Gelar Akademis di Undangan Pernikahan

sepatu

Minggu lalu, tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saya menanyakan di grup wa yang isinya teman-teman dekat perihal apakah mereka akan mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan. Setelahnya kami terlibat diskusi yang malah berujung saya teringat dengan pengalaman tidak mengenakkan di masa lalu menyangkut gelar akademis ini. Pengalaman tidak mengenakkan disingkirkan dulu karena sudah menjadi masa lalu karena yang menarik perhatian saya tentang pencantuman gelar akademis di undangan pernikahan. Saya dan suami tidak mencantumkan gelar di undangan pernikahan, terus terang saya lupa alasannya apa. Yang pasti jauh sebelum menikah saya memang punya angan-angan tidak akan mencantumkan gelar akademis pada undangan. Tidak ada alasan khusus hanya memang tidak ingin saja. Bersyukurnya memang Ibu tidak ikut campur banyak pada konsep perkawinan kami termasuk undangan dari segi desain, kata-kata, bahkan sampai pada pencantuman gelar. Semua diserahkan pada kami.

Tidak adanya intervensi dari Ibu masalah undangan pernikahan ini juga terlihat pada undangan pernikahan adik yang menikah setahun sebelum saya. Adik dan suaminya mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan mereka, saya juga tidak tahu pasti alasannya kenapa. Mencantumkan atau tidak mencantumkan pasti punya alasan masing-masing, tidak ada yang salah dan ini tentang selera. Ibu dan keluarga saya juga tidak pernah mempermasalahkan dan mudah-mudahan tidak ada rasan-rasan di luar sana.

Undangan pernikahan saya dan suami cukup sederhana kalau dilihat dari desainnya. Saya meminta tolong adik teman yang sudah saya kenal baik dan lulusan dari desain produk untuk membuat desain undangan. Awalnya tentu saja saya mencari ide undangan di internet. Ingin ini dan itu, pokoknya banyak inginnya lama-lama pusing sendiri. Waktu itu saya juga tidak punya waktu banyak untuk berpikir terlalu njlimet karena saya sudah kena tegur dosen pembimbing gara-gara telat mengerjakan revisi tesis. Suami membuat desain awal undangan. Kami bertukar ide lewat email juga whatsapp. Maklum ya waktu itu belum ada telefon gratisan di wa dan juga kami tidak suka skype-an, jadi ya membicarakan tentang pernikahan lewat wa atau email karena suami menelepon setiap dua minggu sekali. Setelah tahu apa yang kami inginkan, lalu saya menyampaikan gagasan kami kepada kenalan tersebut dan dia merangkumnya dalam desain undangan yang kami revisi beberapa kali sampai hasil final. Kami sangat senang dengan hasil akhirnya yang memang semua idenya dari kami ditambah beberapa masukan dari yang membuat. Jadi sentuhan personalnya ada. Tetapi karena kami hanya memesan sebanyak 110 undangan (kami mengundang hanya 100 orang di Indonesia dan mengirim untuk keluarga dan teman-teman suami sebanyak 10 orang sebagai pemberitahuan), maka biaya produksinya lumayan membengkak karena kalau membuat undangan kan ada jumlah minimalnya sedangkan kami kurang dari jumlah minimal. Kami pikir, ya sudah lah tidak apa-apa, karena memang sudah sepakat dengan keluarga kalau kami mengundang yang dekat saja, jadi 100 undangan sudah cukup.

Jadi undangan pernikahan kami menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris tetapi tetap di dalam satu undangan. Bagian luarnya ada amplopnya tetapi tidak menutup secara keseluruhan undangan intinya. Seperti ini penampakannya. Ini foto tahun 2014 ketika saya kirimkan ke suami tentang hasil akhirnya.

Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh
Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh. Ada kesalahan tulisan pada “you’re invited” yang akhirnya saya koreksi satu persatu. Untung cuma 110 (masih untung :D)
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya menggabungkan dua hal yaitu Jawa dan Belanda. Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu seperti bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah :D *jawaban simpel
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya ingin menggabungkan dua hal yaitu Jawa (saya) dan Belanda (suami). Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu terinspirasi dari bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah ūüėÄ *jawaban simpel. Kata-katanya saya lupa siapa yang membuat, apakah saya ataukah suami.
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan.

Isi undangannya tidak saya sertakan ya karena akan banyak hal perlu di tutup dan saya malas mengeditnya *alasan opooo iki :))). Halaman awal undangan berbahasa Indonesia, lalu kalau diangkat kertasnya, ada halaman dibawahnya yang untuk bahasa Inggris. Kalau ada yang bertanya kenapa menyertakan gambar bagian bawah tubuh yang menyorot saya memakai rok dan menggunakan converse dan suami menggunakan converse juga? Karena seperti itulah saat kami pertama bertemu. Saya menggunakan rok dan memakai converse warna merah(meskipun di undangan warnanya tidak merah), sedangkan suami memakai converse warna hitam. Itu ide dan desain awal gambarnya dari suami yang disempurnakan oleh pembuat undangan. Cerita tentang sepatu juga beberapa kali saya sertakan linknya di beberapa tulisan. Sekarang saya sertakan lagi dan bisa dibaca di sini.

Lho kok malah berpanjang lebar pembukaannya pamer undangan kami :))). Kembali lagi ke topik. Jadi, dari hasil ngobrol dengan teman-teman dekat di grup wa yang tentu saja diselingi guyonan receh ala kami, ada beberapa hal kenapa orang mencantumkan atau tidak mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan mereka (kami tentu saja membicarakan tentang undangan pernikahan di Indonesia karena tidak terlalu mengerti tentang undangan pernikahan di luar negeri) :

  • Mencantumkan Gelar Akademis = Kebanggaan

Bisa dipahami karena semakin banyak gelarnya maka orang semakin tahu pendidikannya sampai setinggi apa. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini karena bisa memberi tahu orang lain (undangan) bahwa kedua pasangan ini lulusan dari fakultas apa (kalau misalkan ada yang mikir ini gelarnya dari fakultas apa), lulusan dalam negeri atau luar negeri, dan itu memang memberikan rasa bangga tersendiri. Tidak munafik juga kalau ada yang bertanya saya lulusan apa darimana ya saya beritahu dan saya bangga, bahkan saya pernah menulis postingan di blog ini. Tapi kalau tidak ada yang bertanya ya saya diam saja.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Karena Permintaan Orangtua

Meskipun pasangan calon pengantin tidak ingin mencantumkan gelar, tapi karena orangtua menginginkannya, maka demi membahagiakan orangtua mereka memenuhi permintaan dengan mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan. Atau mungkin dengan mengambil jalan tengah, membuat dua macam undangan yang berbeda. Satu mencantumkan yang undangannya diberikan untuk teman-teman pengantin sedangkan yang menggunakan gelar diberikan kepada teman-teman kedua orangtua. Ingat, pernikahan di Indonesia kebanyakan adalah hajat orangtua juga sehingga orangtua juga mempunyai andil besar untuk menentukan ini dan itu.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Ini seperti adik saya, mencantumkan gelar akademis tanpa ada alasan khusus. Mereka melihat lumrahnya undangan pada umumnya, jadi mereka ya ikut mencantumkan juga.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Siapa Tahu Membuka Jalan Rejeki

Namanya rejeki tidak ada yang tahu kan datangnya darimana. Siapa tahu dengan mencantumkan gelar akademis maka terbuka juga pintu rejeki yang lebih baik. Jadi misalkan ada teman dari salah satu orangtua begitu mengetahui pengantinnya bergelar misalkan Teknik Mesin, lalu ternyata Beliau sedang membutuhkan lulusan Teknik Mesin di kantornya, nah siapa tahu beliau menawarkan untuk menginterview pengantin yang bergelar Sarjana Teknik untuk bekerja di kantornya dengan gaji lebih besar dan posisi lebih baik dari sebelumnya. Ini permisalan saja ya.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Kedua Mempelai Gelarnya Tidak Satu Tingkat

