Ketika Memutuskan Untuk Mengundurkan Diri

Akhir minggu lalu resmi sudah sebagai hari terakhir saya bekerja. Jadi sudah seminggu ini saya leyeh-leyeh di rumah (yang sepenuhnya tidak leyeh-leyeh karena tetep umyek mengerjakan ini dan itu). Walaupun status pekerjaan tidak penuh waktu, tetapi tetap saja saat mengambil keputusan berhenti saya butuh waktu dua bulan untuk memikirkannya. Saya membuat daftar baik dan buruk saat berhenti bekerja atau tetap melanjutkan bekerja. Keputusan yang sudah saya ambil dengan bulat dan utarakan kepada atasan sebulan sebelumnya sempat goyah karena mereka menawarkan opsi lain. Tetapi pada akhirnya tekad saya sudah bulat untuk berhenti dan melanjutkan fase hidup saya dengan petualangan yang tidak kalah seru lainnya.

Hampir dua tahun saya bekerja di tempat tersebut, belajar hal yang benar-benar baru dari nol. Saya ingat sewaktu tes wawancara yang full dalam bahasa Belanda dan tentu saja bahasa Belanda saya pada saat itu masih sangat acakadut, tetapi saya cuek dan berusaha menjawab pertanyaan mereka semampu saya dan semaksimal mungkin. Rupanya hal tersebut menjadi nilai lebih di mata mereka karena menurut pengakuan, mereka kagum dengan kegigihan saya mencari kerja padahal belum ada setahun tinggal di Belanda dan masih dalam taraf belajar bahasa Belanda. Juga karena pekerjaan yang saya cari adalah pekerjaan yang bahasa pengantarnya Belanda. Padahal waktu itu saya sedang mempersiapkan ujian bahasa Belanda dan saya memang mencari wadah untuk mempraktekkan bahasa Belanda karena saya merasa kalau mengandalkan hanya praktek dengan suami maka tidak cukup. Selain itu karena sekolah bahasa Belanda sudah selesai, maka saya ingin ada kegiatan lain. Karenanya saya mulai mencari kerja kesana kemari. Dari yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sampai yang tidak ada hubungannya sama sekali. Sempat putus asa karena dari sekian banyak surat lamaran yang dikirim, hampir 95% berisi penolakan. Sempat dua kali diterima bekerja dan sebenarnya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, tetapi karena ada suatu hal, saya yang menolak (sok ya, tapi memang tidak bisa saya terima).

Ternyata, akhirnya saya berjodoh bekerja paruh waktu di tempat yang selama hampir dua tahun terakhir membuat saya belajar banyak sekali hal baru. Pekerjaan yang justru tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikan bahkan pengalaman kerja. Pekerjaan yang memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak hal. Tidak hanya tentang pekerjaan itu sendiri tetapi juga tentang kehidupan dan cara pandang tentang hidup. Bekerja di tempat ini benar-benar merubah saya, jiwa saya dan tentang cara saya memaknai hidup. Karena sudah sangat dekat dengan kolega dan orang-orang yang ada di dalamnya, tidak mengherankan pada hari terakhir saya bekerja dan saat mereka mengadakan perpisahan kecil-kecilan, saya tidak bisa untuk tidak menangis. Padahal saat berangkat, saya sudah yakin tidak akan menangis. Namun saya salah. Saat mereka memberikan bingkisan, bunga, kartu ucapan, dan satu persatu merangkul saya, air mata tidak bisa terbendung tumpah berderai. Mereka semua yang ada di sana adalah guru saya untuk memperlancar bahasa Belanda. Mereka begitu telaten selalu memberikan koreksi jika ada susunan kata yang salah atau kosakata yang saya tidak mengerti. Tidak hanya itu, mereka juga membantu saya menerangkan tentang ini dan itu. Selain itu, selama di sana saya juga banyak diikutkan beberapa pelatihan, tentu saja gratis. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan selama hampir dua tahun ini. Yang membuat hati saya tersentuh adalah saat beberapa hari lalu ada buket bunga yang mereka kirimkan ke rumah untuk saya. Orang Belanda ini memang suka sekali dengan bunga.

Buket bunga yang dikirim ke rumah
Buket bunga yang dikirim ke rumah

Tentang keputusan mengundurkan diri dari tempat bekerja, mengingatkan saya akan beberapa tahun lalu ketika saya dengan sangat berat hati harus mengajukan surat pengunduran diri dari tempat saya bekerja selama hampir 7 tahun di Jakarta. Kalau saya hitung-hitung, sejak lulus kuliah (karena sewaktu kuliah saya juga sempat bekerja jadi kuliah dan kerja), selama total 10 tahun bekerja hanya pindah 3 kali tempat kerja (ini termasuk yang di Belanda). Dan diantara 3 tempat tersebut, yang paling lama ya yang di Jakarta. Saya tidak akan pernah lupa hari sewaktu saya diwawancara oleh Direktur departemen yang saya kirimkan surat lamaran pekerjaan. Beliau ini orang Filipina, tidak terlalu bisa bahasa Indonesia karena memang sehari-harinya komunikasi dengan bahasa Inggris. Nah, saya pada saat itu sangatlah tidak lancar berbahasa Inggris. Intinya modal nekad ketika melamar ke perusahaan ini padahal salah satu persyaratannya adalah lancar berbahasa Inggris. Walhasil ketika diwawancara, bahasa Inggris saya yang acakadut membuat Beliau lumayan pusing memahami jawaban-jawaban saya haha. Akhirnya Beliau menelepon bagian HRD dan meminta satu orang untuk mendampingi dan menterjemahkan apa maksud dari jawaban-jawaban saya. Menurut saya ini epic sekali. Jadi sesi wawancara tersebut ada penerjemahnya. Saya selalu tertawa sendiri kalau mengingat hal tersebut. Ketika waktu wawancara selesai, saya sudah 100% yakin tidak akan diterima karena tidak lancar sama sekali berbahasa Inggris. Lha bagaimana, nantinya saya akan bekerja langsung di bawah Beliau. Lha kalau tidak bisa bahasa Inggris trus berkomunikasinya bagaimana. Lagipula, sebelum saya kandidatnya ada 2 yang lancar sekali berbahasa Inggris dan dari Universitas negeri terkenal lainnya ditambah lulus cumlaude pula. Jadi saat meninggalkan kantor tersebut, saya benar-benar tidak berharap sekali.

Dua hari kemudian, saya menerima telepon dari HRD kantor tersebut yang meminta saya datang ke kantor itu lagi untuk melakukan wawancara lanjutan. Lho, saya kaget donk. Lho kok bisa. Singkat cerita, setelah beberapa kali tes ini dan itu sampai tes kesehatan, saya dinyatakan lulus dan bisa mulai bekerja di sana. Ajaib! Usut punya usut, saat sudah sebulan bekerja di sana, iseng saya bertanya ke Manager apa alasannya kok saya yang diterima bekerja bukan kandidat yang lain. Salah satu dari tiga Manajer yang mewawancarai saya mengatakan bahwa mereka cukup terkesan dengan kenekatan dan kegigihan saya. Nekat karena berbekal bahasa Inggris yang tidak mumpuni tapi tetap mengirimkan lamaran pekerjaan dan mereka melihat ada kemauan keras dari saya untuk belajar hal yang baru serta jawaban-jawaban dari hasil wawancara bukanlah hal-hal yang dibesar-besarkan, apa adanya. Lha ya bagaimana saya mau membesar-besarkan, wong pengalaman kerja sebelumnya baru satu tahun kemudian berhenti dan perusahaan ini adalah tempat kedua setelah lulus kuliah. Tidak dinyana tidak disangka, saya berjodoh dengan perusahaan ini sampai hampir 7 tahun lamanya. Hampir dari semuanya saya belajar dari nol karena berbeda dengan apa yang saya kerjakan di tempat sebelumnya. Untunglah dari segi keilmuan tidak terlalu melenceng jauh.

Selama hampir tujuh tahun tersebut tidak hanya pekerjaan yang saya pelajari dari nol, dari jalannya karir juga. Dari dasar sampai pada posisi yang memang saya inginkan. Menjalin hubungan baik dengan sesama kolega, melibatkan diri dengan cinta lokasi (hahaha, selalu ngakak kalau ingat ini), ditelikung, dimarahi, dihantam lembur sampai pagi, tiga kali terkena sakit thypus, tiga bulan tidak saling bertegur sapa dengan atasan (saya nggondok berat makanya males ngobrol sama atasan waktu itu, jadi komunikasi hanya via email) dan masih banyak sekali suka dukanya. Intinya, mereka akhirnya menjadi seperti keluarga kedua saya. Apalagi atasan saya yang super baik tersebut (yang tidak saya tegur selama tiga bulan itu haha), selalu ingat kalau pergi kemana-mana pulangnya pasti diberi oleh-oleh (yang lainnya juga sih, bukan saya saja). Dan jam tangan pemberian Beliau masih saya pakai sampai sekarang. Sampai saat ini saya juga masih berhubungan baik dengan Beliau. Oh ya, Beliau juga yang mengajari saya cara makan steak dan sushi haha. Maklum, sebelum ke Jakarta kan saya ini anak kos kuliahan yang sehari-harinya makan penyetan tempe terong ikan asin. Jadi pertama kali merasakan makan steak dan sushi ya saat kerja bersama Beliau. Awalnya merasa gimanaaa gitu melhat sushi. Eh akhirnya doyan sampai sekarang.

Karena hubungan yang sangat dekat dalam satu departemen selama hampir 7 tahun tersebut, maka saat berpikir untuk berhenti dari kantor tersebut saya butuh waktu 6 bulan sebelumnya untuk menimbang baik dan buruknya. Apalagi keputusan untuk mengundurkan diri bukan karena saya ingin pindah ke kantor lainnya tetapi karena ingin melanjutkan kuliah. Dua hal yang berbeda. Tetapi karena pertimbangan bahwa saya harus melanjutkan kuliah demi masa depan yang lebih baik, maka bulat keputusan yang diambil bahwa saya harus mengudurkan diri dari pekerjaan. Saat saya sudah positif diterima kuliah, segera mungkin saya menghadap atasan yang tentu saja membuat kaget. Mereka tidak menyangka saya akan berhenti bekerja saat beberapa hari sebelumnya saya diberi tahu bahwa beberapa bulan kedepan saya akan dipromosikan. Mereka meminta saya untuk berpikir berulangkali. Tetapi saya sudah bulat dengan keputusan tersebut (lha gimana, wong sudah keterima kuliah). Seminggu menjelang hari terakhir saya di sana menjadi saat-saat yang paling emosional. Tiap hari sediihh rasanya. Mereka mengadakan pesta perpisahan sampai tiga kali. Apalagi sewaktu satu persatu dari mereka memberikan kesan dan pesan, duh air mata saya tidak berhenti mengalir. Terlebih dua orang atasan saya, saat mereka terdiam untuk menahan tangis (tetapi tetep nangis juga) dan memeluk saya, tangis saya langsung pecah. Kalau tidak karena dua orang ini, tidak mungkin saya bisa bertahan sampai hampir 7 tahun di sana. Mereka yang selalu percaya akan kemampuan saya dan selalu memberikan tantangan untuk membuktikan bahwa kemampuan saya lebih dari yang saya tunjukkan. Ah, saat menuliskan ini saya jadi rindu dengan mereka.

Bekerja buat saya bukan hanya tentang mendapatkan materi dan belajar tentang ilmu yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri tetapi ada banyak hal lain yang bisa didapatkan misalkan bagaimana cara berhubungan dengan sesama kolega pada satu departemen maupun departemen lainnya, klien, memecahkan masalah, mengelola emosi dan banyak hal lainnya. Mungkin memang saya orangnya yang terlalu sensitif dan perasa, tetapi hari terakhir saat bekerja selalu merupakan hari yang paling emosional karena merasa itu adalah terakhir kalinya berada di tempat yang telah mengajarkan dan memberikan banyak hal selama periode bekerja.

 

Punya cerita tentang mengundurkan diri dari pekerjaan atau hari perpisahaan di tempat kerja?

