sahabat-sahabat dekat, saya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang rumah tangga kami. Intinya, apa yang terjadi di rumah, jangan sampai seisi dunia tahu. Dan bersyukur sampai sekarang (dan mudah-mudahan ¬†seterusnya) hal tersebut tetap terjaga dengan baik.

Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa
Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa, salah satu cara menikmati hidup haha.

Pernah suatu ketika, mantan atasan di perusahaan tempat bekerja di Jakarta bertanya apakah saya tidak rindu dunia kerja seperti dulu. Maksudnya kerja kantoran yang penuh waktu dan mengejar karier. Pertanyaan inipun pernah ditanyakan oleh suami. Dia merasa agak bersalah karena saya ke Belanda artinya saya harus beradaptasi lagi dari awal termasuk tentang pekerjaan. Saya menjawab pertanyaan itu : ada kalanya saya rindu tetapi saya menikmati apa yang ada sekarang. Bukannya saya tidak ingin mengejar karier dan bekerja sesuai dengan pengalaman serta latar belakang pendidikan, tetapi saat ini saya memilih bekerja karena ada hal baru yang bisa saya pelajari meskipun tidak ada jenjang karier dan masalah gaji juga biasa saja. Tetapi saya menikmati pekerjaan paruh waktu ini. Nanti, kalau sudah keadaan dan waktu memungkinkan, saya akan kembali bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya atau bahkan mungkin bekerja di bidang yang baru yang penting masih sesuai dengan minat dan dengan pendapatan yang lebih baik. Awal pindah memang saya masih sangat berambisi tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan alasan : kalau yang di Indonesia bertanya, biar tidak malu menjawabnya. Masa sudah sekolah tinggi dan punya pengalaman kerja di sana, begitu nyampe sini dapat kerjanya yang biasa-biasa saja. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kondisi, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin bekerja karena ingin memenuhi standar orang lain biar tidak dipandang sebelah mata atau saya ingin bekerja karena sesuatu yang memang saya sukai. Akhirnya saya memilih yang kedua, bukan karena saya tidak punya ambisi tetapi saya pernah ada pada kondisi yang pertama dan pada akhirnya saya malah tidak menikmati apa yang saya kerjakan hanya karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Saya sekarang memilih untuk hidup berdasarkan standar saya, bukan ditentukan oleh pujian atau sanjungan orang lain. Penghargaan dari orang-orang terdekat yang mengenal saya, itu lebih baik lebih dari cukup dibandingkan pujian dan sanjungan dari mereka yang tidak mengenal saya secara dekat.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan seorang teman baik yang juga¬†teman jalan di Belanda. Dia bercerita kalau ada kenalannya yang sedang bosan menjalani rutinitas hidupnya yang monoton dari rumah-tempat kerja-rumah setiap hari. Dia ingin kembali ke fase kehidupan sebelum saat ini yang bisa pergi ke kafe, belanja sesuka hati dll. Teman baik saya ini lalu mencontohkan saya (saya juga tidak tahu kenapa mencontohkan saya haha), “Sebenarnya yang perlu diubah adalah cara berpikir kamu. Mau dimanapun kamu hidup, harusnya sama saja kamu masih bisa menikmatinya kalau kamu tidak memikirkan lagi masa lalu. Lihat saja Deny, dia sangat menikmati hidupnya di sini. Melakukan apapun yang dia suka, mengerjakan yang dia senangi.” Lalu saya hanya terkekeh. Ada benarnya yang dia ucapkan. Saya menikmati apapun fase hidup yang saya jalani, termasuk saat ini. Sewaktu bekerja di Indonesia, saya menikmati sebagai pekerja kantoran yang hampir setiap hari stress dan lembur pulang dini hari. Iya, Jakarta keras Bung! pulang dini hari bahkan subuh sudah jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati ke-stress-an itu karena ada hal-hal lain yang bisa saya nikmati yaitu bisa berkeliling Indonesia dengan gratis lewat perjalanan kantor. Sewaktu fase kuliah, saya juga menikmati setiap hari baru bisa tidur dini hari karena mengerjakan tugas dan laporan. Wanita dini hari lah pokoknya saya dulu haha. Walaupun capek, tapi teman-teman kuliah sangatlah menyenangkan sehingga lelah mengerjakan tugas agak tidak terlalu terasa karena kebersamaan dan gelak tawa dengan mereka bisa membasuh penat yang ada *tsaahh bahasanya :))). Pindah ke negara¬†baru dengan kondisi yang jauh berbeda dengan negara asal pun sangat saya nikmati sekali. Saya berpikirnya karena akan ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari, meskipun tidak dipungkiri sampai saat ini permasalahan utama saya masih seputar makanan (isi cuitan saya di twitter ya selalu seputar makanan). Tetapi karena saya pindah ke Belanda dengan penuh rasa kesadaran dan keputusan sendiri tanpa paksaan, pada akhirnya saya sangat menikmati kehidupan ¬†di sini. Dari awal saya sudah mencari kegiatan yang saya suka, karenanya saya ikut menjadi sukarelawan, belajar bahasa Belanda di sekolah sehingga mengenal orang-orang yang baru, mulai mencari pekerjaan paruh waktu, jalan-jalan karena saya memang sukanya pecicilan jalan-jalan baik sendiri, bareng teman atau suami. Karena sudah terbiasa kemana-mana sendiri sejak di Indonesia, dari awal pindah ke Belanda saya tidak terpikir untuk segera mencari kenalan. Justru yang saya lakukan adalah mencari tempat wisata mana yang bisa saya kunjungi dan mengenal lingkungan sekitar sampai¬†nyasar¬†kemana-mana. Waktu itu saya berpikir, nanti sambil waktu juga bakal ketemu sendiri kenalan atau bahkan teman yang sreg dihati, jadi tidak usah terburu-buru. Karena sibuknya saya dengan berbagai hal baru, maka tidak ada kesempatan untuk kangen dengan Indonesia, tidak ada waktu untuk mengeluh ini dan itu, walaupun tetap kangen dengan keluarga di sana. Kalau ada yang bertanya,”kerasan tinggal di Belanda?” Saya mantab menjawab, “kerasan.” Entahlah, sampai saat ini saya belum pernah merasa bosan dengan keadaan di sini, kecuali sesekali bosan sarapan buah atau roti, inginnya sarapan nasi pecel *lah balik lagi ke makanan haha.