Ada yang memang seperti ini. Karena calon pengantin gelarnya tidak satu tingkat (misalkan Sarjana dengan Ahli Madya atau Sarjana dengan Master atau lulusan SMA dengan Master, dsb), maka lebih baik tidak mencantumkan saja. Misalkan gelar akademis pengantin wanita lebih tinggi dibandingkan gelar pengantin pria, atau sebaliknya, daripada menjadi bahan pembicaraan diantara para undangan atau tetangga, maka gelar akademis tidak disertakan pada undangan. Kalau kata teman saya, “Masyarakat kita ini kan selo selo hidupnya. Gelar akademis yang tidak sama saja bisa jadi bahan gunjingan.” Atau ada kemungkinan lain misalkan salah satu calon pengantin merasa tidak nyaman karena gelar antara keduanya tidak satu tingkat (atau tidak satu level), jadi diambil jalan tengah tidak usah mencantumkan saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Undangan Pernikahan Bukan CV

Kalau ini jawaban suami ketika saya tanya dua hari lalu. Saya bertanya kenapa ya waktu itu kok dia tidak meminta untuk mencantumkan gelar pada undangan pernikahan kami. Dia malah kaget kenapa harus dicantumkan karena undangan pernikahan kan bukan CV (Curriculum Vitae). Dia bilang, “Lho kita kan akan menikah bukan mau melamar pekerjaan. Kenapa harus mencantumkan gelar akademis?” Dan ternyata dia baru tahu kalau di Indonesia mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan itu sudah biasa, maksudnya bukan hal baru lagi. Dia hanya senyum-senyum saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Tanpa alasan tertentu ini seperti yang saya lakukan. Karena saya tidak mempunyai alasan yang kuat kenapa saya harus menyertakan gelar akademis pada undangan pernikahan kami, makanya saya tidak menyertakan. Rasanya lebih nyaman mencantumkan nama asli saya dan suami tanpa ada gelar akademis ataupun gelar akademis kedua orangtua atau misalkan gelar haji ataupun hajjah jika ada yang punya.

Tapi kembali lagi ya karena memang ini sudah biasa di Indonesia maka tidak ada yang salah tentang pencantuman ataupun tidak mencantumkan gelar akademis ataupun gelar-gelar lainnya (misalkan gelar di suku Jawa atau gelar suku lainnya). Semuanya sah-sah saja karena kembali lagi sesuai dengan tingkat kepentingan dan selera. Yang memasang gelar tidak akan didenda, yang tidak memasang pun juga tidak akan masuk penjara, begitu kira-kira permisalannya.

Nah, tapi saya tetap penasaran nih ingin bertanya kepada yang membaca tulisan ini. Kalau yang sudah menikah apakah dulu menyertakan gelar akademis (atau gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan pertimbangannya apa. Kalau yang belum menikah, sudah mempunyai rencana nanti ingin mencantumkan atau tidak gelar akademis (dan gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan kalau boleh tau pertimbangannya apa. Atau kalau yang mempunyai pendapat lain, monggo lho bisa dituliskan pada kolom komentar. Saya sangat tertarik membaca dan mengetahui pendapat kalian.

-Nootdorp, 10 Januari 2017-

Akhir 2016 dan Awal 2017

snapseed-13

Apa yang kami lakukan pada hari terakhir di 2016 dan hari pertama di 2017? yuk simak cerita saya *pembukaan seperti Vlog masa kini :)))

Sebenarnya tidak ada yang sangat istimewa karena sama seperti akhir pekan sebelumnya, aktivitas yang kami lakukan seputar bersih-bersih rumah, olahraga, dan leyeh-leyeh. Tetapi akhir pekan ini menjadi istimewa karena saya sudah tidak sabar melihat warna warni kembang api di malam tahun baru. Sebagai pencinta kembang api, hasrat menonton kembang api semakin tersalurkan sejak saya tinggal di Belanda karena banyak acara yang menyuguhkan kembang api, salah satunya kami pernah melihat Festival International kembang api di Scheveningen. Menjelang tahun baru, sejak tanggal 31 Desember jam 12 siang sampai tanggal 1 Januari jam 12 siang, kembang api dan petasan boleh dinyalakan. Diluar dari waktu yang ditentukan, pelaksanaannya dilarang walaupun masih saja ada yang suka nyolong nyolong. Sementara suami malah benci dengan suara petasan dan kembang api. Mengganggu telinga dan aktivitas tidur katanya. Padahal saya selalu lonjak-lonjak kesenengan kalau melihat kembang api dengan bentuk macam-macam di udara.

Sabtu siang setelah bersih-bersih rumah, saya menyiapkan makan siang yang tidak pakai ribet yaitu sushi. Kalau sedang males masak dan pengen cepet, saya biasanya membuat sushi karena kami berdua memang sushi mania. Paling tidak sebulan sekali kami makan sushi. Nah, sabtu kemarin entah dimana saya menaruh gulungan sushi yang berujung dari pencarian yang tidak ketemu, akhirnya saya menggulung sushi tanpa menggunakan bambu gulungannya. Menggulung biasa. Meskipun agak berantakan, tapi tidak jauh berbeda sepertinya ketika saya menggunakan gulungan bambu. Tidak jauh berbeda tidak rapinya maksudnya haha. Saya membandingkan tentu saja dengan sushi yang ada di restaurant yang hasilnya rapi sekali.

Hasil dari yang memakai gulungan bambu
Hasil dari yang memakai gulungan bambu
Hasil minggu lalu tanpa gulungan bambu
Hasil minggu lalu tanpa gulungan bambu

Setelah makan siang suami pergi ke kota sebentar sedangkan saya yang malas gerak nglimpruk di rumah, kembali leyeh-leyeh nyambi masak. Suara petasan sudah mulai jedar jeder terdengar. Sorenya saat suami sudah sampai rumah kembali, kami keluar jalan kaki menuju toko kue dekat rumah untuk membeli Oliebollen (oliebol kalau cuma satu buah). Antriannya lumayan panjang. Oliebollen ini adalah makanan khas Belanda menyambut tahun baru berupa roti goreng isi kismis dan buah kering. Sebenarnya stan-stan yang menjual Oliebollen sudah banyak dijumpai semenjak akhir November dan berlangsung sampai 31 Desember. Kami pada akhirnya tidak hanya membeli Olibollen tetapi juga Berliner bollen (ini favorit saya karena ditengahnya ada fla yang rasanya tidak terlalu manis), Appelbollen, dan Appelbeignetten. Jadi malamnya kami makan segala macam yang kami beli ini sampai perut begah rasanya.

Tiga yang belakang itu Oliebollen. Biasanya pemyajiannya ditaburi bubuk gula pasir. Tapi kami memilih tidak. Dua yang di depan favorit saya.
Tiga yang belakang itu Oliebollen. Biasanya penyajiannya ditaburi bubuk gula pasir. Tapi kami memilih tidak. Dua yang di depan favorit saya Berliner bollen, dan dua yang dibelakang sebelah kanan itu Appelbollen

Jam delapan malam suami sibuk ketak ketik urusannya sedangkan saya mulai kesenengan karena tetangga depan belakang mulai menyalakan kembang api yang saling bersahutan dengan segala bentuk dan warna warninya. Suami manyun karena suara petasan dan kembang api mengganggu telinga dan konsentrasinya. Sedangkan istrinya malah gembira hilir mudik lihat kembang api dari dalam rumah. Terbayang kan bagaimana kami ini saling bertolak belakang :D.