-Nootdorp, 19 Oktober 2017-

Thorn – Kota Putih di Belanda

Thorn - Belanda

Sewaktu mencari tempat mau ke mana akan saya lalui pada hari ulangtahun, di mana hanya bisa di Belanda saja karena bukan hari libur, maka saya memutuskan ingin ke provinsi Limburg. Browsing sana sini, lalu saya tertarik untuk mengunjungi Thorn yang disebut sebagai kota putih. Membaca deskripsi dari berbagai sumber, saya semakin penasaran. Lalu saya utarakan hal ini ke suami, dia langsung mengiyakan dan ikut penasaran seperti apa Thorn itu karena memang belum pernah ke sana sebelumnya. Saya tidak terlalu berharap banyak cuaca akan cerah karena beberapa hari sebelumnya salju sempat turun di sekitar tempat tinggal kami. Tidak turun hujan saja sudah sangat saya syukuri. Sewaktu sampai di Thorn, suasananya sangat sepi dan langsung tampak bangunan dan rumah dengan cat putih sepanjang mata memandang. Hanya beberapa turis yang kami jumpai saat itu, memegang peta sambil mengamati beberapa bangunan yang ada dan sesekali membidikkan kamera untuk mengabadikan yang ada di depan mata. Tidak banyak foto yang saya dapatkan di sini, entah karena udara yang begitu dingin atau saya terlalu fokus dengan situasi di sana sehingga lebih menikmati suasana lalu menjadi agak malas untuk mengabadikannya. Hanya sempat merekam beberapa sudut kota ini dalam video.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Sekitar tahun 990, kota Thorn terbentuk karena banyaknya biarawan dari kalangan bangsawan. Setelahnya, kota ini berkembang menjadi kerajaan kecil. Menjelang abad ke-18 para wanita bangsawan yang ada di Thorn melarikan diri untuk menghindari orang Perancis. Lalu, sejumlah besar orang miskin datang untuk tinggal di kota ini. Orang Perancis menghitung pajak berdasarkan dimensi jendela rumah. Karena orang miskin tidak dapat membayar pajak, mereka lalu membuat jendela mereka lebih kecil dengan cara membakarnya. Rumah-rumah itu kemudian dicat putih untuk menyembunyikan perbedaan antara batu bata tua dan baru. Begitulah asal usul kota putih Thorn yang saya baca dari Wikipedia dan mengapa semua rumah di kota ini berwarna putih. Sampai saat ini, rumah di Thorn berpenghuni selayaknya rumah biasa. Selain rumah-rumah lama (dibangun sekitar tahun 1500an) yang masih bisa dilihat dengan kondisi bagus, ada gereja tua dan kapel yang masih terjaga dengan baik. Untuk mengetahui apa saja yang bisa dikunjungi di Thorn, di dekat gereja terdapat pusat informasi untuk turis, jadi kita bisa mendapatkan informasi sejelas mungkin di sana.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Thorn ini letaknya tidak terlalu jauh dari Roermond, salah satu Designer outlet yang terkenal di Belanda. Saat ini, Thorn merupakan salah satu kota tujuan wisata karena keunikan warna putihnya tersebut. Para wisatawan yang datang ke Roermond untuk berbelanja, menyempatkan diri untuk mengunjungi Thorn. Jadi jika ada yang sedang liburan ke Belanda dan salah satu tujuannya adalah berbelanja ke Roermond, tidak ada salahnya mampir ke Thorn sebagai alternatif tempat wisata yang tidak terlalu turistik. Tidak usah khawatir, di Thorn banyak dijumpai restaurant dan cafe.

 

-Nootdorp, 11 Oktober 2017-

 

Keindahan Hallstatt Dari Sudut Pandang yang Berbeda

Hallstatt

Hallstatt adalah sebuah kota kecil yang terletak di Austria, tepatnya di pinggir danau Hallstätter See. Terletak di antara pantai barat daya Hallstätter See dan lereng curam massif Dachstein, kota ini berada di wilayah geografis Salzkammergut,  yang menghubungkan Salzburg dan Graz. Hallstatt terkenal dengan produksinya yaitu garam yang merupakan sumber yang sangat berharga sehingga wilayah ini secara historis sangat kaya. Di atas pusat kota Hallstatt, terletak tambang garam pertama di dunia yang bernama Salzwelten. Turis yang datang ke sini bisa mengunjungi tambang garam ini.

Saya pertama kali mengetahui Hallstatt ini dari tulisan Patricia di blognya. Saat kami bertemu hampir setahun lalu, sempat saya bertanya tentang Hallstatt dan dia bilang suatu saat saya harus mengunjungi kota kecil ini karena memang sangat indah. Melihat foto-foto yang bertebaran di Internet pun membuat rasa penasaran saya semakin menjadi, pada saat itu. Beberapa bulan kemudian, saya lupa tentang Hallstatt sampai suatu hari ketika Puji datang ke Belanda dan kami bertemu lalu suaminya bercerita salah satu rute perjalanan mereka selama di Eropa adalah ke Hallstatt. Wah, saya adi teringat kembali. Lalu Puji menuliskan di blognya dan menyertakan foto-fotonya. Duh, makin ngiler saya. Tapi waktu itu belum terpikir akan ke Hallstatt dalam waktu dekat karena kami tidak ada rencana untuk berlibur ke Austria tahun ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

 

Hallstatt
Hallstatt

Nah, saat suami tiba-tiba memberi ide untuk roadtrip, salah satu rute yang ditawarkan adalah Austria. Kalau saja saya tidak menghubungi kenalan yang tinggal di Austria, saya mungkin lupa akan keinginan ke Hallstatt. Jadi, sewaktu saya menghubunginya, dia bilang kalau pada saat jadwal kami ke Austria, dia sedang tidak ada. Lalu saya bilang kalau kami akan ke Salzburg. Dia bertanya kenapa tidak sekalian ke Hallstatt karena rutenya melewati dari Ceko ke Salzburg. AHA!!, untung saja dia mengingatkan, kalau tidak, pasti terlewat. Langsung dengan semangat saya memasukkan kota ini jadi salah satu tujuan kami, mampir sebelum ke Salzburg. Saya tidak menyangka akan ke kota yang indah ini dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah pertama kali mengetahuinya dari Patricia. Rejeki memang tidak kemana. Saya bahkan sudah mempersiapkan baju khusus yang akan dikenakan ketika berkunjung ke Hallstatt, sekalian foto-foto keren ceritanya. Sesekali mumpung tempatnya bagus sekali.

 

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Karena terlalu bersemangat itulah saya lupa kalau terkadang apa yang kita inginkan tidak semuanya bisa didapatkan. Banyak faktor salah satunya adalah kuasa alam. Saya lupa di tulisan Patricia sewaktu berkunjung ke sana, cuaca sedang hujan dan kabut pekat turun. Yang lekat di ingatan saya adalah langit biru dan cerahnya sehingga semakin menonjolkan keindahan kota kecil yang berada diantara lembah dan dipinggir danau luas. Saya juga terlanjur sangat PD karena sewaktu kami ke sana masih dalam suasana musim panas. Saat mendapati hujan mengguyur sangat deras dan kabut pekat turun menyertai perjalanan kami dari Ceko ke Austria, lemas bercampur kesal, itu yang saya rasakan. Buyar impian saya mengenakan baju yang sudah dipersiapkan dan foto-foto dengan latar langit biru yang kece. Yang ada tangan sibuk memegangi payung dan melindungi kamera dari tampias hujan. Melihat saya cemberut, suami menyelutuk, “Nikmati saja yang ada sekarang. Tidak semua orang punya kesempatan ke sini. Kita tidak bisa dapat semua apa yang kita inginkan, bersyukur saja. Anggap saja kamu punya foto-foto keren dengan sudut yang berbeda dari foto-foto yang ada di internet.” Duh! perkataannya tepat sasaran menohok. Saya jadi malu, hanya karena tidak bisa berpose sesuai dengan keinginan, saya jadi lupa bersyukur bisa ke tempat yang selama ini hanya saya lihat di blog orang lain maupun foto-foto cantik dengan langit biru yang banyak terdapat di internet. Meskipun dengan suasana yang berbeda, saya masih tetap bisa menikmati keindahan Hallstatt yang tampak misterius diantara kabut pekat yang menyelimuti. Saya masih bisa menjejakkan kaki dan melihat dengan mata kepala sendiri kota cantik ini. Sudah seharusnya memang saya bersyukur.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Meskipun hujan terus mengguyur, tidak menyurutkan turis yang terus berdatangan. Mereka yang ke sini kebanyakan dari China, Korea, dan Jepang. Bagaimana saya tahu? ya dari bahasanya. Nguping lah dikit-dikit haha. Tetapi banyak juga turis dari negara lain. Mereka yang datang ke sini selain menggunakan jasa tour, kendaraan pribadi, juga naik bis (atau juga kereta?) dari Salzburg dan Vienna. Awalnya saya ingin naik cable car untuk menuju ke tambang garam. Tapi karena hujan, saya jadi malas. Mau naik ke atas bukit sedikit saja membuat saya takut terpeleset, membayangkan licin. Akhirnya saya tetap punya foto-foto dengan latar belakang yang misterius, penuh kabut haha, lumayanlah berbeda. Ketika meninggalkan Hallstatt, sempat berkata dalam hati, kalau ada kesempatan, rejeki, dan umur panjang, ingin kembali ke kota kecil ini. Mendatangi sudut yang belum sempat kami datangi, melihat danau dari atas bukit, dan mengunjungi tambang garamnya. Dan mudah-mudahan pada saat itu, cuacanya cerah.

Hallstatt
Hallstatt

-Nootdorp, 8 oktober 2017-

Aplikasi Visa Schengen (Dengan Tujuan Utama Belanda) : Tipe Visa Undangan

Pada tahun 2017 ini, saya berkesempatan mengurus dokumen-dokumen sebagai syarat pengajuan aplikasi Visa Schengen dengan tujuan awal (dan tujuan utama) Belanda dan tipe visa adalah undangan. Tidak tanggung-tanggung, dalam setahun dua kali saya mengundang anggota keluarga, yaitu Ibu dan Adik karena mereka datang dalam waktu yang berbeda. Selaku pihak sponsor adalah Suami. Saya ingin berbagi informasi tentang pengurusan Visa Schengen dengan tipe Visa Undangan untuk Ibu dan Adik dengan catatan yang perlu digaris bawahi adalah kondisi mereka berbeda sehingga ada beberapa dokumen yang berbeda saat pengajuan. Adik saya statusnya bekerja dan pengajuan tinggal selama 30 hari (diantaranya berlibur ke Belgia dan Perancis) sedangkan Ibu saya statusnya pensiun dan pengajuan tinggal selama 90 hari.

Catatan : Ada beberapa dokumen yang dalam bahasa Indonesia, harus diterjemahkan dulu dalam salah satu bahasa ini : Perancis, Inggris, Belanda, atau Spanyol. Ibu dan Adik memilih menerjemahkan dalam bahasa Inggris melalui penerjemah tersumpah yang ada di Surabaya.

