Cerita Lebaran di Italia

Manarola - Cinque Terre

Semua orang pasti punya yang namanya pengalaman pertama, apapun kisah dan ragamnya. Pengalaman pertama ada yang meninggalkan kesan mendalam dan berkesan, ada yang terasa pahit, maupun ada yang merasa biasa saja dan tidak istimewa. Pada umumnya yang namanya pengalaman pertama itu susah dilupakan ya walaupun juga ada beberapa yang malah tidak sadar kalau yang sudah terjadi adalah hal yang pertama kali ada dalam hidupnya.

Banyak hal dalam hidup saya yang berkaitan dengan pengalaman pertama yang berkesan sehingga susah untuk dilupakan. Kesan yang membekas disini biasanya kalau yang tidak pahit sekali ya bahagia sekali. Yang akan saya ceritakan kali ini adalah pengalaman pertama yang mempunyai kesan mendalam karena perasaan sedih yang menyelimuti.

Sejak awal tahun 2016, suami sudah bertanya kepada saya apakah kami ada rencana pulang ke Indonesia saat lebaran. Saya tegaskan, tidak. Selama ini suami mengatakan berkali-kali kalau dia rindu dengan Indonesia, rindu masakan ibu dan bude, rindu suasana desa di Ambulu. Intinya dia yang paling punya keinginan kuat untuk ke Indonesia dibanding saya. Bahkan pada akhir 2015 lalu dia sudah berencana akan membeli tiket ke Indonesia, sendiri, tanpa saya, saking sudah kangen dengan Indonesia. Namun rencana itu tidak berjalan lancar, ada satu hal yang harus kami lakukan pada akhir tahun di Belanda sehingga keinginannya untuk ke Indonesia harus tertunda.

Ketika mengetahui bahwa saya tidak ingin pulang saat lebaran 2016, dia bertanya apakah saya tidak rindu berlebaran dengan keluarga besar di sana? Tentu saja saya rindu. Tetapi saya pernah berjanji dengan diri sendiri bahwa jika tidak ada sesuatu yang penting sekali, paling tidak setelah dua atau tiga tahun saya baru akan pulang. Saya melakukan itu supaya proses adaptasi saya di Belanda tidak porak poranda ditengah jalan. Jauh dari keluarga di Indonesia itu butuh kekuatan dan keteguhan hati supaya kerasan tinggal di negara yang baru. Saya tidak pernah tinggal terpisah sejauh ini dari keluarga di Indonesia, apalagi untuk waktu yang tidak tahu berapa lama akan menetap di sini. Karenanya, jika hati dan pikiran tidak dibiasakan dengan lingkungan yang baru, takutnya perasaan ingin pulang dan rindu rumah di Indonesia itu akan selalu bergelayut.

Setelah yakin lebaran ini kami tidak akan pulang ke Indonesia, suami mengusulkan untuk pergi liburan sekitar bulan Juli, sekaligus merayakan ulangtahunnya. Karena dia yang berulangtahun, dia juga yang memutuskan kami akan pergi kemana. Italia, pada akhirnya adalah negara yang akan kami tuju (untuk cerita road trip kami di Italia akan saya tulis terpisah). Singkat cerita, saat lebaran, kami sedang berada di Italia.

Jauh sebelum Ramadan, saat saya sedang menyusun rencana perjalanan dan mengotak atik kota-kota di Italia yang akan kami kunjungi, sekiranya ada tempat yang menyelenggarakan sholat Idulfitri bersama. Setelah bertanya kesana kesini, mencari informasi di internet, saya tidak menemukan informasi yang akurat apakah ada yang menyelenggarakan sholat idulfitri di Le Spezia, kota yang akan kami kunjungi bertepatan tanggal 6 Juli 2016, hari dimana dilaksanakan sholat idulfitri berdasarkan dari surat edaran dari KBRI di Den Haag. Karena informasi tentang sholat tidak juga saya temukan, dan dari hasil bertanya, diperbolehkan jika sholat idulfitri tidak berjamaah.

Berdasarkan niat baik untuk tetap melaksanakan sholat idulfitri, meskipun tidak dalam kondisi yang ideal, akhirnya pertama kali dalam hidup, saya merasakan yang namanya sholat idulfitri tidak berjamaah rama-rame di masjid. Rasanya campur aduk, antara sedih, nelongso, dan membesarkan hati mencoba untuk tetap berusaha baik-baik saja. Kalau tahun kemarin lebaran saya rayakan di Belanda, sholat idulfitri di masjid Indonesia, bertemu dengan banyak orang Indonesia, dapat undangan makan di salah satu restoran padang, bahkan kami juga pergi ke acara silaturrahmi yang diadakan oleh KBRI, makan segala macam masakan khas lebaran. Lebaran tahun ini sangatlah berbeda.

Lebaran petakilan diantara kebun anggur di atas gunung
Lebaran petakilan diantara kebun anggur di atas gunung

Setelah saya selesai menunaikan sholat idulfitri, kami bergegas menuju Cinque Terre. Kalau tahun lalu lebarannya masih terasa, tidak berbeda jauh dengan ketika di Indonesia, kecuali bagian tidak merayakan dengan keluarga besar. Maka tahun 2016 ini lebarannya juga terasa, terasa liburan maksudnya :D. Hari pertama saya masih belum menelepon Ibu. Ketika kami sedang istirahat diantara rute mendaki gunung (atau bukit ya namanya karena tidak setinggi gunung tapi juga tidak sependek bukit) yang melintasi 5 desa, suami bilang kalau saya nampak sedih. Ya saya bilang kalau saya sedih dan kangen Ibu. Tapi rasa sedih itu saya buang jauh-jauh, kami kan sedang lliburan, jadi harus dinikmati secara maksimal. Cinque Terre panasnya maksimal, sampai 39 derajat, mirip lah sama panas di Indonesia (Surabaya maksudnya). Kami sangat menikmati trekking selama 6 jam sampai desa ke 4, cuaca panas tidak terlalu terasa karena keindahan dari atas melihat birunya langit dan laut seperti hampir menyatu (cerita lengkap tentang Cinque Terre akan saya tulis terpisah).

Corniglia
Corniglia
Berlebaran di atas gunung
Berlebaran di atas tebing
Varnazza
Varnazza

Jika hidangan lebaran pada umumnya adalah segala macam yang bersantan khas masing-masing keluarga, maka hidangan lebaran kami berbeda. Spaghetti, Gelatto dan satu lagi saya lupa namanya seperti lasagna tapi isinya ikan yang tertulis di menu adalah makanan lokal Cinque Terre. Enak semua rasanya.

Spaghetti
Spaghetti

image6

Gelato di Conerilia
Gelato di Corniglia

Sambil menunggu senja, kami naik ke atas bukit dekat kebun anggur. Kami duduk di atas batu besar. Diam dan hening, tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Hanya sesekali terdengar suara dari kamera ketika saya mencoba mengabadikan lukisan alam atau suara burung yang sedang melintasi kami. Suami tahu bahwa saya tidak terlalu ingin berbicara banyak. Dia tahu bahwa saya mencoba menyembunyikan kesedihan dengan mencoba ceria seperti tidak terjadi apa-apa. Dia tahu bahwa dalam hati terdalam saya rindu dengan Ibu dan keluarga di Indonesia. Ketika senja datang, air mata saya perlahan tumpah. Saya teringat almarhum Bapak. Sudah empat lebaran saya lalui tanpa Bapak dan kerinduan itu tidak pernah kering sampai sekarang, sampai kapanpun. Rindu yang teramat sangat tetapi saya tidak bisa lagi berbicara langsung. Hanya lewat doa saya bisa menuntaskan rindu kepada Bapak. Saya memandang senja dalam dekapan Mas Ewald, mencoba menyapu buliran air mata yang tetap menetes.

Menunggu senja di atas bukit diantara tanaman anggur di Manarola.
Menunggu senja di atas bukit diantara tanaman anggur di Manarola.

image5

Belajar dari pengalaman tahun lalu, karena perbedaan waktu dan ketika hari pertama lebaran Ibu sibuk silaturahmi dengan seluruh keluarga di Ambulu dan setelahnya kecapaian, maka saya memutuskan tahun ini menelepon ibu saat lebaran hari kedua. Sebelum berangkat ke Pisa, kami menelepon Ibu, Adik, dan Bude. Pagi itu, acara menelepon menjadi terasa lebih emosional. Ibu mengatakan kalau beliau sangat kangen pada saya dan Mas Ewald. Bude mengatakan kalau beliau selalu teringat saya menjelang lebaran disaat acara masak besar karena saya selalu semangat membantu beliau untuk menyiapkan hidangan lebaran. Adik saya juga mengatakan kalau dia kangen. Saya mencoba menyembunyikan rasa sedih dengan tidak menangis di telepon. Setelah telepon ditutup, ada perasaan kosong dalam hati. Entah, waktu itu saya tidak bisa menjelaskan rasanya seperti apa. Hanya kosong.

Ketika kami di Pisa
Ketika kami di Pisa

Setelah dari Pisa, kami menuju ke kota selanjutnya yaitu San Gimignano. Kami menginap di rumah yang letaknya di tengah perkebunan anggur dan pohon zaitun. Suasananya sunyi, terdengar banyak sekali burung berkicau. Lebaran hari kedua masih terasa muram untuk saya. Tetapi sekali lagi saya ingat bahwa kami sedang liburan. Saya mencoba mengalihkan kesedihan dengan menikmati suasana kota kecil ini. Setelah makan malam, kami kembali ke penginapan. Selesai sholat, tiba-tiba saya menangis lagi. Kali ini bukan tangis kesedihan. Entah kenapa saya seperti diingatkan akan sesuatu. Harusnya saya bersyukur di hari yang fitri ini saya masih mempunyai keluarga yang menyayangi, masih ada orang-orang terkasih yang selalu merindukan dan saya rindukan. Bersyukur meskipun jauh di tanah rantau tapi saya masih bisa mendengarkan suara Ibu, Adik dan Bude. Bersyukur bahwa saya mempunyai alasan menabung rindu agar bisa segera bertemu Ibu. Bersyukur bahwa ada banyak hal yang saya rindukan dari keluarga di Indonesia. Baik dan buruknya mereka, tidak ada satupun yang bisa menggantikan kasih sayang mereka pada saya begitu juga sebaliknya. Bersyukur bahwa apapun yang telah terjadi, terjadi dan akan terjadi, mereka adalah alasan terbesar saya untuk selalu merindukan Indonesia sebagai rumah saya. Keluarga tidak akan pernah tergantikan. Maka bersyukurlah bagi mereka yang masih bisa merasakan dan selalu mengusahakan untuk merayakan lebaran ditengah kebersamaan bersama keluarga besar.