Sekitar jam 10 malam suami sudah mengantuk dan tidur. Sedangkan saya masih segar bugar dengan mata yang masih cerah tetap memperhatikan kembang api yang kali ini saya lihat dari dalam kamar. Malam tahun baru seperti ini sebenarnya ada perasaan sedih yang selalu menghinggapi karena mengingatkan saya saat tahun baru terakhir bersama Bapak. 31 Desember 2011 malam, saya yang selalu pulang ke Situbondo pada akhir tahun karena kantor pasti libur selama 2 minggu, melewatkan malam tahun baru waktu itu dengan menonton Transformer di TV bersama adik sedangkan Bapak tidur. Menjelang jam 12 malam, Bapak terbangun dan menunggu detik-detik pergantian tahun. Saat jam 12 malam, kami saling mengucapkan selamat tahun baru lalu saling mengucapkan harapan-harapan di tahun yang baru lalu setelahnya kami sholat bersama. Ritual seperti itu sudah kami lakukan sekeluarga sejak saya masih kecil. Pada tanggal 1 Januari saya kembali ke Jakarta dan ternyata itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Bapak karena lima hari setelahnya Bapak meninggal dunia. Setelah saat itu, malam tahun baru selalu menyisakan sedih buat saya karena selalu teringat dengan Bapak.

Kembali ke cerita malam tahun baru saya dan suami. Jadi setelah ditunggu-tunggu, akhirnya jam 12 pun tiba dimana kembang api semakin riuh di udara. Saya melihat dari kamar semakin senang. Saya lalu membangunkan suami dan mengucapkan selamat tahun baru satu sama lain dan saling berucap harapan di tahun yang baru. Setelahnya suami tidur lagi dan saya tetap melihat dan merekam beberapa atraksi kembang api yang menurut saya menarik. Salah satunya dibawah ini. Oh iya, kata suami biasanya pas jam 12 malam tersebut para tetangga langsung saling mengucapkan selamat tahun baru kalau memang mereka sedang berada di luar rumah atau di jalan sekitar rumah. Nah karena kami sudah mematikan lampu rumah sejak jam 10 malam, maka kami mengucapkan tahun baru ke tetangga keesokan harinya. Saya tidur sekitar jam 1 malam dan suara kembang api masih ramai terdengar.

Hari minggunya saya masak istimewa. Kami mengadakan syukuran atau selametan kecil-kecilan atas rejeki titipan Allah. Syukurannya ya cuma kami berdua yaitu membuat tumpeng kecil. Dan menghantarkan beberapa kotak nasi kuning ke tetangga-tetangga dan saudara. Karena saya tidak punya cetakan tumpeng, awalnya mau dicetak pakai mangkok saja jadi tidak berbentuk tumpeng. Lalu tiba-tiba ada ide untuk membentuk tumpeng memakai karton yang dilapisi plastik. Untungnya saya punya banyak karton di rumah.

Tak ada cetakan tumpeng, karton pun jadi 😅
Tak ada cetakan tumpeng, karton pun jadi 😅

Dengan peralatan seadanya tumpeng pun jadi dengan makanan pendampingnya perkedel dan ayam panggang (karena males menggoreng makanya saya masukkan perkedel dan ayamnya ke dalam oven saja), telur dadar, sambel goreng pete kentang, tahu tempe kecap, mie, dan urap sayur. Tidak ada sambel karena sambel goreng kentang petenya sudah pedas.

Ini pertama kalinya saya membuat tumpeng dengan segala printilannya. Lumayan juga ya membuat pinggang remek selesai masak. Tapi saya gembira karena ada pengalaman pertama juga membuat tumpeng dan kami menghabiskan berdua yang ada di dalam tampah kecuali ayamnya cuma dimakan satu sama suami. Favorit suami sambel goreng kentang pete. Heerlijk katanya. Trus dibilangnya tumpeng saya seperti menara pisa alias miring :)))

Tumpeng mini porsi makan berdua langsung tandas tak bersisa
Tumpeng mini porsi makan berdua langsung tandas tak bersisa

Setelah saya dan suami memakan tumpeng kecil kami, lalu kami pergi ke tetangga-tetangga untuk mengucapkan selamat tahun baru dan membawa nasi kotak dan mengatakan kalau kami sedang mengadakan syukuran. Setelahnya kami pergi ke rumah Mama sambil membawa nasi kotak juga karena beberapa saudara berkumpul di sana.

Beberapa kotak nasi kuning dibagikan ke para tetangga dan saudara
Beberapa kotak nasi kuning dibagikan ke para tetangga dan saudara

Seperti yang Mas Ewakd tuliskan di postingan sebelumnya, semoga 2017 selalu menghadirkan kebahagiaan dan kesehatan yang baik untuk kita semua. Semoga 2017 kondisi di Indonesia dan dunia jauh lebih baik.

img_2806

-Nootdorp, 3 Januari 2017-

A happy and healthy 2017!

best-happy-new-year-pictures

As the final hours of 2016 here in the Netherlands are ticking away I wish all the readers of our blog a very happy and healthy 2017!

2017 will be a very important year for the people of the Netherlands and Indonesia.

In the Netherlands people feel more and more the (financial) stress of the situation from the unstable economic situation within the European Union and with the Euro. There are many uncertainties around the influx of immigrants from Syria and other Arabic and African countries that could lead to tensions with the Dutch citizens when it comes to social matters (like housing) and cultural differences. In March we will have elections in The Netherlands and I have recently become involved with a new and fresh political party so this promises to be a new and busy experience for me!

In Indonesia I feel worried about what I read in the press about the events concerning the Jakarte governor Mr. Ahok. It would be a very sad situation if religious circumstances would challenge the stability of Indonesia. Religion should not be a reason to silence opinions from individuals or groups in a society. I hope for 2017 that the situation in Indonesia stabilizes and the different religious groups can return to live peacefully and practice their religion with respect to the each other.

Nootdorp, 31 december 2016

Makan Malam Hari Natal

snapseed-9

Tahun lalu adalah pengalaman pertama saya menikmati suasana Natal di Belanda. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini tentang pengalaman Natal pertama di Belanda, saya dan suami berkunjung ke rumah Mama  untuk berkumpul bersama dengan anggota keluarga yang lain. Mama masih dalam keadaan berkabung karena Papa meninggal beberapa bulan sebelumnya. Karenanya Mama lebih memilih tinggal di rumah meskipun anak-anaknya ingin mengajak makan malam bersama. 

Tahun ini, karena beberapa beberapa anggota keluarga banyak yang pergi berlibur pada saat Natal dan kami takut Mama merasa kesepian kalau tidak terlalu banyak orang yang mengunjunginya, maka saya berinisiatif mengusulkan ide ke suami bagaimana kalau mengundang Mama ke rumah untuk makan malam pada saat tanggal 25 Desember. Tentu saja ide tersebut disambut gembira oleh suami. Ternyata begitu disampaikan ke Mama, beliau menyanggupi. Kami tentu sangat senang bisa mengundang Mama makan malam pada hari Natal. Lalu beberapa hari setelahnya, saya terpikir kenapa tidak mengundang juga anggota keluarga yang tidak sedang berlibur. Lebih banyak orang yang bisa datang, akan lebih ramai kan rumah. Pada akhirnya yang memberikan konfirmasi bisa datang sebanyak 3 orang. Suami memang dari keluarga kecil. 