Pengajuan Aplikasi Visa Schengen yang dilakukan oleh Ibu dan Adik melalui kantor VFS Global yang ada di Surabaya. Syaratnya sangat mudah dipenuhi, secara jelas bisa dilihat di website VFS Global

 

  • Dokumen Yang Diperlukan : Bisa diunduh di sini. Checklist for a Visa Application. Visit to a Family/Friends
  1. Menuliskan Nama (Sesuai nama yang tertera di paspor). Untuk pengajuan visa, yang menjadi acuan adalah data yang terdapat di paspor, termasuk nama. Ibu saya mempunyai nama berbeda antara KTP dan Paspor karena Paspor sebelumnya dipergunakan untuk naik haji, jadi ada penambahan nama keluarga. Sedangkan di KTP, hanya ada dua suku kata nama tanpa ada nama keluarga. Ini tidak menjadi masalah karena yang akan menjadi acuan adalah nama di paspor.
  2. Menuliskan Kewarganegaraan
  3. Mengisi secara lengkap dan menandatangani formulis aplikasi visa Schengen (bisa diunduh di sini)
  4. Menyertakan Paspor yang asli (yang masih mempunyai masa berlaku minimal 3 bulan dari tanggal saat meninggalkan Schengen area, masih terdapat dua halaman kosong), fotokopi dari halaman di paspor yang ada keterangan detail data pemegang paspor, fotokopi semua visa sebelumnya dan stempel keluar masuk ke suatu negara (Ibu saya tidak menyertakan karena paspor sebelumnya hilang. Adik juga tidak menyertakan karena ini adalah paspor pertama yang dimiliki), fotokopi informasi detail dari visa dan paspor sebelumnya yang dimiliki (Ibu dan Adik tidak menyertakan).
  5. Bukti tinggal di negara tempat mengajukan aplikasi visa. Sebenarnya dengan menggunakan paspor saja sudah cukup karena negara pengajuan aplikasi visa sama dengan negara tinggal. Tetapi Adik dan Ibu pada poin ini melampirkan KTP yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris
  6. Bukti Ijin Kerja. Adik melampirkan bukti surat keterangan kerja dari kantornya (dalam bahasa Inggris), sedangkan Ibu tidak karena statusnya pensiun.
  7. Pas Foto yang sesuai dengan ketentuan paspor Belanda dan pengambilan fotonya tidak boleh melebihi 6 bulan dari waktu pengajuan visa. Ketentuannya bisa dilihat di sini.
  8. Menuliskan rincian perjalanan sejumlah total hari yang diminta. Karena Adik dan Ibu tinggal di rumah kami, jadi tidak perlu menyertakan bukti reservasi hotel hanya menuliskan rencananya mau kemana dan apa yang akan dilakukan selama hari tinggal. Saya membuatkan untuk Adik detail per hari selama 30 hari. Tetapi untuk Ibu karena memang rencananya hanya akan tinggal di rumah, jadi rinciannya secara garis besar saja.
  9. Menyertakan bukti booking tiket pesawat. Ini masih booking ya, belum beli. Ibu dan Adik menggunakan booking melalui KLM karena prosesnya gampang, tanpa harus membayar, dan ada bukti yang dikirimkan ke email. Jadi bisa disertakan saat pengajuan visa.
  10. Melampirkan surat undangan dari pihak sponsor. Surat undangan ini harus ditandatangani oleh Gemeente (pemerintah setempat di mana pihak sponsor tinggal). Surat undangannya adalah berupa formulir bisa diunduh di siniJika pihak sponsornya punya partner, maka mereka berdua harus datang ke Gemeente untuk tanda tangan di depan petugas (jadi jangan ditandatangani dari rumah). Untuk datang ke Gemeente, harus membuat janji terlebih dahulu. Ada yang bisa melalui online pengurusannya (misalkan di Amsterdam). Jadi cek website masing-masing Gemeente tempat tinggal. Untuk mendapatkan tanda tangan di surat undangan, kita harus membayar. Besarannya bervariasi antara satu Gemeente dengan lainnya. Di tempat tinggal kami, membayar €10.5.
  11. Bukti Fotokopi surat kontrak kerja pihak sponsor yang berlaku sampai minimal 12 bulan dari waktu pengajuan visa.
  12. Bukti gaji pihak sponsor tiga bulan terakhir atau bukti sumber pendapatan lainnya. Karena sudah ada bukti gaji dari pihak sponsor (dalam hal ini, bukti gaji suami), maka Ibu dan Adik tidak perlu lagi menyertakan bukti keuangan yang ada di tabungan selama tiga bulan terakhir karena dalam formulir aplikasi akan dinyatakan bahwa semua yang berhubungan dengan pengeluaran selama di Belanda akan menjadi tanggungan pihak sponsor.
  13. Dokumen yang membuktikan pihak yang mengajukan aplikasi akan kembali ke negaranya setelah melakukan perjalanan. Untuk Adik, menyertakan surat keterangan kerja yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memang bekerja di sana dan SK kerja untuk memperkuat. Sedangkan untuk Ibu, menyertakan surat tanah atas nama Ibu yang membuktikan bahwa Ibu mempunyai properti di Indonesia. Surat-surat ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris.
  14. Pembelian asuransi perjalanan. Ibu dan Adik menggunakan asuransi perjalanan Smart Traveller dari AXASesuai persyaratan yang tertera di checklist, asuransi harus tertera nama pihak yang mengajukan aplikasi, valid selama masa perjalanan dan di area Schengen, serta minimal €30.000 penggantian jika ada perawatan di RS, keadaan darurat, jika terjadi kecacatan bahkan jika terjadi kematian. Pembelian asuransi AXA ini online dan semua dokumen asuransi dikirim via email.
  15. Visa, paspor atau dokumen perjalanan lainnya yang memperlihatkan ijin untuk masuk ke negara tujuan akhir setelah dari area Schengen. Ibu dan Adik tidak menggunakan ini karena memang tujuan akhirnya Belanda.
  16. Biaya Visa yang dibayarkan secara tunai dan langsung pada saat hari pengajuan semua dokumen. Total biayanya = €60 (biaya visa) + €25 (biaya jasa VFS). Pembayarannya dalam bentuk Rupiah dengan kurs yang sudah ditentukan oleh VFS. Bisa di cek di sini untuk memastikan total yang harus dibayarkan dalam Rupiah berapa.

Tambahan : Ini sebenarnya tidak tertera dalam checklist, tapi selalu saya tambahkan ke dalam setiap pengajuan aplikasi. Siapa tahu membuat kemungkinan mendapatkan visa semakin besar. Suami selalu membuat surat undangan pribadi yang ditandatangani, ditujukan kepada pihak yang mengajukan aplikasi yang berisi tentang tujuan mengundang, rencana selama tinggal, dan menyatakan bahwa semua pengeluaran akan menjadi tanggungan suami sebagai pihak sponsor, termasuk tiket pesawat PP. Satu surat undangan pribadi ini disertakan dalam dokumen-dokumen yang diajukan.

Semua dokumen-dokumen tersebut disusun berurutan untuk memudahkan petugas melakukan pengecekan dan diperbanyak satu kali (plus satu kali untuk dokumen pribadi jika memang diperlukan). Jadi dibawa dua bundel dokumen. Tetapi dari pengalaman Adik dan Ibu, yang diminta hanya yang asli saja sedangkan yang fotokopi dikembalikan.

 

  • Pembuatan Janji Temu

Pembuatan janji temu dilakukan online di sini. Pilih kantor VFS yang terdekat dengan tempat tinggal. Langkah-langkahnya sudah jelas tertera pada tautan tersebut. Kalau kantor VFS di Surabaya, jadwalnya tidak perlu mengantri terlalu lama. Untuk pengajuan visa, maksimal 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan yang diinginkan dan minimal 3 sampai 4 minggu sebelum waktu keberangkatan. Perlu diperhatikan juga untuk bulan-bulan liburan sehingga harus diantisipasi untuk membuat janji temu jauh hari guna menghindari antrian yang lama.

  • Pengambilan Data Biometrik

Sehubungan dengan adanya pengambilan data biometrik, maka pengajuan aplikasi visa harus datang sendiri tidak bisa diwakilkan, dengan membawa serta semua dokumen yang diperlukan. Kedatangan di kantor VFS tidak boleh lebih dari 15 menit dari waktu yang telah dipilih karena tidak akan bisa masuk ke ruangan dan menunggu di luar.

  • Waktu Proses Aplikasi

Jika merujuk yang tertera di website VFS, maka waktu proses aplikasi adalah 15 hari kerja. Tapi dari pengalaman Ibu dan Adik, dalam 5 hari kerja sudah ada berita yang dikirimkan lewat email kapan bisa mengambil paspornya atau bisa melacak status aplikasi di sini. Paspor bisa diambil sendiri atau bisa menggunakan jasa kurir yang disediakan oleh VFS dengan mengganti biaya kirim sesuai alamat pengiriman. Ibu menggunakan jasa kurir dengan membayar Rp 50.000 dan paspor langsung dikirim ke alamat yang sesuai tertera di paspor atau sesuai permintaan.

Ibu dan Adik mendapatkan lama tinggal sesuai dengan permintaan. Ibu mendapatkan lama tinggal selama 90 hari dengan tipe multiple entries, sedangkan Adik mendapatkan 30 hari juga multiple entries. Untuk tipe visa undangan sama dengan tipe visa turis, maksimal lama tinggal adalah 90 hari dalam periode waktu maksimal 180 hari. Bisa dilakukan perpanjangan, asal memenuhi syarat yang diajukan pemerintah Belanda. Ketentuannya bisa dilihat di sini pada bagian Further Application.

Dari pengalaman tiga kali mengurus visa Schengen ke Belanda dengan tipe undangan (satu kali untuk saya sendiri pada tahun 2014, meskipun saat itu melalui konsulat Belanda yang berada di Surabaya), jika semua dokumen yang diperlukan terpenuhi dan pihak sponsor juga bisa menyertakan bukti kuat dokumen yang diperlukan, maka kemungkinan untuk mendapatkan visa sangatlah besar. Apalagi sejak diambil alih oleh VFS sebagai pihak perantara dalam pengajuan aplikasi, jadi tidak ada lagi wawancara. Mereka hanya mengecek dokumen-dokumen tanpa bertanya secara detail. Berbeda ketika saya mengajukan melalui konsulat Belanda, wawancaranya sangatlah detail.

Begitulah informasi yang bisa saya bagikan sehubungan dengan pengajuan aplikasi visa Schengen dengan tujuan utama Belanda dan tipe visa adalah undangan. Semoga informasi ini bermanfaat.

-Nootdorp, 3 Oktober 2017-

Romantisme Venezia

Venezia

“Waktu kita ke Venezia, kamu kan sedang ngambek. Masalah apa ya kok kamu sampai marahnya luar biasa”

“Ehhmmm… Iya ya kenapa. Aku ingat waktu itu marah banget. Tapi aku ga ingat kenapa sampai kayak gitu”

Beberapa waktu lalu Suami tiba-tiba membuka pembicaraan tentang Venezia. Entah kenapa dia menjadi teringat sewaktu saya marah besar, bahkan sebelum kaki kami menginjak di Venezia. Sampai saat saya menulis ini pun, saya tidak ingat kenapa waktu itu marah dan ngambek ga karuan. Ya memang seperti itulah, hampir di setiap perjalanan yang kami lakukan, ada saja saat dimana saya tantrum tidak jelas. Ada yang ingat betul penyebabnya apa, ada yang tidak ingat. Kalau yang tidak ingat, biasanya ya seputar perut lapar atau saya sedang mengantuk dan capek haha. Akhirnya cranky ga jelas.

Karena pembahasan tentang Venezia tersebut, ingatan saya terlempar pada tanggal 13 Juli 2016, waktu kami ke sana, salah satu kota yang kami kunjungi ketika sedang melakukan perjalanan beberapa minggu di Italia. Suami sudah pernah ke Venezia beberapa puluh tahun sebelumnya, sedangkan saya tentu saja ini menjadi kali yang pertama.

 

Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Santa Maria Gloriosa dei Frari
Santa Maria Gloriosa dei Frari

Sudah banyak tulisan atau artikel yang saya baca tentang Venezia. Betapa romantisnya kota ini dengan gondolanya, jembatan kecil, grand canal, St. Mark’s Basilica dan masih banyak hal lainnya yang menambah daya tarik turis untuk menyaksikan secara langsung seperti apa Venezia. Satu hal yang selalu tersebut tentu saja adalah turis yang berjubel terutama pada musim panas. Saya kalau sudah membaca atau mendengar tentang suatu tempat dengan banyak turis, entah kenapa langsung keliyengan dulu. Males mengunjungi, tapi ingin. Kalau ke sana, takutnya jadi pusing. Tapi daripada penasaran kan ya, akhirnya memantapkan niat untuk ke Venezia. Kami sengaja datang pagi dari tempat menginap yang letaknya di kota lain tapi tidak jauh dari Venezia. Kami lalu membeli tiket kapal terusan yang bisa dipergunakan selama 24 jam (lupa harganya berapa), karena memang sudah niat akan menyusuri Venezia menggunakan kapal dan juga akan mampir ke beberapa tempat seperti Burano dan MuranoSelain untuk naik kapal, tiket yang kami beli ini juga termasuk tiket naik bis yang masih dalam jangkauan (tertera di tiketnya zona nya), jadi bisa kami gunakan untuk kembali ke penginapan.