Pemandangan dari dalam kamar
Pemandangan dari dalam kamar

image12

Dan satu hal, bersyukur meskipun jauh dari keluarga, ada satu orang yang selalu ada di samping saya, seorang suami yang mencintai saya sepenuh hati dalam keadaan terbaik maupun terburuk. Bersyukur bahwa dia tidak pernah bosan mendengarkan segala celoteh, tangisan, bercanda tidak mutu maupun segala cerita setiap waktu. Bersyukur bahwa dia selalu ada untuk saya, mendukung setiap langkah yang saya ambil untuk kebaikan. Apa yang saya putuskan untuk merantau jauh dari keluarga adalah keputusan saya sendiri. Jadi meskipun kesedihan terkadang datang menghampiri seharusnya saya tidak perlu terlalu larut didalamnya karena ada berjuta rasa syukur yang bisa saya ucapkan. Bersyukur saya bisa tersenyum dan tidak perlu banyak alasan untuk bahagia, karena dengan berucap syukur akan selalu mendatangkan kebahagiaan. Bersyukur bahwa saya bersama orang yang saya sayangi.

Dan malam itu, pada lebaran kedua, setelah saya puas menumpahkan segala tangisan syukur diatas sajadah, dia menghampiri saya dan berkata “pulanglah, temui keluargamu, kalau itu bisa membuat hatimu lebih tenang.”

-21 Juli 2016-

What about this ‘Brexit’?

2830693144001_4767057871001_shutterstock-374884033

As you will have noticed news about the ‘Brexit’ (an acronym of Britain and exit) has been flooding the (social) media since the result of the referendum became clear and more or less surprisingly a majority of the British population voted for a ‘leave’. As Deny asked me about this, we discussed it might be a good idea to give some informations about the background, motives and consequences of the Brexit. It might contribute to understanding the current situation in Europe.

As a consequence of the Second World War large parts of Europe were in shambles and this war caused an extremely high number of casualties. Among them were millions of innocent civilians killed in bombardments of the European cities or in concentration camps. After the war there was a sentiment that a repetition of such events should be prevented at all cost. The most obvious way to prevent these events should be accomplished by an intensive collaboration between the countries of Europe, so the urge to go to war to settle conflicts would faint. This was actually easier said then done, because right after the war Europe became divided into two large spheres of influences: the capitalist Western-Europe with countries liberated by the Allied forces (mostly Americans, Canadians and English) and a communist Eastern-Europe with countries liberated by the Soviet-Union (nowadays Russia). In this image you can see which countries belonged to which side. Germany and its capital Berlin were split in two: one side controlled by the Allied forces and one side by the Soviet-Union.

Unit11_map_Cold_War_Europe_1
Europe divided between East and West after World War II Source: fasttrackingteaching.com

This divide meant that in the West and East separate initiatives were taken to come to a more intensive collaboration. In the 1950s Western-Europe made progress with collaboration on economical matters like abolishing import duties between its member states. The group of collaborating countries was gradually expanded and among those new countries was the United Kingdom joining in 1973. The collaboration between the United Kingdom and the other members would however always remain stressful, mainly because the United Kingdom objected the height of their contribution to the collaborative efforts.

In the 1990s important events happened for the collaborative efforts of the European countries. One was among the collaborating countries from Western-Europe itself. Besides the economic aspect there was an urge to pursue a tighter social and political integration between the countries. The collaborative effort would now take place within the European Union (EU), the official name since 1992. Border controls would be largely removed (the Schengen treaty) and political institutions like the parliament that already had been established since the 1970s would become more influential. The European Union would design its own laws on a number of subjects and these laws would prevail over national laws of the individual member countries. Brussels would become the center were the main political institutions of the European Union were established. This centralization of power led to a sharp increase of people who would be working for the European Union. For many politicians from the individual member states a career in Brussels would become the highest fulfilment of their political ambitions and lucrative from a financial perspective (high salary and many other benefits).

Another important development in Europe was the implosion of the Soviet-Union. This implosion would lead to the disappearance of the Eastern sphere of influence. The reunification of Germany and independence for a big number of countries that previously had been occupied by the Soviet-Union came out as a result of these developments. Many of these countries would eventually join the European Union. By 2016 the European Union already consisted of 28 countries as can be seen in this image.

EU Map
The 28 members of the European Union. Source: BBC

Without any doubt one of the biggest achievement of the European collaboration was the introduction of the Euro in 2002. This would mean that participating countries would give up their national currencies (for example Germany its Mark, Netherlands its gulden, Frankrijk its franc, Italy its lire). You could now use the same Euro currency in large parts of Europe. The United Kingdom did not join the Euro project and kept its own currency, the pound sterling.

Despite these great advancements and achievements over time it became obvious that the European Union also had its darker side. The expansion with so many new countries led to an imbalance within the European Union. In the Northern part there were countries like Germany and Netherlands with an abundant economical growth that paid ever increasing contributions to the Union and in the Southern and Eastern part of the EU there were countries that would become heavily relying on the contribution of their wealthy neighbors but did not achieve the same kind of economic growth and prospect.

The most striking example of the financial trouble developed in Greece. The Greeks joined the EU and the Euro on base of manipulated figures considering their economic position and prospects. A big disadvantage of one currency for members with economies of different strengths now became apparent. In the past a nation could devaluate their currency to give its local economy a push, but now there was no other way than the rich countries handing over large amounts of money to support a weaker member nation. This would ultimately lead to disproportional financial support from the Northern countries, almost bringing the Euro currency to its knees. It would lead to a very negative impact on the public opinion within the northern EU countries (‘Why do we pay so much and will we ever benefit from these payments?’ many citizens started to ask). In this image you see how the money flows within the European Union and which countries are net contributors or net receivers.

Net contributors versus net receivers. Source: BBC

 

The situation in Greece spiralled almost out of control and the term Grexit was circulating: the Greeks could be forced to leave the European Union and be expelled from the Euro currency. This Grexit however until today never became a reality. The Greek government complied to a package of severe economic measures from the European Union (and other sponsors like the IMF).

Another development for the European Union was that the public opinion became very negative because of many reports in the press about the undemocratic, uncontrollable and incompetent way that many of the institutions worked. Where should the EU project stop? Would ultimately the individuality of nations disappear and would a United States of Europe (like the USA) become the result of the collaborative efforts?
Stories in the media started to appear about ongoing financial fraud and money waisting. A famous example of money waisting  is a deal between Germany and France implicating that the parliament is some days in the month residing in Strasbourg and on other days in Brussels. This means that an enormous transport of people, documents and belongings is taking place a few times per month.

 

If these developments were not bad enough already in the 2010s it became clear that the European Union was confronted with a new and immense problem to which it never could develop a clear and united answer. A wave of mass immigration started, first people travelling from Africa to Italy and Spain by boat, but in 2015 a new route started to cause even bigger challenges to the EU member states. Through Turkey immigrants from Syria, Afghanistan, Iraq, Iran and as far as Pakistan and Eritrea travelled from Turkey to Greece (only a small boat trip) and from there travelled further, mainly to the richer countries in the European Union. These events led to big irritation and quarrelling between the EU members on how to cope with handling these migrants and refugees.

In the United Kingdom it was president David Cameron who promised its citizens that they could express their opinion through a referendum if the United Kingdom should remain a member of the European Union or it should opt for an independent course and leave the EU. We all know since June 23th that the people from the United Kingdom have opted to leave the European Union. As soon as the result of the referendum became clear the impact was widely felt. A period of uncertainties is now starting: how will the leave of the United Kingdom take place? What are the economic implications? Will this mean the European Union might collapse because other member states also want to leave?

These uncertainties are already reflected in the economical developments: the stock markets worldwide collapsed after the result of the referendum and there is doubt if the United Kingdom can be the same strong economy outside of the EU as within the EU. London is one of the most important financial markets and there is a fear that many institutions might relocate to cities like Frankfurt and Amsterdam. There is some awareness arising within the European Union that its institutions should be reformed in order to give a solid impression to the populations of the member states or there could be a real risk other countries leave the EU.
And if big other net contributors like France or the Netherlands would leave the whole system could collapse, just like the Soviet Union did in the late 1980s. Because the European Union is such a bureaucratic and inert system it remains to be seen that it can adequately and timely react to the events that are taking place now. Looking at the inability to respond to the immigrant crisis the chances for swift and affirmative action to keep the current EU stay afloat do not stem too hopeful.

What will happen to the United Kingdom and London needs to be seen. There are countries in Europe that never joined the EU, like Switzerland and still have a strong economy and its citizens living prosperous lives. So in the long run the United Kingdom and London could be fine and find a new and reinvented place within Europe and the world. The real issue for the EU becomes to reform and show that it has serious and beneficial future perspective for all its members. If not then other countries might follow the example of the United Kingdom.

-Den Haag, June 25th 2016-

Bagi-bagi Kartu Pos – Dua Tahun Ngeblog

Salah satu benda yang wajib saya beli ketika bepergian adalah kartu pos ditambah perangko kalau bepergiannya ke luar negeri. Saya membeli kartu pos di setiap kota yang dikunjungi, jadi bukan hanya setiap negara saja. Membeli kartu pos dan menyimpan sebagai kenang-kenangan itu rasanya menyenangkan karena selain harganya murah juga tidak membutuhkan tempat yang luas, praktis. Jika sedang baik hati kepada diri sendiri, saya bisa membeli barang lainnya misalkan tatakan gelas, hiasan, ataupun buku seperti yang saya pernah ceritakan disini. Terkadang saya juga mengirimkan kartu pos kepada diri sendiri dari tempat yang saya kunjungi. Rasanya menyenangkan menerima kartu pos dari diri sendiri ketika sudah sampai rumah. Terdengar agak aneh ya, tapi memang menyenangkan. Coba deh 🙂

Kartu pos yang saya beli, selain untuk koleksi pribadi juga beberapa saya kirimkan kepada teman-teman dekat (seperti yang saya lakukan saat road trip ke Perancis 3 bulan lalu), kenalan dari Instagram dan Mamarantau, serta beberapa blogger baik itu dari Indonesia, Asia, seputaran Eropa, Amerika, Australia, dan NZ. Meskipun banyak diantara mereka saya belum pernah bertemu secara langsung, terutama blogger dan kenalan dari Instagram, tetapi karena sudah ada interaksi sebelumnya di media sosial, jadinya seperti mengirimkan kepada seseorang yang sudah saya kenal meskipun belum pernah bertemu.

Dibawah ini adalah beberapa kartu pos yang saya dapatkan dan sempat saya abadikan. Beberapa tidak saya foto, sudah saya simpan dengan rapi.

BAGI-BAGI KARTU POS

Blog kami sekitaran bulan-bulan ini (tidak tahu pasti tepatnya kapan) sudah berusia dua tahun. Pengalaman satu tahun ngeblog pernah saya tuliskan disini tahun kemarin. Selama dua tahun menulis blog, pengalamannya tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin hanya saja kami merasakan semakin banyak manfaat yang kami dapat. Oh iya, kalau masih ada yang belum tahu, blog ini memang yang mengisi dua orang yaitu saya dan suami. Meskipun suami hanya sesekali saja menulis di sini dan sebagian besar yang menulis adalah saya, tetapi dia adalah orang yang sangat berjasa dibalik kelancaran blog ini, maksudnya kalau ada kerusakan-kerusakan, dia dengan sigap memperbaikinya. Maklum saya tidak terlalu tahu masalah teknis yang berhubungan dengan otak atik bahasa pemrograman. Kami juga masih banyak menerima keluhan tentang susahnya menuliskan komentar disini, sekali lagi kami mohon maaf untuk kekurangan yang satu ini karena kami sendiri tidak tahu letak susahnya dimana karena sudah diotak atik sana sini tetapi semuanya baik-baik saja.

