Hubungan Antara Saya, Sejarah, dan Museum

img_3987

Saya tidak ingat kapan pertama kali mengenal museum. Mungkin saat kami sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta sewaktu saya masih kecil (sekitar umur 7 tahun kayaknya). Bapak dan ibu sering mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke Jakarta karena memang banyak keluarga Ibu yang tinggal di sana. Beberapa museum yang kami kunjungi waktu itu ya seputar museum yang di Monas, Lubang Buaya (ini museum kan ya), beberapa museum yang ada di TMII (termasuk museumnya Ibu Tien). Seingat saya hanya itu. Ingatan saya tentang museum yang dikunjungi waktu kecil tidak terlalu bagus. Membosankan, menakutkan, dan membuat saya sedih. Apalagi waktu ke Lubang Buaya, entah kenapa saya selalu ketakutan sekaligus sedih ketika di sana, tapi ya entah kenapa juga tetap berkali-kali mau diajak ke sana lagi. Nah, karena pengalaman masa kecil yang tidak terlalu bagus dengan museum, akhirnya saya tumbuh menjadi orang yang tidak suka kalau ada yang mengajak ke museum. Saya takut terbawa sedih karena saya memang mikiran orangnya. Ditambah lagi, minat saya terhadap sejarah juga tidak terlalu tinggi. Saya sudah terlanjur setia dengan angka-angka. Meskipun saya tidak terlalu suka pelajaran sejarah, tapi nilai-nilai saya pada mata pelajaran sejarah lebih tinggi dibandingkan fisika *misteri yang tak terpecahkan.

Itu cerita dulu, sebelum saya mengenal suami. Awal kenal dia dan tahu latar belakang pendidikannya adalah sejarah serta memang passionnya di sejarah (juga musik), sempat terpikir juga ini nanti kami nyambung apa tidak ya ngobrolnya karena saya kalau sudah diajak ngobrol tentang sejarah ciut duluan. Pengetahuan saya tentang sejarah sangatlah minim, bahkan sejarah bangsa sendiri. Masing-masing orang memang minatnya berbeda-beda ya dan saya tidak memaksakan diri untuk menyukai sesuatu yang memang datangnya tidak dari hati. Saya berpikir nanti akan ada saatnya saya akan tertarik minimal membaca sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Nah, suami suka sekali yang namanya berkunjung ke museum. Dia selalu berbinar-binar kalau sudah berada di museum, anteng sampai lupa waktu. Awal-awal, saya tersiksa menemani dia berkunjung dari satu museum ke museum lainnya.

Ketika pertama kali ke Surabaya, dia bertanya museum apa yang bisa dikunjungi. Dia agak terkejut ketika saya bilang tidak pernah berkunjung ke museum sama sekali selama belasan tahun numpang hidup di Surabaya. Dan baru dengan dia lah saya masuk ke House of Sampoerna (padahal dulu pernah kerja di perusahaan rokok ini) dan museum Sepuluh Nopember. Ketika pertama kali saya berkunjung ke Belanda, dia ajak saya berkunjung dari satu museum ke museum yang lain, dari Rijksmuseum, Anne Frank House, dua museum lainnya saya lupa namanya. Diantara beberapa museum tersebut, Anne Frank House yang membuat saya sampai menangis. Dan setelahnya saya jadi tertarik dengan sejarah yang berhubungan dengan Nazi. Apalagi setelah mengunjungi Camp Westerbork, kepala saya langsung pusing membaca cerita dan melihat camp transit pada saat Nazi ada di Belanda, membayangkan bagaimana keadaan jaman dulu bersempit2-sempitan dengan banyak orang di satu ruangan kecil dan perlakuan yang mereka dapatkan.

Setelah menikah, selama 6 minggu kami melakukan perjalanan dari Bali sampai Bandung dengan menggunakan segala macam alat transportasi, seperti kereta api ekonomi, bis ekonomi, kapal laut, kereta api eksekutif, sampai pesawat terbang. Selama perjalanan tersebut, tentu saja suami ingin berkunjung ke museum di setiap kota, jika memungkinkan. Dari lebih 10 museum yang kami kunjungi, yang paling berkesan buat saya adalah Ullen Sentalu di Jogjakarta dan Museum Gajah di Jakarta. Kalau di Ullen Sentalu karena perjalanan menuju kesananya yang berkesan harus berganti beberapa kali bis dan pulangnya sudah tidak ada kendaraan lagi sehingga kami harus menumpang sepeda motor orang. Ullen Sentalu sendiri meninggalkan kesan mendalam karena cerita silsilah Dinasti Mataram, budaya, dan koleksi bermacam batik (serta makna masing-masing coraknya) juga lukisan. Karena terkesan dengan kisah yang disampaikan oleh pemandunya, sampai tidak terasa kalau berkeliling Ullen Sentalu sudah berakhir. Tidak boleh berfoto di dalamnya karena menyangkut koleksi pribadi. Sedangkan Museum Gajah yang ada di Jakarta baru saya kunjungi ya setelah menikah dengan suami, padahal selama 6 tahun lebih tinggal di Jakarta dan sering wira wiri depan Museum Gajah, tidak satupun tergerak hati untuk masuk ke dalam. Ternyata di dalam, bagus sekali isinya terdiri dari benda-benda kuno dari seluruh Nusantara beserta sejarahnya. Saya membaca satu persatu dan amati satu persatu benda-benda yang ada di sana. Hampir seharian kami berkeliling Museum Gajah. Saya jadi belajar banyak hal.

Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto
Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto

Nah, mempunyai blog ini dan beberapa kali menuliskan tentang cerita perjalanan kami setelah liburan, mau tidak mau membuat saya juga harus sedikit melek sejarah. Sebelum bepergian, saya banyak mencari tahu tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Minimal tahu ceritanya ini tempat apa. Dan ketika akan menuliskan cerita tersebut dalam blog, sebelumnya saya juga melengkapi informasi supaya apa yang saya tuliskan ada nilainya, minimal membuat saya banyak belajar tentang tempat-tempat tersebut. Padahal dulu tidak sedalam itu saya menggali informasi karena memang dulu setelah bepergian, ada fotonya, selesai. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu lebih dalam tempat itu. Entah kenapa sekarang saya lebih ingin tahu. Secara tidak langsung, keinginan untuk belajar sejarah dan masuk museum memang tertular dari suami. Bagaimana tidak, di ruangan perpustakaan kecil kami di rumah, buku-buku sejarah punya suami lebih mendominasi daripada buku-buku saya. Akhirnya saya jadi penasaran dan mencoba membaca meskipun tidak pernah sampai tuntas.

Kalau tahun kemarin saya disibukkan dengan persiapan ujian bahasa Belanda sehingga perhatian saya seluruhnya tercurah untuk belajar bahasa Belanda, sehingga intensitas kami ke museum juga berkurang dibandingkan tahun 2016, mungkin sekitar 15 museum (total dengan yang kami kunjungi ketika ke Italia dan Perancis). Saya juga minta ke suami untuk berkunjung ke museum tentang lukisan saja karena saya lebih tertarik ke lukisan. Kami pernah ke Bronbeek Museum yang ada di Arnhem, pulangnya kepala saya jadi nyut-nyutan karena memang isinya sarat tentang sejarah, jadi banyak informasi yang harus dibaca. Saya jadi puyeng sendiri sekaligus sedih setelah keluar dari sana. Kembali lagi, saya itu suka mikir kalau ke museum yang isinya sarat tentang sejarah, jadi mikir jaman dahulu seperti apa. Makanya saya lebih senang ke museum yang isinya tentang lukisan atau kalau misalkan yang murni sejarah saya tertarik yang ada hubungannya dengan Nazi meskipun ujungnya tetap sedih.

Nah, tahun ini saya ingin belajar sesuatu yang baru. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kuliah lagi di jurusan dan universitas yang sudah saya incar sejak bertahun-tahun lalu. Tapi karena satu hal, untuk sementara kembali ke bangku kuliah di tahun ini bukan pilihan tepat. Nanti kalau waktunya sudah memungkinkan, kembali kuliah akan kembali menjadi prioritas. Akhirnya saya mencanangkan, 2017 sebagai tahun museum karena saya ingin mengunjungi sebanyak mungkin museum yang ada dan sebanyak mungkin untuk belajar sejarah. Saya suka terkagum dengan anak-anak kecil di sini yang sudah diajarkan untuk suka museum sejak dini. Jadi bersemangat juga selain karena memang museum-museum yang ada di sini itu asyik sekali tempatnya, bersih dan terawat. Nyamanlah pokoknya, jadi saya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin. Nah, untuk memecut diri sendiri supaya semangat, saya membeli museumkaart seharga €59.90 yang bisa dipakai selama setahun di lebih 400 museum yang ada di Belanda. Tinggal pilih saja mana museum yang akan dikunjungi. Bayangkan betapa hematnya saya punya kartu tersebut bisa dipakai setahun padahal kalau beli ketengan masuk museum di sini rata-rata harganya €10 per museum. Selain museum, saya juga ingin mendatangi tempat-tempat bersejarah sekitar Den Haag minimal, seperti Het Binnenhof dan De Ridderzaal (tempat diadakan Konferensi Meja Bundar) atau tempat-tempat lainnya.

Minggu kemarin, saya dan suami memanfaatkan fasilitas gratis masuk museum yang diadakan oleh Gemeentemuseum tempat diadakan pameran karya-karya Piet Mondriaan dan kawan-kawannya yang mempelopori De Stijl. Saya yang selama ini cuma mengerti sepintas warna warni lukisan Mondriaan tapi tidak ngeh sejarah dibaliknya, setelah kunjungan ke museum minggu lalu, jadi sedikit banyak mengerti sejarah De Stijl. Itupun harus dijelaskan berkali-kali oleh suami supaya saya mengerti benang merahnya (memang agak lama otak saya memproses cerita sejarah, harus diulang-ulang).

Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie
Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie

Lalu hari Senin saya ikut tour masuk ke dalam De Ridderzaal yang sampai saat ini masih difungsikan sebagai tempat berlangsungnya acara kenegaraan seperti Prinsjesdag (Hari saat Raja membacakan kebijakan pemerintah untuk kerja parlemen setahun ke depan) dan pernah dijadikan tempat pelaksanakan Konferensi Meja Bundar. Ada rasa haru waktu masuk ke dalam dan diterangkan satu persatu sejarah dan fungsi tempat ini oleh pemandunya. Haru karena bisa melihat secara dekat dalamnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV, sejarah bangunan ini, dan membayangkan dulu di tempat ini dilaksanakan KMB. Tour juga mengunjung ruangan Eerste Kamer (Senat) dan Tweede Kamer (Parlemen). Sewaktu ke gedung Tweede Kamer tidak diperkenankan membawa Hp atau Kamera karena semua barang harus disimpan di dalam loker. Masuknya pun diperiksa secara ketat harus lepas sepatu segala. Pengalaman hari Senin sangatlah menyenangkan karena saya bisa melihat secara dekat gedung yang sering saya lewati dan dalamnya selama ini saya lihat dari TV, mengerti sejarahnya, dan juga diperlihatkan cara kerja parlemen.

De Ridderzaal
De Ridderzaal

Ruangan Senat (De Eerste Kamer)
Ruangan Senat (De Eerste Kamer)

Mudah-mudahan niat baik dan keinginan saya untuk belajar sejarah mulai tahun ini dan berkunjung ke banyak museum tidak hanya hangat di depan tetapi konsisten minimal sepanjang tahun. Meskipun saya akan mengunjungi museum sendirian tanpa ditemani suami (karena dia sudah masuk ke banyak museum di Belanda *ya iya, lha dia sudah mulai ke museum sejak kecil), tapi saya tetap semangat. Selama saya masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas tersebut, maka saya akan maksimal melakukannya karena ternyata menyenangkan. Mungkin nanti ada saatnya rehat sebentar, tapi minimal sudah ada keinginan dalam diri untuk belajar sejarah.

Kalau kamu, ada cerita tentang museum atau sejarah?