Setelah ketahuan yang akan ada pada makan malam nanti total sebanyak 6 orang, saya mulai mencari menunya apa saja. Agak puyeng juga gonta ganti ide menu. Saking agak bingungnya dengan menu, sampai pernah terpikir mau saya masakkan soto ayam dan sate ayam saja haha. Tapi saya juga penasaran dengan kemampuan memasak dan ingin menantang diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman menyajikan masakan Nusantara. Saya bilang ke diri sendiri “masa ga bisa sih masak selain makanan Indonesia. Pasti bisa lah asal belajar.” Akhirnya dengan mantab saya menuliskan beberapa menu yang memang menurut saya masih bisa lah untuk dipelajari. Saya beberapa kali mencari sumber resep di youtube dan mempelajari dengan sungguh-sungguh langkahnya karena ada resep yang agak membuat saya bingung. Setelah lumayan paham, saya tidak sabar untuk eksekusi di dapur pada hari H.

Tanggal 24 Desember saya pergi seharian ke Amsterdam untuk mengikuti acara Sinau bareng Cak Nun dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya tentu tidak melewatkan kesempatan Cak Nun berkunjung ke Belanda karena memang saya suka dengan apa yang selama ini Beliau sampaikan. Ada banyak hal yang Beliau utarakan sesuai dengan cara saya belajar agama Islam maupun keingintahuan saya tentang agama-agama lainnya ataupun keinginan saya untuk belajar akan banyak hal. Mungkin nanti saya akan tuliskan dalam judul terpisah tentang pandangan saya akan Cak Nun dan acara di Amsterdam ini.

Tanggal 25 saya mulai mempersiapkan memasak sekitar jam 10 pagi. Saya mulai dengan membuat makanan penutup lalu dilanjutkan dengan makanan pembuka dan makanan utama. Sedangkan suami bertugas membersihkan rumah, mencuci baju, dan menyiapkan pernak pernik di meja makan. Jadi menu yang saya sajikan pada makan malam Natal adalah :

1. Makanan pembuka : sup labu kuning. Resep andalan karena sudah berkali-kali membuatnya dan sudah di luar kepala serta memikat lidah Mama mertua karena katanya enak sekali, saya contek dari blog Beth

2. Makanan Utama terdiri dari :

     – Hasselback potato (kentang utuh yang dikerat tipis sampai dasar) saya beri bumbu minyak zaitun beraroma truffle, rozemarijn yang dicincang halus, merica hitam kasar, bawang putih cincang halus, garam laut sedikit. Kentang saya rendam dalam bumbu tersebut selama 2 jam, setelahnya dipanggang 30 menit. Bumbu-bumbunya saya ngarang sendiri.

     – Wortel dan Asparagus (dalam keadaan utuh semua) yang saya beri bumbu (ini ngarang juga) : minyak zaitun, sedikit air jeruk, lada, thyme. Saya mengoleskan bumbu-bumbu tersebut satu jam sebelum dipanggang. Lalu saya panggang selama 30 menit.

     – Ayam panggang dengan bumbu : saus tiram, bawang putih cincang halus, kecap asin dan manis sedikit, jahe parut kasar, perasan jeruk lemon, kulit jeruk lemon, potongan kasar daun basil, merica hitam kasar, minyak wijen. Setelah direndam selama 3 jam, panggang selama 3o menit dan ketika akan disajikan taburi dengan wijen.

     – Roast beef aka daging sapi panggang. Karena sebelumnya saya tidak pernah membuat sama sekali daging sapi panggang, maka saya agak bingung bagaimana cara menentukan dia sudah matang di oven. Setelah mempelajari dan karena tidak mau gagal, akhirnya saya pakai cara yang paling gampang : menggunakan termometer daging saat dimasukkan ke oven. Jadi tidak perlu was was lagi apakah dagingnya sudah matang atau belum. Suami membeli daging yang jenis black angus 1kg. Saya goreng sebentar dagingnya dengan minyak sedikit (atau bisa juga margarine) sebelum dimasukkan ke oven. Tujuannya menggoreng sebentar ini untuk mengikat jus dagingnya supaya tidak keluar saat dioven. Setelah keempat sisi daging dipanaskan dalam wajan, lalu saya olesi dagingnya dengan bumbu : garam laut, merica hitam kasar, thyme, rozemarijn cincang kasar, minyak zaitun, dan bawang putih halus. Ini bumbu-bumbu juga saya ngarang. Saya masukkan ke oven suhu 140¬įC kurang lebih 2 jam atau saat suhu termometer dagingnya menunjukkan 62¬įC (untuk tingkat kematangan medium well). Setelahnya, istirahatkan daging selama 20 menit dengan ditutupi aluminium foil lalu iris sesuai selera. Ternyata setelah diiris, hasilnya persis yang saya bayangkan. Dagingnya tidak terlalu kering, masih berwarna agak merah muda tapi tidak terlalu juicy. Perfect!

     – Saus untuk roast beef saya membuat saus jamur, cari yang gampang saja. Jadi saya pakai Champignon potong-potong lalu goreng bersama bawang bombay di minyak bekas menggoreng dagingnya. Setelah jamur dan bawangnya layu, lalu saya masukkan santan (karena saya tidak punya krim kental). Setelah diberi bumbu garam laut dan merica, beri air sesuai kebutuhan lalu kentalkan menggunakan tepung maizena.

     – Salad sayuran. Ini suami yang menyiapkan karena ada salah satu keluarga yang vegan.

     – Salmon panggang. Ini buat saya karena saya tidak makan daging dan ayam.

3. Makanan penutup : Tiramisu. Saya baru pertama kali membuat Tiramisu. Jadi saya pelajari sungguh-sungguh langkah-langkahnya dari sini sumbernya. Karena memakai telur mentah, makanya saya membuat pagi di hari yang sama. Saya menyajikan dengan cara yang berbeda yaitu dengan gelas. Jadi seperti ini penampakannya :

Tiramisu dengan dua tingkat lady finger
Tiramisu dengan dua tingkat lady finger

4. Minuman : minuman ini urusan suami yang menyiapkan. Terdiri dari Gl√ľhwein, wine, beberapa botol minuman soda rasa buah, dan air mineral.

Karena hampir keseluruhan proses memasaknya dipanggang, jadi waktu tidak habis di dapur. Bumbu yang saya gunakan juga tinggal cemplang cemplung tidak ada yang diblender. Saya tinggal juga beberapa kali untuk beberes yang lain. Bahkan saya tinggal mandi juga. Saya tidak foto satu persatu makanannya. Secara keseluruhan setelah ditata di meja makan penampakannya seperti ini :

Sup labu kuning, ayam panggang, wortel asparagus panggang, daging sapi panggang, kentang panggang, saus jamur dan beberapa minuman. Tiramisunya masih di kulkas.
Sup labu kuning, ayam panggang, wortel asparagus panggang, daging sapi panggang, kentang panggang, saus jamur dan beberapa minuman. Tiramisunya masih di kulkas.

Bagimana komentar yang makan? Menurut mereka makanan yang saya sajikan rasanya enak sekali. Terbukti semua makanan ludes tak bersisa. Bahkan saya membuat tiramisu 10 gelas tak bersisa satupun padahal yang makan 5 orang, jadi satu orang makan dua gelas haha. Mama mertua suka sekali dengan rasa daging sapi panggang dan ayamnya. Beliau juga heran bagaimana saya bisa memasak makanan yang tidak saya makan tapi rasanya masih enak. Ya ilmu kira-kira saja sambil komat kamit doa rasanya tidak meleset 😅 Mama mertua ini komentator makanan yang jujur. Kalau enak ya dibilang enak, begitu juga sebaliknya. Karena pernah sekali masakan saya dibilang tidak enak haha. Saya tidak sakit hati, malah senang sudah dikritik. Pada awal akan makan, mama melihat ada tempat saus. Lalu beliau tanya apakah itu saus sate (saus kacang) lalu disambut tertawa oleh suami. Dia bilang kalau malam ini tidak menyediakan menu Indonesia sama sekali. Bisa dimaklumi Mama menanyakan saus kacang karena orang Belanda memang suka sekali sama saus kacang. Saya sangat gembira makanan yang saya masak ludes tidak bersisa dan semua bisa menikmati rasanya karena ada beberapa yang saya baru pertama kali membuatnya jadi agak was was juga sama rasanya. Ternyata kekhawatiran tidak terbukti. Kalau begini, rasanya ketagihan ingin mengundang keluarga makan-makan lagi di rumah *huahaha guayyaa. Saya juga senang karena bisa keluar dari zona nyaman, bisa menyajikan hidangan diluar masakan Nusantara.