Karena masih pagi, kami memutuskan untuk menyusuri gang-gang yang ada di sana. Lumayan seru lho menyusuri setiap gang yang ada, menyesatkan diri di dalamnya. Banyak sudut-sudut menarik yang bisa diabadikan maupun sebagai tempat berhenti sejenak dan memandang bangunan atau kapal kecil yang berlalu lalang. Setelah puas menyusuri gang, kami lalu menuju ke St. Mark’s Square dimana terdapat St. Mark’s Basilica yang terkenal. Untuk masuk ke dalam gereja ini tidak dipungut biaya, tetapi antriannya memang lumayan panjang dan berliku. Di dalam gereja pun kita tidak boleh memotret. Tapi dalamnya memang bagus sekali. Jadi kalau ke Venezia, saya sarankan untuk tidak melewatkan mengunjungi St. Mark’s Basilica.

Venezia
Venezia
St. Mark's Square, Venezia
St. Mark’s Square, Venezia
Venezia. Yang di depan itu antrian masuk ke St. Mark's Basilica
Venezia. Yang di depan itu antrian masuk ke St. Mark’s Basilica
St. Mark's Basilica
St. Mark’s Basilica

Setelah dari St. Mark’s Basilica, kami lalu berpindah ke tower yang ada di depannya untuk melihat Venezia dari atas. Untuk naik ke tower ini kita harus membayar (kalau tidak salah 8 euro) dan ke atas naik lift. Jadi tenang saja, tidak naik menggunakan tangga. Dari atas, kita disuguhi pemandangan Venizia yang tampak berbeda. Bangunan, air, dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Saya betah berlama-lama di atas tower ini. Rasanya kamera tidak pernah cukup untuk mengabadikan apa yang ada di depan mata dari sudut menara yang berbeda. Indah.

Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia

Saya pernah membaca atau mendengar, bahwa Venezia agak sedikit bau airnya jika musim panas. Untungnya pada saat itu, saya tidak mencium air yang berbau. Cuaca sangat terik ditambah lagi banyak turis, tetapi entah kenapa saya menikmati Venezia tanpa pusing sedikitpun melihat banyak orang di sana. Mungkin saya tersihir oleh pesona Venezia sehingga melupakan kebiasaan saya yang suka panik sendiri kalau melihat orang banyak yang berjubel. Kami sengaja tidak naik gondola, alasannya : mahal! Kami cukup terhibur melihat pasangan maupun keluarga yang banyak memilih untuk totalitas menikmati keromantisan Venezia dengan naik gondola.

Venezia
Venezia
Venezia. Gondola dan Rialto Bridge
Venezia. Gondola dan Rialto Bridge
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Sedih lihat sampah
Sedih lihat sampah
Venezia
Venezia

Kami kembali ke penginapan sekitar jam 8 malam. Langit masih cerah tapi badan kami mulai rontok dan mulai mengantuk. Usia memang tidak bisa bohong ya haha. Kesan kami, Venezia memang punya daya tarik yang luar biasa. Entahlah, kami bisa merasakan keromantisannya meskipun turis luar biasa banyaknya. Salah satu tempat yang membuat saya bisa berubah mood secepat kilat dari marah besar menjadi berbinar-binar sepanjang hari. Susah dijelaskan, tapi saat meninggalkan Venezia, hati saya menghangat membawa kenangan indah selama satu hari berada di sana.

-Nootdorp, 21 September 2017-

 

Pasar Raya Indonesia 2017 dan Cerita Lainnya

Pada tulisan kali ini, saya mau bercerita yang santai-santai saja (padahal tulisan-tulisan yang sebelumnya juga santai 😁). Ada beberapa hal yang akan saya dokumentasikan dalam bentuk cerita dan foto.

  • PASAR RAYA INDONESIA 2017

Setelah mengetahui kapan akan dilaksanakan Pasar Raya Indonesia 2017 (selanjutnya akan saya singkat jadi PRI) dan tempat pelaksanaannya, saya semangat luar biasa akan datang. Pada tanggal pelaksanaan, saya juga tidak ada acara lainnya. Jadi pas. Lalu saya woro-woro ke 3 teman saya lainnya yang tinggalnya jauh dari Den Haag. Mereka juga antusias. Tahun 2015 saya datang yang di Wassenaar, sedangkan tahun 2016 absen.

PRI dulu dikenal dengan nama Pesta Rakyat. Biasanya diadakan di luar ruangan di Wassenaar. Tapi kali ini, acara tahunan yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan kemerdekaan Indonesia dilaksanakan dalam ruangan di Rijswijk. Acara yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 15-17 September 2017 jam 10.00 – 20.00. Ada 35 stand makanan dan sekitar 5 stand produk Indonesia seperti batik dan penjualan pernak pernik lainnya. Tidak hanya itu, ada juga stand-stand lainnya dari pihak sponsor. Yang tidak kalah hebohnya juga suguhan hiburan dari panggung. Ada undian yang hadiah utamanya tiket Garuda Amsterdam-Jakarta. Ada poco-poco juga.

Saya, tentu saja, sangat bersemangat datang ke PRI terutama untuk urusan makan. Ketika daftar stand makanan apa saja yang akan ada di PRI sudah keluar, langsung lah saya menyusun ingin makan ini itu. Sengaja sebelum berangkat saya makan dulu, supaya tidak terlalu kalap. Pada kenyataannya ya tetap kalap semua ingin dibeli rasanya, terutama jajanan pasar. Selain ingin berburu makanan, yang tidak kalah menyenangkan juga, saya bisa bertemu 3 teman lainnya yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Jadi sekalian temu kangen dengan mereka. Bersyukur juga, para suami tidak ikut serta, jadi kami bisa sepuasnya di PRI. Hampir 5 jam kami di sana.

Di PRI ini saya juga bertemu dengan Crystal. Bertemu Crystal di acara-acara seperti ini sebenarnya biasa, karena memang beberapa kali kami bertemu di acara lainnya, selain memang karena tempat tinggal kami tidak terlalu berjauhan area. Tapi yang paling epic, menurut saya, adalah saat bertemu Anis. Dari sekian banyak orang, dari sekian banyak stand, bisa gitu ketemu Anis. Kalau jodoh memang ga kemana ya *loh 😅. Jadi pas saya lagi makan sambil jalan bawa piring, kepala saya kan menunduk jelasnya khusyuk ke piring. Lalu saya berbelok di sebelah stroller. Sekilas saya lihat bayi yang duduk di sana. Saya tetap berjalan sambil berpikir kayaknya pernah lihat bayi itu di mana ya. Karena penasaran, saya balik lagi ingin lihat lagi wajahnya. Lalu saya ingat ini kayaknya bayinya Anis (pernah lihat foto sekeluarga di blognya). Lalu dengan muka tembok, saya menyapa lelaki yang saya pikir pasti suaminya Anis. Saya bertanya apakah dia suaminya Anis (sok PD gitu nyapa-nyapa haha). Trus dia bilang iya. Saya lalu memperkenalkan diri dan bilang tahu Anis dari blog dan belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu saya nanya Anisnya di mana. Ternyata sedang antri Martabak haha. Saya cari Anis lalu dadah dari kejauhan. Untung dia mengenali saya. Kalau nggak, kan tengsin *penggunaan kata tengsin menunjukkan era haha. Lalu kami ngobrol tidak terlalu lama, dia antri martabak lagi, saya cari makanan lagi. Semoga kapan-kapan bisa ketemuan lagi ya, Anis 🙂 senang bisa ketemu!

Yummm Yummm!!
Yummm Yummm!!
Rujak Cingur. Juara!!
Rujak Cingur. Juara!!
Tak Lupa Berfoto Ria
Tak Lupa Berfoto Ria

Pulang dari PRI, hati senang dan perut kenyang. Tapi saya masih kepikiran lupis. Waktu mau beli lupis, mikir dulu. Ternyata kembali ke stand yang jual, eh lupisnya sudah habis. Duh menyesalnya bukan main. Saking kepikirannya, saya sampai mimpi makan lupis. Trus bangun tidur, saya bilang suami kalau hari minggu mau ke PRI lagi khusus beli lupis. Sorenya saya ke sana lagi, niat haha. Suami ikut, ingin lihat dia seperti apa PRI konsep baru ini. Akhirnya keturutan saya beli lupis dan juga rujak cingur. Duh rujak cingurnya enaakkk. Tombo kangen. Waktu antri beli rujak, saya lihat ada bungkusan daun seperti lontong. Saya PD gitu bilang kalau mau beli lontongnya. Trus dijawab sama Ibu yang ngulek rujaknya, “itu bukan lontong Mbak, nogosari.” Haha sudah keras ngomongnya, salah pula.

Itulah cerita tentang PRI 2017. Senang karena bisa makan yang sudah diinginkan sejak awal tahun tapi baru keturutan, yaitu masakan Manado, bisa bergembira bersama teman-teman, bisa makan Combro Misro, Lupis, Rujak Cingur, Es Garbis dll (saking banyaknya 😅). Semoga tahun depan bisa ke sini lagi.

Sampai Jumpa Tahun Depan
Sampai Jumpa Tahun Depan
  • SYUKURAN

Dua minggu lalu, kami mengadakan syukuran. Seperti biasa, kalau ada acara syukuran saya masak nasi kuning dan pendampingnya. Karena saya sudah ada mood untuk kembali berkarya di dapur, jadi saya bisa masak nasi kuning lumayan banyak porsinya untuk dibagi ke tetangga-tentangga, saudara-saudara, dan beberapa kolega suami di kantor. Nasi kuning yang kami makan, saya bentuk tumpeng kecil. Pendampingnya : mie goreng bakso sawi kol, empal gepuk, perkedel, oseng sayuran, sambel goreng tahu tempe, dan sambel bajak.

Siangnya kami antar ke para tetangga dan para saudara. Keesokan paginya, suami bawa 10 kotak ke kantornya. Karena acara bagi-bagi nasi kotak ini, dia bertemu dengan beberapa orang yang sebelumnya cuma say hello saja, dan ternyata beberapa orang itu istrinya orang Indonesia. Owalaahh orang Indonesia di mana-mana. Semoga berkah syukuran kami.

Tumpeng Syukuran
Tumpeng Syukuran
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
  • PANEN ANGGUR

Di kebun belakang rumah kami, ada tanaman pohon anggur. Awalnya kami pikir anggur hijau. Ternyata anggur merah. Lumayan banyak juga buahnya meskipun tidak bisa besar-besar seperti di Supermarket. Kami panen besar sebanyak 3 kali. Panen ke tiga saya tidak sempat foto, sekitar 5kg. Sampai sekarang buahnya masih ada yang di pohon, tapi kami biarkan saja, buat para burung. Kami bagikan anggur-anggur itu ke tetangga, Mama, dan saudara-saudara. Tahun depan kata suami ingin buat wine dari anggur-anggur ini. Sak karep Mas! Tetangga ada yang mengolah anggur-anggur ini jadi selai. Trus mereka kasih ke kami. Jadi ceritanya oleh mereka, dari kami, untuk kami 😃

Kencur, jahe, kunyit, laos yang beberapa bulan lalu iseng saya tancapkan di tanah, mulai menampakkan hasilnya. Tumbuh subur, tapi saya biarkan saja. Belum saya otak atik. Lumayan sekarang punya tumbuhan empon-empon di rumah. Jadi kalau butuh tinggal ambil. Daun kunyit juga lumayan kalau mau bikin rendang. Strawberry yang saya beli satu pot lalu saya tanam sekarang sudah menjalar ke mana-mana. Mudah-mudahan tahun depan berbuah banyak. Untuk cabe rawit dan tomat masih belum ada hasil. Tahun depan mau coba tanam Kangkung, bayam, kenikir (dapat bibitnya dari Ibu). Oh iya, kemangi kemaren juga lumayan banyak daunnya, Pok Choy juga lebat. Tahun depan niat ingin memperbanyak variasi tanaman. Tahun ini sebenarnya juga dimulai dengan bagus, saya menyemai banyak bibit, lalu tanaman-tanaman yang disemai mulai menunjukkan hasilnya lalu tidak saya rawat, akhirnya perlahan berguguran haha.

Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Selai Anggur buatan Tetangga
Selai Anggur buatan Tetangga
  • HUJAN DAN DINGIN MULAI DATANG

Sejak awal September, cuaca mulai berubah. Hujan hampir tiap hari dan mulai dingin. Pagi juga beberapa kali berkabut. Yang paling sebel memang hujannya (walaupun di sini sering hujan sih meskipun musim panas), membuat malas kalau harus berangkat kerja pagi buta naik sepeda. Tapi akhir-akhir ini saya sudah jarang naik sepeda jarak jauh kalau hujan. Apalagi beberapa waktu lalu ada angin kencang sekali di Belanda, baru beberapa ratus meter keluar rumah naik sepeda, berasa oleng mau jatuh. Akhirnya saya kembali lagi ke rumah taruh sepeda lalu pergi naik tram.

Nah karena sudah hawa sudah dingin, menu andalan yang berkuah kembali muncul di dapur. Lumayan buat menghangatkan badan. Ini sudah mulai merancang setiap akhir pekan mau masak berkuah apa ya. Sudah ingin makan lodeh, rawon, soto, sayur bening, dll. Mood masak pun sudah kembali, jadinya ya masak kesenangan kami tapi yang gampang-gampang saja. Yang sret sret jadi biar waktu tidak habis di dapur.


Sup Labu dan Perkedel Tahu
Sup Labu dan Perkedel Tahu
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!


Ala warteg
Ala warteg

Itulah beragam cerita gado-gado pada tulisan kali ini.

Selamat beraktivitas!

-Nootdorp, 19 September 2017-

Road Trip : Jerman – Ceko – Austria


Kami baru saja kembali dari liburan dengan menempuh perjalanan darat selama 10 hari. Rutenya adalah Jerman – Ceko – Austria. Liburan kali ini tidak seperti liburan musim panas sebelum-sebelumnya yang direncanakan dengan sangat matang. Liburan dengan rute ini sangatlah mendadak. Awalnya, jauh hari sebelumnya, kami merencanakan liburan musim panas selama 3 minggu di Portugal. Jadi rencana awalnya akan road trip di beberapa kota di Portugal selama 3 minggu. Saya sudah mencatat kota mana saja yang akan dikunjungi, mau menginap di mana, sampai ke info kuliner. Lalu tiba-tiba akhir Juli, suami memberitahukan kalau dia tidak bisa cuti lama dari kantornya karena ada project yang kejar tayang. Akhirnya liburan ke Portugal tinggal wacana dan kami tidak ada pembicaraan sama sekali tentang liburan pengganti. Sampai saya dan beberapa teman punya rencana untuk girls trip ke Jerman 2 hari. Eh ternyata rencana girls trip ini pun buyar di tengah jalan karena ketidaksesuaian jadwal satu dengan lainnya. Yah, mungkin memang saya harus tinggal di rumah untuk beres-beres beberapa hal termasuk satu kamar yang akan datang mebel pengisinya di bulan September.

Sampai pada minggu ke dua Agustus, tiba-tiba suami bilang kalau dia butuh liburan karena penat dengan pekerjaan. Lah piye wong iki. Tapi tetap, liburannya tidak bisa terlalu lama dan ke negara yang tidak terlalu jauh karena dia inginnya dari Belanda bisa ditempuh dengan naik mobil. Mas Ewald memang suka sekali road trip. Setelah didiskusikan, akhirnya terpilihlah Jerman, Ceko, dan Austria. Sebenarnya tujuan utamanya ke Ceko terutama Praha karena dia belum pernah ke kota ini (saya juga). Lalu Austria dan Jerman pun kami kunjungi sebagai tempat berhenti untuk beristirahat saat menuju dan kembali ke Belanda. Karena memang waktu diputuskannya mepet sekali (satu minggu)  sebelum berangkat, akhirnya saya menyusun rencana perjalanannya juga ngebut. Memutuskan di kota mana saja kami akan berhenti, kota mana saja yang akan dikunjungi, menginap di hotel atau Airbnb, dan tentu saja informasi kuliner. Satu hari cukup untuk saya menyusun itu semua, walaupun tidak dengan sangat detail. Minimal ada gambaran liburan kami akan bagaimana nantinya. Nah, saat di Salzburg, saya sudah berencana harus bertemu dengan Mbak Dian yang sebelumnya pernah kopdar pertama kali di BerlinSetelah menghubungi Mbak Dian, ternyata pada hari kami di Salzburg dia ada jadwal kerja, tetapi dia bisa menemui saya setelah selesai bekerja. Lalu saya teringat Nova, salah satu anggota #Mbakyurop #Uploadkompakan yang juga tinggal di Austria. Kalau dengan Nova, saya belum pernah ketemuan, makanya kalau waktunya cocok kami bisa ketemuan, ini akan jadi pertemuan pertama kami setelah sekitar 1 tahunan berada di grup whatsapp yang sama. Senangnya, Nova ternyata bisa ke Salzburg dari kota dia karena dia juga belum pernah ketemu dengan Mbak Dian. Asyiknyaa, liburan sekalian bisa kopdaran walaupun mungkin waktunya tidak akan lama.

Jadi, inilah rute perjalanan kami dengan kota-kota yang didatangi di setiap negara yang kami singgahi. Pada tulisan kali ini, saya akan memberi gambaran secara garis besarnya saja. Ditulisan terpisah, akan saya bahas masing-masing kotanya.

Rute
Rute

JERMAN

Jerman menjadi tempat pemberhentian kami saat akan menuju Ceko dari Belanda dan saat akan kembali ke Belanda dari Austria. Pada saat berangkat, kami menginap satu malam di Kassel dan pada saat kembali ke Belanda, kami menginap satu malam di Trier.

  • KASSEL

Awalnya sempat ragu apakah kami harus menginap di Kassel atau Gottingen. Tetapi suami lebih memilih untuk singgah di Kassel karena kotanya lebih menarik perhatiannya. Selain itu di Kassel ada acara Internasional yang bernama Dokumenta. Jadi Dokumenta ini adalah pameran seni berkelas Internasional. Yang dipamerkan semacam instalasi seni. Walaupun kami tidak mengunjungi secara khusus, tetapi kami bisa melihat beberapa karya seni yang ditaruh di luar gedung, seperti contohnya adalah pada foto di bawah ini. Bangunan di sebelah kiri, berbentuk seperti bangunan di Yunani namanya adalah Panthenon yang dibangun dari 25.000 buku-buku yang dilarang beredar pada jamannya. Disekitar Panthenon ini ada sekitar 20 orang petugas keamanan yang berjaga. Pengunjung bisa masuk dan melihat secara dekat buku-buku apa saja yang ada di sana.

Kassel
Kassel

Selain Dokumenta, di Kassel kami juga mengunjungi taman yang termasuk  UNESCO World Heritage Site, bernama Bergpark Wilhemshöehe yang didalamnya ada 3 bangunan bersejarah, satu diantaranya adalah kastil dan Hercules Monument. Kami naik ke Hercules Monument yang tingginya bikin ngos-ngosan ketika naik melalui tangganya. Saya hanya sanggup sampai 3/4 jalan, sedangkan suami sampai titik paling atas. Beberapa kali saya sempat mencari, siapa tahu ada cable car haha. Airbnb yang kami tinggali letaknya tidak jauh dari taman ini, hanya 5 menit berjalan kaki. Tetapi taman ini sangatlah luas. Kami mulai menjelajahi taman pukul 9 pagi, baru selesai sekitar pukul 2 sore, dengan berhenti-berhenti tentu saja.

Bergpark Wilhemshoehe
Bergpark Wilhemshoehe
Hercules Kastil - Kassel
Hercules Monument – Kassel
  • TRIER

Trier adalah kota paling tua di Jerman, letaknya berdekatan sekali sekali dengan perbatasan Luxembourg. Beberapa bangunan di Trier tercatat sebagai UNESCO World Heritage Site, salah satunya adalah Porta Nigra. Kami juga mengunjungi Amphiteater di sana. Pada masanya, Trier adalah menjadi kota perdagangan yang paling diperhitungkan dan penting. Trier berkaitan erat sekali dengan Romawi .

Palace Garden - Trier
Palace Garden – Trier
Porta Nigra - Trier
Porta Nigra – Trier
Amphiteater - Trier
Amphiteater – Trier

CEKO

Ada tiga kota yang kami datangi saat di Ceko yaitu Praha (tentu saja), Kutna Hora, dan Cesky Krumlov. Dibandingkan Belanda, harga-harga di Ceko lebih murah (terlebih makanan).

  • PRAHA

Siapa tidak kenal dengan kota yang terkenal romantis ini. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tahu tentang Praha. Yang pasti jauh sebelum film Surat Dari Praha. Entahlah, saya benar-benar tidak ingat. Tapi satu yang pasti, sudah sejak lama saya memendam keinginan untuk bisa mengunjungi kota ini. Ingin membuktikan sendiri hawa romantisnya seperti apa. Suami juga ternyata sejak lama ingin berkunjung ke Praha. Jadi pas sekali kalau kami ternyata akhirnya bisa sama-sama mengunjungi kota yang sudah lama kami ingin datangi. Hari itu, Praha sangat terik. Tetapi tidak menyurutkan langkah kami mengikuti free walking tour selama 3 jam menyusuri tempat-tempat bersejarah di Praha. Kami berjalan menyusuri Praha dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Badan rasanya rontok, tetapi hati senang. Tidak itu saja, kaki juga cenat-cenut. Belum semua tempat sempat kami kunjungi, mungkin ini pertanda kami akan kembali lagi lain waktu. Siapa tahu 🙂

Charles Bridge Praha
Charles Bridge Praha
Praha
Praha dilihat dari atas kastil
Praha
Praha
  • KUTNA HORA

Kota Kutna Hora terletak tidak jauh dari Praha, 1 jam berkendara atau sekitar 2.5 jam naik kendaraan umum. Kutna Hora terkenal dengan gereja yang didalamnya banyak tengkorak manusia, namanya adalah Sedlec Ossuary. Ini tengkorak manusia betulan. ada sekitar 40.000-70.000 tengkorak manusia di dalamnya. Selain gereja ini, ada beberapa bangunan yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Kutna Hora kotanya tidak terlalu ramai oleh turis, sangat berbeda jauh dibandingkan Praha. Kami menghabiskan waktu satu hari untuk berjalan disekitar Kutna Hora. Jika ingin menepi sejenak dari Praha yang ramai, Kutna Hora bisa dijadikan pilihan.

Sedlec Ossuary
Sedlec Ossuary
Kutna Hora
Kutna Hora
St. Barbara's Church Kutna Hora
St. Barbara’s Church Kutna Hora
  • CESKY KRUMLOV

Saya mengetahui Cesky Krumlov ini dari twitter. Ada artikel perjalanan yang membahas kota-kota yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Sejak saat itu, saya sudah membuat daftar bahwa kota ini akan menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi jika kami akan berlibur ke Ceko. Kebetulan juga perjalanan kami menuju Hallstatt melewati Cesky Krumlov. Kami menginap satu malam di sini. Airbnb yang kami sewa, hanya berjarak 5 menit jalan kaki ke kota tuanya dan kalau malam, kami bisa melihat megahnya kastil dari kamar. Sungguh romantis. Sayang waktu kami ke sana, cuaca sedang tidak begitu bagus, hujan satu hari. Jadi tidak tampaklah awan biru. Meskipun begitu, menjelajah kota tua Cesky Krumlov membuat kami seperti ditarik ke abad 14 dengan bangunannya yang apik juga letak kotanya yang seperti labirin. Terus terang sewaktu kami awal datang, rasanya seperti di Monschau di Jerman yang pernah kami kunjungi.

Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov

AUSTRIA

Sedangkan saat di Austria, kami singgah di Hallstatt dan Salzburg

  • HALLSTATT

Hampir saja Hallstatt tidak masuk dalam daftar yang kami kunjungi, sampai ada salah satu kenalan yang mengatakan kenapa tidak mampir sebentar di Hallstatt karena letaknya tidak terlalu jauh dari Salzburg, kota tujuan utama kami di Austria. Setelah saya lihat, rutenya memang tidak terlalu nyempal. Ternyata desa ini sudah lama saya lihat foto-fotonya yang indah jika saya sedang berselancar di dunia maya. Desa yang termasuk UNESCO World Heritage Site ini cukup unik karena seperti terperangkap diantara lembah dan terletak di pinggir danau yang sangat luas. Kali ini, kami tidak cukup beruntung menikmati awan biru di Hallstatt. Walaupun awalnya sempat kesal dengan hujan deras yang turun dan kabut pekat yang menyelimuti sehingga jarak pandang sangatlah terbatas, namun kemudian saya bersyukur bisa menikmati Hallstatt dengan keindahan yang berbeda. Seperti yang suami saya katakan pada saat itu, “Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Nikmati saja yang ada, sehingga kamu tidak akan lupa untuk bersyukur.” Saya jadi malu karena mengeluh di awal. Bersyukur saya berkesempatan ke Hallstatt dan menikmati keindahan desa ini dengan mata kepala sendiri dan menuliskan di blog ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
  • SALZBURG

Terus terang, yang mengusulkan untuk ke Salzburg adalah saya karena banyak cerita dan foto-foto indah yang Mbak Dian bagikan tentang kota ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Dan tentu saja, saya mengunjungi Salzburg karena ingin bertemu Mbak Dian yang tinggal di Salzburg dan akhirnya Nova pun bisa diajak ketemuan. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan dengan Airbnb di Salzburg yang menyebabkan kami memutuskan untuk pindah ke hotel di kota tua. Foto yang ditampilkan di Airbnb tidak seindah kenyataan. Akhirnya suami yang memang agak rewel masalah penginapan, memutuskan untuk pindah keesokan harinya. Beruntungnya kami mendapatkan harga yang tidak mahal di hotel ini dan letaknya yang strategis, persis di kota tua. Tentu saja yang tidak kalah menyenangkan adalah bisa kopdar dengan Mbak Dian dan Nova, selain menikmati keindahan Salzburg yang selama dua hari kami di sana diguyur hujan yang deras. Jika ingin melihat keindahan Salzburg dari lensa kamera Mbak Dian, bisa kunjungi IG nya di @dian_photo_journal atau jika ingin tahu tentang Nova, bisa dilihat IG nya di @inong_sam.

Nova dan Mbak Dian
Nova dan Mbak Dian

Pagi hari ketika kami meninggalkan Salzburg menuju Trier, matahari kembali bersinar terang. Suami sempat menggoda saya, “Gimana, apa harus kembali ke Hallstatt ini untuk bisa foto-foto dengan langit yang biru?” yang tentu saja saya sambut dengan cubitan kecil.

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg
Schloss Mirabell and Garden – Salzburg
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg
Salzburg. Ini favorit saya. Pretzel.

Itulah sekilas (yang ternyata panjang juga kalau dituliskan) rangkuman perjalanan liburan kami ke beberapa kota. Selama singgah di beberapa kota ini, seperti biasa saya juga selalu mengirimkan kartupos ke beberapa teman dekat dan juga beberapa blogger. Tunggu saja, siapa tahu  kartupos dari saya tiba-tiba muncul di rumah kalian 🙂

Oh ya, saya menerima beberapa email yang menyarankan (atau menanyakan) kenapa saya tidak membuat Vlog tentang keseharian saya (termasuk membuat Vlog tentang memasak) dan suami di Belanda maupun tentang cerita perjalanan kami. Saya sudah punya channel youtube sejak lama untuk mendokumentasikan beberapa hal, tetapi bukan khusus tentang Vlog. Untuk Vlog tentang keseharian, sudah pernah saya singgung di tulisan (entah yang mana) bahwa ada banyak hal yang lebih baik kami simpan dan bagikan di dunia nyata, bukan dunia maya karena menyangkut kenyamanan dan privasi. Lagipula percayalah, saya jauh lebih baik ketika membagikan cerita dalam bentuk tulisan dibandingkan membuat Vlog tentang keseharian. Dan untuk Vlog perjalanan, saya tidak cukup telaten mendokumentasikan secara apik perjalanan kami dan tergantung cuaca hati. Beberapa rekaman memang saya kirimkan ke Net CJ, lumayan kan mendapat imbalan uang. Tetapi untuk Vlog, kembali lagi, memang mungkin bukan bidang saya yang sangat menikmati dunia menulis. Terima kasih untuk saran-sarannya tentang Vlog.

Sekelumit dokumentasi visul dari suami

Selamat berakhir pekan!

Di atas monumen Hercules
Di atas monumen Hercules

-Nootdorp, 7 September 2017-

Cerita dibalik Paris yang Romantis

“Ke Paris yuk!”

“Kapan-kapan aja ya, kan dekat”

Di lain waktu

“Kamu kok ga tertarik ke Paris sih. Yang lain pada pengen ke Paris kamu malah gaya banget belum mau.”

“Takut aku, ntar aja ah kapan-kapan. Sekalian ke Disneyland nya.”

Bukan hanya sekali atau dua kali suami mengajak saya ke Paris. Jarak Belanda ke Paris tidak lah terlalu jauh. Dari tempat kami, sekitar 4.5 jam berkendara. Dia ingin sekali ke Paris karena ingin melihat keadaan di sana setelah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di Paris. Dia ingin mengamati beberapa hal di sana sekaligus bernostalgia yang entah beberapa tahun lalu terakhir ke Paris. Intinya dia ingin sekali ke Paris dengan saya.

Saya, justru kebalikannya, tidak merasa nyaman karena selain banyaknya kejadian yang meresahkan di Paris, juga mungkin karena saya banyak membaca berita-berita atau tulisan yang tidak menyenangkan tentang Paris. Dari penipuan, pencopetan, kumuh, banyak gelandangan, banyak pengemis, belum lagi tindakan kriminal lainnya. Semakin was was lah saya dan menjadikan Paris tempat yang nanti-saja-untuk-dikunjungi. Harus diakui bahwa saya termakan dengan pemberitaan tidak baik mengenai Paris. Padahal saya belum pernah ke sana, tapi entah kenapa ketakutan sudah hinggap terlebih dulu di otak saya. Melenyapkan ingatan pada masa remaja tentang kota Paris yang Romantis.

Cathédrale Notre-Dame de Paris
Cathédrale Notre-Dame de Paris

Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris
Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris 

Ketika Adik berlibur ke Belanda, dia tidak ada permintaan khusus ingin mengunjungi negara tertentu di sekitar Belanda. Suami lalu kembali dengan ide untuk mengunjungi Paris ditambahi dengan kata-kata, “mumpung Adik ada si sini, dia pasti senang sekali kalau diajak ke Paris.” Kali ini saya tidak bisa mengelak lagi. Saya pikir benar juga, selagi dia ada di Belanda, tidak ada salahnya kami ke Paris di akhir pekan. Rencana kami ini tentu saja disambut dengan wajah gembira dan penuh semangat oleh Adik. Saya mencoba meminggirkan segala pikiran buruk tentang kota ini dan mengingat kembali betapa Paris itu Romantis. Meskipun ya tidak sepenuhnya berhasil karena kecemasan tetap saja ada. Biasanya saya yang mengurusi tentang tempat menginap dan rencana perjalanan, tapi karena melihat saya agak malas-malasan, maka kali ini suami yang mengurus semuanya.

Pas sekali perjalanan kami ke Paris beberapa hari sebelum ulang tahun ke 3  perkawinan. Jadi saya pikir, hadiah untuk kami, ke tempat yang romantis. Nanti ada yang bisa diingat kalau kami ke Paris dalam rangka juga ulang tahun ke 3 perkawinan. Kurang romantis apa coba *dipas-pasin 😅

Kami berangkat Jumat pagi, karena sebelum ke Paris kami mampir dulu ke kota Leuven yang ada di Belgia. Selain istirahat sejenak menyetir juga dari hasil penelusuran di google, Leuven ini kotanya cantik. Singgah beberapa jam di Leuven, kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Sampai Paris sekitar jam 8 malam. Setelah menaruh barang-barang di kamar, (Adik mendapat kamar di lantai 1, kami di lantai 5 dan tidak ada lift nya pula. PR banget deh ini) kami makan malam di restoran sekitar hotel. Untungnya tidak jauh.

Menuju ke Louvre Museum
Menuju ke Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum

Keesokan pagi setelah sarapan, kami meninggalkan hotel sekitar jam 9 pagi. Saat sarapan, saya bertanya ke mas yang jaga tentang trik dan tips supaya tidak kecopetan. Masih lho saya cemas dicopet atau ditipu. Ya maklumlah, sewaktu di Jakarta saya pernah dua kali kecopetan dan itu membekas sampai sekarang. Jadi saya selalu punya rasa cemas yang berlebihan kalau di tempat yang ramai. Takut dicopet. Nah, mas yang jaga ini dengan penuh semangat memberikan tips supaya berhati-hati dengan barang bawaan kami. Misalkan, kalau selesai memfoto dengan Hp, lebih baik Hp segera disimpan lagi jangan ditenteng karena bisa diincar untuk dijambret, lalu kalau ada orang yang tiba-tiba menjatuhkan sesuatu jangan langsung diambil. Itu biasanya salah satu cara pengalihan perhatian karena komplotannya nanti yang akan beraksi mencopet. Sama juga kalau misalkan ada orang yang tiba-tiba datang sambil bawa peta, itu juga patut dicurigai jangan langsung percaya. Lebih baik menghindar saja. Dan ada beberapa tips lainnya tapi saya sekarang agak lupa apa. Karena mencoba berhati-hati juga saya sampai memperingatkan beberapa kali ke Adik yang membawa tas punggung untuk tidak usah bawa paspor, (bawa fotocopy saja) dompet ditinggal, tas diisi air saja dan camilan makanan, lalu kamera dicangklong di leher. Suami juga saya peringatkan beberapa kali untuk selalu menutup tasnya. Kebiasaan di Den Haag ya, santai aja gitu kalau tas terbuka. Saya mana bisa, selalu berungkali memastikan kalau tas tertutup dengan baik.

Kami naik metro menuju ke Notre-Dame dan membeli tiket yang paket satu hari. Sebelumnya, niat saya sebenarnya ingin ke toko buku Shakespeare and Company yang muncul di beberapa film salah satunya Before Sunset. Letak toko ini sebenarnya tidak jauh dari Notre-Dame. Tapi setelah turun dari metro, saya berubah pikiran. Lebih baik kali ini mengunjungi tempat-tempat yang ikonik dulu di Paris. Kalau kesempatan berkunjung ke Paris lagi, baru menjelajah ke tempat-tempat lainnya.

Kunjungan pertama kami ke Notre-Dame. Sesampainya di sana, sudah ramai sekali. Antrian untuk masuk katredal mengular dan berbelok-belok. Ternyata masuknya gratis. Meskipun antriannya panjang, tapi tidak terlalu lama menunggu. Saya semakin penasaran seperti apa di dalamnya. Kami mengantri bergantian antara saya, adik, dan suami. Jadi saya sesekali bisa duduk. Sesampai di dalam, saya tidak bisa berlama-lama karena rame sekali. Daripada pening, saya cepat-cepat keluar dan menunggu adik di luar bersama suami.

Setelah dari Notre-Dame kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Museum Louvre. Tempatnya tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan kaki ke Louvre di trotoar dipinggir sungai Seine, kami mampir-mampir melihat beberapa stan yang menjual kartupos atau barang antik lainnya. Saya tergerak untuk membeli beberapa kartupos dengan desain yang unik untuk dikirimkan ke beberapa teman dan untuk saya simpan sendiri. Senang deh memperhatikan stan-stan kecil di sepanjang trotoar menuju ke Louvre. Barang-barang yang mereka jual juga unik dan antik.