Jadi, kenapa saya nampak menikmati hidup? karena saya selalu melakukan apapun yang saya suka, tidak terlalu muluk-muluk dalam hidup, menikmati apapun yang menjadi pilihan hidup saya saat ini, berjalan berdasarkan standar hidup yang saya inginkan bukan berharap sanjungan dari orang lain ataupun melakukan sesuatu dengan harapan ingin dipuji orang. Jika ada yang memuji, saya anggap bonus. Jika tidak, ya tidak masalah. Saya tidak berhenti belajar akan banyak hal baru, berkeluh kesah hanya pada tempat dan sarana yang tepat, hidup pada saat ini dan berencana untuk masa depan bukan ¬†berhenti pada ingatan masa lalu, menjadi diri saya sendiri dimanapun berada, punya sahabat-sahabat yang hampir 20 tahun bersama sampai saat ini, punya teman yang menyenangkan, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur. Masalah pasti akan selalu ada, tinggal disikapi seperti apa. Mau diselesaikan atau hanya dilihat lalu ditinggal atau hanya dikoar-koarkan saja. Kita sendiri yang tahu jawabannya bagaimana menyikapi dan menikmati hidup. Ya intinya, nikmati dan jalani saja hidup dengan segala pernak perniknya. Kalau kata Ibuk, “ga usah kakehan nersulo, urip mung sepisan. Ojok keseringen ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e”

-Nootdorp, 27 Juli 2017-

Betah di Madurodam – Den Haag

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1500835822556","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":101,"brushes_used":0}