Dalam rangka dua tahun usia blog, kami ingin berbagi ucapan terima kasih kepada siapapun yang telah meluangkan waktunya selama ini untuk membaca tulisan disini, memfollow blog ini, ataupun yang selama ini meninggalkan komentar, dalam bentuk mengirimkan 20 kartu pos. Jadi ceritanya, kami beberapa waktu kedepan akan pergi berlibur ke sebuah negara dalam waktu yang agak lama, road trip mengunjungi beberapa kota yang ada di sana. Karena saya suka berkirim kartu pos, maka tercetus ide untuk mengirimkan kartu pos dari negara tersebut kepada dua puluh (20) orang yang beruntung. Negaranya mana? kami tidak akan menyebutkan sekarang karena itu adalah sebuah KEJUTAN! Nanti kami akan menyebutkan negara mana yang akan kami kunjungi setelah kami sudah kembali lagi ke Belanda dan tentunya kartu pos buat siapapun yang beruntung, sudah terkirim. Yang pasti negara yang akan kami kunjungi terkenal dengan makanannya yang enak-enak, pantai dan danaunya yang bagus, banyak cerita sejarahnya dan letaknya tidak jauh dari Belanda.

Bagi siapapun yang berminat, setelah sesampainya di negara tersebut, kami akan mengirimkan 20 kartu pos kepada 20 orang yang beruntung tentunya dengan syarat yang sangat gampang. Yang pasti tidak ada syarat follow-follow apapun media sosial saya, karena memang saya saat ini hanya punya twitter saja (dan blog ini). Syaratnya adalah :

  1. Kirimkan nama lengkap dan alamat lengkap beserta kode pos ke email : denald.blog@gmail.com dengan subjek email : Kartu pos dua tahun blog denald. Siapa yang beruntung adalah dua puluh (20) orang pertama yang mengirimkan biodata ke email di atas. Setiap email yang masuk, akan langsung kami jawab, jadi yang bersangkutan langsung tahu kalau dia akan mendapatkan kiriman kartu pos.
  2. Kalau sudah menerima kartu pos yang kami kirim, wajib memberitahu kami, terserah melalui twitter bisa (@denald), melalui email juga bisa atau kalau mau membuat tulisan tersendiri di blog juga monggo. Pilih salah satu saja yang paling gampang, yang penting memberi tahu kami kalau kartu pos yang kami kirim sudah sampai.

Nah, gampang kan caranya, tidak ruwet apalagi bertele-tele. Nanti kami akan memberitahukan lewat email kepada setiap orang yang bersangkutan, setiap kartu pos yang sudah kami kirim. Jadi orang tersebut tahu bahwa kartu pos untuknya sudah dalam perjalanan. Sampai tidaknya kartu pos kepada penerima itu juga tidak bisa dipastikan 100% ya karena pengalaman saya selama ini tidak semuanya sampai, meskipun jumlahnya memang sangat sedikit, hanya satu atau dua kartu pos saja. Semuanya tergantung dari faktor kantor pos dan keberuntungan mungkin ya :D. Tapi saya yakin kalau alamatnya lengkap, kemungkinan besar akan sampai. Karenanya, mohon menuliskan alamat selengkap mungkin dan jangan lupa sertakan kode pos. Kalau kami sudah menerima sebanyak 20 email, maka di postingan ini akan kami update bahwa bagi-bagi kartu pos ditutup karena sudah mencapai kuota.

Terima kasih banyak kami ucapkan untuk siapapun yang telah meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan kami selama ini, menuliskan komentar, ataupun berdiskusi di kolom komentar. Kami sadar ada beberapa pihak yang tidak satu paham dengan apa yang sudah kami tuliskan di blog ini, selama ini, dan ada juga yang sepemahaman. Justru disanalah indahnya dunia blogging, tempat untuk melatih menulis, melatih beropini secara baik dan benar, berlatih menuliskan komentar secara santun meskipun tidak setuju dengan apa yang sudah dituliskan dalam sebuah postingan. Semoga kedepannya kami terus belajar menjadi lebih baik dalam ranah tulis menulis di dunia blogging.

Kalau ada kritik, saran, pujian, uneg-uneg yang ingin disampaikan, monggo dituliskan pada kolom komentar, atau kalau kolom komentarnya susah diakses, bisa langsung lewat email. Kami dengan senang hati membaca, menanggapi dan berterima kasih atas apa yang sudah disampaikan.

Terus semangat menulis ya kawan-kawan blogger!

PS : Kalau ada yang ingin mengirimi saya kartu pos, monggo lho saya tidak menolak 😀

UPDATE!

Karena sudah mencukupi kuota (malah lebih) maka bagi-bagi kartu pos saya nyatakan ditutup ya. Bagi yang sudah mengirimkan nama dan alamat, ditunggu konfirmasi selanjutnya saat kartu pos sudah kami kirim.

-Den Haag, 22 Juni 2016-

Kenangan Masa Kecil Saat Ramadan

Sumber : http://www.aplikasiaja.com/wp-content/uploads/2015/05/dp-bbm-ramadhan-2015-1.gif

Sore ini sewaktu saya duduk di balkon memperhatikan anak-anak kecil tetangga bermain, entah kenapa tiba-tiba ingatan terlempar saat Ramadan ketika masih kecil. Banyak sekali kenangan masa kecil saat Ramadan tiba. Ada kenangan menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, tetapi secara keseluruhan banyak kenangan menyenangkan jika diingat lagi sekarang. Tentu saja hal tersebut menimbulkan senyuman. Maklum saja, saat kecil meskipun saya tergolong anak yang agak pendiam tetapi terkategorikan sedikit nakal, itu pikir saya setelah besar.

PONDOK PESANTREN

Awal Ramadan, pasti ada pondok pesantren. Kegiatan pondok pesantren ini selalu saya tunggu setiap tahunnya. Jadi, pondok pesantren ini adalah kegiatan sekolah yang mewajibkan muridnya menginap di sekolah dalam jangka waktu satu malam (kadang sampai dua malam juga). Tapi saya lupa apakah pondok pesantren ini diadakan saat hari efektif sekolah atau saat hari minggu. Kegiatan pondok pesantren ini fokusnya memperbanyak ibadah secara bersama-sama seperti tarawih, tadarusan, belajar agama, sholat wajib berjamaah, sahur, dan berbuka puasa. Menginap di sekolah bersama teman-teman itu rasanya menyenangkan. Terkadang kami tidak bisa tidur sampai sahur, cekikikan didalam kelas yang digunakan sebagai ruangan menginap yang beralaskan tikar, sampai ditegur Bapak dan Ibu Guru yang sedang bertugas.

Saat masih SD, sekolah saya itu letaknya persis di belakang rumah. Jadi kalau waktunya sahur, saya sering pulang ke rumah karena menu Ibu lebih menarik dari menu yang disediakan di sekolah. Saya memang agak rewel kalau masalah sahur, tidak bisa makan terlalu banyak dan seringnya malas bangun. Kalau pulang ke rumah selalu menyelinap dan naik lewat pagar belakang sekolah, makan cepat-cepat di rumah lalu kembali lagi ke sekolah sebelum sholat subuh berjamaah. Beberapa kali lolos tapi seringnya ketahuan sama guru saat memanjat pagar sekolah. Guru sampai bosan menghukum saya karena sering memanjat pagar sekolah. Kesenangan memanjat ini rupanya terus berlanjut sampai SMA, karena dulu saya sering memanjat pagar belakang sekolah kalau ingin pulang lebih cepat (mbolos) *jangan ditiru :D.

Terakhir mengikuti pondok pesantren sepertinya ketika SMP. Kalau SMP senang ikut pondok pesantren motivasinya berbeda, karena bisa sering barengan sama yang ditaksir *ini pondok pesantren malah lirik-lirikan :p

MENCATAT ISI CERAMAH SAAT TARAWIH

Setiap Ramadan, saat SD (SMP juga ga ya? lupa) selalu ada tugas merangkum isi ceramah setelah tarawih. Kami diberikan buku kegiatan selama Ramadan dan buku itu dikumpulkan saat Ramadan selesai. Saya ini anaknya malas tarawih berjamaah, maksudnya tarawih bersama di musholla dekat rumah ataupun di masjid yang agak jauh dari rumah. Di sekolah juga sebenarnya diadakan tarawih, tapi saya hampir tidak pernah datang. Alasannya macam-macam, dari yang mengantuk, kekenyangan sewaktu buka puasa, ada ulangan jadi harus belajar, dan masih banyak alasan lainnya. Tapi dari berbagai macam alasan tersebut, cuma satu kata yang bisa merangkum semua : malas. Bapak dan Ibu tidak pernah memaksa anak-anaknya tarawih, hanya kadang malu sama Bapak kalau sering diajak tarawih banyak menolaknya. Saya sering bilang ke Bapak untuk jalan dulu ke masjid, nanti saya menyusul. Benar sih saya menyusul berangkat pakai mukena, bawa sajadah, dan buku untuk mencatat rangkuman ceramah. Tapi saya berangkatnya kira-kira saat ceramah saja. Setelah ceramah selesai, ya saya pulang lagi.

Selain cara di atas, saya biasanya mencontek isi ceramah milik teman. Jadi saya baca dulu secara keseluruhan, lalu saya mengarang bebas sesuai yang ada di kepala tetapi isinya tidak terlalu menyimpang. Karena jiwa mengarang bebas yang terpupuk sejak dini tersebutlah menjadikan saya selalu mendapatkan nilai bagus saat pelajaran bahasa Indonesia mengarang dan menulis. Lha bagaimana, imajinasinya sudah terlatih, bahkan mengarang rangkuman ceramah agama hasil mencontek 😀

Oh ada satu yang membuat saya tertarik datang tarawih di musholla dekat rumah kalau sorenya Ibu memberi tahu bahwa saat tadarusan akan ada camilan dan makanan enak. Biasanya camilannya ada tahu berontak, hongkong (ote ote), trus makanannya ada bakso, soto, sate. Wah, saya pasti mau tarawih bersama. Saya memang gampang dipancing makanan sejak kecil sampai sekarang, imannya suka lemah kalau berhubungan dengan makanan *ngikik.

BERDIAM DIRI DI KAMAR MANDI

Jaman saya masih kecil masih belum terlalu tenar yang namanya AC, sedangkan Situbondo kan panasnya luar biasa, maklum pinggir pantai. Jangankan AC, kipas angin saja kami tidak punya. Adanya kipas besar terbuat dari bambu buat mengipasi sate. Jadi kalau siang hari pintu rumah dibuka lebar agar angin dan udara bisa masuk ke segala penjuru dalam rumah, tapi udara yang masuk tetap panas rasanya. Hari biasa saja saya seringkali haus dan merasa gerah, apalagi saat Ramadan, rasa haus dan panasnya terasa berkali lipat. Akhirnya saya seringnya berdiam diri di kamar mandi sambil baca buku dan sering sampai tertidur. Satu-satunya ruangan dalam rumah yang berhawa sejuk ya kamar mandi. Saya membawa kursi kecil dari rotan ke dalam kamar mandi, saya tutup pintunya dan berdiam diri disana sepanjang siang. Awalnya mbak yang bantu di rumah kaget karena saya tidak keluar dari kamar mandi dalam waktu lama, diketok pintunya tidak ada jawaban, digedor tetap tidak bergeming, sampai mbak memanggil tetangga. Saya tertidur pulas sekali waktu itu sampai tidak mendengar apa-apa, walhasil menghebohkan mbak dan tetangga.