Setelah makan malam, acara berlanjut dengan berbincang santai sambil minum teh dan makan roti coklat pemberian tetangga (seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya), roti pemberian Mama, kaasstengels buatan saya, dan beberapa kue lainnya sambil membuka satu persatu kado yang telah saya dan suami persiapkan. Acara yang ditunggu-tunggu ini, buka kado. Senang dengan reaksi masing-masing saat membuka kado dan saya juga kaget menerima kado dari suami yang diluar dugaan 😅

Pohon Natal di rumah *muncul lagi😅
Pohon Natal di rumah *muncul lagi😅

Acara selesai jam 10 malam. Tidak terasa 5 jam terlewati. Malam Natal yang menyenangkan. Bisa berkumpul bersama keluarga, saling bertukar cerita, makan bersama, sungguh kehangatan yang tidak terlupakan. Semoga kami semua selalu diberikan kesehatan yang baik dan umur sampai tahun-tahun selanjutnya agar bisa melewati kebersamaan penuh kehangatan dan suka cita.

-Nootdorp, 27 Desember 2016-

Komentar-komentar pada postingan sebelum-sebelum ini akan saya balas secepatnya begitu charger laptop saya ketemu ya (kesingsal seminggu lebih). Saya tidak bisa membalas komentar dari Hp (entah kenapa). Tiga tulisan saya tulis dari Hp (entah kenapa bisa😅). Terima kasih untuk komentar-komentarnya.

Den Haag Royal Christmas Fair 2016

Sejak saya pindah ke Belanda, kami sebenarnya sudah berencana setiap bulan Desember akan mengunjungi pasar Natal yang ada di Jerman atau negara-negara lain yang masih di sekitar Belanda. Kenapa tidak di Belanda saja? Kata suami pasar Natal di Belanda kurang berkarakter, maksudnya beda tipe dengan yang ada di Jerman atau Belgia atau Austria. Tapi kalau yang saya baca dari Internet, yang ada Valkenburg dan Dordrecht bagus pasar Natalnya. Mungkin ke dua kota tersebut bisa kami agendakan selanjutnya.

Karena Desember ini tidak bisa pergi jauh, maka kami menunggu pasar Natal yang ada di Den Haag buka sejak 15 Desember sampai 23 Desember 2016. Pasar Natal yang ada di Den Haag ini lokasinya ada di beberapa yaitu di pusat perbelanjaan, Lange Voorhout (kawasan kedutaan besar), dekat museum Mauristhuis dan ada beberapa tempat lagi yang tidak sempat kami kunjungi. Tadi malam setelah membeli barang untuk kado-kado Natal (iya saya selalu telat kalau beli kado Natal :))), menunggu suami pulang kerja sambil memutari pasar Natal yang disekitar pusat perbelanjaan. Yang saya temukan adalah truk-truk berjejer yang jual makanan. Den Haag yang saya lihat tadi malam cantik sekali, penuh kerlip lampu.

Den Haag
Den Haag

Setelah bertemu suami, kami lalu menuju ke pasar Natal yang ada di Lange Voorhout. Dari kejauhan tampak stan-stan berwarna putih yang berjejer. Wah besar juga ya, pikir saya. Setelah masuk (gratis) kami mulai perlahan memperhatikan ada stan apa saja di sana.
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
 

Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016

Lalu kami menjumpai sekelompok orang yang bernyanyi lagu-lagu bernuansa Natal. Seru deh karena kostumnya seperti yang saya lihat di film-film jaman dulu. Apalagi waktu mereka bernyanyi Jingle Bels (saya merekamnya), wah terasa sekali suasana Natalnya. Akhir-akhir ini juga cuaca dingin sekali. Kurang saljunya aja nih.

Den Haag Royal Christmas Fair 2016
Den Haag Royal Christmas Fair 2016
https://youtu.be/p4mxLhPM0Og

Nampang dulu
Nampang dulu
Setelah sampai ujung, dengan sadar masing-masing dari kami ternyata dalam hati membandingkan dengan pasar Natal yang ada di K√∂ln yang kami kunjungi tahun kemarin. Suami yang niat ingin minum Gl√ľhwein tidak ada satu stan pun yang jual di sini. Sampai dia bilang, yuk ke Aachen saja lihat pasar Natal di sana haha. Ya memang tidak bisa dibandingkan dengan K√∂ln sih pasar Natal yang ada di Den Haag ini. Namanya pun bukan Christmas Market ya. Tapi kami tetep terhibur dengan berkeliling stan yang ada di sana. Meskipun pulangnya suami mengajak mampir makan soto ayam di restoran Indonesia (wahaha niatnya beli Gl√ľhwein, ujung-ujungnya malah makan soto ayam)

Penampakan Soto Mie dan teh tawar panas. Rasa-rasa makan di pinggir trotoar di Indonesia kalau begini. Nikmat
Penampakan Soto Mie dan teh tawar panas. Rasa-rasa makan di pinggir trotoar di Indonesia kalau begini. Nikmat

CERITA SELIPAN

Hari kamis saya membuat lemper karena suami ada perayaan Natal di kantornya dan masing-masing orang disuruh bawa makanan yang khas. Lalu suami tanya apakah saya bisa membuat lemper karena sebelumnya saya pernah membuat lemper pesanan teman-teman kantornya dan mereka suka. Saya lalu menyanggupi untuk membuat lemper kembali, wong ya tidak terlalu susah tinggal gulung gulung. Saya membuat 30 buah yang rencananya akan saya bagikan juga ke tetangga kiri kanan dan Mama mertua. Setelah saya antar beberapa lemper ke tetangga, ternyata saya langsung diberikan kue coklat karena satu diantara mereka sedang membuat kue coklat untuk acara Natal di sekolah anaknya. Lalu tadi malam mereka mengantar lagi kue-kue coklat ke rumah. Dan suami juga membawa pulang kue coklat dari kantornya. Dan saya pun mendapatkan parcel Natal dari tempat kerja yang isinya kebanyakan coklat. Walhasil kulkas kami sekarang bergelimang kue-kue coklat dan coklat. Wah bahaya ini, bisa naik timbangan haha. Belum lagi setoples kaasstengels yang saya buat membuat tangan kami tidak berhenti buka tutup toples (resep kaasstengels saya contek dari sini). Mudah-mudahan kaasstengels ini masih ada penampakannya sampai hari minggu.


Selamat mempersiapkan perayaan di hari Natal bagi yang sedang mempersiapkan. Saya dan suami mengundang Mama mertua dan keluarga lainnya untuk makan malam di rumah dan tentu saja kami tidak sabar menunggu saat membuka kado-kado yang sudah dipersiapkan.

Pohon Natal di rumah kami
Pohon Natal di rumah kami

SELAMAT NATAL!