Dalam waktu beberapa minggu kedepan (sudah berjalan seminggu ini juga sih) saya akan menjadi pemandu wisata pribadi adik yang sedang berlibur ke Belanda. Yap!! akhirnya saya bertemu juga dengan adik yang selama 2.5 tahun tidak pernah saling berjumpa muka. Walaupun diawali dengan drama pesawat dan imigrasi, akhirnya adik sampai dengan selamat di Belanda seminggu lalu dengan -tentu saja- membawa barang titipan saya yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Barang titipan yang didominasi oleh buku-buku berbahasa Indonesia (lebih dari 20 buku). Sedangkan titipan makanan hanya beberapa saja, salah duanya yang tidak boleh lupa adalah petis madura dan keju Kraft. Jangan heran kalau saya minta Ibu untuk memasukkan keju Kraft ke koper adik karena sudah kangen makan keju itu sejak lama. Ibu saja sampai bingung kenapa saya yang tinggal di negara keju malah minta dibelikan keju Kraft. Yah, namanya selera lidah, saya tidak terlalu cocok dengan keju Belanda. Sudah mencoba beberapa jenis, yang cocok hanya keju asap. Untuk makanan yang lainnya, saya tidak terlalu kepingin. Oh iya, bandeng asap dan otak-otak bandeng juga tidak ketinggalan diangkut. Yummm, terpuaskan sudah keinginan makan bandeng asap dan otak-otak bandeng.

Nah, karena adik akan lumayan lama liburan di Belanda (dan nanti ke beberapa negara tetangga juga), maka saya sudah menyiapkan daftar tempat mana saja yang akan dikunjungi. Tentu saja saya ikut mengantar disesuaikan dengan jadwal kerja dan cuaca di Belanda. Beruntung juga kerja paruh waktu sehingga bisa menemani adik berkeliling ke beberapa tempat wisata. Tapi yang jadi agak hambatan adalah cuaca. Akhirnya kalau hujan sedangkan saya tidak jadwal kerja, kami hanya berdiam di rumah. Tapi berdiam di rumah akhirnya jadi ajang cerita seru, banyak bercerita yang terlewatkan selama 2.5 tahun tidak saling bertemu karena kalau cerita di telfon kan terbatas waktu.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi

Minggu lalu saya mengajak adik ke tempat kerja karena mumpung cuaca cerah jadi saya berencana ke tempat wisata yang selama ini saya ingin kunjungi tetapi malas kalau sendirian ke sana. Sedangkan suami tentu saja tidak mau ke sini karena menurut dia terlalu turistik. Suami bilang nanti saja kalau Adik dan Ibu ke Belanda, saya bisa pergi sama-sama ke sini. Jadi setelah selesai kerja, saya dan adik langsung ke tempat wisata yang nampaknya wajib dikunjungi kalau ke Belanda atau paling tidak kalau berkunjung ke Den Haag. Tempat ini tidak jauh dari rumah kami bahkan beberapa kali saya selalu melewati depan bangunannya kalau sedang bersepeda dengan suami ke arah pantai Scheveningen. Akhirnya ada kesempatan juga mengunjunginya.

Madurodam
Madurodam

Saya dan Adik mengunjungi Madurodam. Jadi tempat ini adalah lokasi yang memajang miniatur tempat-tempat dan bangunan-bangunan bersejarah dan terkenal di seluruh Belanda. Entah kenapa sejak pertama datang ke¬†Belanda saya selalu penasaran dalamnya Madurodam itu seperti apa. Untuk mencapai Madurodam, dari Den Haag Centraal bisa ditempuh dengan menggunakan tram no.9 arah Scheveningen dan berhenti di halte Madurodam. Saran saya, untuk membeli tiket masuk Madurodam, lebih baik membeli secara online karena akan mendapat potongan harga sebesar¬†‚ā¨3 sekaligus tidak perlu lagi mengantri panjang apalagi kalau musim liburan sekolah atau sedang musim panas. Waktu kami ke sana, sedang musim liburan sekolah. Tak heran isinya anak-anak kecil di mana-mana. Tapi itu tidak mengurangi ke khusyukan saya mengelilingi area Madurodam meskipun tidak bisa semuanya karena cuaca yang sangat panas sekali. Tak kuat saya, lelah akhirnya menunggu adik yang berputar ke seluruh area sambil makan popcorn dan memperhatikan anak-anak kecil kegirangan melihat beberapa miniatur yang bisa bergerak jika ada koin yang dimasukkan.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen trus diangkut dengan mini truk. Gemes deh lihatnya.