Sesampai di Louvre Museum, juga sudah ramai. Maklum, musim panas, musim liburan dan ini adalah Paris. Disetiap sudutnya pasti ramai. Saya terkesiap sesaat melihat bangunan kaca di depan saya, yang selama ini hanya saya lihat jika berselancar  di dunia maya. Megah, menarik, dan tentu saja ramai. Saya pernah membaca kalau untuk masuk ke museumnya, lebih baik membeli tiket secara online untuk memangkas antrian. Awalnya kami tidak ada rencana masuk ke museumnya. Tapi ya, suami pasti gatal lah ya kakinya sudah ada di area museum tapi tidak masuk. Akhirnya dia beli online tiketnya pada saat itu juga. Daya tarik terbesar museum ini adalah lukisan Mona Lisa. Tapi buat dia, yang namanya museum pasti semua isinya menarik. Kalau saya ya, langsung ke tempat yang paling jadi sorotan saja. Selebihnya mengamati seperlunya lalu duduk-duduk menunggu. Museum Louvre ini sangat besar. Butuh satu hari sepertinya untuk menjelajah semua ruangannya.

Awalnya saya tidak tertarik untuk mendekat karena melihat kerumunan yang berjubel. Tapi begitu melihat suami merangsek ke depan, jiwa kompetitif saya muncul, ikut masuk ke kerumunan haha. Lalu beberapa orang memberi saya akses untuk ke depan. Akhirnya saya benar-benar di depan persis lukisan Mona Lisa. Entah karena memang tersihir oleh senyumnya atau karena memang malas, saya tidak mengambil foto lukisan tersebut dari jarak dekat. Cukup saya simpan dalam memori otak kalau saya pernah sedekat itu. Ada lho yang niat sekali memoto menggunakan ipad segede gaban, pose sampai berkali-kali pula dan sampai pindah ke beberapa sudut.

Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀

Perjalanan selanjutnya menuju ke Arc de Triomphe. Saya mengusulkan untuk naik metro saja. Tapi suami bilang sayang kalau harus naik metro karena nanti kami akan melewati taman kalau ke sana sambil berjalan kaki. Masalahnya saya sangsi apa sanggup jalan kaki sejauh itu. Sepertinya sih dekat ya karena bangunannya nampak dari Louvre. Ya sudahlah, akhirnya kami berjalan kaki, dengan sesekali harus berhenti sejenak kalau saya sudah merasa capek, sambil makan crepes isi coklat 😅.

Sebelum sampai ke Arc de Triomphe, kami melewati Concorde. Di sekitar Concorde ini bagus-bagus bangunannya. Suasananya juga menyenangkan. Saya sempat bercerita ke suami sepanjang perjalanan kalau ada beberapa bangunan di Indonesia yang menyerupai bangunan-bangunan yang ada di LN. Contohnya di Kediri ada yang mirip Arc de Triomphe, di Bekasi ada yang mirip Louvre meskipun terbalik, bahkan saya beberapa waktu lalu membaca ada tempat wisata yang menyerupai Stonehenge. Saya juga tidak terlalu paham awal mula tempat-tempat tersebut ada.

Kami melewati area perbelanjaan dengan toko-toko segala merek terkenal. Nama areanya The Champs-Elysées. Sebenarnya area ini bukan hanya perbelanjaan saja sih karena ada restoran, hotel, cafe, cinema dan teater. Suami tiba-tiba nyelutuk, “ini semacam Malioboro kali ya kalau di Indonesia.” 😅 Lah, brand nya saja bedaaa Mas. Rame sekali di sini, kayaknya semua turis tumplek blek. Entah memang untuk berbelanja atau seperti kami, menuju ke Arc de Triomphe.

Akhirnya sampai juga ke Arc de Triomphe. Wah besar sekali ternyata. Megah. Sepertinya bisa naik karena saya melihat di atas banyak sekali orang. Tapi kami memutuskan untuk melanjutkan ke Eiffel. Kali ini naik metro karena untuk jalan kaki saya sudah tak sanggup haha. Sekalian menghemat tenaga juga.

Concorde
Concorde
Arc de Triomphe
Arc de Triomphe

Saya kok deg-degan ya selama di Metro menuju ke Menara Eiffel. Rasanya seperti mau ketemuan dengan seseorang yang ditaksir. Mungkin karena selama ini saya cuma melihat Eiffel dari berbagai media, tidak secara langsung, jadi begitu akan melihat secara nyata rasanya benar-benar membuat deg-degan.

Dan benar saja, semakin mendekati Eiffel, saya semakin antusias. Begitu sudah ada di bawahnya, duh rasanya girang sekali. Saya senyum-senyum terus, bahagia bukan main. Rasanya kayak, “ini beneran ya ada di Eiffel.” Haha norak ya, tidak masalah. Namanya juga gembira ya. Antrian untuk naik sangat mengular. Kami cuma lewat saja dan memilih mencari toilet untuk saya karena sudah menahan kencing. Kami sempat berpikir, di tempat yang ramai ini kenapa tidak nampak banyak polisi atau militer ya. Kalau misalkan ada kejadian trus bagaimana.

Eiffel sudah didepan mata, maka harus diabadikan dalam berbagai pose. Adik saya sampai bosen jadi tukang foto dadakan haha. Mumpung ya mumpung liburannya bertiga, jadi kami bisa punya banyak foto berdua.

Eiffel Tower
Eiffel Tower
Eiffel Tower jepretan suami
Eiffel Tower jepretan suami

Dari Eiffel, kami ke tempat selanjutnya yaitu Sacré-Coeur. Saya tidak naik sampai atas, sementara suami ke atas dan adik saya memilih duduk-duduk. Saya sendiri muter dari satu toko ke toko lainnya. Karena memang banyak sekali toko untuk membeli oleh-oleh di sini. Kenapa saya tidak ikut naik, karena sudah capek *lah tapi keliling toko masih kuat 😅

Sacré-Coeur
Sacré-Coeur
Stasiun Metro
Stasiun Metro dari twitter suami (@ewaldkegel)

Total satu hari kami berjalan kaki itu 24km. Saya tahu karena memakai jam tangan yang bisa menghitung langkah dan dalam km saat berjalan kaki. Pantas saja, ketika sampai penginapan jam 11 malam rasanya badan rontok, belum lagi harus naik ke lantai 5. Prestasi lah ini untuk saya saat ini, walaupun sering harus duduk sejenak kalau kecapaian dan ribet cari toilet berungkali karena beser.

Dan bagaimana tentang ketakutan saya akan hal-hal yang saya khawatirkan sebelumnya? Tidak terbukti meskipun memang perasaan was was itu terus bergelayut satu hari penuh. Hal ini yang membuat saya sangat awas dengan barang bawaan kami. Lebih baik awas daripada kehilangan.

Keesokan hari saat dalam perjalanan pulang, kami mendengarkan berita di radio. Ternyata sekitar jam 21.30 di Eiffel itu ada kejadian seorang lelaki membawa pisau menuju ke keramaian sambil bertakbir. Deg!!! Entah kenapa badan saya langsung lemes mendengar itu. Membayangkan kalau saya masih ada di sana, trus panik, dan saya tidak bisa berlari kencang. Padahal kami berencana akan tinggal lebih lama di sekitar Eiffel untuk melihat lampu di Eiffel, kan semakin romantis. Tapi karena saya ribet mencari toilet, akhirnya kami membatalkan untuk tinggal lebih lama di Eiffel. Saat kami pergi sekitar jam 19.30. Berarti dua jam sebelum kejadian. Alhamdulillah kami masih dilindungiNya. Memang tidak ada korban karena polisi langsung bergerak cepat. Tapi kalau saya masih ada di sana, aduh panik sekali! Dan ini jadi berita Internasional. Kalau penasaran, coba bisa dicari kejadian di Eiffel tanggal 5 Agustus 2017.

Terlepas dari Paris yang memang setelah saya buktikan sendiri ada tempat-tempat yang kumuh, ada banyak gelandangan, pengemis, kriminalitas, tapi setelah mengunjunginya, Paris tetaplah yang seperti bayangan saya saat masih usia remaja. Paris yang Romantis. Meskipun saya sepanjang hari waspada luar biasa saat berada di keramaian, tapi Paris tetaplah Indah, yang membuat saya mendadak jadi nempel terus ke suami sepanjang hari *biasanya nggak. Jika ada kesempatan dan waktu, saya ingin berkunjung kembali ke Paris. Mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu ramai, kembali merasakan Paris yang Romantis.


-Nootdorp, 20 Agustus 2017-

Kebiasaan Saat Makan

Meskipun saya bukan tipe orang yang terlalu rewel dalam urusan makan, tetapi kadang juga termasuk tipe pemilih. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar atau menjadi kebiasaan saat makan. Kebiasaan ini ada yang masih berlangsung sampai saat ini tapi juga ada yang perlahan bisa dihilangkan.

  • Kuah Pisah

Saya paling tidak bisa kalau makan yang berkuah terus dicampur dengan nasinya. Jadi, nasi harus dipisah dengan kuah. Tapi kalau kuah dimakan dengan lontong, masih bisa. Entah kenapa rasanya geli kalau makan yang berkuah ada nasinya. Melihat nasi mengambang atau ada di dalam kuah itu, entahlah rasanya tidak bisa dijelaskan. Geli lihatnya haha. Jadi saya tim kuah pisah dengan nasi :))))

  • Lebih Suka Makan Pakai Sendok

Meskipun dari kecil kebiasaan melihat Ibu dan hampir seluruh keluarga besar kalau makan pakai tangan (tidak menggunakan sendok) dan saya biasa disuapin dengan tidak menggunakan sendok, tetapi saya tumbuh besar mempunyai kebiasaan makan dengan menggunakan sendok. Pada dasarnya saya ini memang orang yang suka geli-an. Geli di sini maksudnya agak jijik an, jadi kalau makan tanpa menggunakan sendok, saya geli saat lihat tangan sendiri kotor. Duh, sok ratu banget ya saya haha. Tapi memang begitulah kenyataannya. Tetapi lama kelamaan akhirnya saya belajar supaya tidak geli sendiri, belajar makan tanpa menggunakan sendok. Sudah lumayan sering sih, meskipun frekuensinya ya tidak sangat sering. Minimal sudah bisa meredam ke-geli-an saya kalau lihat tangan kotor. Ngomong tentang kotor, saya juga paling tidak suka kalau hujan terus kaki saya kecipratan air hujan dari jalanan trus akhirnya kaki saya kotor. Pasti langsung saya bersihkan, tidak bisa berlama-lama. Saya lebih suka pakai sandal dibandingkan sepatu, tapi tidak suka kalau kaki kotor *rewel :))))

  • Durasi Makan Lama

Kalau yang ini, tidak diragukan lagi. Lamanya tidak ketulungan, sampai suami saya selalu geregetan kalau makan bareng. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini awalnya mungkin karena sejak kecil (sampai sekarang) makan selalu sambil baca buku. Jadi konsentrasi makan terpecah antara makan dan baca buku. Saya makan bisa lebih dari setengah jam. Makanya, saya paling benci kalau makan diburu-buru. Saya ingat sekali pernah membentak teman kuliah waktu makan bakso di kampus karena dia buru-buru mau masuk kelas. Dia sampai kaget saya bentak hanya perkara makan yang super pelan haha. Tapi sekarang saya mulai belajar makan dengan tempo yang lebih cepat. Mulai membiasakan makan tidak baca buku, tapi tetap saja agak lama karena makan sambil ngelamun haha. Saya dan adik-adik sama saja, kami makannya lama. Padahal Ibu Bapak kalau makan cepet. Selama adik di Belanda, suami suka ngeledekin, “siapa nih yang menang, makan terlama” 😅

  • Suka Makan Sayur Kecuali ….