-Nootdorp, 14 Februari 2017-

Pengalaman Sebagai Kontributor Citizen Journalist NET TV

Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Sejak bisa membeli telepon genggam yang agak canggih beberapa tahun lalu saat masih di Indonesia, setelah sebelumnya bertahan cukup lama dengan Nokia yang fungsi utamanya saya gunakan kebanyakan untuk sms dan telpon saja sampai rusak dan tidak bisa terpakai lagi, salah satu kesenangan saya adalah selain menggunakan secara maksimal untuk membuat foto dimanapun dan kapanpun, HP tersebut juga saya gunakan untuk merekam hal-hal yang sekiranya perlu direkam. Kesenangan tersebut tetap saya lakukan sampai sekarang. Banyak yang berakhir hanya saya simpan di laptop dan ada beberapa yang saya unggah di channel youtube. Jangan salah, yang saya unggah di youtube juga bukan hasil editan yang super canggih, seringnya malah tidak saya edit sama sekali. Langsung saya unggah apa adanya. Saya memang agak malas belajar untuk membuat video nampak lebih menarik, mungkin itu juga itu salah satu alasan saya tidak bisa -baca : malas- membuat vlog yang durasinya panjang. Apalagi untuk daily vlog, ini sih sudah Big No buat saya karena terbayang ribetnya musti pakai jilbab di rumah haha lagipula kehidupan sehari-hari saya ya begitu-begitu saja. Sebenarnya alasan utamanya saya tidak punya cukup percaya diri harus berbicara depan kamera sendirian di keramaian dan juga ribetnya itu lho. Belum lagi tentang kesepakatan dengan suami untuk tidak mengunggah kondisi rumah dan sekitarnya ke sosial media. Akhirnya youtube saya isinya ya seputar jalan-jalan, konser, dan beberapa acara yang saya datangi.

Sampai suatu hari, saya membaca postingan Fe tentang menjadi kontributor sebagai Citizen Journalist di Net TV. Wah saya langsung tertarik karena caranya gampang dan cocok dengan kesenangan saya yang suka merekam hal-hal disekitar apalagi saat jalan-jalan. Lalu saya pikir, iya juga ya, saya bisa karyakan hasil rekaman dengan mengirimkan ke Net TV lewat program Citizen Journalist (CJ). Setelah membaca tulisan Fe tersebut, niat saya lalu menggebu ingin segera bisa merekam dan mengirimkan ke Net TV. Niat hanya sekedar niat, nyatanya akhir tahun lalu saya ruwet dengan berbagai macam urusan.

Sampai pada suatu hari, pertengahan bulan Januari tepatnya hari minggu, keinginan tersebut terwujud dan saya bisa membuat video yang kemudian saya kirimkan. Tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya saya mendapatkan email yang memberitahukan kalau video kiriman saya tayang di Net 12. Gembira sekali! Nanti pada bagian akhir tulisan akan saya ceritakan cerita di balik pembuatan video ini. Sekarang saya ingin berbagi pengalaman cara bisa menjadi Citizen Journalist di Net TV :

  • Membuat Akun di netcj.co.id. Membuatnya gampang sekali, hanya mengisi form yang tidak terlalu rumit seperti email dan nomer telefon. Nanti akan ada verifikasi email dan nomer telefon
  • Unggah video yang sudah siap. Video di sini adalah video mentah tanpa diberikan efek suara maupun tulisan atau watermark. Saya menggabungkan beberapa rekaman yang saya buat menjadi satu video utuh menggunakan iMovie. Ada banyak aplikasi selain iMovie untuk menggabungkan rekaman-rekaman menjadi satu video, contohnya seperti video maker. Panjang video yang dikirim, disarankan antara 3-4 menit (ini saya melihat produser Net CJ memberikan keterangan di yotube) karena nanti akan di edit lagi oleh pihak Net menjadi durasi antara 1 sampai kurang dari 2 menit yang tayang di TV. Tema video bisa macam-macam, dari segala kejadian sehari-hari yang unik, travelling, kuliner, bahkan sekarang saya lihat ada video tutorialnya juga.
  • Setelah mengunggah Video, selanjutnya mengisi deskripsi dari video tersebut. Deskripsi ini terdiri dari judul liputan (tidak boleh lebih dari 65 karakter), keterangan isi dari video, lokasi di mana video dibuat, dan kategori video (ini ada pilihannya). Keterangan video isi selengkap-lengkapnya sesuai dengan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Bisa memakai rumus 5W 1H. Misalkan video yang saya kirim tentang ice skating di danau beku, saya tuliskan lokasi danaunya di mana, fakta bahwa danau tersebut tidak pernah beku sejak 5 tahun terakhir, luas dan kedalam danau, suhu waktu saya merekam, dll. Keterangan yang dituliskan menjadi acuan pengisi suara untuk bernarasi. Yang pasti mereka juga akan memverifikasi kebenaran video dan keterangan yang kita tuliskan. Maksudnya verifikasi ini adalah jika berkaitan dengan video, apakah video ini pernah tayang di TV lain atau belum (mereka punya alat untuk mendeteksi) dan berkaitan dengan keterangan yang kita tuliskan, mereka juga aka memverifikasi kebenarannya. Jika ada narasumber yang diwawancara, jangan lupa sertakan juga nama narasumber dan keterangan lainnya. Misalkan video pertama saya narasumbernya adalah suami sendiri (hahaha namanya video yang tidak direncanakan, akhirnya suami sendiri yang diwawancara), jadi saya tuliskan : SB (Sound Bite merupakan hasil wawancara dari narasumber yang diliput) nama suami dengan keterangan warga Belanda. Video kedua, yang saya wawancara adalah penjual langganan di pasar (karena ini video tentang pasar di Den Haag) saya tulis SB : nama penjual, keterangannya penjual di Pasar Den Haag asal Srilanka. Dan jika narasumbernya berbicara selain bahasa Indonesia, kita juga wajib menuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia dari wawancara yang ada di video. Video saya yang pertama narasumber berbicara bahasa Inggris dan video ke tiga dalam bahasa Belanda. Untuk wawancara yang ditaruh di video, sertakan yang kira-kira menarik hasil wawancaranya. Jangan terlalu panjang, yang penting informatif. Apakah harus ada yang diwawancara dalam video? tidak harus, saya saja yang iseng-iseng mewawancara karena kenal orangnya. Dan ketika mewawancara saya juga sebutkan kalau akan di kirim ke televisi di Indonesia. Tetapi jika ada yang diwawancara akan lebih baik karena video liputan jadi lebih komplit (sesuai tips yang dituliskan di akun twitter NET CJ).
  • Setelahnya, tunggu beberapa saat untuk proses mengunggahnya. Ini tergantung dengan kecepatan internet ya karena memang butuh waktu yang tidak sebentar juga.
  • Setelah sukses diunggah, pada akun yang kita buat akan ada status waiting approval. Video kita akan melalui proses checking. Lama untuk disetujui tergantung redaksinya. Jika layak tayang, statusnya berubah dari waiting approval ke waiting for published, tapi belum tentu tayang di TV. Video pertama, saya unggah malam hari waktu Belanda, pagi harinya saat akan berangkat kerja menerima email ternyata sudah tayang di Net 12. Video ketiga yang tentang pasar, satu hari setelah diunggah status dari waiting approval berubah menjadi waiting for published lalu satu hari kemudian saya membaca di twitter @NET_CJ ternyata video saya sudah tayang di Net 10. Video kedua yang saya kirimkan tentang perayaan imlek di Den Haag, tidak tayang di TV tapi tayang di website mereka. Kalau tayang di TV, pihak mereka akan mengirimkan email memberitahukan di program apa video yang kita kirimkan ditayangkan lalu mereka akan meminta scan atau foto ID, halaman depan buku tabungan (bagi yang baru pertama kali mengirimkan video). Betul sekali, kita akan mendapatkan honor ketika video yang kita kirimkan tayang di TV. Berapa besarnya? bisa langsung dibaca di website mereka karena keterangan tentang jumlah honor yang akan kita terima sangat jelas dituliskan. Pengiriman honor berselang antara 4-5 minggu sejak kita mengirimkan biodata. Kalau videonya tayang di website, kita tetap akan menerima email pemberitahuan kalau video kita sudah published tetapi tidak mendapatkan honor. Oh iya, video yang tayang, tidak hanya di program Net 10 saja, bisa jadi di program-program lainnya misalkan Net 12, Net 5, IMS atau program lainnya. Hanya, yang disebutkan di twitter mereka adalah video yang tayang di Net 10. Saya membaca pada akun twitter mereka, kalau misalkan dalam satu bulan video kita masih belum diapprove, berarti video yang kita kirimkan belum memenuhi standar kelayakan untuk tayang di NET TV.
  • Dulu, video yang tayang di TV ada link nya di youtube. Sejak akhir Januari, ada kebijakan baru bahwa video yang tayang di TV tidak ditampilkan lagi di youtube, hanya ada di website mereka.
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Kalau mungkin ada yang bertanya kira-kira video seperti apa yang sukses tayang di TV? Saya juga tidak tahu secara pasti karena saya masih pemula (baru mengirimkan 3 video, dua yang tayang di TV). Tapi kalau yang saya baca dari akun twitter mereka dan saya amati dari video-video yang tayang di TV, saya bisa berbagi tips (catatan buat saya juga) :

  • Unik dan buat video se kreatif mungkin. Buka mata lebar dan telinga karena mungkin saja ada hal-hal disekitar kita yang bisa dijadikan bahan untuk membuat video. Tidak usah sesuatu peristiwa yang besar, hal-hal yang terjadi disekitar kita bisa jadi unik dimata redaksi. Misalkan video saya tentang ber-ice skating di danau beku. Ketika saya merekam itu, tidak bakal berpikir hal ini akan tayang di TV, karena saya mikir : haduh ini nilai jualnya di mana. Ternyata buat redaksi ini layak tayang.
  • Jika ingin meliput tentang kuliner, 50% dari isi video harus close up pada makanan dan varian makanan yang ada (jika tempat makannya menjual dari satu macam menu) atau bisa juga tunjukkan kartu atau buku menunya. Rekam juga keramaian, syukur-syukur bisa mewawancara yang punya tempat makan atau pengunjung yang sedang makan. Kalau ingin mengutarakan makanannya enak, bisa dijelaskan enaknya di mana apakah rasanya asin manis gurih, tidak terlalu liat ketika dimakan dan sebagainya.
  • Ketika merekam, usahakan jangan banyak goyang supaya yang menonton tidak pusing. Angle nya bisa dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, atau bawah ke atas. Variasikan saja dengan gerakan perlahan.
  • Saya pernah tanya di postingan Fe apakah muka kita harus kelihatan? maksudnya apakah harus seperti reportase begitu? Soalnya saya kan kagok ya ngomong sendiri depan kamera haha. Apalagi waktu saya di pasar, musti cari tempat yang agak sepi supaya tidak dilihat banyak orang, itu saja tetep banyak yang lihat. Belum lagi cuaca dingin sekali sampai mulut saya kaku untuk dibuka. Ok kembali lagi ke topik. Ternyata baca dari twitter mereka, liputan yang menggunakan PTC (Piece To Camera atau On Cam atau ngomong depan kamera yang berfungsi menguatkan liputan, jika liputan itu adalah hasil dari CJ) sudah dipastikan dimasukkan rundown. Apa yang kita omongkan ketika depan kamera? Tergantung fakta apa yang ingin disampaikan yang tidak bisa dilihat oleh penonton dalam video kita. Artikulasi dan suara harus jelas ketika sedang PTC. Hindari mengucapkan kata-kata : Sekarang, saat ini karena bukan liputan secara langsung (LIVE). Saran saya, bisa mencari informasi atau fakta terlebih dahulu tentang tempat yang akan kita liput, jadi kita tahu akan menyampaikan apa di depan kamera. Teknik PTC ini bisa dilakukan secara selfie. Tapi saya melihat juga ada beberapa video yang tidak menggunakan PTC tayang di TV. Jadi, kembali lagi kepada kita mana yang ingin dilakukan.
  • Banyak melihat video-video yang sudah tayang di Net TV sebagai bahan pembelajaran untuk membuat video-video selanjutnya supaya lebih baik lagi, atau bisa juga mencari ide-ide dari video-video tersebut. Kalau saya, banyak melihat video dari Mbak Rosi  (yang merupakan kontributor tetap) di youtube maupun website Net CJ untuk melihat bagaimana cara pengambilan object, cara berbicara depan kamera, cara mewawancara orang dll. Karena saya dan Mbak Rosi tergabung dalam satu grup whatsapp, jadi saya bisa langsung bertanya ke Mbak Rosi hal-hal yang saya masih kurang mengerti dan mendapatkan banyak masukan. Terima kasih Mbak!
  • Saat merekam momen, kamera harus dalam posisi horizontal (landscape), jangan portrait (vertikal). Lalu saat merekam usahakan angle nya ada yang Wide, Medium, dan Close Up. Jangan takut dengan piranti yang dipakai untuk merekam. Sejauh ini saya selalu merekam menggunakan iPhone (belum pernah menggunakan kamera) atau apapun jenis HP kamu selama hasil dan kualitas rekamannya memadai untuk ditayangkan di TV.
  • Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa video CJ yang layak tayang di NET TV memenuhi beberapa kriteria seperti : angle menarik, kualitas video, lengkap informasi, unik, menarik, dan tidak basi.
  • Sampai saat ini, ketika saya membuat liputan, tidak dalam kondisi yang memang diniatkan datang ke lokasi hanya sekedar untuk merekam. Misalkan tentang liputan ke pasar, saya merekam ya memang saat jadwal saya ke pasar. Jadi waktu ke pasar, sekalian merekam. Saat liputan imlek juga begitu, saya ke Den Haag kota karena janjian dengan teman-teman untuk melihat perayaan imlek, sekalian saja saya rekam. Jadi sekali kayuh beberapa tujuan terlampaui. Saat merekam ice skating di danau beku, aslinya hari minggu itu saya tidak tahu kalau danaunya sangat ramai dan banyak yang bermain ice skating dan hockey. Karena sehari sebelumnya saat saya jalan kaki sendiri ke danau (rumah kami tidak jauh dari hutan, danau, dan peternakan), saya lihat danaunya beku tapi tidak ada siapapun di sana kecuali saya. Keesokan harinya saya ajak suami jalan kaki ke danau setelah belanja (jadi kami ke danau bawa tas-tas belanjaan), eh ternyata ramai sekali orang. Tiba-tiba ada ide untuk merekam meskipun muka saya tanpa polesan lipstick, tanpa bedak, hanya pakai pelembab saja :))) Ngomong depan kamera juga grogi sekali, sampai belepotan haha!. Saya akhirnya menodong suami untuk diwawancarai. Untung dianya oke oke saja. Ini video rekamannya yang masih ada link di youtube sebelum ada kebijakan baru.