MAKAN, MINUM LALU PURA-PURA LEMAS

Apakah di kamar mandi saya tidak tergoda untuk menenggak atau meminum air dari keran? wah ya tentu saja sangat tergoda. Seingat saya saat usia SD, saya sering batal puasa karena sengaja makan dan minum. Maklum, tidak kuat dengan lapar dan haus. Situbondo memang panasnya benar-benar membuat lemah iman anak kecil (ini merujuk pada saya maksudnya). Jadi akalnya begini : saya masuk kamar mandi untuk wudhu atau sekedar berdiam diri sekalian minum air dari keran. Waktu itu sih tidak terpikir airnya kotor atau bersih ya yang penting tidak haus lagi. Nah kalau lewat dapur, saya mengendap-endap kaki berjingkat mampir ke lemari penyimpanan sisa makanan sahur. Biasanya masih ada tempe atau tahu yang sisa. Waktu itu kami belum punya kulkas jadi sisa makanan ditaruh lemari khusus makanan.

Dengan mencomot makanan dari lemari dan minum air dari keran, walhasil saya segar kembali dong ya. Tapi kalau saya menampakkan muka segar cerah ceria akan menimbulkan kecurigaan Bapak dan Ibu kalau mereka sampai di rumah setelah pulang kerja. Akhirnya saya pura-pura lemas sampai waktu buka puasa tiba. Mudah-mudahan adik-adik saya tidak ada yang mengikuti kelicikan kakaknya ini. Waktu saya sedang beraksi sih rumah sedang sepi, adik-adik tidur dan mbak yang bantu sedang setrika atau tidur siang juga, sementara saya bergerilya.

BENCI SUARA PETASAN DAN ORKES SAHUR KELILING

Dua hal yang paling dibenci ketika Ramadan ditempat tinggal saya yaitu suara petasan dan orkes sahur keliling. Rumah orangtua bersebelahan dengan gang kecil, karena memang letak rumah diujung. Nah, sekitar jam 2 pagi, orkes ini mulai beroperasi. Suaranya berisik sekali dengan pukulan alat-alat dapur segala panci, tutup panci, botol kaca, dan teriakan “sahuuur… sahuuuur”. Suaranya benar-benar membuat emosi. Saya kalau terbangun karena suara orkes tersebut, satu hari mood pasti jelek. Kesal sekali. Pernah suatu ketika karena sudah terlalu kesal, saya teriak dari dalam kamar supaya jangan berisik. Besoknya saya didatangi Pak RT tidak boleh teriak ke pasukan orkes tersebut karena memang tugas mereka membangunkan penduduk untuk bangun sahur. Tapi saya bilang kalau terganggu dengan suara berisiknya dan keberatan kalau mereka lewat gang. Tetapi protes anak kecil rupanya tidak membuahkan hasil, tetap saja orkes cempreng berisik dan mengganggu tersebut beroperasi dengan suara kencangnya. Tapi kata adik saya sekarang sudah mulai berkurang, tidak setiap hari beroperasi. Syukurlah.

Selain orkes sahur keliling tersebut, petasan juga selalu membuat kesal luar biasa. Pasti yang membaca ini tahu lah bagaimana mengagetkannya suara petasan dan itu selalu membuat dada saya jadi berdebar-debar. Iya kalau berdebarnya dirasakan saat bertemu pujaan hati, lha ini ndredeg, kalo kata orang jawa, pas dengar suara mercon. Adik saya selalu menangis kalau mendengar suara mercon, Bapak selalu marah-marah dan mengejar anak-anak yang bermain mercon dekat rumah. Ramadan bukannya tadarusan atau tidur di rumah masing-masing malah membuat emosi orang saja dengan membakar petasan.

MENUNGGU MAKANAN DARI MASJID

Menjelang Idul Fitri, kami sekeluarga biasanya pulang ke Ambulu, tempat asal Bapak. Dibandingkan pulang ke Nganjuk tempat asal Ibu, pulang ke Ambulu lebih sering kami lakukan karena memang letaknya lebih dekat dengan Situbondo. Rumah Mbah bersebelahan dengan Masjid. Ada satu hal yang selalu saya rindu saat Ramadan seperti ini yaitu menunggu  makanan dari Masjid. Jadi, setiap berbuka puasa, setiap hari pasti ada yang mengirimkan makanan ke Masjid untuk berbuka puasa. Karena banyak yang mengirim, akhirnya makanannya berlebih. Nah, adik atau sepupu saya pasti membawa pulang ke rumah setelah sholat Maghrib berjamaah, lalu kami di rumah makan bersama-sama apa yang ada dalam wadah berkat tersebut (ini saya tidak tahu ya bahasa Indonesia nya tempat berkat, wadah dari plastik yang bolong-bolong). Ketika makanan datang, Mbah atau Bude selalu mengatakan “ayo dipurak saiki panganane” yang artinya ayok dimakan bersama-sama sekarang makanannya. Ah, jadi kangen keluarga Ambulu.

Beberapa hal tersebut seringnya membuat saya selalu terkenang masa kecil saat Ramadan seperti ini. Kenakalan masa kecil, kenangan manis, kelucuan maupun rasa kesal yang tidak akan pernah saya lupakan.

Saya suka tertawa sendiri kalau melihat gambar plesetan ini

sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/meme-lucu-nggak-fokus-saat-puasa.html
sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/meme-lucu-nggak-fokus-saat-puasa.html
sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/meme-lucu-nggak-fokus-saat-puasa.html
sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/meme-lucu-nggak-fokus-saat-puasa.html

Kalau kamu, punya kenangan masa kecil saat Ramadan yang tidak pernah lupa?

-Den Haag, 19 Juni 2016-

Cerita Toko Buku di Belanda

Paagman Den Haag. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu

Saya sejak kecil memang sudah suka membaca, mungkin karena melihat Bapak dan Ibu yang juga suka membaca. Ibu sering membawa pulang hasil kliping murid-muridnya karena memang Ibu guru Bahasa Indonesia. Senang rasanya kalau Ibu sudah membawa pulang kliping-kliping tersebut, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kamar untuk melahap cerita-cerita yang ada dalam kliping. Sewaktu saya dan adik-adik masih kecil, Bapak dan Ibu berlangganan majalah Kuncup, Bobo, Donal Bebek, dan Asterix, berharapnya kami menjadi gemar membaca. Sayangnya, sampai beranjak besar, yang masih bertahan gemar membaca hanya saya, sedangkan adik-adik saya tidak ada yang mempunyai kegemaran membaca. Karena langganan Donal Bebek tersebutlah saya jadi suka dengan karakter Donal Bebek, sampai email pertama saya ada unsur “denald”, cerita lengkap tentang asal usul nama denald bisa dibaca disini.

Ada satu kebiasaan yang saya tidak bisa hilangkan sampai sekarang yang berhubungan dengan kesukaan membaca yaitu kalau makan saya harus ada yang dibaca. Jadi kalau makan tidak ada sesuatu yang bisa dibaca, saya akan mencari-cari dulu bahan bacaan. Hal ini tidak berlaku kalau saya sedang makan rame-rame atau berdua dengan suami. Eh, tapi kalau sedang makan di rumah, kami juga seringnya sibuk dengan bacaan masing-masing. Bacaan disini maksudnya adalah buku, majalah, koran, bukan membaca dari telefon pintar.

Saya tidak tahu apakah karena kegemaran membaca disembarang tempat, bahkan membaca dalam keadaan sedang rebahan dengan cahaya yang tidak bagus yang menyebabkan mata mulai bermasalah sejak SD dan resmi menggunakan kacamata ketika SMP. Sampai saat ini kedua mata saya bermasalah dengan minus 3 dan silinder 2.5. Ibu dulu rajin memberikan air wortel yang dicampur dengan madu untuk membantu menurunkan minus, tetapi tidak berhasil.

Pengeluaran terbesar saya selama ini adalah untuk beli buku. Ada yang bertanya kenapa harus membeli buku dalam bentuk nyata, kenapa tidak dalam bentuk e-book saja. Jawaban saya sederhana, karena sensasi membalik kertas, bunyi kertas, aroma kertas itu tidak bisa terganti. Untuk baju, sepatu, tas, ataupun yang lainnya saya sangat bisa hemat, tetapi tidak untuk buku. Ketika keluar rumah, di dalam tas bisa dipastikan ada satu buku. Saya sering ketinggalan Hp dan rasanya biasa saja, tetapi ketinggalan buku rasanya ada yang hilang, ganjil. Terkesan agak berlebihan ya, tetapi memang itu kenyataannya.

Bertemu suami yang mempunyai kegemaran membaca juga rasanya sangat menyenangkan. Walaupun jenis buku yang kami baca hampir berbeda 180 derajat, tetapi satu sama lain menjadi saling memahami kalau salah satu diantara kami sedang kalap membeli buku atau sedang sibuk dan tidak mau diganggu ketika asyik membaca buku. Jenis buku yang saya baca sebenarnya sangat beragam, tidak khusus pada satu topik saja, yang menarik minat. Sedangkan suami lebih suka membaca buku yang berhubungan dengan sejarah terutama sejarah Romawi. Saya kalau membaca sekilas buku-buku dia mendadak pusing, bukan hanya karena kendala bahasa, tetapi isinya juga tidak seberapa paham meskipun dia sudah mencoba menjelaskan berkali-kali. Saya memang lemah disejarah, tetapi masih ada rasa tertarik untuk hal-hal tertentu yang berhubungan dengan sejarah.

Salah satu tempat kencan favorit kami adalah tempat yang berhubungan dengan buku yaitu perpustakaan, bazar yang juga menjual buku bekas, dan toko buku. Kalau sedang jalan-jalan, kami hampir selalu menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Sebenarnya ketika sedang ke toko buku kami tidak sepenuhnya selalu membeli, seringnya hanya membaca saja karena memang suasana toko buku di Belanda memungkinkan untuk membaca buku dalam waktu yang lama. Saya ingat ketika di Indonesia, kalau membaca buku agak lama pasti terkena tegur dari petugas toko buku tersebut. Saya sampai pindah tempat beberapa kali untuk menghindari teguran, belum lagi tempat duduk yang disediakan juga cenderung tidak nyaman. Tapi yang saya bicarakan ini adalah kondisi toko buku “besar” sebelum saya pindah ke Belanda ya. Kalau sekarang mudah-mudahan ada perbaikan dan saya lihat sudah banyak toko buku yang tempatnya nyaman. Sedangkan di Belanda, terkena tegur tidak pernah saya alami jika membaca buku dalam waktu lama, bahkan disediakan tempat duduk yang nyaman. Di beberapa toko buku juga jadi satu dengan kafe. Meskipun menjadi satu dengan kafe tetapi suasananya tetap nyaman, tidak ramai yang berisik.