Masuk ke Madurodam ini seperti membangkitkan kenangan masa kecil yang selalu kegirangan jika melihat mainan. Apalagi melihat miniatur bangunan yang saya bayangkan seperti mainan yang bisa digerakkan. Melihat miniatur bandara Schiphol dengan pesawat KLM yang bisa bergerak, pabrik klompen yang bisa mengeluarkan klompen sungguhan, pabrik coklat yang mengeluarkan coklat mini. Saya jadi tidak berhenti menyunggingkan senyum selama di sana. Entah kenapa, girangnya bukan main. Apalagi kalau melihat mini kereta api yang sedang melintas, senang bukan kepalang. Kalau tidak karena cuaca panas yang bikin saya gerah, mungkin selama 3 jam kami di sana, bisa berkeliling ke seluruh area. Adik saya yang mengelilingi seluruh area yang memang tidak terlalu luas, juga merasa senang dengan Madurodam. Fasilitas di dalam Madurodam juga sangat membuat pengunjungnya nyaman. Toilet bersih dan tidak bau (penting bagi saya) serta gratis, beberapa tempat makan, kursi-kursi yang nyaman untuk beristirahat, disediakan stroller gratis juga bagi yang punya anak kecil dan tidak membawa stroller. Jalan setapaknya juga ramah bagi penyandang disabilitas.

Jadi jika ada yang sedang berkunjung ke Den Haag dan tertarik melihat miniatur negara Belanda, bisa berkunjung ke Madurodam. Meskipun buat saya tiketnya terbilang tidak murah, tapi wajib saya kunjungi karena tinggal tidak jauh dari sini. Buat bahan cerita, gitu haha. Saya sampai mengirim foto di depan Madurodam ke teman jalan di Belanda dengan keterangan. “Sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda karena sudah berkunjung ke Madurodam!!”

Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅
Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅¬†Muka mencureng karena silau kepanasan

-Nootdorp, 23 Juli 2017-

Banyak Syukur di Lebaran 2017

img_6200-1

Lebaran sudah dua minggu berlalu, tapi belum telat rasanya untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan dan Idul Fitri di tahun-tahun mendatang dengan keadaan yang lebih baik, bahagia, dan sehat selalu menyertai. Bagaimana lebarannya? Semoga menyenangkan ya dengan bertebaran makanan enak dan berkumpul dengan keluarga, teman, serta orang-orang yang disayangi. Semoga lebarannya tidak langsung ternodai oleh pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan hati.

Saya bersyukur lebaran kali ini dilewati bersama teman-teman dan keluarga di Belanda. Dua kali kumpul-kumpul dalam rangka lebaran bersama teman-teman (dan juga pasangan masing-masing serta anak-anaknya) juga dalam rangka ulang tahun suami (yang dirayakan bersama keluarga) karena jaraknya berdekatan. Kalau tahun kemarin lebarannya sendu karena tidak bisa sholat di Masjid karena kami sedang liburan ke Italia (saya tidak cukup informasi di mana pelaksanaan sholat Ied di La Spenzia), maka lebaran kali ini samgatlah ceria.

LEBARAN

Awal Ramadan, ada dua grup berbeda yang mulai mengusulkan untuk mengadakan kumpul-kumpul lebaran. Saya tentu saja senang karena jadwalnya tidak berbarengan. Jauh dari keluarga dan sesama perantau kalau lebaran memang enaknya kumpul-kumpul karena bisa menghilangkan rasa sedih karena tidak bisa berlebaran dengan keluarga di Indonesia (ini alasan saya sih, ga tau yang lainnya 😅).

Jadi setelah disepakati, pas hari lebaran acaranya diadakan di rumah kami dengan sistem potluck. Saya sih yang minta karena males masak haha. Mereka dengan senang hati membawa menu-menu lainnya sesuai kesanggupan dan setelah melalui rembugan. Jadi enak kalau begini, bisa merasakan banyak menu tanpa harus repot masak sendiri begitu banyak masakan. Maklum ya, semua harus dikerjakan sendiri ga ada rewang yang membantu jadi tenaga harus dihemat. Saya kenal dengan mereka ini dari Instagram (jaman saya masih punya) melalui uploadkompakan yang anggotanya tinggal di Eropa. Yang tinggal di Belanda sudah beberapa kali bertemu, jadi kami lumayan dekat lah.