Jadi, tidak susah ya menjadi Citizen Journalist. Jika ada yang berminat yuk rekam kejadian yang ada di sekitar kamu ketika jalan-jalan, saat berwisata kuliner, tutorial memasak bisa juga atau membuat kerajinan tangan, untuk yang suka berkebun juga, atau kejadian apapun itu. Apa yang kita pikir tidak unik, siapa tahu itu menjadi unik bagi redaksi. Jadi jangan ragu-ragu. Buat saya manfaatnya sangat banyak, selain bisa menyalurkan kesenangan saya dalam merekam apapun, menyalurkan kesenangan menulis karena harus menulis deskripsi, melatih keberanian dengan mewawancara orang, mleatih PD dengan ngomong depan kamera, banyak belajar hal-hal baru karena CJ ini benar-benar hal baru untuk saya meskipun sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013, dan bisa mendapatkan uang. Betul kata Mbak Rosi, sekali unggah video di CJ Net TV, bakalan ketagihan setelahnya. Yuk kirim videonya sekarang!

-Nootdorp, 7 Februari 2017-

Mengurangi Konsumsi Nasi Putih, Garam, dan Penggunaan Minyak Goreng Untuk Hidup Lebih Sehat

img_3186-1

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman dekat di grup whatsapp membicarakan susahnya menurunkan berat badan seiring dengan bertambahnya usia. Dulu pada saat rentang usia 20an, gampang sekali menguruskan jika kami rasa badan agak berisi. Disamping karena kami adalah anak kos-an yang memang uang pas pasan untuk makan, makanya badan kami juga mengikuti ketersediaan uang. Lumayan berisi pada awal bulan karena cadangan dana masih menggembul dan menjadi lebih langsing menjelang akhir bulan, karena saatnya koret koret recehan untuk makan. Disamping itu juga ada senjata andalan lainnya, yaitu berhutang diantara agar kami tetap bisa makan. Karenanya kami selalu menyebut hutang diantara kami itu seperti lingkaran setan, karena tidak ada putusnya. Kami selalu terbahak-bahak kalau mengingat bagaimana kami berteman sejak 17 tahun lalu. Mungkin itulah yang membuat kami awet berteman sampai sekarang, karena yang dibicarakan selalu hal-hal ringan dan receh :))).

Ok, kembali lagi ke masalah berat badan. Salah satu diantara kami lalu menyelutuk, kalau metabolisme tubuh akan melambat seiring bertambahnya usia. Saya juga sering mendengar tentang itu. Lalu saya mulai mencari informasi tentang apa sih sebenarnya metabolisme tubuh ini dan kenapa bisa menjadi lambat kalau kita bertambah usia. Dari beberapa informasi yang saya baca, metabolisme adalah suatu proses biokimia kompleks dimana tubuh akan mengubah apapun yang dimakan menjadi energi. Selama proses ini, kalori dalam makanan dan minuman akan digabungkan dengan oksigen, lalu dilepaskan menjadi energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Bisa juga berat badan tidak turun atau bahkan naik disebabkan asupan makanan menjadi otot karena faktor olahraga, dan hal ini bagus.

Ada beberapa hal yang ingin saya kurangi dan saya ganti dengan yang lainnya untuk tujuan hidup lebih sehat dan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Kalau untuk meniadakan sama sekali, saya masih belum bisa.

MENGURANGI KONSUMSI NASI DAN MEMVARIASIKAN SUMBER KARBOHIDRAT

Mengurangi konsumsi nasi ketika saya sudah tinggal di Belanda sebenarnya tidak direncanakan sama sekali. Walaupun sejak kuliah lagi (tahun 2012), saya sudah mulai mengurangi konsumi nasi menjadi satu kali per hari, tetapi mengurangi konsumsi nasi yang akan saya ceritakan kali ini berbeda dengan kondisi pada saat saya masih di Surabaya. Awalnya sekitar bulan Maret 2016, ketika saya dan suami bepergian ke Prancis utara selama 8 hari (cerita perjalanan kami pernah saya tulis di sini), selama kurun waktu tersebut saya tidak makan nasi sama sekali. Sebelum kami berangkat, suami bertanya apakah saya akan baik-baik saja (baca:tidak cranky) kalau misalkan tidak makan nasi selama liburan. Saya sebenarnya ragu, apakah bisa. Tetapi saya juga ingin merasakan makanan lokal saat liburan. Bukan berarti di Prancis tidak ada nasi ya. Mungkin menu nasi tidak segampang ditemui dibandingkan Belanda (ini saya main asumsi ya, karena memang selama di Prancis saya tidak secara khusus mencari restoran yang menjual menu ada nasinya). Saya juga tidak mau repot-repot membawa beras atau penanak nasi. Saya kan mau liburan dan saya yakin di tempat yang kami kunjungi pasti ada restoran yang menjual menu halal (dan ternyata memang banyak). Nah, setelah melewati 8 hari tanpa makan nasi sama sekali dan mengganti asupan karbohidrat dari sumber yang lain (roti atau pasta), saya lalu berpikir wah ternyata bisa juga. Sejak saat itu sampai sekarang saya sudah terbiasa memvariasikan asupan karbohidrat tidak hanya tergantung pada nasi putih. Bahkan saya pernah tidak mengkonsumsi nasi putih sama sekali selama 3 bulan. Lalu kalau tidak makan nasi putih, sumber karbohidratnya darimana? Jawabannya : banyak sekali. Dulu sewaktu masih punya IG saya rajin memposting makanan dengan variasi karbohidrat. Sumber karbohidrat pengganti nasi putih yang saya konsumsi selama ini adalah : ubi, singkong, couscous, quinoa merah, nasi coklat dengan biji-bijian, kentang, jagung. Beberapa kali juga saya makan pasta, tapi tidak sering. Mie juga saya konsumsi tapi juga tidak sering. Yang sering ya yang saya sebutkan sebelumnya. Nasi putih saya konsumsi kalau sedang makan Sushi dan kalau saya ingin nasi goreng, oh beberapa waktu juga saat saya membuat nasi kuning. Oh ya, saya mencampur karbohidrat dengan protein hewani saat akhir pekan saja karena itu waktu saya cheating dari Food Combining. Kalau hari biasa, saya taat untuk tidak mencampur protein hewani dengan karbohidrat. Protein hewani yang saya konsumsi adalah ikan, telur (keju dan es krim termasuk ga ya?). Selebihnya saya makan tahu tempe untuk lauk.

Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Urapan dimakan dengan ubi
Urapan dimakan dengan ubi

Kalau menu yang sudah ada karbohidratnya, saya tidak tambahi makan nasi. Jadi tidak double karbohidrat. Misal : kalau di sop sayuran sudah ada kentang, saya tidak memakan dengan nasi. Atau kalau misalkan di sop sudah ada jagung, saya tidak makan dengan nasi. Karbohidratnya sudah saya dapat dari jagung. Padahal enak kan ya makan mie dengan nasi plus telor ceplok :)))

Bagaimana rasanya tidak mengkonsumsi nasi putih? saya merasa enak di badan. Lebih segar dan tidak gampang mengantuk. Perut rasanya lebih enak dan tidak gampang lemas. Karena usia saya yang sudah diatas 35 tahun, mulai menjaga asupan makanan salah satunya menjaga seberapa banyak karbohidrat yang masuk dalam tubuh, untuk saya sangat penting. Buat kondisi tubuh saya, jumlah karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh tidak teralu banyak. Saya lebih fokus pada memperbanyak protein dimana sumber protein ini lebih banyak saya dapatkan dari protein nabati dibandingkan protein hewani karena saya batasi mengkonsumsi ikan maksimal 3 kali seminggu (untuk saat ini). Dan memvariasikan karbohidrat ini terasa manfaatnya saat jalan-jalan, tidak kebingungan cari nasi putih. Makan apa saja hayuk aja, tidak tergantung dengan nasi putih. Bisa merasakan makanan lokal yang masih bisa saya makan. Selain itu, dilihat dari segi kesehatan, nasi putih kandungan gulanya tinggi.

MENGURANGI GARAM

Nah, PR yang selama ini susah sekali rasanya dijalankan adalah mengurangi penggunaan garam dalam masakan.Teman-teman yang kenal saya secara dekat pasti tahu bagaimana tergantungnya saya dengan garam. Bersyukurnya sejak beberapa bulan ini niat untuk mengurangi garam sudah saya lakukan secara rutin. Bahkan sudah dua minggu ini saya memasak tanpa garam sama sekali. Sebelum suami mengenal saya, dia kalau masak tanpa menggunakan garam. Makanya dulu sewaktu awal saya datang ke Belanda dan mau memasak, saya panik karena tidak tersedia garam di rumah. Dulu saya berpikir, mustahil nih kalau hidup tanpa garam. Ternyata ketika secara perlahan dan secara sadar ingin menguranginya, ternyata bisa. Rasa masakannya bagaimana? ya baik-baik saja, tetap enak dikonsumsi. Misalkan memasak sayur sop. Rasa kuahnya saya dapatkan dari wortel (rasa manis), aroma seledri, rasa kentang dan buncis, merica dan bawang putih. Saya tidak menggunakan pengganti garam sama sekali. Biasanya saya mencari ide memasak tanpa garam ini dari youtube. Terlalu banyak garam tidak baik untuk ginjal (sekarang bisa ngomong gini, kemana aja dulu Mbak :D). Tapi kondisi ini bisa saya terapkan kalau saya sedang di rumah dan bisa mengontrol yang saya masak. Kalau lagi ada undangan makan atau sedang makan di luar sama suami, ya kan tidak mungkin makan makanan yang tanpa garam kecuali makannya di restoran khusus. Atau ketika liburan, kan sama saja cari perkara kalau harus cari makanan yang tanpa mengandung garam, kecuali bawa bekal sendiri. Liburan saatnya makan makanan lokal.

Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.

MENGURANGI PENGGUNAAN MINYAK GORENG

Saat ini, memang saya ingin mengurangi goreng-gorengan. Lebih kepada saya males menggoreng karena males membersihkan cipratan minyaknya yang kemana-mana. Alasannya cetek sekali ya haha! Tapi ternyata mengurangi gorengan bagus lho untuk tubuh saya. Minyak goreng 1L yang saya beli selama 4 bulan ini masih ada. Kalau tidak menggoreng lalu bagaimana? Saya masukkan ke oven. Lebih praktis dan saya bisa mengerjakan hal-hal lain. Saya sudah jarang tumis menumis. Sayur dan lauk untuk makan siang suami saya masukkan ke oven dan saya lebih memilih makan siang dengan sayur rebus. Sedangkan makan malam kami adalah sayuran mentah. Terdengar membosankan? sesungguhnya tidak, karena kami sangat menikmatinya. Kami lebih bisa berkreasi memadupadankan sayuran. Sekarang kalaupun ingin menggoreng, saya lebih memilih menggunakan minyak kelapa. Selain itu setiap hari saya juga meminum minyak kelapa sebanyak satu sendok. Tubuh saya sedang membutuhkan asupan minyak kelapa.

Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an

BAGAIMANA DENGAN GULA?

Beruntungnya saya memang tidak suka rasa manis. Jadi saya tidak terlalu suka baking ataupun membeli kue dan camilan manis. Jadi kalau untuk gula, memang tidak perlu dikurangi karena memang tidak terlalu banyak makan yang mengandung gula kecuali asupan gula yang saya dapat selama ini langsung dari buah yang saya konsumsi ketika sarapan.

MENGURANGI APA LAGI?

  • Sambal

Dalam dua minggu ini saya juga sedang mengurangi makan sambal. Selain dulu tergantung dengan garam, saya juga rasanya tidak bisa makan dengan sambal. Saat selama di Prancis, saya tetap hidup walaupun tidak makan dengan sambal. Dan memang ada kondisi yang tidak memungkinkan saya makan sambal saat ini. Hitung-hitung sambil membersihkan badan.

  • Mengurangi Olahraga Berat

Sejak awal bulan ini saya mulai mengalihkan jenis olahraga yang saya tekuni selama ini yaitu : lari, freelactic dan gym menjadi ke Yoga (ikut kelas 2 kali seminggu dan meditasi serta yoga sendiri di rumah) dan jalan kaki selama 1-2 jam setiap sore. Tentang pengkategorian olahraga berat ini hanya opini pribadi saya saja ya. Bukan berarti Yoga adalah olahraga ringan, tidak sama sekali. Justru saat-saat awal seperti ini saya belajar yoga, berat juga rasanya karena butuh konsentrasi dan sabar. Biasanya gerakan yang saya lakukan untuk olahraga kan cepat, sekarang saya memilih kelas yoga yang santai tetapi tetap menggerakkan seluruh anggota badan. Kata suami, saya pensiun dini berlari sebelum mencicipi Half Marathon :))) Ya nanti kalau kondisinya sudah memungkinkan, saya pasti akan kembali lagi berlari. Bersepeda tetap saya lakukan sehari-hari apalagi kalau ada jadwal kerja saya bersepeda PP 23km. Yang penting badan konsisten bergerak setiap hari.

  • Mengurangi Makan Mie Instan

Duh, godaan makan mie instan itu susah sekali untuk dihindarkan. Rasanya ingin setiap malam makan mie instant dengan merek yang sudah melegenda di hati :))). Tapi selama dua bulan ini saya sudah bisa mengendalikan hasrat untuk nge-mie. Kalau sedang niat bersih-bersih badan, langsung total saja. Kalau setengah-setengah nanti tergoda kembali ke titik awal. Apakah saya tidak mau makan mie instan seterusnya? Ya tidak lah. Lidah juga pasti kangen incip-incip mie goreng, tapi tidak sekarang. Nanti tunggu waktu yang tepat. Mumpung lagi niat ini, jadi ditahan-tahan saja meskipun kangen juga :D.

Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
  • Mengurangi Berpikir Terlalu Berat

Apa yang kita pikirkan dan yang ada dalam pikiran kita juga akan berpengaruh terhadap kesehatan badan. Jadi sesuai ambisi saya di tahun ini yaitu hidup secara sederhana, maka saya perlu juga menyederhanakan yang ada di pikiran, menyederhanakan apa yang ada di hati dan mulai melakukan banyak hal baru, belajar banyak ilmu baru, melakukan tantangan-tantangan baru yang bisa membuat hati dan pikiran saya senang. Saya mulai fokus pada diri sendiri. Mengikuti kata hati ingin melakukan apa dan selalu bertanya ke diri sendiri apakah saya bahagia ketika melakukan itu. Saya sekarang lebih ingin menjadi diri sendiri bukan menjadi apa yang orang lain lihat. Mulai memperbanyak membaca buku supaya perbendaharaan kata semakin banyak dan wawasan semakin luas. Memperbanyak belajar Agama. Belajar keterampilan baru misalnya menggambar atau merajut atau bermain piano.

MENGAPA HARUS MELAKUKAN ITU SEMUA?

Saat menyadari bahwa bilangan angka usia sudah beranjak menjadi banyak, disaat itulah saya juga mulai sadar bahwa waktu untuk hidup di dunia semakin berkurang. Selama ini saya selalu “menyiksa” badan dengan makanan-makanan yang memberatkan kerja pencernaan dan tidak memikirkan akibatnya di masa depan. Saya telah mengikuti pola makan Food Combining lebih dari 8 tahun dan sudah cocok dengan badan saya, yang salah satu hasilnya saya tidak ingat kapan terakhir kali flu. Padahal dulu rasanya setiap bulan selalu saja flu. Sejak ber FC diimbangi dengan olahraga, bersyukurnya flu tidak pernah bertamu lagi bahkan di saat musim dingin yang aduhai semriwing hawanya tidak menentu. Inginnya, kalau diberikan kesempatan untuk lama tinggal di dunia, saya ingin hidup lama dengan sehat. Nah, kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi. Sekarang saya mengubah cara berpikir dari yang dulunya saya berpikir tidak bisa bahkan mustahil bisa dilakukan, ternyata setelah dijalani secara perlahan, bisa kok mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Hanya tergantung niat dan cara kita berpikir.

Mendengarkan kebutuhan tubuh dan mengurangi menyenangkan keinginan lidah. Mungkin seperti itu tepatnya yang saya lakukan sekarang. Lha kan hidup di dunia cuma sekali, ngapain musti menyiksa diri dengan makan-makanan yang tidak ada rasanya. Mungkin ada yang berpikir seperti itu. Saya tetap memanjakan lidah dengan rasa makanan yang luar biasa enaknya. Tapi sekarang porsinya saya kurangi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya cheating kalau akhir pekan saja. Hari biasa, saya taat aturan. Hidup memang cuma sekali di dunia, karenanya saya ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tubuh ini kan juga titipan, jadi saya juga ingin merawat sebaik mungkin apa yang sudah dititipkan sehingga kalau saatnya diambil pemiliknya, tubuh ini kembali dalam keadaan yang terawat.

Semua hanyalah tentang bagaimana kita melatih apa yang ada di pikiran kita. Bisa atau tidaknya memang tergantung niat dan kesadaran diri sendiri untuk berubah ke arah lebih baik. Dengarkan kebutuhan tubuh karena kondisi masing-masing orang berbeda. Apa yang saya tuliskan di sini adalah sesuai dengan kondisi saya saat ini dan yang saya inginkan kedepannya. Dan tujuan saya melakukan ini semua adalah hidup sehat. Berat badan itu hanyalah bonus meskipun tidak memungkiri ketika konsisten menerapkan pola makan yang seimbang diiringi dengan olahraga yang rutin akan membuat badan mencari berat idealnya sendiri. Tidur lebih nyenyak dan bangun tidur dengan suasana hati lebih nyaman. Buat saya, tidak ada yang namanya instan di dunia ini. Bahkan mie instan pun butuh waktu untuk memasaknya apalagi tentang kesehatan. Semua dimulai dari pola hidup. Kalau ingin hidup sehat tapi asupan makanan yang masuk ke tubuh tidak dipikirkan dan juga tidak berolahraga, ya jangan harap kedepannya akan sesuai dengan yang diinginkan. Begitupun dengan melakukan cara-cara instan seperti mengkonsumsi pil atau diet mati-matian, maka kasihan ke tubuh juga akan kaget dan kalau diet tidak sehatnya berhenti di tengah jalan, nanti hasil yang diinginkan juga tidak sesuai. Yang lebih penting adalah kerjakan secara pelan-pelan tapi konsisten, mendengarkan kebutuhan tubuh seperti apa karena kondisi masing-masing orang berbeda. Jangan hanya karena ingin seperti si A terus mengikuti apa yang orang lain kerjakan. Menjadi inspirasi boleh saja, tetapi kembali lagi, sesuaikan dengan kondisi tubuh kita. Saya juga mencari referensi tentang makanan sehat dan olahraga dari banyak membaca dan mempelajari pengalaman orang lain.

Intinya saya ingin hidup yang seimbang. Kalau ingin makan yang bersantan dan asin dan pedes, ya saya makan tapi setelahnya saya akan hajar dengan makanan yang lebih sehat. Lalu saya imbangi dengan olahraga, minum air putih sesuai kebutuhan badan dan berpikir positif. Tidak lupa juga banyak tersenyum, karena tersenyum membuat hati saya gembira 🙂

Semoga saya juga konsisten menjalankan apa yang sudah saya lakukan selama ini dan saya juga tidak berhenti belajar untuk mengenali anggota tubuh dan kebutuhan tubuh supaya kedepannya makin lebih sehat lagi.

Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit
Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit

Kalau kalian, rencana dalam bidang kesehatan di tahun 2017 ini seperti apa? Saya sedang senang belajar tentang kesehatan yang berawal dari hal-hal simpel seperti makanan dan kehidupan sehari-hari. Jadi, saya akan senang membaca cerita kalian.

-Nootdorp, 26 Januari 2017-

Gelar Akademis di Undangan Pernikahan

sepatu

Minggu lalu, tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saya menanyakan di grup wa yang isinya teman-teman dekat perihal apakah mereka akan mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan. Setelahnya kami terlibat diskusi yang malah berujung saya teringat dengan pengalaman tidak mengenakkan di masa lalu menyangkut gelar akademis ini. Pengalaman tidak mengenakkan disingkirkan dulu karena sudah menjadi masa lalu karena yang menarik perhatian saya tentang pencantuman gelar akademis di undangan pernikahan. Saya dan suami tidak mencantumkan gelar di undangan pernikahan, terus terang saya lupa alasannya apa. Yang pasti jauh sebelum menikah saya memang punya angan-angan tidak akan mencantumkan gelar akademis pada undangan. Tidak ada alasan khusus hanya memang tidak ingin saja. Bersyukurnya memang Ibu tidak ikut campur banyak pada konsep perkawinan kami termasuk undangan dari segi desain, kata-kata, bahkan sampai pada pencantuman gelar. Semua diserahkan pada kami.

Tidak adanya intervensi dari Ibu masalah undangan pernikahan ini juga terlihat pada undangan pernikahan adik yang menikah setahun sebelum saya. Adik dan suaminya mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan mereka, saya juga tidak tahu pasti alasannya kenapa. Mencantumkan atau tidak mencantumkan pasti punya alasan masing-masing, tidak ada yang salah dan ini tentang selera. Ibu dan keluarga saya juga tidak pernah mempermasalahkan dan mudah-mudahan tidak ada rasan-rasan di luar sana.