Van Stockum Den Haag
Van Stockum Den Haag, ada rak khusus tentang Indonesia
Disediakan kursi untuk membaca. Saya pernah nyaris ketiduran di kursi ini karena suasana toko bukunya yang nyama, kursinya empuk, dan saya memang sedang mengantuk :p
Disediakan kursi untuk membaca. Saya pernah nyaris ketiduran di kursi ini karena suasana toko bukunya yang nyama, kursinya empuk, dan saya memang sedang mengantuk :p

Selain toko buku yang menjual buku-buku baru, kami juga rajin mendatangi toko buku yang menjual buku-buku bekas. Biasanya kami datang ke tempat ini kalau ingin mencari buku-buku yang sudah lama, selain tentu saja untuk mendapatkan buku dengan harga murah. Saya pernah membeli buku tentang traveling dan beberapa novel, 6 buah buku seharga 5 euro padahal bukunya tebal-tebal. Jangan membayangkan toko buku bekas dengan keadaan yang kotor, pengap dan sempit karena seperti yang terlihat pada foto-foto di bawah, suasana dalam tokonya rapi dan sangat nyaman. Karena itulah kami betah berlama-lama di sini. Kalau membicarakan toko buku bekas, saya teringat Blauran dan Jalan Semarang di Surabaya, dulu tempat berburu buku kuliah. Dan ketika saya kerja di Jakarta, penasaran dengan Kwitang karena AADC. Kalau ke TIM, saya pasti mampir ke toko buku milik Jose Rizal Manua.

Paagman Den Haag
Paagman Den Haag. Yang ada di rak-rak tersebut adalah buku bekas
Paagman Den Haag. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu
Paagman Den Haag. Di lantai 1 khusus untuk buku-buku baru. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu
Toko buku bekas di Delft
Toko buku bekas di Delft

IMG_9264

Toko buku bekas di Delft
Toko buku bekas di Delft

Alasan lain mengunjungi toko buku selain karena suasananya yang nyaman serta untuk mencari dan membaca buku, interior yang unik dalam toko buku juga serta sejarah dibaliknya menjadi daya tarik tersendiri. Selexyz Dominicanen yang terletak di Maastricht mendapatkan julukan salah satu toko buku yang terindah di dunia. Lihat saja interiornya, membuat yang berkunjung kesini menjadi betah. Toko buku ini awalnya adalah gereja yang didirikan tahun 1294 oleh St. Dominic. Gereja dengan arsitektur gothic tersebut sejak tahun 1794 tidak lagi berfungsi sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan keagamaan ketika tentara Napoleon mengambil alih (menyita) yang kemudian digunakan untuk tujuan militer. Sejak saat itu, ruangan yang ada di dalam gereja ini digunakan sebagai tempat menyimpan arsip kota, gudang, bahkan untuk tempat menyimpan sepeda. Pada tahun 2005, Boekhandels Groep Nederland (BGN) memutuskan untuk memberdayakan bangunan yang dulunya adalah gereja tersebut menjadi toko buku (sumber). Tidak berlebihan kalau akhirnya Selexyz Dominicanen disebut sebagai salah satu toko buku yang tercantik di dunia karena arsitekturnya yang memukau. Didalam toko buku ini juga ada kafe. Sewaktu saya berkesempatan mengunjungi Maastricht bersama beberapa orang teman 4 bulan lalu, datang ke toko buku ini menjadi sebuah keharusan.

Dominicanen di Maastricht
Selexyz Dominicanen di Maastricht
Dominicane di Maastricht
Selexyz Dominicane di Maastricht
Cafe di Dominicanen Masstricht
Cafe di Selexyz Dominicanen Maastricht.

Sejak awal saya mulai sering melakukan perjalanan, salah satu tempat yang sebisa mungkin untuk dikunjungi adalah toko buku di negara atau kota yang saya datangi. Kalau orang lain mungkin berburu pernak pernik atau hiasan khas suatu kota ketika bepergian, saya berburu buku. Pulang ke rumah seringnya ada saja buku baru yang saya tenteng. Kegiatan tersebut sampai sekarang masih saya lakukan bersama suami. Kalau sedang tidak diburu waktu, dimanapun apakah di Belanda ataukah saat di luar Belanda, toko buku sebisa mungkin untuk kami kunjungi. Kami mempunyai impian bisa mengunjungi toko-toko buku yang mempunyai sejarah menarik maupun arsitektur yang indah di seluruh belahan bumi ini.

Kalau kalian apakah suka membaca? punya cerita menarik seputar toko buku yang pernah dikunjungi? Sekarang sedang membaca buku apa? Saya sedang membaca buku Anthony Bourdain yang berjudul A cook’s tour.

Selamat berakhir pekan

-Den Haag, 16 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.

Nostalgia 11 Masakan Khas Rumah

Pecel Tumpang dan Gudeg

Saya tumbuh besar dengan dua budaya, yaitu Jawa dan Madura. Hal ini bisa terjadi karena saya berasal dari keluarga Jawa tetapi tinggal di lingkungan Madura. Dua kota yang menjadi tempat tinggal saya adalah Ambulu dan Situbondo. Ambulu adalah kota asal Bapak sedangkan Situbondo adalah tempat tinggal orangtua. Bapak dan Ibu adalah pendatang di Situbondo. Masyarakat Situbondo sendiri adalah mayoritas suku Madura. Karenanya, saya dan adik-adik akhirnya lancar menggunakan dua bahasa daerah yaitu Jawa dan Madura. Ada aturan di rumah dalam penggunaan bahasa daerah. Kalau di dalam rumah, kami wajib menggunakan bahasa Jawa dan dilarang keras menggunakan bahasa Madura. Hal ini untuk mengantisipasi bahasa campur-campur dalam berkomunikasi di rumah. Tetapi kalau di luar rumah, kami bebas menggunakan bahasa apapun. Namun terkadang saya dan adik-adik suka keceplosan berbicara menggunakan bahasa Madura jika di rumah. Maklum saja, lingkungan pertemanan maupun para tetangga hampir semua adalah orang Madura, jadi secara tidak sengaja apa yang terjadi di luar rumah kami bawa ke dalam rumah.

Bukan hanya bahasa, masakan juga berpengaruh besar terhadap kehidupan saya. Masakan Madura yang mempunyai ciri khas asin dan pedas, tidak jauh-jauh dari petis ikan ataupun terasi, karena Situbondo adalah kota pesisir jadi kota ini menghasilkan petis ikan maupun terasi. Itu sebabnya saya lebih senang masakan dengan rasa asin dan pedas. Di bawah ini saya akan bernostalgia masakan rumahan khas Situbondo, keluarga Ambulu, maupun khas Ibu.

  • Rujak Petis

Rujak petis Situbondo pada dasarnya sama saja dengan rujak petis pada umumnya. Perbedaannya adalah dalam penggunaan petis. Seperti halnya rujak madura, petis yang dominan digunakan adalah petis ikan dan sedikit petis udang. Karenanya rujak petis Situbondo cenderung berwarna merah, bukan hitam seperti rujak petis di Surabaya. Jika rujak petis di Surabaya warnanya cenderung hitam karena menggunakan petis udang. Saya lebih cocok rasa rujak petis Situbondo karena asin petis ikan dipadu dengan asem cuka dan pedasnya cabe dengan aroma terasi. Kalau isinya kurang lebih sama dengan rujak petis lainnya yaitu tahu, tempe, kangkung, lontong, kecambah. Jika mau, bisa ditambah cingur dan mangga muda. Jangan lupakan kerupuk ketika memakan rujak petis.

Rujak Petis. Sumber
Rujak Petis. Sumber http://adamjulio.blogspot.nl/2015/07/budaya-dan-makanan-khas-madura.html
  • Tajin Palappa

Tajin adalah kata dalam bahasa madura yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah bubur. Sedangkan Palappa artinya adalah bumbu. Jadi Tajin Palappa bisa diartikan bubur yang diberi bumbu. Bubur dibuat dari beras yang direbus bersama santan, tidak usah diberi garam karena rasa gurihnya sudah didapat dari santan. Sedangkan Palappanya adalah campuran dari kacang tanah sangrai, cabe, dan petis ikan yang dihaluskan dan diberi cuka sesuai selera. Hampir mirip dengan bumbu rujak petis. Penyajiannya : bubur ditaruh mangkok atau piring, disajikan bersama sayuran kangkung dan kecambah kemudian disiram bumbu yang baru diulek sesaat sebelum disajikan. Biasanya dimakan berbarengan dengan hongkong (ote ote) dan kerupuk yang diremukkan kemudian ditabur diatas tajin palappa. Amboi, rasa pedas, asin, dan asem menggoyangkan lidah. Satu-satunya jenis bubur yang saya suk adalah tajin palappa. Tajin palapa adalah salah satu makanan khas Situbondo.

Saya mempunyai kenangan manis dengan tajin palappa. Sewaktu masih bayi, oleh Ibu dan Bapak, saya dititipkan kepada tetangga yang setiap harinya berjualan tajin palappa. Ibu dan Bapak harus bekerja sampai menjelang maghrib sementara waktu itu kami tidak mempunyai mbak yang bantu di rumah. Akhirnya orangtua mengandalkan tetangga penjual tajin palappa untuk dititipi anak. Saya ditaruh di lencak (bale terbuat dari bambu) diruangan dekat kamar mandi. Sementara Mak, begitu saya memanggilnya, berjualan tajin palappa diruangan sebelah. Saya mempunyai kedekatan emosional dengan Mak, sudah saya anggap seperti Ibu angkat. Sayang sewaktu saya menikah, Mak tidak bisa menghadiri karena sudah dipanggil Yang Kuasa. Dulu saya tidak mau makan tajin selain punya Mak karena Mak sudah tahu bumbu seperti apa yang saya mau : sangat pedas, banyak petisnya dan asem. Bagian tajin yang saya suka adalah yang melekat pada pancinya, jadi bukan bagian tengah. Sejak Mak meninggal, akhirnya kalau pulang ke Situbondo, saya membeli tajin di tempat lain. Saya pernah membuat beberapa kali di sini, tetapi rasanya tetap beda dengan buatan Mak. Lencak tempat saya diletakkan saat masih bayi, masih ada sampai sekarang.

Tajin Palappa
Tajin Palappa. Sumber : http://dishubsitwinda.blogspot.nl/
  • Kaldu Kacang Hijau

Kaldu kacang hijau ini juga salah satu makanan khas Situbondo. Ibu memang tidak pernah memasakkan kaldu ini di rumah, karena sewaktu kami masih kecil (sampai besar juga sih) sering mendapatkan kiriman dari para tetangga kalau mereka sedang ada acara tertentu misalnya : salawatan, syukuran rumah baru, syukuran ulang tahun dan acara lainnya. Ketika kecil, awalnya saya tidak doyan dengan kaldu karena kok aneh ya kacang hijau dimakan dengan tulang sapi yang ada sum sumnya atau daging sapi yang ada lemaknya. Tapi ketika salah satu adik saya lahap memakan kaldu saat ada salah satu tetangga yang memberi, akhirnya saya ikutan makan. Ternyata saya suka dengan kuahnya, meskipun tetap merasa aneh ketika makan kacang hijaunya. Mungkin karena belum terbiasa. Saya memang hanya menikmati citarasa kuahnya karena tidak terlalu suka rasa daging utuh sejak kecil.