Paginya saya sholat Ied dulu di Masjid Al-Hikmah di Den Haag. Sholat dimulai jam 9 pagi. Cuacanya bikin makin perasaan makin semriwing kangen keluarga karena mendung menuju hujan. Saya datangnya ternyata agak telat, jadinya dapat tempat di halaman Masjid. Mendengar suara takbir, membuat hati krenyes-krenyes. Kangen menyeruak dengan suasana sholat Ied di desa. Rindu sholat Ied di desa tanpa harus melihat orang-orang yang sibuk berfoto ria, selfie sana sini. Bersyukur sampai sholat selesai, hujan tidak turun meskipun terasa rintiknya. Oh ya, sewaktu saya sedang mencari tempat untuk menggelar sajadah, tiba-tiba ada yang menyapa, “mbak Deny, wah ketemu di sini.” Tentu saja saya bengong karena tidak mengenali yang menyapa. Ternyata dia salah satu pembaca blog ini dan beberapa kali kami saling berkirim email waktu dia akan pindah ke Den Haag dan bertanya beberapa hal tentang Den Haag. Cuma karena jadwal yang tidak cocok, kami tidak punya kesempatan untuk ketemu sampai dipertemukan secara tidak sengaja di Masjid. Menyenangkan akhirnya bertemu dengan yang selama ini hanya berkomunikasi lewat email.

Setelah sholat selesai, Saya bertemu satu teman di situ. Karena dia tidak ada acara, saya ajak saja ke rumah. Lumayan kan daripada dia luntang lantung (haha bahasanya). Dan saya harus cepat pulang ke rumah karena suami sedang ikut Half Marathon, jadi nanti kalau ada yang datang tidak ada yang membukakan pintu. Jam 12 siang, mereka mulai datang, berbarengan dengan suami yang juga datang. Sudah tidak sabar untuk makan, karena saya lapar haha. Saya masak sambel goreng kentang hati dan membuat lontong serta menyiapkan beberapa minuman. Sedangkan mereka membawa opor, rendang, lodeh labu siem, kerupuk, es buah, gorengan (tahu isi dan bakwan), tidak lupa sambel. Ada yang membawa kue juga untuk dimakan bersama teh dan kopi setelah makan besar. Beginilah penampakan makanannya :

Yummm!!
Yummm!!
Ini yang di piring saya
Ini yang di piring saya

 

Kami berkumpul di taman belakang rumah. Karena cuaca agak sendu, jadi makan agak khawatir juga kalau tiba-tiba turun hujan haha. Tapi itu tidak mengurangi betapa lahapnya kami menyantap hidangan lebaran di tanah rantau. Sementara pasangan masing-masing juga ikut merasakan suasana lebaran yang tercipta. Kami bercengkrama sehingga lupa sedih kalau lebaran jauh dari keluarga. Tidak hanya itu saja, kami memanfaatkan momen itu dengan berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai macam gaya baik rame-rame maupun bersama pasangan masing-masing. Maklum, salah satu dari mereka adalah fotografer dan membawa kamera yang canggih pula, jadinya kami tidak menyiakan kesempatan *mumpung.

Betapa nikmatnya bisa merayakan lebaran bersama teman-teman, makan menu khas lebaran dan juga bercerita dan mengenal pasangan masing-masing. Kami tertawa terus, bercerita ini dan itu sampai tak terasa 4 jam ngobrol tiada henti. Syukur yang tak terkira.

Ini deretan yang perempuan, sementara pasangan ada di bangku sebelah. Entah kenapa ini saya kok tertawa ke sebelah sana
Ini deretan yang perempuan, sementara pasangan ada di bangku sebelah. Entah kenapa ini saya kok tertawa ke sebelah sana

 

Minggu depannya, acara kumpul lebaran diadakan di rumah salah satu teman yang biasa mengundang kami kalau ada acara. Suaminya memang sukanya bikin acara kumpul-kumpul. Yang pasti, kalau ada acara di rumahnya, makanan pasti melimpah ruah dan bisa dipastikan setelahnya kami bisa membungkus bawa pulang (ini bagian terpenting haha). Untuk acara kumpul lebaran ini, dia menawarkan kalau misalkan ada yang mau membawa makanan juga tidak apa-apa. Tidak pun tidak masalah karena makanan yang akan disediakan sudah cukup. Saya bilang akan membawa sambel goreng hati kentang pete (andalan, karena gampang masaknya).