Undangan pernikahan saya dan suami cukup sederhana kalau dilihat dari desainnya. Saya meminta tolong adik teman yang sudah saya kenal baik dan lulusan dari desain produk untuk membuat desain undangan. Awalnya tentu saja saya mencari ide undangan di internet. Ingin ini dan itu, pokoknya banyak inginnya lama-lama pusing sendiri. Waktu itu saya juga tidak punya waktu banyak untuk berpikir terlalu njlimet karena saya sudah kena tegur dosen pembimbing gara-gara telat mengerjakan revisi tesis. Suami membuat desain awal undangan. Kami bertukar ide lewat email juga whatsapp. Maklum ya waktu itu belum ada telefon gratisan di wa dan juga kami tidak suka skype-an, jadi ya membicarakan tentang pernikahan lewat wa atau email karena suami menelepon setiap dua minggu sekali. Setelah tahu apa yang kami inginkan, lalu saya menyampaikan gagasan kami kepada kenalan tersebut dan dia merangkumnya dalam desain undangan yang kami revisi beberapa kali sampai hasil final. Kami sangat senang dengan hasil akhirnya yang memang semua idenya dari kami ditambah beberapa masukan dari yang membuat. Jadi sentuhan personalnya ada. Tetapi karena kami hanya memesan sebanyak 110 undangan (kami mengundang hanya 100 orang di Indonesia dan mengirim untuk keluarga dan teman-teman suami sebanyak 10 orang sebagai pemberitahuan), maka biaya produksinya lumayan membengkak karena kalau membuat undangan kan ada jumlah minimalnya sedangkan kami kurang dari jumlah minimal. Kami pikir, ya sudah lah tidak apa-apa, karena memang sudah sepakat dengan keluarga kalau kami mengundang yang dekat saja, jadi 100 undangan sudah cukup.

Jadi undangan pernikahan kami menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris tetapi tetap di dalam satu undangan. Bagian luarnya ada amplopnya tetapi tidak menutup secara keseluruhan undangan intinya. Seperti ini penampakannya. Ini foto tahun 2014 ketika saya kirimkan ke suami tentang hasil akhirnya.

Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh
Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh. Ada kesalahan tulisan pada “you’re invited” yang akhirnya saya koreksi satu persatu. Untung cuma 110 (masih untung :D)
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya menggabungkan dua hal yaitu Jawa dan Belanda. Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu seperti bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah :D *jawaban simpel
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya ingin menggabungkan dua hal yaitu Jawa (saya) dan Belanda (suami). Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu terinspirasi dari bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah 😀 *jawaban simpel. Kata-katanya saya lupa siapa yang membuat, apakah saya ataukah suami.
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan.

Isi undangannya tidak saya sertakan ya karena akan banyak hal perlu di tutup dan saya malas mengeditnya *alasan opooo iki :))). Halaman awal undangan berbahasa Indonesia, lalu kalau diangkat kertasnya, ada halaman dibawahnya yang untuk bahasa Inggris. Kalau ada yang bertanya kenapa menyertakan gambar bagian bawah tubuh yang menyorot saya memakai rok dan menggunakan converse dan suami menggunakan converse juga? Karena seperti itulah saat kami pertama bertemu. Saya menggunakan rok dan memakai converse warna merah(meskipun di undangan warnanya tidak merah), sedangkan suami memakai converse warna hitam. Itu ide dan desain awal gambarnya dari suami yang disempurnakan oleh pembuat undangan. Cerita tentang sepatu juga beberapa kali saya sertakan linknya di beberapa tulisan. Sekarang saya sertakan lagi dan bisa dibaca di sini.

Lho kok malah berpanjang lebar pembukaannya pamer undangan kami :))). Kembali lagi ke topik. Jadi, dari hasil ngobrol dengan teman-teman dekat di grup wa yang tentu saja diselingi guyonan receh ala kami, ada beberapa hal kenapa orang mencantumkan atau tidak mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan mereka (kami tentu saja membicarakan tentang undangan pernikahan di Indonesia karena tidak terlalu mengerti tentang undangan pernikahan di luar negeri) :

  • Mencantumkan Gelar Akademis = Kebanggaan

Bisa dipahami karena semakin banyak gelarnya maka orang semakin tahu pendidikannya sampai setinggi apa. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini karena bisa memberi tahu orang lain (undangan) bahwa kedua pasangan ini lulusan dari fakultas apa (kalau misalkan ada yang mikir ini gelarnya dari fakultas apa), lulusan dalam negeri atau luar negeri, dan itu memang memberikan rasa bangga tersendiri. Tidak munafik juga kalau ada yang bertanya saya lulusan apa darimana ya saya beritahu dan saya bangga, bahkan saya pernah menulis postingan di blog ini. Tapi kalau tidak ada yang bertanya ya saya diam saja.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Karena Permintaan Orangtua

Meskipun pasangan calon pengantin tidak ingin mencantumkan gelar, tapi karena orangtua menginginkannya, maka demi membahagiakan orangtua mereka memenuhi permintaan dengan mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan. Atau mungkin dengan mengambil jalan tengah, membuat dua macam undangan yang berbeda. Satu mencantumkan yang undangannya diberikan untuk teman-teman pengantin sedangkan yang menggunakan gelar diberikan kepada teman-teman kedua orangtua. Ingat, pernikahan di Indonesia kebanyakan adalah hajat orangtua juga sehingga orangtua juga mempunyai andil besar untuk menentukan ini dan itu.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Ini seperti adik saya, mencantumkan gelar akademis tanpa ada alasan khusus. Mereka melihat lumrahnya undangan pada umumnya, jadi mereka ya ikut mencantumkan juga.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Siapa Tahu Membuka Jalan Rejeki

Namanya rejeki tidak ada yang tahu kan datangnya darimana. Siapa tahu dengan mencantumkan gelar akademis maka terbuka juga pintu rejeki yang lebih baik. Jadi misalkan ada teman dari salah satu orangtua begitu mengetahui pengantinnya bergelar misalkan Teknik Mesin, lalu ternyata Beliau sedang membutuhkan lulusan Teknik Mesin di kantornya, nah siapa tahu beliau menawarkan untuk menginterview pengantin yang bergelar Sarjana Teknik untuk bekerja di kantornya dengan gaji lebih besar dan posisi lebih baik dari sebelumnya. Ini permisalan saja ya.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Kedua Mempelai Gelarnya Tidak Satu Tingkat

Ada yang memang seperti ini. Karena calon pengantin gelarnya tidak satu tingkat (misalkan Sarjana dengan Ahli Madya atau Sarjana dengan Master atau lulusan SMA dengan Master, dsb), maka lebih baik tidak mencantumkan saja. Misalkan gelar akademis pengantin wanita lebih tinggi dibandingkan gelar pengantin pria, atau sebaliknya, daripada menjadi bahan pembicaraan diantara para undangan atau tetangga, maka gelar akademis tidak disertakan pada undangan. Kalau kata teman saya, “Masyarakat kita ini kan selo selo hidupnya. Gelar akademis yang tidak sama saja bisa jadi bahan gunjingan.” Atau ada kemungkinan lain misalkan salah satu calon pengantin merasa tidak nyaman karena gelar antara keduanya tidak satu tingkat (atau tidak satu level), jadi diambil jalan tengah tidak usah mencantumkan saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Undangan Pernikahan Bukan CV

Kalau ini jawaban suami ketika saya tanya dua hari lalu. Saya bertanya kenapa ya waktu itu kok dia tidak meminta untuk mencantumkan gelar pada undangan pernikahan kami. Dia malah kaget kenapa harus dicantumkan karena undangan pernikahan kan bukan CV (Curriculum Vitae). Dia bilang, “Lho kita kan akan menikah bukan mau melamar pekerjaan. Kenapa harus mencantumkan gelar akademis?” Dan ternyata dia baru tahu kalau di Indonesia mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan itu sudah biasa, maksudnya bukan hal baru lagi. Dia hanya senyum-senyum saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Tanpa alasan tertentu ini seperti yang saya lakukan. Karena saya tidak mempunyai alasan yang kuat kenapa saya harus menyertakan gelar akademis pada undangan pernikahan kami, makanya saya tidak menyertakan. Rasanya lebih nyaman mencantumkan nama asli saya dan suami tanpa ada gelar akademis ataupun gelar akademis kedua orangtua atau misalkan gelar haji ataupun hajjah jika ada yang punya.

Tapi kembali lagi ya karena memang ini sudah biasa di Indonesia maka tidak ada yang salah tentang pencantuman ataupun tidak mencantumkan gelar akademis ataupun gelar-gelar lainnya (misalkan gelar di suku Jawa atau gelar suku lainnya). Semuanya sah-sah saja karena kembali lagi sesuai dengan tingkat kepentingan dan selera. Yang memasang gelar tidak akan didenda, yang tidak memasang pun juga tidak akan masuk penjara, begitu kira-kira permisalannya.

Nah, tapi saya tetap penasaran nih ingin bertanya kepada yang membaca tulisan ini. Kalau yang sudah menikah apakah dulu menyertakan gelar akademis (atau gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan pertimbangannya apa. Kalau yang belum menikah, sudah mempunyai rencana nanti ingin mencantumkan atau tidak gelar akademis (dan gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan kalau boleh tau pertimbangannya apa. Atau kalau yang mempunyai pendapat lain, monggo lho bisa dituliskan pada kolom komentar. Saya sangat tertarik membaca dan mengetahui pendapat kalian.

-Nootdorp, 10 Januari 2017-

Akhir 2016 dan Awal 2017

snapseed-13

Apa yang kami lakukan pada hari terakhir di 2016 dan hari pertama di 2017? yuk simak cerita saya *pembukaan seperti Vlog masa kini :)))

Sebenarnya tidak ada yang sangat istimewa karena sama seperti akhir pekan sebelumnya, aktivitas yang kami lakukan seputar bersih-bersih rumah, olahraga, dan leyeh-leyeh. Tetapi akhir pekan ini menjadi istimewa karena saya sudah tidak sabar melihat warna warni kembang api di malam tahun baru. Sebagai pencinta kembang api, hasrat menonton kembang api semakin tersalurkan sejak saya tinggal di Belanda karena banyak acara yang menyuguhkan kembang api, salah satunya kami pernah melihat Festival International kembang api di Scheveningen. Menjelang tahun baru, sejak tanggal 31 Desember jam 12 siang sampai tanggal 1 Januari jam 12 siang, kembang api dan petasan boleh dinyalakan. Diluar dari waktu yang ditentukan, pelaksanaannya dilarang walaupun masih saja ada yang suka nyolong nyolong. Sementara suami malah benci dengan suara petasan dan kembang api. Mengganggu telinga dan aktivitas tidur katanya. Padahal saya selalu lonjak-lonjak kesenengan kalau melihat kembang api dengan bentuk macam-macam di udara.

Sabtu siang setelah bersih-bersih rumah, saya menyiapkan makan siang yang tidak pakai ribet yaitu sushi. Kalau sedang males masak dan pengen cepet, saya biasanya membuat sushi karena kami berdua memang sushi mania. Paling tidak sebulan sekali kami makan sushi. Nah, sabtu kemarin entah dimana saya menaruh gulungan sushi yang berujung dari pencarian yang tidak ketemu, akhirnya saya menggulung sushi tanpa menggunakan bambu gulungannya. Menggulung biasa. Meskipun agak berantakan, tapi tidak jauh berbeda sepertinya ketika saya menggunakan gulungan bambu. Tidak jauh berbeda tidak rapinya maksudnya haha. Saya membandingkan tentu saja dengan sushi yang ada di restaurant yang hasilnya rapi sekali.

Hasil dari yang memakai gulungan bambu
Hasil dari yang memakai gulungan bambu
Hasil minggu lalu tanpa gulungan bambu
Hasil minggu lalu tanpa gulungan bambu

Setelah makan siang suami pergi ke kota sebentar sedangkan saya yang malas gerak nglimpruk di rumah, kembali leyeh-leyeh nyambi masak. Suara petasan sudah mulai jedar jeder terdengar. Sorenya saat suami sudah sampai rumah kembali, kami keluar jalan kaki menuju toko kue dekat rumah untuk membeli Oliebollen (oliebol kalau cuma satu buah). Antriannya lumayan panjang. Oliebollen ini adalah makanan khas Belanda menyambut tahun baru berupa roti goreng isi kismis dan buah kering. Sebenarnya stan-stan yang menjual Oliebollen sudah banyak dijumpai semenjak akhir November dan berlangsung sampai 31 Desember. Kami pada akhirnya tidak hanya membeli Olibollen tetapi juga Berliner bollen (ini favorit saya karena ditengahnya ada fla yang rasanya tidak terlalu manis), Appelbollen, dan Appelbeignetten. Jadi malamnya kami makan segala macam yang kami beli ini sampai perut begah rasanya.