-Nootdorp, 23 Desember 2016-

Cerita Tentang Lipstick

Memenuhi janji kepada diri sendiri  untuk tetap menulis paling tidak satu tulisan setiap minggu meskipun (sok) sibuk, maka tulisan kali ini saya akan bercerita tentang hal yang santai dan tidak terlalu panjang. Karena saya juga tidak bisa duduk terlalu lama di depan laptop, jadi cerita tentang lipstick ini akan (dicoba) singkat dan padat.

Jadi begini, saya itu sejak dulu memang tidak pernah punya banyak Lipstick,  maksimal dua. Itupun saya pasti menunggu lipstick nya habis dulu baru beli yang baru. Istilahnya saya koret koret sampai habis baru saya beli yang baru. Dan kalau saya sudah cocok dengan satu warna dari merek tertentu, biasanya saya akan beli lipstick tersebut berulang kali. Saya malas coba-coba karena sayang kalau tidak cocok selain itu bibir saya ini gampang kering kadang sampai berdarah meskipun sudah menggunakan Lipbalm. Karenanya saya lebih sering menggunakan Lipbalm untuk melembabkan bibir  karena buat saya bibir lembab itu lebih perlu dibandingkan bibir berwarna karena memang kondisi bibir saya yang berbeda.

Sejak di Belanda, saya punya satu merek lipstick favorit, yaitu Hema. Itupun tanpa sengaja karena kehabisan lipstick Sariayu (andalan saya) dan beli agak ngasal karena toko Hema dekat dengan rumah. Eh ternyata cocok dan selama nyaris dua tahun, sudah dua kali beli lagi dari merek dan tipe yang sama. Lipstick Hema yang saya gunakan ini harganya murah meriah, bukan yang matte tapi yang banyak pelembabnya (saya lupa istilahnya apa). Mertua pernah memberikan hadiah lipstick dua buah, kata Beliau biar saya ganti warna lipstick, tidak itu itu saja yang digunakan. Mungkin Beliau agak prihatin melihat menantunya tidak kreatif cuma punya satu warna. Lipstick pemberian mertua cuma dua kali saya pakai, selebihnya saya kembali lagi ke lipstick Hema.

Sampai suatu hari saya bertemu Anggi di Berlin dan kami menginap di kamar yang sama selama 3 malam, jadi saya tahu peralatan make up dia apa saja, termasuk lipsticknya. Oh iya, saya belajar langkah-langkah merawat wajah juga dari dia, konsultasi lewat whatsapp, beberapa bulan sebelum ketemu di Berlin. Sejak saat itu, saya jadi rajin merawat wajah. Lumayan lah hasilnya kelihatan. Ok, kembali ke soal lipstick. Jadi waktu di Berlin itu, Anggi cerita kalau dia sedang senang dengan satu merek lipstick namanya The Balm yang Matte. Katanya aroma mint dan rasa semriwing ketika dipulas ke bibir menimbulkan sensasi tersendiri. Dia juga bilang lipstick ini tahan lama dan tidak membuat bibir pecah-pecah. Saya dan Beth penasaran lalu Anggi menyuruh kami mencoba. Karena bentuknya cair dan saya belum punya pengalaman dengan lipstick yang cair seperti ini, Anggi sampai mengajari saya bagaimana cara memulas lipstick di bibir. Memang betul, rasa mint dan semriwingnya langsung terasa. Setelah dipakai beberapa jam kemudian, ternyata bibir saya baik-baik saja dan masih terasa lembab. Wah saya langsung jatuh cinta dengan lipstick ini. Lalu saya mulai googling warna apa saja yang tersedia. Ternyata setelah googling, ngiler lah saya dengan warna warnanya yang ciamik. Bingung juga mau beli yang warna apa, rasanya ingin dibeli semua karena warna warnanya menggemaskan. Saya tidak langsung membeli karena menunggu lipstick Hema habis dulu. 

Beberapa bulan kemudian, Fe menuliskan review The Balm Meet Matt(e) Hughes yang mini set. Jadi dalam satu wadah ada 6 warna dalam kemasan mini. Setelah membaca ulasannya sampai selesai, tanpa menunggu lama saya langsung beli mini set via OL shop. Saya ingat sekali waktu itu jam 5 pagi, siap-siap mau berangkat kerja haha. Saking nafsunya karena senang ada versi mininya dan terdiri beberapa warna jadi bisa coba-coba dan gratis ongkos kirim.  Di bawah ini warna-warna The Balm yang mini set (sumber)

Setelah barangnya saya terima beberapa hari kemudian, rasanya tidak sabar mencoba satu persatu warnanya. Suami sampai kaget saya beli lipstick sampai banyak begitu. Biasanya cuma sebiji. Setiap dicoba, saya langsung memotret bibir saya. Bukan sengaja karena ingin seperti model lipstick, tapi diantara 4 dari 6 foto di bawah ini, saya sedang tidak menggunakan jilbab dan males kalau harus pakai dulu. Akhirnya ya saya potret bibirnya saja dengan posisi yang aneh aneh, maklum ternyata motret bibir sendiri susah ya haha. 

Sejauh ini saya benar-benar suka sama The Balm. Jadi sebelum digunakan, 10 menit sebelumnya saya oleskan lipbalm terlebih dahulu. Lalu setelah The Balm dioleskan ke bibir (saya cuma satu oles saja, tidak terlalu tebal) tunggu sekitar 5 menit sampai benar-benar menempel sempurna di bibir. Saya pernah menggunakan dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore masih bagus hasilnya, padahal saya makan siang pakai sop. Membersihkannya juga gampang tinggal dioleskan VCO, dua tiga kali oles langsung luntur lalu dibersihkan lebih lanjut dengan pembersih muka dan setelahnya saya gunakan lipbalm untuk melembabkan bibir sepanjang malam. Saya menggunakan lipbalm dari Hema dan Purol yang Vaseline. Seminggu dua kali bibir saya scrub, berbarengan saat saya scrub muka. Sampai sekarang bibir saya aman terkendali tidak terlalu sering berdarah lagi hanya beberapa kali saja. Jadi, kalau The Balm yang mini set ini sudah habis, saya sudah tahu akan membeli yang warna apa. Karena favorit saya adalah warna yang Loyal, Charming, Sincere, dan Comitted. Jadi nanti kalau beli lagi, salah satu dari empat warna favorit saya.

Sekian cerita saya tentang lipstick. Ini bukan tulisan berbayar, melainkan rasa puas karena menemukan lipstick yang sesuai kondisi bibir saya.

Kalau kamu, lipstick apa yang sedang dipakai sekarang?

-Nootdorp, 21 Desember 2016-

Catatan Tahun 2016

snapseed-3

Tahun 2016 sudah akan berganti menjadi tahun 2017 dalam 2 minggu ke depan. Saya saja yang merasa atau memang tahun ini waktu berlari sangat cepat. Sepertinya baru kemarin saya selesai sekolah bahasa Belanda awal Januari, lah kok tahu-tahu sekarang sudah menuju akhir tahun. Semoga itu pertanda baik bahwa saya sangat menikmati apa yang telah dilalui di tahun 2016.

Bersyukur tahun ini bisa saya dan suami lewati dengan baik lengkap bersama cerita suka duka senang sedih tertawa. Kami melewati semuanya berdampingan. Banyak kabar bahagia yang hadir, ada beberapa kabar duka juga yang terdengar. Kami berdoa buat mereka yang ditinggalkan yang terkasih dan orang-orang terdekat, semoga dikuatkan dan tetap semangat. Dan semoga yang kembali menghadap Sang Pencipta diberikan tempat yang terbaik di sisiNya. Dan yang sedang diberikan ujian sakit, semoga tetap semangat dengan ikhtiar dan doanya, semoga diberikan yang terbaik. Mendengar berita duka, selalu mengingatkan saya akan hidup di dunia ini yang ada batasnya dan bisa mengembalikan saya kembali pada jalur yang seharusnya, jika melenceng. Berita duka juga mengingatkan saya agar berusaha memanfaatkan setiap detiknya untuk kegiatan yang tidak mendatangkan kesia-siaan dan tidak lupa untuk bersyukur jika ada kabar bahagia yang datang karena tidak ada yang kekal di dunia ini, termasuk kebahagiaan ataupun kesedihan. Semua akan berputar pada waktunya.