Meskipun Ibu adalah wanita pekerja dan di rumah ada pembantu, tetapi untuk urusan makan Ibu selalu memasak sendiri untuk semuanya. Jadi Ibu selalu bangun sebelum adzan subuh lalu mulai menyiapkan semuanya untuk memasak dari memasak nasi, lauk pauk dan sayur. Jam setengah tujuh pagi, Ibu sudah berangkat mengajar. Satu yang tidak pernah absen adalah sayur hijau harus selalu ada di meja makan. Jadi semacam sayur rebus gitu atau lalapan mentah. Meskipun kadang Ibu membuat sop sayur, tetapi tetap disediakan sayuran hijau. Akhirnya saya terbiasa sejak kecil makan sayur atau lalapan. Semua sayuran saya suka, kecuali kacang panjang. Saya kalau melihat kacang panjang seperti melihat ulat haha. Entah kenapa imajinasinya seperti itu. Karenanya, sayuran seenak apapun, tidak akan saya sentuh kalau ada kacang panjangnya. Tidak ingat pasti sejak kapan saya akhirnya mulai bisa makan kacang panjang. Kalau lodeh dikasih campuran kacang panjang, saya akhirnya bisa makan. Meskipun masih agak PR kalau mau makan lalapan kacang panjang.

  • Nasi Dikepel

Saya di masa kecil tumbuh jadi anak yang biasa disuapin. Ya sampai umur sebelum masuk TK. Nah, saya paling suka kalau disuapi nasi yang dikepel dengan lauknya. Dan favorit saya adalah nasi hangat yang dikepel dengan perkedel. Semakin besar, bertambah lagi kesukaan saya makan nasi dikepel dengan kuning telur ditambah sambel buje cabbi (sambelnya orang Madura, cabe dengan garam saja). Sampai sekarang, kalau saya sedang malas makan, ya akhirnya makan nasi dikepel kalau tidak dengan perkedel ya dengan kuning telur pakai sambel cabe garam.

  • Tidak Suka Bubur, Kecuali ….

Jika banyak orang suka sekali dengan yang namanya bubur ayam, tidak demikian dengan saya. Bahkan jauh dari Indonesia seperti ini, tidak membuat saya menjadi orang yang ingin sekali makan bubur ayam. Biasa saja. Sebenarnya secara keseluruhan saya memang bukan penggemar bubur. Meskipun bukan penggemar bubur, tetapi ada satu jenis bubur yang saya suka yaitu Tajin Palappa. Ini bubur khas Madura. Wah kalau bubur ini, saya doyan sekali. Saya pernah menjelaskan tentang Tajin Palappa di tulisan yang ini.

Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/
Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/

  • Tidak Harus Pakai Kerupuk Dan Sambal

Saya punya teman, kalau makan harus ada kerupuk dan sambal. Tanpa dua pelengkap tersebut terutama kerupuk, dia tidak bisa mulai makan. Jadi harus ada kerupuk disetiap dia makan. Kata dia, bukan orang Indonesia kalau makan tidak ada kerupuknya. Wah, berarti saya bukan orang Indonesia donk ya haha karena bisa makan tanpa kerupuk. Saya kalau makan tidak terbiasa dengan kerupuk berbarengan dengan makanan utama. Jika tidak makan kerupuknya di awal, pasti di akhir. Kalau makan berbarengan gitu, agak ribet buat saya. Tapi paling enak kalau makan soto atau rawon, atau bakso, kerupuknya dicelup di kuah. Ehhmm, Lekker! Sambel pun tidak harus ada sekarang. Jadi makan tanpa sambel pun tak mengapa. Sama seperti saya sekarang tidak harus makan nasi. Tapi yang pasti sehari harus ada karbohidrat satu kali yang saya konsumsi.

  • Lebih Baik Asin Daripada Manis

Nah ini, masalah rasa. Walaupun saya Jawa tulen, tapi saya tidak terlalu suka makan yang rasanya manis. Jelas ini terpengaruh dari lingkungan tinggal karena saya dari Jawa Timur apalagi lingkungan saya tumbuh besar yang memang mayoritas orang Madura. Terbiasalah saya mengkonsumsi makanan asin dibanding makanan manis. Sampai saya membuat perumpamaan : bisa hidup tanpa gula tapi susah kalau tanpa garam. Saya tidak terlalu suka kue yang rasanya manis. Mending makan dadar jagung yang rasanya asin haha perbandingannya jomplang banget. Saya tidak terlalu suka makan trus dicampur kecap. Tapi kalau nasi hangat dikasih kecap makan dengan telor ceplok, wah itu susah ditolak :))) Saya ingat punya teman kuliah yang kemana-mana (di dalam tasnya) bawa kecap. Makanan apapun pasti dikecapin sama dia. Sampai pernah dia makan sayur asem dikecapin juga. Untung sewaktu makan rawon tidak dikecapin juga haha.

  • Makan Jangan Dicampur

Ini masih lanjutan dengan rasa geli. Saya tidak bisa makan kalau isinya diaduk atau dicampur-campur. Contohnya : kalau makan nasi padang, selain saya tidak suka kalau nasi diguyur kuahnya, saya juga tidak suka kalau semua nasinya diaduk dengan kuah atau sayuran lainnya (nangka atau rebusan daun singkong). Kalau dibungkus pun, sebisa mungkin saya minta dipisah antara nasi dan lauknya biar tidak bersatu *terpisah sesaat :))). Sama saja dengan makan bubur, tidak bisa kalau saat makan harus diaduk campur semua. Makan mie ayam juga begitu, mienya dimakan sendiri tidak dicampur dengan kuahnya. Mienya harus bebas kuah. Intinya makan tidak diaduk dan dicampur. Btw, disaat banyak orang mengidolakan nasi padang, saya malah biasa saja dengan nasi padang. Entah kenapa, mungkin karena bersantan ya dan ada kuah kentalnya (padahal ya bisa saja pesan menu lainnya) . Saya kalau beli di restoran padang pasti menunya sama : ikan bakar dan sambel hijau plus sayur daun singkong. Sudah itu saja, tidak tertarik dengan menu lainnya.

  • Tidak Bersuara

Sejak kecil diajari oleh Bapak kalau makan mulut harus tertutup, tidak boleh mengeluarkan bunyi apapun, tidak boleh bersendawa. Jadi sampai sekarang terbiasa makan tidak berbunyi. Makanya paling tidak suka mendengar orang makan yang berbunyi dan bersendawa. Padahal untuk hal ini, masing-masing tempat berbeda ya. Ada yang kalau bersendawa atau makan berbunyi artinya pujian kepada yang masak dan artinya masakannya enak. Walaupun tetap saja, telinga agak risih kalau dengar orang makan berbunyi dan bersendawa. Cuma ya ditahan-tahan saja, kalau ga kenal ya masak langsung nyolot :)))) kalau adik saya sih ya langsung saya tegur.

Duh, rewel sekali ya kebiasaan makan saya. Untung dapat suami yang tabah haha. Tapi kalau dalam keadaan yang kepepet sekali, entah kenapa saya jadi mendadak bisa fleksibel. Terutama kalau sedang jalan-jalan. Tingkat kerewelan dan keruwetan saya mendadak melorot levelnya, jadi santai.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini sebenarnya bukan tentang kebiasaan makan, tapi masih ada hubungannya dengan makan. Jadi kami sekeluarga bukan dari keluarga yang berkelebihan, cukupanlah. Tapi untuk makanan yang beli, sangat jarang sekali kalau tidak ada hari yang spesial misalkan ulang tahun atau ketika Bapak dan Ibu ada sedikit lebih rejeki. Nah, salah satu kesempatan untuk makan enak (beli di luar maksudnya) justru datang saat sakit. Jadi kalau ada anak-anaknya yang sakit, Bapak dan Ibu selalu bertanya, ” mau beli makan apa? sate atau soto ayam atau martabak atau mie goreng atau apa?” Sedangkan kalau dipikir-pikir, kalau sedang sakit kan mulut ga enak ya buat makan. Agak pahit gitu. Jadinya ya males ditawari untuk beli makanan diluar. Kenapa gak kalau pas lagi sehat aja ditawarinnya :)))

Kalau kalian, apa kebiasaan makan yang unik atau bahkan kadang mungkin berasa agak merepotkan untuk kalian sendiri atau orang sekitar?

Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)
Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)

-Nootdorp, 12 Agustus 2017-

Tiga Tahun

Tiga tahun berjalan sangat cepat. Menjelang tiga tahun pernikahan, hampir setiap hari kami membahasnya kalau tiga tahun yang kami lalui ini benar-benar tidak terasa. Dan kami suka membahas sambil cekikikan kalau diantara kami tuh sebenarnya banyak sekali perbedaan. Kalau dibuat daftar, banyak bedanya dibanding samanya.

Zaanse Schans
Zaanse Schans

 

– Yang satu tukang ngegombal setiap detik setiap saat, yang satu cuma senyum-senyum saja sambil lempeng bilang thank you.

– Yang satu selalu ribet nyari kunci (apapun) di pagi hari, yang satu selalu gemes ngelihatnya dan mengulang omongan kalo kunci musti ditaruh tempat yg disediakan setiap nyampe rumah.

– Yang satu suka banget pakai sepatu dan sandal di dalam rumah tapi nyeker kalau ke luar rumah, yg satu tukang ngomel dan kayak kaset rusak ngomong setiap masuk rumah alas kaki harus dicopot dan suka geli kalau kaki sendiri basah dan kotor jadi harus cepat-cepat dibersihkan.

– Yang satu suka banget makan kue yang manis-manis, yang satu suka banget makan camilan yang banyak micinnya meskipun setelahnya pasti sakit tenggorokan.

– Yang satu hobi banget naik kendaraan umum, yang satu ga bisa hidup tanpa ngayuh sepeda setiap hari.

– Yang satu suka banget nanya ini dimana itu ditaruh mana dan kalau nyari ga ketemu, yang satu entah kenapa kayak punya kekuatan bulan selalu menemukan yang dicari.

– Yang satu tukang beberes dan paling tidak bisa lihat rumah berantakan, yang satu bagian ngeberantakin dan selalu komentar “ini kan rumah bukan museum, jadi ga usahlah terlalu bersih”

– Yang satu sukanya makan tempe, yang satu doyannya makan tahu.

– Yang satu bisa ngunyah buah sampai 4 jenis berbeda setiap harinya, yang satu suka banget sama sayuran mentah.

– Yang satu suka sekali dengan sejarah dan ga suka matematika, yang satu hobi utak atik rumus matematika kayak kurang kerjaan dan ga terlalu mudeng dengan geografi dan sejarah.

– Yang satu jago dan rapi sekali kalau pasang seprei, yang satu mending nyetrika daripada masang seprei.

Kalau mau dijabarkan perbedaan yang ada, bisa lebih panjang dari novel-novel yang beredar di pasaran. Bagaimanapun juga, kami menjalankan pernikahan ini atas nama perbedaan dan bukan untuk menyamakan yang beda tapi mengharmonikan hal-hal yang tidak sama.

Satu yang pasti, banyak perubahan yang terjadi termasuk perasaan kami tidak lagi sama seperti tiga tahun lalu atau getaran itu tidak lagi sama seperti 3.5 tahun lalu saat pertama kali bertemu. Perasaan dan getaran yang ada semakin hari semakin menguat. Selalu ada pipi yang menghangat dan kupu-kupu yang beterbangan di perut saat ucapan tulus terlontarkan atau celutukan-celutukan manis walau cuma selewat. Kadang-kadang kalau lama tidak bertengkar, yang satu suka iseng cari gara-gara tapi kalau salah paham beneran ngambeknya susah hilang.

Bersyukur atas tiga tahun yang terlewati. Semua yang hadir dalam tiga tahun ini datang pada waktu yang tepat, tidak terlalu cepat pun tidak lambat. Perbedaan atau persamaan, bukanlah hal yang besar buat kami saat ini. Karena sejak awal, kami sama-sama yakin bahwa kami dipertemukan untuk bisa saling belajar dan menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Doa setiap tahun, semoga kami terus bersama dalam keadaan sehat dan bahagia, saling menguatkan dalam susah dan tidak takabur dalam senang, diberikan umur panjang yang barokah agar bisa saling beriringan berjalan dalam pernikahan sampai berpuluh tahun kemudian.

Di Leuven, Belgia
Di Leuven, Belgia
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅

-Nootdorp, 9 Agustus 2017-