Rujak serut, combro, dan beberapa kue tidak terfoto
Rujak serut, combro, dan beberapa kue tidak terfoto
Masih ada beberapa yang belum datang. Para pasangan berkumpul di taman belakang
Masih ada beberapa yang belum datang. Para pasangan berkumpul di taman belakang

 

Tentu saja pulangnya kami bisa bungkus makanan. Saya sudah mengincar rujak serut, combro, mie goreng, dan ote ote nya. Banyak ya mbungkusnya, lumayan bisa buat beberapa hari *niat haha. Bersyukur tidak masak beberapa hari dan senang bisa bersilaturrahmi dengan mereka yang sudah lama tidak ketemu. Saya dan suami juga dapat lungsuran beberapa barang dari yang punya hajat. Barang yang memang kami butuhkan kedepannya. Rejeki memang tidak kemana ya, lumayan sekali kami bisa menghemat.

ULANG TAHUN SUAMI

Keesokan harinya adalah hari ulang tahun suami. Karena angkanya adalah spesial, sehingga ultah kali ini dirayakan bersama seluruh keluarga. Kalau tahun kemarin dirayakan di Italia. Untuk acara kali ini, saya tidak memasak sendiri tapi pesan di Kios Kana milik Rurie (bisa dilihat di akun Instagramnya). Menunya adalah sate ayam, urap Bali, sambel bawang, Carrot cake, gado-gado, acar, dan Lumpia Semarang. Saya membuat es cendol nangka (setelah gagal sebelumnya, kali ini berhasil 😅) dan membuat lontong. Enak juga ya ternyata kalau pesan, tidak usah repot uyek di dapur. Kenapa menunya semua Indonesia sementara yang diundang adalah keluarga suami dan tetangga dimana mereka adalah orang Belanda? Karena mereka suka sekali dengan menu Indonesia terutama sate ayam, gado-gado dan es cendol. Senang seluruh keluarga bisa datang dan mereka menikmati sekali makanan yang disajikan serta bercerita tentang banyak hal.

Makanan acara ulang tahun
Makanan acara ulang tahun
Yang berulang tahun
Yang berulang tahun

 

Malam hari setelah hari ulang tahun, kami pergi menonton konser musik. Ini adalah pertama kali (dan mungkin satu-satunya) konser musik yang saya datangi tapi tidak tahu satupun lagunya haha. Lah kok bisa? Jadi waktu suami beli tiketnya, saya pikir dia beli cuma satu. Eh ternyata dia dengan sengaja memaksa saya untuk menemaninya menonton konser ini, meskipun dia tahu saya tidak tahu penyanyinya. Jadi ini adalah konsernya Brian Wilson, mungkin yang baca ini banyak yang tahu ya. Tapi saya memang tidak tahu. Jadinya sepanjang  2 jam ya saya menikmati musiknya tanpa tahu liriknya. Beruntung jenis musiknya masih bisa saya nikmati, jadi tidak terlalu garinglah buat saya (kan garing ya jadinya kalau saya tidak tahu liriknya, sementara musiknya pun tidak bisa dinikmati). Sementara suami menyanyi di sebelah.

Konser Brian Wilson
Konser Brian Wilson

 

Syukur yang tiada henti karena banyak berkah di lebaran tahun ini. Semoga suami yang bertambah bilangan usia selalu diberi kesehatan yang baik, umur yang berkah sehingga bisa terus bersama keluarga kecil kami sampai waktu yang lama, dan rejeki serta kebahagiaan yang menyertai. Semoga kami bisa menjadi lebih baik setiap waktu.

Lebaran yang menyenangkan, berkumpul bersama teman dan keluarga, banyak makanan enak, dan banyak syukur untuk rejeki-rejeki yang dititipkam pada kami.

-Nootdorp, 9 Juli 2017-


Crypto Currency and Market Capitalisation

253_2120x1590_L_1496928172

Over the past months I became interested in the possibilities that crypto currencies have to offer. At first I became interested in the idea that crypto currency could play an important role in (international) money transfers, replacing traditional currency like dollar, euro and pound and replace traditional bank-to-bank transferring methods. At the same time I realised that  there still are causes that will prevent crypto currencies to become intensively used in money transferring.