Tiga yang belakang itu Oliebollen. Biasanya pemyajiannya ditaburi bubuk gula pasir. Tapi kami memilih tidak. Dua yang di depan favorit saya.
Tiga yang belakang itu Oliebollen. Biasanya penyajiannya ditaburi bubuk gula pasir. Tapi kami memilih tidak. Dua yang di depan favorit saya Berliner bollen, dan dua yang dibelakang sebelah kanan itu Appelbollen

Jam delapan malam suami sibuk ketak ketik urusannya sedangkan saya mulai kesenengan karena tetangga depan belakang mulai menyalakan kembang api yang saling bersahutan dengan segala bentuk dan warna warninya. Suami manyun karena suara petasan dan kembang api mengganggu telinga dan konsentrasinya. Sedangkan istrinya malah gembira hilir mudik lihat kembang api dari dalam rumah. Terbayang kan bagaimana kami ini saling bertolak belakang :D.

Sekitar jam 10 malam suami sudah mengantuk dan tidur. Sedangkan saya masih segar bugar dengan mata yang masih cerah tetap memperhatikan kembang api yang kali ini saya lihat dari dalam kamar. Malam tahun baru seperti ini sebenarnya ada perasaan sedih yang selalu menghinggapi karena mengingatkan saya saat tahun baru terakhir bersama Bapak. 31 Desember 2011 malam, saya yang selalu pulang ke Situbondo pada akhir tahun karena kantor pasti libur selama 2 minggu, melewatkan malam tahun baru waktu itu dengan menonton Transformer di TV bersama adik sedangkan Bapak tidur. Menjelang jam 12 malam, Bapak terbangun dan menunggu detik-detik pergantian tahun. Saat jam 12 malam, kami saling mengucapkan selamat tahun baru lalu saling mengucapkan harapan-harapan di tahun yang baru lalu setelahnya kami sholat bersama. Ritual seperti itu sudah kami lakukan sekeluarga sejak saya masih kecil. Pada tanggal 1 Januari saya kembali ke Jakarta dan ternyata itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Bapak karena lima hari setelahnya Bapak meninggal dunia. Setelah saat itu, malam tahun baru selalu menyisakan sedih buat saya karena selalu teringat dengan Bapak.

Kembali ke cerita malam tahun baru saya dan suami. Jadi setelah ditunggu-tunggu, akhirnya jam 12 pun tiba dimana kembang api semakin riuh di udara. Saya melihat dari kamar semakin senang. Saya lalu membangunkan suami dan mengucapkan selamat tahun baru satu sama lain dan saling berucap harapan di tahun yang baru. Setelahnya suami tidur lagi dan saya tetap melihat dan merekam beberapa atraksi kembang api yang menurut saya menarik. Salah satunya dibawah ini. Oh iya, kata suami biasanya pas jam 12 malam tersebut para tetangga langsung saling mengucapkan selamat tahun baru kalau memang mereka sedang berada di luar rumah atau di jalan sekitar rumah. Nah karena kami sudah mematikan lampu rumah sejak jam 10 malam, maka kami mengucapkan tahun baru ke tetangga keesokan harinya. Saya tidur sekitar jam 1 malam dan suara kembang api masih ramai terdengar.

Hari minggunya saya masak istimewa. Kami mengadakan syukuran atau selametan kecil-kecilan atas rejeki titipan Allah. Syukurannya ya cuma kami berdua yaitu membuat tumpeng kecil. Dan menghantarkan beberapa kotak nasi kuning ke tetangga-tetangga dan saudara. Karena saya tidak punya cetakan tumpeng, awalnya mau dicetak pakai mangkok saja jadi tidak berbentuk tumpeng. Lalu tiba-tiba ada ide untuk membentuk tumpeng memakai karton yang dilapisi plastik. Untungnya saya punya banyak karton di rumah.

Tak ada cetakan tumpeng, karton pun jadi 😅
Tak ada cetakan tumpeng, karton pun jadi 😅

Dengan peralatan seadanya tumpeng pun jadi dengan makanan pendampingnya perkedel dan ayam panggang (karena males menggoreng makanya saya masukkan perkedel dan ayamnya ke dalam oven saja), telur dadar, sambel goreng pete kentang, tahu tempe kecap, mie, dan urap sayur. Tidak ada sambel karena sambel goreng kentang petenya sudah pedas.

Ini pertama kalinya saya membuat tumpeng dengan segala printilannya. Lumayan juga ya membuat pinggang remek selesai masak. Tapi saya gembira karena ada pengalaman pertama juga membuat tumpeng dan kami menghabiskan berdua yang ada di dalam tampah kecuali ayamnya cuma dimakan satu sama suami. Favorit suami sambel goreng kentang pete. Heerlijk katanya. Trus dibilangnya tumpeng saya seperti menara pisa alias miring :)))

Tumpeng mini porsi makan berdua langsung tandas tak bersisa
Tumpeng mini porsi makan berdua langsung tandas tak bersisa

Setelah saya dan suami memakan tumpeng kecil kami, lalu kami pergi ke tetangga-tetangga untuk mengucapkan selamat tahun baru dan membawa nasi kotak dan mengatakan kalau kami sedang mengadakan syukuran. Setelahnya kami pergi ke rumah Mama sambil membawa nasi kotak juga karena beberapa saudara berkumpul di sana.

Beberapa kotak nasi kuning dibagikan ke para tetangga dan saudara
Beberapa kotak nasi kuning dibagikan ke para tetangga dan saudara

Seperti yang Mas Ewakd tuliskan di postingan sebelumnya, semoga 2017 selalu menghadirkan kebahagiaan dan kesehatan yang baik untuk kita semua. Semoga 2017 kondisi di Indonesia dan dunia jauh lebih baik.

img_2806

-Nootdorp, 3 Januari 2017-

A happy and healthy 2017!

best-happy-new-year-pictures

As the final hours of 2016 here in the Netherlands are ticking away I wish all the readers of our blog a very happy and healthy 2017!

2017 will be a very important year for the people of the Netherlands and Indonesia.

In the Netherlands people feel more and more the (financial) stress of the situation from the unstable economic situation within the European Union and with the Euro. There are many uncertainties around the influx of immigrants from Syria and other Arabic and African countries that could lead to tensions with the Dutch citizens when it comes to social matters (like housing) and cultural differences. In March we will have elections in The Netherlands and I have recently become involved with a new and fresh political party so this promises to be a new and busy experience for me!

In Indonesia I feel worried about what I read in the press about the events concerning the Jakarte governor Mr. Ahok. It would be a very sad situation if religious circumstances would challenge the stability of Indonesia. Religion should not be a reason to silence opinions from individuals or groups in a society. I hope for 2017 that the situation in Indonesia stabilizes and the different religious groups can return to live peacefully and practice their religion with respect to the each other.

Nootdorp, 31 december 2016

Makan Malam Hari Natal

snapseed-9

Tahun lalu adalah pengalaman pertama saya menikmati suasana Natal di Belanda. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini tentang pengalaman Natal pertama di Belanda, saya dan suami berkunjung ke rumah Mama  untuk berkumpul bersama dengan anggota keluarga yang lain. Mama masih dalam keadaan berkabung karena Papa meninggal beberapa bulan sebelumnya. Karenanya Mama lebih memilih tinggal di rumah meskipun anak-anaknya ingin mengajak makan malam bersama. 

Tahun ini, karena beberapa beberapa anggota keluarga banyak yang pergi berlibur pada saat Natal dan kami takut Mama merasa kesepian kalau tidak terlalu banyak orang yang mengunjunginya, maka saya berinisiatif mengusulkan ide ke suami bagaimana kalau mengundang Mama ke rumah untuk makan malam pada saat tanggal 25 Desember. Tentu saja ide tersebut disambut gembira oleh suami. Ternyata begitu disampaikan ke Mama, beliau menyanggupi. Kami tentu sangat senang bisa mengundang Mama makan malam pada hari Natal. Lalu beberapa hari setelahnya, saya terpikir kenapa tidak mengundang juga anggota keluarga yang tidak sedang berlibur. Lebih banyak orang yang bisa datang, akan lebih ramai kan rumah. Pada akhirnya yang memberikan konfirmasi bisa datang sebanyak 3 orang. Suami memang dari keluarga kecil. 

Setelah ketahuan yang akan ada pada makan malam nanti total sebanyak 6 orang, saya mulai mencari menunya apa saja. Agak puyeng juga gonta ganti ide menu. Saking agak bingungnya dengan menu, sampai pernah terpikir mau saya masakkan soto ayam dan sate ayam saja haha. Tapi saya juga penasaran dengan kemampuan memasak dan ingin menantang diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman menyajikan masakan Nusantara. Saya bilang ke diri sendiri “masa ga bisa sih masak selain makanan Indonesia. Pasti bisa lah asal belajar.” Akhirnya dengan mantab saya menuliskan beberapa menu yang memang menurut saya masih bisa lah untuk dipelajari. Saya beberapa kali mencari sumber resep di youtube dan mempelajari dengan sungguh-sungguh langkahnya karena ada resep yang agak membuat saya bingung. Setelah lumayan paham, saya tidak sabar untuk eksekusi di dapur pada hari H.

Tanggal 24 Desember saya pergi seharian ke Amsterdam untuk mengikuti acara Sinau bareng Cak Nun dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya tentu tidak melewatkan kesempatan Cak Nun berkunjung ke Belanda karena memang saya suka dengan apa yang selama ini Beliau sampaikan. Ada banyak hal yang Beliau utarakan sesuai dengan cara saya belajar agama Islam maupun keingintahuan saya tentang agama-agama lainnya ataupun keinginan saya untuk belajar akan banyak hal. Mungkin nanti saya akan tuliskan dalam judul terpisah tentang pandangan saya akan Cak Nun dan acara di Amsterdam ini.

Tanggal 25 saya mulai mempersiapkan memasak sekitar jam 10 pagi. Saya mulai dengan membuat makanan penutup lalu dilanjutkan dengan makanan pembuka dan makanan utama. Sedangkan suami bertugas membersihkan rumah, mencuci baju, dan menyiapkan pernak pernik di meja makan. Jadi menu yang saya sajikan pada makan malam Natal adalah :

1. Makanan pembuka : sup labu kuning. Resep andalan karena sudah berkali-kali membuatnya dan sudah di luar kepala serta memikat lidah Mama mertua karena katanya enak sekali, saya contek dari blog Beth

2. Makanan Utama terdiri dari :

     – Hasselback potato (kentang utuh yang dikerat tipis sampai dasar) saya beri bumbu minyak zaitun beraroma truffle, rozemarijn yang dicincang halus, merica hitam kasar, bawang putih cincang halus, garam laut sedikit. Kentang saya rendam dalam bumbu tersebut selama 2 jam, setelahnya dipanggang 30 menit. Bumbu-bumbunya saya ngarang sendiri.

     – Wortel dan Asparagus (dalam keadaan utuh semua) yang saya beri bumbu (ini ngarang juga) : minyak zaitun, sedikit air jeruk, lada, thyme. Saya mengoleskan bumbu-bumbu tersebut satu jam sebelum dipanggang. Lalu saya panggang selama 30 menit.

     – Ayam panggang dengan bumbu : saus tiram, bawang putih cincang halus, kecap asin dan manis sedikit, jahe parut kasar, perasan jeruk lemon, kulit jeruk lemon, potongan kasar daun basil, merica hitam kasar, minyak wijen. Setelah direndam selama 3 jam, panggang selama 3o menit dan ketika akan disajikan taburi dengan wijen.