Bagi yang sedang berbahagia, saya ucapkan selamat. Apapun bentuk kebahagiaan itu, semoga bisa menular ke sekitarnya karena katanya aura kebahagiaan bisa membuat sekelilingnya ikut bahagia juga. 

Kalau dua tahun berturut saya selalu membuat catatan akhir tahun seperti rangkuman apa saja yang terjadi dalam satu tahun, kali ini tidak lagi. Saya dan suami sangat menikmati apa yang telah kami lalui tahun ini, dengan semua hal yang sudah kami tuliskan di blog ini untuk berbagi cerita, maupun hal-hal yang memang ingin kami simpan sendiri sebagai bagian dari privacy. Syukur tidak henti kami panjatkan atas segala perjalanan yang telah kami lakukan, kekuatan untuk saling mendukung saat duka datang, bersyukur atas kegembiraan dan rejeki yang telah dititipkan, tidak lupa juga tetap melihat ke bawah dan sekeliling sebagai pengingat dan berbagi, dan bersyukur untuk kesehatan yang baik dan umur yang mudah-mudahan membawa berkah. 2016 luar biasa buat kami.

Buat saya pribadi, 2016 adalah tahun penuh pembelajaran dan penerimaan. Saya lebih santai menjalani hidup. Pikiran saya tidak lagi terlalu berisik seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya lebih bisa bernafas secara sadar, lebih bisa mengatur langkah, dan lebih memilih untuk bahagia dengan cara saya, bukan karena bagaimana orang melihat saya atau bukan karena saya ingin dilihat orang lain. Hidup di negara baru hampir 2 tahun juga banyak memberikan saya pelajaran berharga. Bukan hanya belajar bahasa dan budaya yang baru, tetapi juga belajar untuk menerima. Lebih legowo jika memang saya dalam keadaan tidak baik-baik saja. It’s okay not to be okay. Suara-suara berisik di kepala saya sudah mulai berkurang karena belajar menerima. Saya tidak lagi sibuk mengejar ini itu, tidak lagi ruwet sendiri supaya terlihat “sempurna.” Saya belajar menerima bahwa hidup tanpa masalah itu kurang berwarna. Masalah datang sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dalam memecahkannya. Saya bisa berjalan tanpa penuh rasa kekhawatiran dengan pertanyaan : bagaimana jika. Gagal ataupun berhasil memang sudah jadi bagian dalam perjalanan hidup. Tahun 2016 juga memberikan saya kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, mengenal lebih dalam artinya pertemanan. Teman datang dan pergi silih berganti. Kalau layak dipertahankan, akan saya perjuangkan. Tapi jika tidak bisa saya perjuangkan untuk bertahan, akan saya ikhlaskan untuk pergi dan berlalu.
Salah satu hal baik yang saya rasakan tahun ini adalah mengenal lebih banyak blogger. Mereka memberi warna tersendiri dalam hidup saya. Banyak cerita yang bisa saya jadikan bahan renungan, cerita yang membuat tertawa terbahak, cerita yang tidak sesuai di hati maupun cerita yang memberikan pengetahuan baru. Memang tidak setiap saat saya meninggalkan komentar ataupun membaca dengan seksama, tetapi jika ada waktu senggang, saya usahakan untuk berkomentar kalau memang topiknya saya pahami. Terima kasih untuk blogger yang sudah follow blog kami dan menyempatkan waktu untuk membaca tulisan kami atau meninggalkan komentar. Terima kasih juga yang sudah follow lewat email dan untuk siapapun yang membaca blog kami dan berkirim email.

Saya sudah tidak sabar menyambut tahun 2017. Semoga saya dan suami selalu diberikan kesehatan yang baik, umur yang berkah, selalu ingat untuk bersyukur setiap waktu, tetap dan selalu memberikan dukungan satu sama lain, dan tidak lupa untuk bahagia.

Untuk diri sendiri, saya punya satu ambisi di tahun 2017 yaitu untuk hidup sederhana. Menyederhanakan yang selama ini rumit. Tetap membuat sederhana yang tidak rumit. Dan tidak membuat rumit yang sudah sederhana.

Semoga tahun 2017 dunia bisa lebih damai dan Indonesia mampu beranjak maju dengan tidak terlalu berkutat pada urusan agama dan politik yang saling menunggangi. Semoga masing-masing orang diberikan pikiran yang jernih untuk sama-sama kembali ke tujuan menjadikan Indonesia lebih baik. Jangan hanya jalan di tempat dan mencari kesalahan saja. Yuk sudahi gontok gontokannya dan kembali mengukir prestasi. 

-Den Haag, 14 Desember 2016-

Tiga Tahun Lalu

img_2314

Tanggal ini tiga tahun lalu, pertama kali saya mengenal kamu. Satu bulan sebelum pernikahan yang seyogyanya akan dilaksanakan, tetapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya tepat sebulan sebelum kenal kamu. Perasaan saya datar, karena sedang dalam taraf berdamai dengan keadaan, dengan kekecewaan, dan mencoba menelaah serta menyusun ulang tentang konsep sebuah hubungan.

Tanggal ini tiga tahun lalu, saya pertama mengenal kamu ditengah sibuknya ritme perkuliahan, diantara padatnya timbunan tugas, dan disaat tema tesis tidak kunjung tuntas yang sempat menimbulkan ragu apakah kuliah layak dilanjutkan ataukah menyerah di tengah jalan. Sungguh saat tidak tepat untuk memulai sebuah perkenalan.

Tanggal ini tiga tahun lalu saya mengenal kamu. Sebuah perkenalan yang biasa, jauh dari kesan istimewa. Tidak disangka, jalan hidup manusia siapa yang bisa menduga. Dari sebuah perkenalan yang biasa meskipun caranya tak terduga, membawa saya dan kamu menjadi kita dalam sebuah pernikahan, 8 bulan setelahnya.

Tanggal ini tiga tahun lalu saya mengenal kamu. Mahar pernikahan yang diambil dari tanggal perkenalan kita, menjadikan tanggal ini akhirnya menjadi istimewa. Saya sering berkelakar, jika waktu itu saya sedang tidak bosan dalam ruang perkuliahan disaat mengulang mata kuliah tiga tahun lalu, mungkin kita tidak akan pernah saling tahu. Tapi Tuhan selalu mempunyai cara yang misterius untuk mempertemukan saya dan kamu.

Tepat sekarang tiga tahun lalu, bukan tanggal pernikahan tapi tanggal kita saling tahu. Awal dari segala keseruan dalam hubungan kita. Ada banyak doa yang terucap. Namun yang terpenting semoga kita selalu diberikan kesehatan yang baik, umur yang barakah untuk bersama saling memberikan dukungan melintasi segala petualangan. Semoga kita juga selalu berpanjang syukur atas semua anugerah dan berkah yang kita terima sampai detik ini dan nanti. Semoga kita selalu ingat bahwa masing-masing dari kita adalah titipan sehingga kita bisa menghargai setiap waktu dan kisah yang tercipta.

Terima kasih untuk kamu yang sudah menemukan saya pada tanggal ini, tiga tahun lalu.