Kaldu kacang hijau disajikan bersama potongan lontong diberikan taburan bawang goreng di atasnya, dikucuri jeruk nipis dan jangan lupa diberi sambal kemiri atau sambal bawang. Rasa gurih dari kaldu lemak daging sapi atau tulang sapi yang ada sum sumnya berpadu sempurna dengan pedas sambel dan asem jeruk nipis dan rasa agak manis dari kacang hijau. Dulu saya selalu rebutan dengan adik-adik kalau mendapatkan kiriman dari tetangga. Maklum, cuma dikirimi satu mangkok. Sewaktu saya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi daging, adik-adik saya senang karena mengurangi saingan :D.

Kaldu Kacang Hijau. Sumber
Kaldu Kacang Hijau. Sumber : http://www.diahdidi.com/2015/12/kuah-kaldu-kaldu-kokot.html
  • Nasek Karak (Nasi Karak)

Karak adalah nasi sisa yang dijemur sampai kering (bukan nasi basi ya yang dijemur). Cara memasaknya karak dikukus sampai menyerupai nasi kembali. Dulu saya suka heran kalau Ibu menjemur nasi sampai jadi karak buat apa karena setelahnya Ibu pasti akan memberikan kepada beberapa tetangga yang meminta. Kemudian hari ternyata saya baru tahu kalau karak ini bisa diolah kembali (kreatif ya). Nasi karak yang sudah dikukus kemudian dicampur bersama parutan kelapa dan garam, disajikan bersama jukok gesseng ataupun ikan asin dan sambel bajak. Nasek karak ini juga merupakan salah satu makanan khas Situbondo.

Kalau Ibu tidak pernah membuat nasi karak, tetapi nasi urap. Hampir sama sebenarnya hanya nasi yang digunakan adalah nasi sisa hari sebelumnya (belum jadi karak) dikukus kemudian dicampur parutan kelapa ditambah garam disajikan dengan tahu tempe atau ikan goreng dan sambel.

Nasi Karak. Sumber :
Nasi Karak. Sumber : http://www.imgrum.net/tag/situbondofood
  • Jukok Gesseng

Jukok artinya ikan. Nah, kalau gesseng kata tetangga saya tidak mempunyai arti khusus. Jukok gesseng ini sebenarnya hampir sama seperti sarden, tapi versi madura. Bumbunya : bawang merah, bawang putih, cabe, terasi, tomat atau bisa juga menggunakan belimbing wuluh, garam, merica. Ikan yang digunakan bisa ikan tongkol atau bisa juga pindang kecil. Kadang juga ada yang menggunakan kendui (ikan kecil-kecil seperti teri). Kalau Ibu memasak jukok gesseng, walhasil saya bisa berjam-jam nangkring di dapur karena nambah nasi terus saking sukanya saya dengan gesseng.

Jukok Gesseng masakan sendiri disini
Jukok Gesseng masakan sendiri disini
  • Gengan Maronggi dan Klentang (Sayur Kelor dan Klentang)

Gengan artinya sayur sedangkan maronggi artinya kelor. Kelor itu setahu saya digunakan ketika memandikan jenazah atau digunakan untuk mengeluarkan susuk ya (haha ini kebanyakan nonton film suzanna). Tetapi sejak kecil saya sudah terbiasa makan sayur kelor, inipun biasanya dibuatkan tetangga. Daun kelor ini dimasak seperti sayur asem, bisa juga dimasak seperti sayur bening. Biasanya dimakan dengan nasi jagung, jukok kendui, dan sambel trasi. Rasa daun kelor sendiri seingat saya biasa ya, tidak ada rasa khusus. Namun rasa segar gengan maronggi secara utuh ini yang segar.

Genan Maronggi. Sumber : http://www.sarimadu.com/tag/kuliner-indonesia/
Genan Maronggi. Sumber : http://www.sarimadu.com/tag/kuliner-indonesia/

Nah, foto yang di bawah ini adalah gengan klentang. Klentang sendiri adalah buah dari pohon kelor. Gengan klentang dimasak seperti sayur asem. Cara memakannya dengan cara diplurut (haduh, apa ya bahasa Indonesianya diplurut ini) dalam mulut batang klentangnya. Gengan klentang ini makanan saya sehari-hari karena Ibu sering memasak. Menyenangkannya adalah di pasar tradisional di Den Haag sini dijual klentang, jadi beberapa kali saya pernah memasaknya dan suami suka.

Gengan Klentang
Gengan Klentang. Sumber :http://www.banyuwangitourism.com/content/jangan-klentang#http://www.banyuwangitourism.com/images/gallery/resize/klentang.JPG
  • Telur Bumbu Petis

Telur bumbu petis biasanya selalu ada di setiap hantaran kalau sedang ada acara besar berlangsung di seputar Situbondo. Telur ini menjadi favorit saya karena rasa petisnya yang khas (menggunakan petis ikan) dan kental ditambah cabe yang dimasak dalam bumbu petis. Biasanya dimakan bersama lontong dan gulai ayam. Bisa juga dimakan biasa bersama nasi gurih.

  • Telur Bumbu Petis. Sumber : http://farlys.com/resep-masakan/telur-petis.html
  • Ayam Lodho

Ayam lodho adalah salah satu menu wajib ketika lebaran di keluarga Ambulu, dimakan bersama nasi gurih. Ayam kampung dipanggang setelahnya dikukus bersama bumbu-bumbu, disajikan di lengser satu ayam utuh. Menu pendampingnya selain nasi gurih adalah sayur urap. Biasanya kami makan lesehan di tikar setelah sholat Idul Fitri, melingkari menu lebaran ini. Jadi siapa yang akan makan maka akan memotong pakai tangan (dicuklek) salah satu bagian ayam. Suasana seperti ini yang selalu dirindukan saat lebaran tiba. Menu khas lebaran dan makan bersama keluarga besar.

Ayam Lodho. Sumber : http://catatan-nina.blogspot.nl/2014/05/ayam-lodho-repost.html
Ayam Lodho. Sumber : http://catatan-nina.blogspot.nl/2014/05/ayam-lodho-repost.html
  • Pecel Pitik

Entah bagaimana asal muasalnya kenapa masakan ini dinamakan pecel pitik karena penampakannya bukan seperti pecel. Oh iya, pitik artinya ayam. Pecel pitik ini adalah kuah santan dengan bumbu lodeh pedes yang diberi potongan ayam kampung yang sebelumnya dipanggang di pawonan (kompor yang masih menggunakan kayu) dan potongan besar tempe. Pecel pitik juga merupakan salah satu menu wajib ketika lebaran. Biasanya dimasak sehari sebelum lebaran jadi kuahnya sudah meresap ke ayam dan tempenya, namanya mblendrang.

  • Jangan Bobor

Jangan adalah bahasa Jawa, kalau bahasa Indonesia artinya sayur. Pasti sudah tidak asing ya dengan masakan ini. Ibu suka memasak jangan bobor karena anak-anaknya langsung nafsu makan kalau disajikan sayur ini. Sayuran yang selalu dipakai adalah bayam terkadang dicampur oyong, dimakan dengan nasi, dadar jagung dan sambel trasi. Aroma tempe semanggit dan kencur selalu membuat saya dan adik-adik rindu masakan Ibu yang satu ini. Saya pernah memasakkan sayur bobor buat suami, dia suka meskipun bertanya aroma yang keluar apa, kok aneh. Itu aroma tempe hampir busuk 😀

Sayur Bobor Sumber : http://selerasa.com/resep-masak-dan-cara-membuat-sayur-bobor-daun-kacang-panjang-lembayung-yang-gurih-dan-enak
Sayur Bobor Sumber : http://selerasa.com/resep-masak-dan-cara-membuat-sayur-bobor-daun-kacang-panjang-lembayung-yang-gurih-dan-enak
  • Jangan Laos Kikil

Saya tidak tahu apakah jangan laos kikil ini masakan khas keluarga di Ambulu atau memang masakan khas Ambulu karena sejak saya kecil, jangan laos kikil ini pasti ada ketika lebaran. Saat Mbah masih hidup, sehari menjelang lebaran kami memulai ritual memasak besar. Maklum saja Mbah adalah satu yang di tuakan di desa, karenanya banyak tamu yang datang ketika lebaran. Nah, uniknya, mereka selalu ingin merasakan jangan laos kikil ini. Bahan utamanya jelas laos dan kikil ya sesuai namanya. Laos dalam jumlah banyak yang didapat dari kebun sendiri, diiris menyerupai batang korek api, dicampur kikil, menggunakan santan, dan kluwek. Jadi ini perpaduan antara bumbu oseng kikil, lodeh, tapi dikasih kluwek dan laos. Rasa laosnya yang membuat masakan ini unik. Potongan laosnya dimakan juga, bukan hanya sebagai bumbu saja. Sensasi makan potongan laosnya yang krenyes krenyes itu yang menjadikan masakan ini unik.

Sepuluh masakan khas rumahan di atas yang membuat saya selalu rindu dengan rumah, rindu Situbondo maupun rindu Ambulu. Sebenarnya masih banyak masakan khas rumah yang ingin saya bagikan disini, tapi 10 saja sudah cukup (untuk saat ini). Sekarang cukup senang dengan berbagi cerita disini, semoga kalau waktunya tiba bisa segera pulang ke Indonesia.

Kalau kamu, masakan rumahan atau masakan khas daerah apa yang selalu dirindu? Tahu tidak dengan makanan yang saya sebutkan di atas, atau mungkin pernah makan juga?

Ditulis saat menunggu waktu berbuka puasa, sambil menahan iler :p

-Den Haag, 12 Juni 2016-

Semua foto dalam tulisan ini dipinjam dengan menyertakan sumbernya.

Tong Tong Fair 2016 dan Eka Kurniawan

Emping dan Speekoek

Minggu lalu kami mengunjungi kembali Tong Tong Fair, setelah tahun kemarin pertama kalinya kami melihat secara langsung kemeriahan Tong Tong Fair. Cerita tentang kemeriahan tahun lalu dan sejarah Tong Tong Fair bisa dibaca pada tulisan suami di sini. Awalnya tahun ini kami, terutama saya tidak berencana datang, karena saya fikir pasti kurang lebih sama isinya. Pikiran itu berubah ketika suatu hari saya membaca pada akun resmi Tong Tong Fair di twitter yang mengatakan bahwa salah satu penulis Indonesia akan datang. Memang setiap tahunnya penulis Indonesia ada yang datang untuk mengisi acara. Kalau tahun kemari Leila S. Chudori. Tahun ini giliran Eka Kurniawan. Begitu tahu bahwa Eka Kurniawan akan mengisi acara di Tong Tong Fair, serta merta saya jadi tertarik untuk datang.