     – Roast beef aka daging sapi panggang. Karena sebelumnya saya tidak pernah membuat sama sekali daging sapi panggang, maka saya agak bingung bagaimana cara menentukan dia sudah matang di oven. Setelah mempelajari dan karena tidak mau gagal, akhirnya saya pakai cara yang paling gampang : menggunakan termometer daging saat dimasukkan ke oven. Jadi tidak perlu was was lagi apakah dagingnya sudah matang atau belum. Suami membeli daging yang jenis black angus 1kg. Saya goreng sebentar dagingnya dengan minyak sedikit (atau bisa juga margarine) sebelum dimasukkan ke oven. Tujuannya menggoreng sebentar ini untuk mengikat jus dagingnya supaya tidak keluar saat dioven. Setelah keempat sisi daging dipanaskan dalam wajan, lalu saya olesi dagingnya dengan bumbu : garam laut, merica hitam kasar, thyme, rozemarijn cincang kasar, minyak zaitun, dan bawang putih halus. Ini bumbu-bumbu juga saya ngarang. Saya masukkan ke oven suhu 140°C kurang lebih 2 jam atau saat suhu termometer dagingnya menunjukkan 62°C (untuk tingkat kematangan medium well). Setelahnya, istirahatkan daging selama 20 menit dengan ditutupi aluminium foil lalu iris sesuai selera. Ternyata setelah diiris, hasilnya persis yang saya bayangkan. Dagingnya tidak terlalu kering, masih berwarna agak merah muda tapi tidak terlalu juicy. Perfect!

     – Saus untuk roast beef saya membuat saus jamur, cari yang gampang saja. Jadi saya pakai Champignon potong-potong lalu goreng bersama bawang bombay di minyak bekas menggoreng dagingnya. Setelah jamur dan bawangnya layu, lalu saya masukkan santan (karena saya tidak punya krim kental). Setelah diberi bumbu garam laut dan merica, beri air sesuai kebutuhan lalu kentalkan menggunakan tepung maizena.

     – Salad sayuran. Ini suami yang menyiapkan karena ada salah satu keluarga yang vegan.

     – Salmon panggang. Ini buat saya karena saya tidak makan daging dan ayam.

3. Makanan penutup : Tiramisu. Saya baru pertama kali membuat Tiramisu. Jadi saya pelajari sungguh-sungguh langkah-langkahnya dari sini sumbernya. Karena memakai telur mentah, makanya saya membuat pagi di hari yang sama. Saya menyajikan dengan cara yang berbeda yaitu dengan gelas. Jadi seperti ini penampakannya :

Tiramisu dengan dua tingkat lady finger
Tiramisu dengan dua tingkat lady finger

4. Minuman : minuman ini urusan suami yang menyiapkan. Terdiri dari Glühwein, wine, beberapa botol minuman soda rasa buah, dan air mineral.

Karena hampir keseluruhan proses memasaknya dipanggang, jadi waktu tidak habis di dapur. Bumbu yang saya gunakan juga tinggal cemplang cemplung tidak ada yang diblender. Saya tinggal juga beberapa kali untuk beberes yang lain. Bahkan saya tinggal mandi juga. Saya tidak foto satu persatu makanannya. Secara keseluruhan setelah ditata di meja makan penampakannya seperti ini :

Sup labu kuning, ayam panggang, wortel asparagus panggang, daging sapi panggang, kentang panggang, saus jamur dan beberapa minuman. Tiramisunya masih di kulkas.
Sup labu kuning, ayam panggang, wortel asparagus panggang, daging sapi panggang, kentang panggang, saus jamur dan beberapa minuman. Tiramisunya masih di kulkas.

Bagimana komentar yang makan? Menurut mereka makanan yang saya sajikan rasanya enak sekali. Terbukti semua makanan ludes tak bersisa. Bahkan saya membuat tiramisu 10 gelas tak bersisa satupun padahal yang makan 5 orang, jadi satu orang makan dua gelas haha. Mama mertua suka sekali dengan rasa daging sapi panggang dan ayamnya. Beliau juga heran bagaimana saya bisa memasak makanan yang tidak saya makan tapi rasanya masih enak. Ya ilmu kira-kira saja sambil komat kamit doa rasanya tidak meleset 😅 Mama mertua ini komentator makanan yang jujur. Kalau enak ya dibilang enak, begitu juga sebaliknya. Karena pernah sekali masakan saya dibilang tidak enak haha. Saya tidak sakit hati, malah senang sudah dikritik. Pada awal akan makan, mama melihat ada tempat saus. Lalu beliau tanya apakah itu saus sate (saus kacang) lalu disambut tertawa oleh suami. Dia bilang kalau malam ini tidak menyediakan menu Indonesia sama sekali. Bisa dimaklumi Mama menanyakan saus kacang karena orang Belanda memang suka sekali sama saus kacang. Saya sangat gembira makanan yang saya masak ludes tidak bersisa dan semua bisa menikmati rasanya karena ada beberapa yang saya baru pertama kali membuatnya jadi agak was was juga sama rasanya. Ternyata kekhawatiran tidak terbukti. Kalau begini, rasanya ketagihan ingin mengundang keluarga makan-makan lagi di rumah *huahaha guayyaa. Saya juga senang karena bisa keluar dari zona nyaman, bisa menyajikan hidangan diluar masakan Nusantara.

Setelah makan malam, acara berlanjut dengan berbincang santai sambil minum teh dan makan roti coklat pemberian tetangga (seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya), roti pemberian Mama, kaasstengels buatan saya, dan beberapa kue lainnya sambil membuka satu persatu kado yang telah saya dan suami persiapkan. Acara yang ditunggu-tunggu ini, buka kado. Senang dengan reaksi masing-masing saat membuka kado dan saya juga kaget menerima kado dari suami yang diluar dugaan 😅

Pohon Natal di rumah *muncul lagi😅
Pohon Natal di rumah *muncul lagi😅

Acara selesai jam 10 malam. Tidak terasa 5 jam terlewati. Malam Natal yang menyenangkan. Bisa berkumpul bersama keluarga, saling bertukar cerita, makan bersama, sungguh kehangatan yang tidak terlupakan. Semoga kami semua selalu diberikan kesehatan yang baik dan umur sampai tahun-tahun selanjutnya agar bisa melewati kebersamaan penuh kehangatan dan suka cita.

-Nootdorp, 27 Desember 2016-

Komentar-komentar pada postingan sebelum-sebelum ini akan saya balas secepatnya begitu charger laptop saya ketemu ya (kesingsal seminggu lebih). Saya tidak bisa membalas komentar dari Hp (entah kenapa). Tiga tulisan saya tulis dari Hp (entah kenapa bisa😅). Terima kasih untuk komentar-komentarnya.

Den Haag Royal Christmas Fair 2016

Sejak saya pindah ke Belanda, kami sebenarnya sudah berencana setiap bulan Desember akan mengunjungi pasar Natal yang ada di Jerman atau negara-negara lain yang masih di sekitar Belanda. Kenapa tidak di Belanda saja? Kata suami pasar Natal di Belanda kurang berkarakter, maksudnya beda tipe dengan yang ada di Jerman atau Belgia atau Austria. Tapi kalau yang saya baca dari Internet, yang ada Valkenburg dan Dordrecht bagus pasar Natalnya. Mungkin ke dua kota tersebut bisa kami agendakan selanjutnya.

Karena Desember ini tidak bisa pergi jauh, maka kami menunggu pasar Natal yang ada di Den Haag buka sejak 15 Desember sampai 23 Desember 2016. Pasar Natal yang ada di Den Haag ini lokasinya ada di beberapa yaitu di pusat perbelanjaan, Lange Voorhout (kawasan kedutaan besar), dekat museum Mauristhuis dan ada beberapa tempat lagi yang tidak sempat kami kunjungi. Tadi malam setelah membeli barang untuk kado-kado Natal (iya saya selalu telat kalau beli kado Natal :))), menunggu suami pulang kerja sambil memutari pasar Natal yang disekitar pusat perbelanjaan. Yang saya temukan adalah truk-truk berjejer yang jual makanan. Den Haag yang saya lihat tadi malam cantik sekali, penuh kerlip lampu.

Den Haag
Den Haag

Setelah bertemu suami, kami lalu menuju ke pasar Natal yang ada di Lange Voorhout. Dari kejauhan tampak stan-stan berwarna putih yang berjejer. Wah besar juga ya, pikir saya. Setelah masuk (gratis) kami mulai perlahan memperhatikan ada stan apa saja di sana.
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
 

Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016

Lalu kami menjumpai sekelompok orang yang bernyanyi lagu-lagu bernuansa Natal. Seru deh karena kostumnya seperti yang saya lihat di film-film jaman dulu. Apalagi waktu mereka bernyanyi Jingle Bels (saya merekamnya), wah terasa sekali suasana Natalnya. Akhir-akhir ini juga cuaca dingin sekali. Kurang saljunya aja nih.

Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
https://youtu.be/p4mxLhPM0Og

Nampang dulu
Nampang dulu
Setelah sampai ujung, dengan sadar masing-masing dari kami ternyata dalam hati membandingkan dengan pasar Natal yang ada di Köln yang kami kunjungi tahun kemarin. Suami yang niat ingin minum Glühwein tidak ada satu stan pun yang jual di sini. Sampai dia bilang, yuk ke Aachen saja lihat pasar Natal di sana haha. Ya memang tidak bisa dibandingkan dengan Köln sih pasar Natal yang ada di Den Haag ini. Namanya pun bukan Christmas Market ya. Tapi kami tetep terhibur dengan berkeliling stan yang ada di sana. Meskipun pulangnya suami mengajak mampir makan soto ayam di restoran Indonesia (wahaha niatnya beli Glühwein, ujung-ujungnya malah makan soto ayam)

Penampakan Soto Mie dan teh tawar panas. Rasa-rasa makan di pinggir trotoar di Indonesia kalau begini. Nikmat
Penampakan Soto Mie dan teh tawar panas. Rasa-rasa makan di pinggir trotoar di Indonesia kalau begini. Nikmat

CERITA SELIPAN

Hari kamis saya membuat lemper karena suami ada perayaan Natal di kantornya dan masing-masing orang disuruh bawa makanan yang khas. Lalu suami tanya apakah saya bisa membuat lemper karena sebelumnya saya pernah membuat lemper pesanan teman-teman kantornya dan mereka suka. Saya lalu menyanggupi untuk membuat lemper kembali, wong ya tidak terlalu susah tinggal gulung gulung. Saya membuat 30 buah yang rencananya akan saya bagikan juga ke tetangga kiri kanan dan Mama mertua. Setelah saya antar beberapa lemper ke tetangga, ternyata saya langsung diberikan kue coklat karena satu diantara mereka sedang membuat kue coklat untuk acara Natal di sekolah anaknya. Lalu tadi malam mereka mengantar lagi kue-kue coklat ke rumah. Dan suami juga membawa pulang kue coklat dari kantornya. Dan saya pun mendapatkan parcel Natal dari tempat kerja yang isinya kebanyakan coklat. Walhasil kulkas kami sekarang bergelimang kue-kue coklat dan coklat. Wah bahaya ini, bisa naik timbangan haha. Belum lagi setoples kaasstengels yang saya buat membuat tangan kami tidak berhenti buka tutup toples (resep kaasstengels saya contek dari sini). Mudah-mudahan kaasstengels ini masih ada penampakannya sampai hari minggu.


Selamat mempersiapkan perayaan di hari Natal bagi yang sedang mempersiapkan. Saya dan suami mengundang Mama mertua dan keluarga lainnya untuk makan malam di rumah dan tentu saja kami tidak sabar menunggu saat membuka kado-kado yang sudah dipersiapkan.

Pohon Natal di rumah kami
Pohon Natal di rumah kami

SELAMAT NATAL!

-Nootdorp, 23 Desember 2016-

Cerita Tentang Lipstick

Memenuhi janji kepada diri sendiri  untuk tetap menulis paling tidak satu tulisan setiap minggu meskipun (sok) sibuk, maka tulisan kali ini saya akan bercerita tentang hal yang santai dan tidak terlalu panjang. Karena saya juga tidak bisa duduk terlalu lama di depan laptop, jadi cerita tentang lipstick ini akan (dicoba) singkat dan padat.