The crypto currency market, especially the one for Bitcoin has known many up and down swings over the years since its introduction in 2009.¬†Although there were some near-meltdowns along its path over the years, 2017 proved to be a kind of ‘break through’ year where the price half way 2017 soared from $ 1.000 ¬†to $ 3.000. The potential prospect of soon to be realised gains for simply holding on to ones crypto currencies will create an effect where the owners of their crypto currencies rather not want to use them in transferring scenarios. Yet if the owner of a crypto currency would want to use his digital cash for transferring purposes he or she will be faced with many complications. There are still relatively few people (ask the ones around you) ¬†owning an ewallet which would allow them to¬†receive or send digital cash. There is no way that different types of crypto currencies are interchangeable. And last but not least there are few (web) shops that accept crypto currencies for paying goods or services.

When diving in the technology behind the crypto currency you will find the block chain technology that can be considered as a transparant, autonomous and highly secure way of storing  data. The comparison to a world wide operating virtual ledger or spreadsheet is often made. The blockchain technology is what drives and enables crypto currency but blockchain technology can actually be applied for many other purposes.

We are witnessing a revolutionary way in which administrative (economical) processes will be changing over the coming years and decades. The concept can even be applied to concepts beyond administrative processes (for example to identity management and asset registration). Without going into detail too deep in the underlying technology we will witness the emerge of an autonomous, transparant, de-centralized infrastructure that offer possibilities in which we currently are using banks, clearing institutes, accountancy and administrative firms to perform most of these activities. With blockchain technology all these activities come under one roof, but without the boundaries and middle men that are usually associated with those activities.

If you look¬†at the developments from this perspective than investing in Bitcoin, Ethereum or one the hundreds of alternative altcoins becomes like investing in a company -like investing in stock-, although lacking the traditional centralized management that we usually associate with the ‘traditional’ companies. It then becomes obvious¬†that the market capitalization of (for example) Ethereum does signal¬†something about its economic relevance and may be compared to those traditional companies. That is why 2017 also saw the break through of ICO’s (Initial Coin Offerings) which somewhat can be compared to the virtual launch of an IPO (Initial Public Offering), the most usual way for a company that is going public by issuing stock and entering¬†the stock market.

Let’s take for example a ‘traditional’ company, Apple, which had in June a market capitalisation of app. $ 675 billion, making it the company with the largest market capitalisation in the world. Ethereum had at the same time a market capitalisation of approximality $ 30 billion. So Apple as a 40 year old company producing computer related products and services is at the moment 20x the size of Ethereum, a highly advanced initiative that takes the Bitcoin blockchain technology to the next level with its abilities of incorporating development tools in its own block chain technology.

From such a perspective¬†¬†it is justified to believe that¬†Ethereum one day will become bigger than Apple, measured by its¬†market capitalisation because its added economical value will become¬†at least as significant¬†as Apple’s (and probably much more important). It may be tempting to make calculations about what the pricing of one Ether (Ethereum’s crypto currency) could¬†be like in such a scenario, but one can assume that the current price of ca. $300 is just a fragment of its pricing potential. Others have been less witholding about their predictions¬†about what the the pricing for crypto currencies could become like.

All in all investing in crypto currencies is at the moment more like earning a stake in a¬†promising new technology enabled by an initiative that could be typed as a ‘virtual’ company. The traditional lines between stock and currency are blurring¬†as you might one day use that stake (your Ethers, Bitcoins or other altcoins) for actually using it as digital cash. And that would be something that would be impossible to do with regular stock from the ‘traditional’ companies.

On the other hand take in consideration that this whole blockchain industry is still in its very early stages. The pricing of the crypto currencies are extremely volatile, because nobody really knows where things are heading. There is always the probability that reading this article in three years time the content seems to be completely out of date because the playing field has completely changed.

If you want to have a good introduction to crypto currencies and blockchain technology I advise you to read and see the following links:

6 interesting introduction videos:

Watch all six episodes of the series Trust Disrupted: Bitcoin and the Blockchain

Vilarik Buterin (the inventor of Ethereum) explaining Ethereum:

https://coincenter.org/entry/what-is-ethereum