Ketertarikan untuk melihat langsung Eka Kurniawan karena sebulan sebelumnya saya meminta tolong Dita yang sedang berlibur ke Belanda untuk membawakan dua buah buku dia. Buku yang saya titip berjudul Lelaki Harimau dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dan rasa penasaran itu semakin menjadi karena beberapa waktu lalu buku Lelaki Harimau mendapatkan penghargaan The Man Booker International Prize.

Saya memberitahu suami kalau akan datang ke Tong Tong Fair (TTF), eh ternyata dia ingin ikutan. Dia memang selalu senang datang kalau ada acara yang berhubungan dengan Indonesia, meskipun TTF ini tidak sepenuhnya Indonesia ya. Aslinya dia senang datang ke sini karena bisa incip-incip makanan gratis, saya juga sih *ngikik.

Karena memang ini bazar yang besar sekali, isinya bukan hanya tentang makanan saja tetapi juga mencakup pertunjukan, seni budaya, menjual segala macam barang, pelatihan, bahkan pertunjukan wayang saja ada di sini. Hal yang saya ingat sewaktu kesana, di salah satu tempat yang menyediakan emping dan spekkoek, saya makan empingnya berulang kali sementara suami berbincang dengan Ibu yang jaga sambil berungkali juga makan spekkoek, sampai Ibu tersebut menawari saya untuk membawa pulang emping ditaruh tas kertas. Saya jadi malu, akhirnya menolak, padahal aslinya mau :p

Emping dan Speekoek
Emping dan Spekkoek
Jajanan Pasar. Cendolnya elalu jadi bintang utama, antriannya panjang sekali mau beli cendol nangka dan es campur
Jajanan Pasar. Cendolnya selalu jadi bintang utama, antriannya panjang sekali mau beli cendol nangka dan es campur
Seperti di Malioboro
Seperti di Malioboro
Seperti di Pekan Raya Jakarta
Seperti di Pekan Raya Jakarta

Saya yang memang niatnya hanya ingin melihat Eka Kurniawan, tidak berniat membeli apapun di dalam. Apalagi ketika tahu bahwa memang tenda tenda yang ada di dalam sama persis dengan tahun kemarin. Tapi niat hanyalah sebatas niat, begitu melewati tenda yang menjual segala jenis petis, terasi, ikan asin, ikan teri, iman goyah juga. Untung saja saya membawa uang sedikit, jadi akhirnya bisa terkontrol, itupun musti pinjam uang suami untuk membayar ikan asin sepat. Tapi senang sekali saya pulang ke rumah dengan membawa ikan asin, ikan teri, petis, dan terasi.

Seperti di Pasar Genteng Surabaya, segala macam petis, terasi, kerupuk, ikan teri dan sebagainya ada dan lengkap
Seperti di Pasar Genteng Surabaya, segala macam petis, terasi, kerupuk, ikan teri dan sebagainya ada dan lengkap
Guling terlihat dimana mana
Guling terlihat dimana mana

Ketika saatnya makan tiba, ini adalah hal yang sulit karena harus memilih dari segala macam pilihan yang banyak tersedia di depan mata. Saking banyaknya, seperti halnya tahun kemarin, kami sampai bolak balik membaca menunya apa saja di semua tempat makan tersebut. Akhirnya kami memilih satu tempat makan yang nampak ramai, berharapnya makanannya enak. Tapi ternyata setelah makanan datang, rasanya biasa saja. Pada saat saya membaca menu, suami sampai menunggu lama karena saya tidak juga memutuskan akan makan apa. Dia bertanya kenapa lama sekali. Saya bilang ingin makan sesuatu yang saya tidak bisa masak di rumah. Dia lalu menjawab “kalau mau makan ya makan saja, tidak usah sampai berpikir bisa masak sendiri apa tidak di rumah. Sesekali makan masakan orang lain.” Ya, kan saya inginnya memakan sesuatu yang saya sulit memasaknya *pembelaan.

Akhirnya makan nasi rames dan nasi pedas Bali
Akhirnya makan nasi rames dan nasi pedas Bali

Eka Kurniawan

Nama Eka Kurniawan sebenarnya tidak terlalu asing buat saya karena sepertinya dulu saya pernah membaca bukunya yang berjudul O, tapi sama-samar ingat. Dua buku yang dibawakan Dita sampai sekarang belum selesai semua saya baca, terus terang karena saya agak ngos-ngosan membacanya. Ceritanya bagus, pemilihan katanya juga indah, alurnya keren, cuma mungkin otak saya yang agak susah mencerna. Jadi butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan dua buku tersebut, itupun saya selang seling membaca buku yang lain.

Sesi Eka Kurniawan diadakan di ruangan Theater Tong Tong Fair. Tidak disangka hampir satu ruangan terisi penuh, tetapi kebanyakan yang datang adalah mereka yang sekitar umur diatas 45 tahun, beberapa jurnalis juga, serta mahasiswa Leiden. Kenapa saya tahu? karena sewaktu antri masuk, saya menguping pembicaraan.

Eka Kurniawan ini lucu juga ternyata, sepanjang acara suasana gayeng dengan jawaban-jawaban santai tapi mengena yang ditanyakan oleh Wim Manuhutu, seorang historian. Cantik itu luka merupakan novel pertama Eka Kurniawan, pertama kali diterbitkan tahun 2002 oleh penerbit asal Jogjakarta. Waktu itu diterbitkan tidak dalam jumlah banyak karena Eka Kurniawan memang tidak mentargetkan bahwa novel pertamanya ini untuk pangsa pasar yang besar.  Ternyata berbelas tahun kemudian novel ini malah diterjemahkan oleh penerbit dari Inggris dan sebelumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Dan sekarang Cantik Itu Luka (Schoonheid is een Vloek) sedang dikerjakan penerbit dari Belanda untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Beberapa fakta yang saya baru tahu tentang Eka Kurniawan, ternyata dia adalah penulis skenario sinetron Disini Ada Setan. Wah, saya tidak menyangka dia adalah orang di balik layar sinetron yang saya tidak suka sama sekali. Dia mengatakan saat itu menulis baginya adalah hobi, tetapi dia juga harus melihat kenyataan bahwa hidup bukan hanya sekedar hobi, hidup juga butuh uang, itu yang membuat dia terjun ke industri pertelevisian. Saat Eka Kurniawan memulai menulis novel, dia banyak belajar dari novel-novel Roman Picisan.

Pada saat acara selesai dilanjutkan dengan sesi tanda tangan buku, antrian tidak terlalu banyak. Tidak berapa lama saya sudah berhadapan langsung dengannya, berbincang sebentar karena dia tidak menyangka ada yang membawa buku selain Cantik Itu Luka. Komentar suami, “kok antriannya tidak sepanjang waktu kamu minta tanda tangan Dewi Lestari ya? DanEka Kurniawan ini kok orangnya malu-malu ya, jadi terkesan kamu yang agresif.” Wah, saya jadi terbahak-bahak mendengar kalimat terakhir, tidak sadar kalau terlihat agresif :P. Segmen pembaca Eka Kurniawan pastinya berbeda dengan Dee, jadinya ya tidak seramai Dee. Mas Ewald ini memang senang sekali mengikuti cerita tentang beberapa penulis Indonesia, karena dia ingin tahu buku seperti apa yang disukai oleh istrinya. Apalagi kalau sampai bisa bertemu dengan penulisnya, jadi dia tahu secara nyata penulisnya seperti apa.

Sesi Eka Kurniawan
Sesi Eka Kurniawan

Senang akhirnya bisa lebih mengenal sosok Eka Kurniawan dari perbincangan di acara ini selama kurang lebih satu jam. Sekarang tugasnya adalah menyelesaikan membaca bukunya.

Selamat berakhir pekan, apa rencana akhir pekan kalian?

-Den Haag, 10 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

 

Akhir Pekan Ceria

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D

Sesuai dengan judulnya, akhir pekan yang kami lalui memang ceria dalam arti sebenarnya. Tentu saja ceria disini berhubungan dengan cuaca. Nyaris seminggu kabut selalu turun pagi hari dan sore hari. Memang tidak terasa terlalu dingin karena kami kalau keluar rumah tidak menggunakan jaket, tapi tetap saja rasanya kelabu kalau melihat kabut yang turun. Bukan hanya kabut, hujan juga berhari-hari mengguyur. Tidak terus-terusan turun hujan di tempat kami tinggal, tetapi tetap saja perlu membawa peralatan perang kalau hujan.

Kabut pekat
Kabut pekat

Tetapi akhir pekan cuaca mulai membaik. Lumayan sabtu dan minggu sinar mataharinya terik dengan suhu sekitar 25 derajat celcius. Kesempatan ini tentu saja tidak kami sia-siakan dengan bersepeda menyusuri rute yang baru dan berjalan-jalan di hutan. Kalau cuaca cerah begini senang melihat oarang-orang giat beraktivitas di luar rumah. Ada yang berperahu, memancing, berenang di danau, anak-anak kecil bermain air di halaman rumah, berjemur di taman, membaca buku, jalan-jalan di hutan, duduk dipinggir danau, berolahraga, dan masih banyak aktivitas lainnya. Kalau cuaca sedang cerah, semua orang berbondong-bondong keluar rumah.

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D
Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D

Dengan cuaca seperti ini, enak sekali bersepeda atau berjalan-jalan di hutan. Rasanya segar meskipun saya merasa agak gerah. Sampai diledek suami “gaya kamu berasa gerah, nanti bagaimana kalau liburan ke Indonesia, bisa-bisa uring-uringan :p” padahal tahun kemarin saat awal datang ke Belanda saya selalu uring-uringan karena udara dingin sekali. Hampir 1.5 tahun setelahnya keadaan menjadi berbalik.

Dalam hutan. Jalan-jalan begini dalam bahasa Belanda namanya wandelen
Dalam hutan. Jalan-jalan santai dengan jarak agak jauh kalau dalam bahasa Belanda namanya wandelen.
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!

Ada hal yang menggangu ketika jalan-jalan, yaitu serbuk sari (pollen) yang beterbangan. Untung kami tidak punya alergi terhadap serbuk sari atau bunga tertentu, jadi tidak bersin-bersin dan pilek. Tapi tetap saja risih masuk ke hidung. Jadi rasanya ketika jalan-jalan seperti ada salju beterbangan. Dimana-mana putih warnanya. Membuat kotor rambut juga, menempel. Kalau punya alergi terhadap rumput, serbuk sari dari bunga, tumbuhan namanya hooikoorts. Biasanya sering muncul kalau bunga-bunga mulai mekar

Pollen (serbuk sari)
Pollen (serbuk sari)
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ad cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ada cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Nongkrong pinggir danau
Nongkrong pinggir danau

Kalau cuaca panas begini rasanya ingin minum yang dingin-dingin. Inginnya minum es degan sih atau dawet trus duduk-duduk di bawah pohon sambil makan rujak super pedes. Tapi adanya es krim 😀 awalnya kami akan ke Ikea membeli es krim karena es krimnya enak dan murah meriah. Tapi di tengah jalan menuju Ikea kami menjumpai ada yang jual es krim rumahan. Mas Ewald bilang untuk beli disini saja, “kita beli disini saja. Kan membantu orang yang punya usaha sendiri.” Aduh, tersentuh mas dengan ucapanmu :D. Es krimnya enak, rasanya pas.

Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya :D
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Bunga
Bunga Digitalis purpurea. Bunganya seperti lonceng. Ini karena pakai kamera Hp jadi kalau diperbesar pecah.

Akhir pekan saya tidak terlalu heboh masak. Sabtu menunya gudeg sudah ada persediaan, masak yang banyak untuk persediaan bulan puasa, persiapan kalau malas masak melanda. Sedangkan minggu masak stamppot yang merupakan makanan tradisional Belanda. Stamppot ini identik dengan makanan musim dingin, tapi bisa juga dimakan segala musim. Stamppot adalah kentang direbus yang ditumbuk halus bersama sayuran lainnya (biasanya wortel, kale, atau zuurkool-kubis asin-) ditambah keju, margarin, lauknya sausage. Selain dengan sayuran, bisa juga digunakan buah.

Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel
Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel

Yang saya masak adalah stamppot modifikasi, vegetarian. Kentang diganti ubi saya tumbuk bersama ujungnya venkel. Diatas kentang saya taburi dengan bawang yang dicampur dengan balsamic. Sayurnya venkel, asparagus, wortel, jagung kecil. Lauknya perkedel tahu yang dipanggang dan tempe yang dibentuk burger dan dipanggang juga. Ini mengenyangkan sekali tapi enak rasa ubi tumbuknya.

Stamppot
Stamppot ubi lauk perkedel tahu panggang. Bebas minyak
Stamppot lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak
Stamppot ubi lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak

Selamat puasa hari pertama. Semangaatt!

-Den Haag, 6 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Ramadan dan Penghormatan, Haruskah?

Ramadan akan tiba dalam hitungan hari. Bulan yang saya nanti atau mungkin dinantikan oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia. Kenapa saya katakan mungkin dinantikan? ya karena saya tidak tahu jumlah umat muslim yang menantikan Ramadan, apakah semuanya memang menantikan atau ada yang biasa-biasa saja. Jadi lebih baik saya tuliskan dengan kata “mungkin” saja. Namun mari berbaik sangka saja bahwa semua umat muslim di seluruh dunia memang selalu menantikan datangnya bulan Ramadan.

Tahun ini adalah Ramadan kedua (Insya Allah jika diberikan umur yang barakah) saya jauh dari keluarga di Indonesia, merasakan rindu berburu menu buka puasa bersama teman-teman, merasakan rindu suasana tarawih bersama di musholla atau masjid dekat rumah, memendam rindu berbuka puasa dan sahur bersama Ibu dan adik-adik. Banyak hal yang selalu saya rindukan ketika jauh seperti ini terutama menjelang Idul Fitri.

Selain menantikan datangnya bulan Ramadan dengan penuh suka cita, ada hal yang selalu meresahkan saya menjelang Ramadan tiba. Saya selalu membaca entah di twitter, di Facebook (dulu saat masih aktif) ataupun di portal berita tentang seruan untuk menghormati orang yang berpuasa. Seruan tersebut tidak saja datang dari perorangan tetapi juga diucapkan oleh para pemuka agama. Sungguh, hal ini benar-benar meresahkan saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan di blog kami saja, mengeluarkan uneg-uneg sebagai bentuk opini pribadi yang selama ini saya pendam, coba saya kaji sendiri dan mencari sambungan logikanya disebalah mana antara puasa Ramadan dan penghormatan.

Saya tidak tahu pasti entah sejak kapan fenomena seruan untuk menghormati orang yang sedang berpuasa itu muncul. Kenapa saya katakan fenomena? karena seingat saya (mudah-mudahan ingatan saya tidak terlalu buruk ya) saat masih kecil sampai masa kuliah tidak pernah mendengar “suara” lantang seruan ataupun himbauan untuk menghormati orang yang berpuasa. Bahkan seingat saya saat itu tidak pernah ada huru hara kegaduhan ataupun marah-marah, menuntut menutup dan mengobrak abrik warung dan tempat makan yang masih tetap beroperasi menjalankan usahanya saat bulan Ramadan, oleh mereka yang katanya mengaku beragama. Disini letak tidak paham saya dengan kelakuan orang yang mengatasnamakan umat beragama.

Sejak kapan seseorang yang berpuasa Ramadan butuh dihormati? Kenapa kalau menjalankan puasa Ramadan menuntut untuk dihormati? Puasa itu adalah ibadah yang hubungannya antara seseorang yang menjalankan dengan Allah, jadi fokusnya disana. Kenapa harus melibatkan orang lain yang terkesan memaksa dan diucapkan dengan kalimat “menghimbau”? Puasa maupun bentuk ibadah yang lainnya adalah sifatnya personal, perorangan. Puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka Dia yang akan memberikan ganjarannya, bukan sesama manusia, bukan minta dihormati ataupun menuntut untuk dihormati.

Kita kembalikan lagi sebenarnya esensi puasa itu apa? menahan diri. Dalam hal ini bisa dijabarkan menahan diri dari makan, minum, tidak berhubungan suami istri dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Bisa juga dipanjangkan dengan menahan diri dari segala hawa nafsu dan hal-hal yang membatalkan puasa. Hawa nafsu disini termasuk tidak marah-marah, memaki, berprasangka buruk, bergunjing dan segala hawa nafsu lainnya. Jadi sudah jelas bahwa puasa itu adalah bentuk ibadah seseorang kepada Allah yang tujuannya adalah menahan diri. Nah, kalau sudah paham bahwa hakikat berpuasa adalah kita harus menahan diri, kenapa kita harus marah-marah kalau misalkan ada orang yang makan didepan kita? kenapa kita harus geram kalau ada yang minum es degan didepan kita? Yang harus kita tahan adalah hawa nafsu kita, bukan menyuruh orang lain untuk memahami kita yang berpuasa. Kalau memang sudah niat, yakin, nawaitu untuk beribadah puasa, apapun godaan diluar sana tidak akan menggoyahkan niat kita dalam beribadah. Itu adalah ujian keimanan kita. Masak iya, iman kita langsung goyah hanya karena ada yang makan rujak cingur atau lontong balap didepan kita. Kalau memang iya, harusnya kita menanyakan kepada diri sendiri niat berpuasanya apa, bukan malah menyalahkan mereka yang sedang makan atau minum atau hal-hal lainnya. Tidak usah mencari kambing hitam atau pembenaran dengan dalil ayat Al-Qur’an, lihat dulu kedalam diri sendiri sebelum menuding sana sini, bersihkan dulu niat kita dalam berpuasa, kuatkan niat kita. Kalau memang akhirnya goyah dan batal berpuasa, ya salahkan diri sendiri kenapa niatnya tidak kuat, kenapa iman kita selemah itu, kenapa tujuan kita berpuasa bisa kalah hanya karena melihat orang lain makan dan minum disekitar kita. Lihat kedalam diri sendiri sebelum menyalahkan siapapun.

Tidak perlulah sampai mengobrak abrik warung atau tempat makan yang tetap beroperasi selama Ramadan atau meminta mereka menutup warungnya. Mereka mencari nafkah, jangan sampai mematikan usaha orang lain dengan dalih penghormatan terhadap yang berpuasa, masak iya agama mengajarkan hal tersebut dan keimanan kita sedangkal itu. Agama tidak mengajarkan untuk berbuat kerusakan. Yang butuh makan kan bukan hanya umat Islam saja. Bahkan ada umat Islam yang tidak diwajibkan puasa (seperti orang yang sudah tua, Ibu hamil, Ibu yang sedang menyusui) juga tetap butuh makan dan minum. Kalau marah-marah sampai mengobrak abrik tempat makan dan menuntut mereka untuk menutup usaha selama Ramadan, kembali lagi, sudah benar belum niat puasa yang marah-marah itu. Puasa kok marah-marah bertamengkan ayat Al-Qur’an. Lihat lagi kedalam diri sendiri, kalau imannya kuat, niatnya benar, ujian seberapa beratpun Insya Allah ibadah puasa tetap lancar .

Islam itu sudah mayoritas di Indonesia, mbok ya ndak usah minta dihormati segala apalagi sampai gila hormat. Seseorang akan dihormati itu kan bukan atas dasar pemaksaan ataupun himbuan. Rasa hormat itu akan timbul dengan sendirinya jika seseorang memang layak dihormati, sesederhana itu. Rasa hormat itu bukan timbul karena himbauan “hai, aku puasa nih, kamu harus hormatin aku dong yang puasa. Jangan makan didepanku.” ya kan itu ga bener. Kalau memang niat kita puasa tapi merasa tidak kuat kalau melihat ada yang makan minum disekitar kita, ya kita yang menjauh, bukan koar-koar kalau sedang puasa dan marah-marah sama mereka. Kembali lagi, puasa itu adalah ibadah antara perorangan dengan Allah, tidak perlu juga semua orang tahu bahkan minta dihormati segala.

Saya tidak akan menceritakan panjang lebar pengalaman berpuasa selama di Belanda pada tulisan ini, karena sudah pernah saya tulisankan tahun lalu disini. Yang pasti saya senang menjadi minoritas disini, ibadah tetap khusyuk meskipun tetap ada penyesuaian di sana sini. Saya juga tidak akan menghimbau mereka yang menjadi mayoritas di Indonesia untuk merasakan menjadi minoritas di tempat lain, itu juga terlalu jauh langkahnya. Tidak usah jauh-jauh melihatnya. Kembali lagi saya tuliskan berkali-kali, lihat diri sendiri. Ini bukan masalah menjadi mayoritas atau minoritas, tetapi niat dalam beribadah. Menjadi Islam yang mayoritas ataupun minoritas disuatu tempat kalau berpuasa dengan niat yang benar dan kuat, segala hal yang ada disekeliling, baik itu hal yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan adalah sama-sama ujian keimanan. Hasil ibadah selama Ramadan selama satu bulan selayaknya tercermin selama 11 bulan setelahnya. Apakah kita menahan nafsu hanya selama Ramadan saja atau kita tetap menjalankan hakikat Ramadan dalam kehidupan sehari-hari pada sebelas bulan setelahnya, semua memang pilihan kita. Mudah-mudahan yang menjadi pilihan kita bisa membawa kebaikan untuk kita dan sekitar serta membawa berkah untuk hidup kita.

Mari luruskan niat untuk puasa Ramadan, niatkan beribadah untuk Allah, pergunakan sebaik mungkin bulan yang penuh barakah untuk beribadah dan berbuat baik kepada sesama, berdakwah dengan cara baik dan benar serta tidak merugikan. Dakwah yang dilakukan dari hati, sampainya juga akan ke hati. Mari hormati diri sendiri dengan berpuasa secara baik, benar, ikhlas serta sesuai ajaran agama, tidak usah mencari penghormatan dari orang lain. Orang lain akan hormat kalau memang kita layak dihormati, sesederhana itu. Wes ndak usah ribetlah itu intinya, puasa ya puasa saja. Kalau puasa sunnah biasa saja kenapa kalau Ramadan kok mendadak gila penghormatan. Semoga kita bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama bulan Ramadan, yang datang hanya satu tahun sekali.

Selamat puasa Ramadan bagi yang menjalankan.

-Den Haag, 2 Juni 2016-