Jadi begini, saya itu sejak dulu memang tidak pernah punya banyak Lipstick,  maksimal dua. Itupun saya pasti menunggu lipstick nya habis dulu baru beli yang baru. Istilahnya saya koret koret sampai habis baru saya beli yang baru. Dan kalau saya sudah cocok dengan satu warna dari merek tertentu, biasanya saya akan beli lipstick tersebut berulang kali. Saya malas coba-coba karena sayang kalau tidak cocok selain itu bibir saya ini gampang kering kadang sampai berdarah meskipun sudah menggunakan Lipbalm. Karenanya saya lebih sering menggunakan Lipbalm untuk melembabkan bibir  karena buat saya bibir lembab itu lebih perlu dibandingkan bibir berwarna karena memang kondisi bibir saya yang berbeda.

Sejak di Belanda, saya punya satu merek lipstick favorit, yaitu Hema. Itupun tanpa sengaja karena kehabisan lipstick Sariayu (andalan saya) dan beli agak ngasal karena toko Hema dekat dengan rumah. Eh ternyata cocok dan selama nyaris dua tahun, sudah dua kali beli lagi dari merek dan tipe yang sama. Lipstick Hema yang saya gunakan ini harganya murah meriah, bukan yang matte tapi yang banyak pelembabnya (saya lupa istilahnya apa). Mertua pernah memberikan hadiah lipstick dua buah, kata Beliau biar saya ganti warna lipstick, tidak itu itu saja yang digunakan. Mungkin Beliau agak prihatin melihat menantunya tidak kreatif cuma punya satu warna. Lipstick pemberian mertua cuma dua kali saya pakai, selebihnya saya kembali lagi ke lipstick Hema.

Sampai suatu hari saya bertemu Anggi di Berlin dan kami menginap di kamar yang sama selama 3 malam, jadi saya tahu peralatan make up dia apa saja, termasuk lipsticknya. Oh iya, saya belajar langkah-langkah merawat wajah juga dari dia, konsultasi lewat whatsapp, beberapa bulan sebelum ketemu di Berlin. Sejak saat itu, saya jadi rajin merawat wajah. Lumayan lah hasilnya kelihatan. Ok, kembali ke soal lipstick. Jadi waktu di Berlin itu, Anggi cerita kalau dia sedang senang dengan satu merek lipstick namanya The Balm yang Matte. Katanya aroma mint dan rasa semriwing ketika dipulas ke bibir menimbulkan sensasi tersendiri. Dia juga bilang lipstick ini tahan lama dan tidak membuat bibir pecah-pecah. Saya dan Beth penasaran lalu Anggi menyuruh kami mencoba. Karena bentuknya cair dan saya belum punya pengalaman dengan lipstick yang cair seperti ini, Anggi sampai mengajari saya bagaimana cara memulas lipstick di bibir. Memang betul, rasa mint dan semriwingnya langsung terasa. Setelah dipakai beberapa jam kemudian, ternyata bibir saya baik-baik saja dan masih terasa lembab. Wah saya langsung jatuh cinta dengan lipstick ini. Lalu saya mulai googling warna apa saja yang tersedia. Ternyata setelah googling, ngiler lah saya dengan warna warnanya yang ciamik. Bingung juga mau beli yang warna apa, rasanya ingin dibeli semua karena warna warnanya menggemaskan. Saya tidak langsung membeli karena menunggu lipstick Hema habis dulu. 

Beberapa bulan kemudian, Fe menuliskan review The Balm Meet Matt(e) Hughes yang mini set. Jadi dalam satu wadah ada 6 warna dalam kemasan mini. Setelah membaca ulasannya sampai selesai, tanpa menunggu lama saya langsung beli mini set via OL shop. Saya ingat sekali waktu itu jam 5 pagi, siap-siap mau berangkat kerja haha. Saking nafsunya karena senang ada versi mininya dan terdiri beberapa warna jadi bisa coba-coba dan gratis ongkos kirim.  Di bawah ini warna-warna The Balm yang mini set (sumber)

Setelah barangnya saya terima beberapa hari kemudian, rasanya tidak sabar mencoba satu persatu warnanya. Suami sampai kaget saya beli lipstick sampai banyak begitu. Biasanya cuma sebiji. Setiap dicoba, saya langsung memotret bibir saya. Bukan sengaja karena ingin seperti model lipstick, tapi diantara 4 dari 6 foto di bawah ini, saya sedang tidak menggunakan jilbab dan males kalau harus pakai dulu. Akhirnya ya saya potret bibirnya saja dengan posisi yang aneh aneh, maklum ternyata motret bibir sendiri susah ya haha. 

Sejauh ini saya benar-benar suka sama The Balm. Jadi sebelum digunakan, 10 menit sebelumnya saya oleskan lipbalm terlebih dahulu. Lalu setelah The Balm dioleskan ke bibir (saya cuma satu oles saja, tidak terlalu tebal) tunggu sekitar 5 menit sampai benar-benar menempel sempurna di bibir. Saya pernah menggunakan dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore masih bagus hasilnya, padahal saya makan siang pakai sop. Membersihkannya juga gampang tinggal dioleskan VCO, dua tiga kali oles langsung luntur lalu dibersihkan lebih lanjut dengan pembersih muka dan setelahnya saya gunakan lipbalm untuk melembabkan bibir sepanjang malam. Saya menggunakan lipbalm dari Hema dan Purol yang Vaseline. Seminggu dua kali bibir saya scrub, berbarengan saat saya scrub muka. Sampai sekarang bibir saya aman terkendali tidak terlalu sering berdarah lagi hanya beberapa kali saja. Jadi, kalau The Balm yang mini set ini sudah habis, saya sudah tahu akan membeli yang warna apa. Karena favorit saya adalah warna yang Loyal, Charming, Sincere, dan Comitted. Jadi nanti kalau beli lagi, salah satu dari empat warna favorit saya.

Sekian cerita saya tentang lipstick. Ini bukan tulisan berbayar, melainkan rasa puas karena menemukan lipstick yang sesuai kondisi bibir saya.

Kalau kamu, lipstick apa yang sedang dipakai sekarang?

-Nootdorp, 21 Desember 2016-

Catatan Tahun 2016

snapseed-3

Tahun 2016 sudah akan berganti menjadi tahun 2017 dalam 2 minggu ke depan. Saya saja yang merasa atau memang tahun ini waktu berlari sangat cepat. Sepertinya baru kemarin saya selesai sekolah bahasa Belanda awal Januari, lah kok tahu-tahu sekarang sudah menuju akhir tahun. Semoga itu pertanda baik bahwa saya sangat menikmati apa yang telah dilalui di tahun 2016.

Bersyukur tahun ini bisa saya dan suami lewati dengan baik lengkap bersama cerita suka duka senang sedih tertawa. Kami melewati semuanya berdampingan. Banyak kabar bahagia yang hadir, ada beberapa kabar duka juga yang terdengar. Kami berdoa buat mereka yang ditinggalkan yang terkasih dan orang-orang terdekat, semoga dikuatkan dan tetap semangat. Dan semoga yang kembali menghadap Sang Pencipta diberikan tempat yang terbaik di sisiNya. Dan yang sedang diberikan ujian sakit, semoga tetap semangat dengan ikhtiar dan doanya, semoga diberikan yang terbaik. Mendengar berita duka, selalu mengingatkan saya akan hidup di dunia ini yang ada batasnya dan bisa mengembalikan saya kembali pada jalur yang seharusnya, jika melenceng. Berita duka juga mengingatkan saya agar berusaha memanfaatkan setiap detiknya untuk kegiatan yang tidak mendatangkan kesia-siaan dan tidak lupa untuk bersyukur jika ada kabar bahagia yang datang karena tidak ada yang kekal di dunia ini, termasuk kebahagiaan ataupun kesedihan. Semua akan berputar pada waktunya.

Bagi yang sedang berbahagia, saya ucapkan selamat. Apapun bentuk kebahagiaan itu, semoga bisa menular ke sekitarnya karena katanya aura kebahagiaan bisa membuat sekelilingnya ikut bahagia juga. 

Kalau dua tahun berturut saya selalu membuat catatan akhir tahun seperti rangkuman apa saja yang terjadi dalam satu tahun, kali ini tidak lagi. Saya dan suami sangat menikmati apa yang telah kami lalui tahun ini, dengan semua hal yang sudah kami tuliskan di blog ini untuk berbagi cerita, maupun hal-hal yang memang ingin kami simpan sendiri sebagai bagian dari privacy. Syukur tidak henti kami panjatkan atas segala perjalanan yang telah kami lakukan, kekuatan untuk saling mendukung saat duka datang, bersyukur atas kegembiraan dan rejeki yang telah dititipkan, tidak lupa juga tetap melihat ke bawah dan sekeliling sebagai pengingat dan berbagi, dan bersyukur untuk kesehatan yang baik dan umur yang mudah-mudahan membawa berkah. 2016 luar biasa buat kami.

Buat saya pribadi, 2016 adalah tahun penuh pembelajaran dan penerimaan. Saya lebih santai menjalani hidup. Pikiran saya tidak lagi terlalu berisik seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya lebih bisa bernafas secara sadar, lebih bisa mengatur langkah, dan lebih memilih untuk bahagia dengan cara saya, bukan karena bagaimana orang melihat saya atau bukan karena saya ingin dilihat orang lain. Hidup di negara baru hampir 2 tahun juga banyak memberikan saya pelajaran berharga. Bukan hanya belajar bahasa dan budaya yang baru, tetapi juga belajar untuk menerima. Lebih legowo jika memang saya dalam keadaan tidak baik-baik saja. It’s okay not to be okay. Suara-suara berisik di kepala saya sudah mulai berkurang karena belajar menerima. Saya tidak lagi sibuk mengejar ini itu, tidak lagi ruwet sendiri supaya terlihat “sempurna.” Saya belajar menerima bahwa hidup tanpa masalah itu kurang berwarna. Masalah datang sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dalam memecahkannya. Saya bisa berjalan tanpa penuh rasa kekhawatiran dengan pertanyaan : bagaimana jika. Gagal ataupun berhasil memang sudah jadi bagian dalam perjalanan hidup. Tahun 2016 juga memberikan saya kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, mengenal lebih dalam artinya pertemanan. Teman datang dan pergi silih berganti. Kalau layak dipertahankan, akan saya perjuangkan. Tapi jika tidak bisa saya perjuangkan untuk bertahan, akan saya ikhlaskan untuk pergi dan berlalu.
Salah satu hal baik yang saya rasakan tahun ini adalah mengenal lebih banyak blogger. Mereka memberi warna tersendiri dalam hidup saya. Banyak cerita yang bisa saya jadikan bahan renungan, cerita yang membuat tertawa terbahak, cerita yang tidak sesuai di hati maupun cerita yang memberikan pengetahuan baru. Memang tidak setiap saat saya meninggalkan komentar ataupun membaca dengan seksama, tetapi jika ada waktu senggang, saya usahakan untuk berkomentar kalau memang topiknya saya pahami. Terima kasih untuk blogger yang sudah follow blog kami dan menyempatkan waktu untuk membaca tulisan kami atau meninggalkan komentar. Terima kasih juga yang sudah follow lewat email dan untuk siapapun yang membaca blog kami dan berkirim email.

Saya sudah tidak sabar menyambut tahun 2017. Semoga saya dan suami selalu diberikan kesehatan yang baik, umur yang berkah, selalu ingat untuk bersyukur setiap waktu, tetap dan selalu memberikan dukungan satu sama lain, dan tidak lupa untuk bahagia.

Untuk diri sendiri, saya punya satu ambisi di tahun 2017 yaitu untuk hidup sederhana. Menyederhanakan yang selama ini rumit. Tetap membuat sederhana yang tidak rumit. Dan tidak membuat rumit yang sudah sederhana.

Semoga tahun 2017 dunia bisa lebih damai dan Indonesia mampu beranjak maju dengan tidak terlalu berkutat pada urusan agama dan politik yang saling menunggangi. Semoga masing-masing orang diberikan pikiran yang jernih untuk sama-sama kembali ke tujuan menjadikan Indonesia lebih baik. Jangan hanya jalan di tempat dan mencari kesalahan saja. Yuk sudahi gontok gontokannya dan kembali mengukir prestasi. 

-Den Haag, 14 Desember 2016-