“People fall in love in mysterious ways. Maybe we found love right where we are”

-Ed Sheeran-

Dua pasang sepatu ini yang menjadi saksi bisu perjuangan lintas benua dan dari sini semua cerita bermula.
Dua pasang sepatu ini yang menjadi saksi bisu perjuangan lintas benua dan dari sini semua cerita bermula.

-Den Haag, 30 Nopember 2016-

The significance of music

Music

Why does music play such a significant role in our lives? Do we know anyone who does not like music to some extent?

As humans we are¬†blessed with the gift of creating, performing and¬†passively enjoying music and are the only creatures on this planet who have all these capacities. As long as man inhabits this world he creates music. Through scientific research we know that music is a powerful tool in¬†the development of a child’s brain¬†and¬†the brain in general.¬†Music is an important means to identify you as a human, especially when you are in adolescent age. Music can play an important role to determine the social group you want to belong to or to be part of.

Music can give us consolation remembering experiences from the past, our beloved ones or special occasions in our lives. Music can make us relax or arouses us and lift up our spirits. Music brings us together and music makes us dance. Mathematicians have dealt with music because music and sound are bound to the laws of nature and therefor is a grateful subject for mathematicians since the days of the Greek and Roman physicians in Antiquity.

For musicians music can be a means to seek popularity. Or even look for a larger than life perspective, especially since mankind discovered ways to annotate and record music. So music could be reproduced for future performances which could take place long after its creator had deceased. Yet music is -like all forms of art- vulnerable and each generation creates its own music hoping it will stay relevant. Those chances are unfortunately minimal: we only have to look back at our own history to know that music recorded in the 1930s through 1980s is probably relatively unknown to most of the audience that nowadays listen to music. If we travel back further in time we find that only a handful of the compositions of composers from the Middle Ages and Modern Age are still being performed and listened to in our time (think Bach, Mozart, Beethoven and the likes). Music created before that time is practically lost to us, although there are a few exceptions.

When the industrial and scientific revolution in Europe boomed at the end of the 18th century it also had a profound impact on composers, musicians and the way the listener experience music. Composers of music no longer needed to make their income from physical performances but could arrange their compositions for sheet music. Musicians could buy this sheet music and perform the music without ever having heard the original from the composer. Early on in the 20th century new possibilities became available that even would take the reproduction music to a new level. Music could now be recorded and reproduced. First through the use of mechanical reproduction, then vinyl and finally through digital media like the CD and in our current era through the use of streaming media.

On a personal level I always had a great interest in sound and music, an interest that went beyond that of the average interested musician or listener. As a young person I mastered different instruments like flute, piano and guitar. Meanwhile I discovered I found it more interesting to record the results of music making than to play music together with other musicians or to perform live. Over the years I always felt intrigued and inspired by how instruments sound, from the most simple percussion instruments to complex electronic instrumenujts (and everything in between). Some of my favorite sounding instruments are: gamelan, dulcimer, pipe organ, celesta, Moog synthesizer.

So I developed an interest in creating and recording music. Composing and recording music is a strange process. It is difficult to express how and why ideas emerge and why some ideas grow into a composition and other ideas land on a shelf or are forgotten over time. I save most ideas like making a notation that come to mind. Those ideas come from playing some piano chords or noodling on a guitar, but also riding on my bike is good for inspiration. At a certain point I decide that an idea is interesting enough to invest more time into it. When the time comes to record the music it is also a bit strange process. Sometimes things fall easily into place, sometimes you can struggle for weeks to ‚Äėget it right‚Äô. What this ‚Äėget it right‚Äô exactly means is difficult to express¬†but it has something to do with reaching a point where you find your composition and recording is ‚Äėlike it should be‚Äô and can be considered finished.

Recently I finished a new album ‚ÄėPiano and Guitar, Vol. I‚Äô. Its title meaning that I return to these instruments and rely less on electronic instruments. You can listen to my new album on Spotify.

-The Hague, 20 november 2016-

Kenangan Masa Kecil Pada Semangkuk Rawon

img_1940-1

*Duh judulnya kok seperti FTV

Sudah lama tidak bercerita masak memasak meskipun akhir pekan ini saya juga tidak terlalu masak banyak. Malah kami makan jenis makanan yang sama pada hari Sabtu dan Minggu. Yang menjadikan istimewa karena saya memasak makanan masa kecil yaitu rawon. Bedanya, rawon yang biasa Ibu masak untuk saya dan adik-adik isinya bukan daging sapi melainkan kacang panjang dan labu siem. Kami tinggal di kota yang dekat pesisir, maka konsumsi daging sapi dikeluarga sangatlah jarang, lebih banyak mengkonsumsi makanan laut. Karena tidak terbiasa itulah yang membuat kami tidak terlalu suka makan daging bahkan saya sudah beberapa tahun ini berhenti mengkonsumsi daging (dan unggas). 

Seminggu lalu saat membersihkan gudang tempat menyimpan persediaan bahan makanan, saya menemukan sebungkus kluwak yang belum terpakai sama sekali. Lalu saya melihat freezer, ternyata stok bumbu rawon sudah habis. Akhirnya niat kalau minggu ini harus membuat stok bumbu rawon dan masak rawon. Kebetulan rendaman telur asin sudah waktunya di”panen”. Tinggal merendam kacang hijau untuk membuat kecambah pendek. Bumbu rawon untuk 4 porsi : 3 porsi untuk stok, satu porsi untuk dimasak. Wangi aroma rawon menyebar ke segala penjuru rumah. Sambil masak, jadi teringat masa kecil kalau Ibu masak rawon ini, saya dan adik-adik sangat lahap makannya. Salah satu makanan favorit di rumah (masakan Ibu lainnya khas rumah pernah saya tulis di sini). Jadi mrebes mili kangen Ibu dan adik-adik, namun terobati kangennya saat berbincang dengan adik di telepon. Dan saya kirimkan foto di bawah ini ke Ibu dengan keterangan : Deny kangen rawon buatan Ibu.

Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri :D sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri ūüėÄ sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu

Saya selalu bercerita ke suami kisah dibalik setiap masakan Indonesia yang saya buat. Sekalian memperkenalkan kuliner Indonesia sekaligus memberitahu ada kedekatan apa antara saya dengan beberapa makanan tersebut. Seperti rawon, saya bilang kalau rawon biasanya isinya daging sapi. Jadi yang saya masak ini perkecualian. Ini kali kedua suami makan rawon dan dia tetap penasaran tentang kluwek. Mungkin dia heran ya ada bahan warna hitam dan bisa dimakan.

Terobati sudah kangen saya dengan rawon khas rumah. Minimal bentuknya sama meskipun rasa masih kalah jauh dengan buatan Ibu. Kenangan masa kecil pada semangkok rawon labu siem dan kacang panjang. 

Sabtu kami melihat Sinterklaas di dekat rumah. Meskipun udara dingin sekali, tapi penasaran dengan kemeriahannya. Ternyata benar, rame sekali. Anak-anak kecil bersuka cita bernyanyi dan menanti kedatangan Sinterklaas. 

Hari minggu saya bisa menyelesaikan 6k lari sementara suami 18k. Hawanya super dingin, saya pikir minus kok tangan rasanya beku sampai kibas kibas beberapa kali tetap rasa kebas. Ternyata begitu saya cek, masih 4¬įc tapi serasa minus. Siangnya saya masak semur tahu telur puyuh untuk bekal suami minggu depan. Saya juga membuat lemper isi ayam dan ikan tuna, pesanan teman-teman kantor suami. Sisa akhir pekan kami nikmati dengan berbincang-bincang santai sambil jemur baju.

Musim gugur tapi rasa musim dingin
Musim gugur tapi rasa musim dingin

Kalau kalian, adakah masakan rumah yang membuat teringat akan kenangan masa kecil?

-Den Haag, 13 November 2016-