Membalas Komentar di Blog

Ini postingan pendek selingan karena sebenarnya saya sedang menulis tentang liburan kami awal bulan ini, trus mendadak saya mengantuk lalu males meneruskan. Jadi daripada nanggung sudah buka laptop, mending sekarang posting yang pendek-pendek saja tentang membalas komentar di Blog.

Sejak punya blog ini yang ditulis berdua dengan suami (pada awalnya, sekarang sih saya sendiri yang nulis. Berasa blog milik sendiri meskipun dia yang bayar haha), saya berkomitmen untuk membalas setiap komentar yang masuk yang berkaitan dengan setiap postingan yang kami tulis. Kenapa seperti itu? Saya mikirnya mereka yang sudah meninggalkan komentar, pada umumnya sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan dan meluangkan waktu untuk menulis komentar. Kalau saya tidak membalas komentar, rasanya kok ya seperti tidak menghargai. Apalagi setelah kenal dengan Mas Cumi Lebay Almarhum, Beliau selalu bilang, sempatkanlah untuk membalas komentar yang masuk karena mereka yang memberikan komentar sesungguhnya sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mengetikkan komentar. Jadi mereka ada rasa dihargai. Mas Cumi yang blogger kondang saja atau Noni yang banyak pengikut blognya pasti membalas setiap komentar yang masuk, saya yang blogger anak kemarin sore masa iya sok-sok an tidak membalas komentar yang tidak terlalu banyak. Lagipula saya memang senang membalas komentar jadi tahu sudut pandang sesama blogger atau siapapun yang membaca terhadap tulisan kami. Kadang jadi bisa berdiskusi juga ataupun ada masukan dan ide baru. Jadi seru.

Hal tersebut kembali kepada kebijakan masing-masing pemilik blog ya. Kalau saya, memang sebisa mungkin pasti akan membalas setiap komentar yang masuk karena selama ini komentar yang spam secara otomatis masuk ke folder spam. Blog kami juga tanpa melalui moderasi jika ingin memberikan komentar. Alasannya sederhana : saya malas untuk memoderasi, tidak mau membuat pekerjaan di blog makin bertambah. Toh selama ini komentar yang masuk tidak terlalu banyak yang aneh (mungkin karena yang saya tulispun topik yang tidak aneh-aneh). Ada beberapa yang tidak sreg di hati, ya tetap saya tanggapi sesuai apa komentarnya. Dan kalau tanpa moderasi juga enak buat yang komentar, karena bisa saling membaca komentar yang sudah masuk. Apalagi saya ini kan lama sekali kalau balas komentar yang masuk. Harus duduk depan laptop baru bisa balas. Saya tidak membiasakan diri untuk melihat layar Hp terlalu lama. Apalagi kalau siang hari, saya batasi sekali berinteraksi dengan Hp kecuali benar2 sangat senggang sekali. Waktu luang saya diatas jam 7 malam, baru saya nikmati dengan Hp atau media sosial atau membaca buku. Tergantung mana yang sreg ingin saya lakukan. Pengennya sih ada tukang pijat ya, leyeh-leyeh sambil dipijat.

Dari sekian tulisan di blog, ada satu tulisan yang memang sengaja komentar-komentar yang masuk tidak saya balas karena setelah saya baca secara keseluruhan, komentar yang ada di sana lebih mengarah ke opini pribadi tentang apa yang akan mereka lakukan berdasarkan isi postingan tersebut. Jadi karena terlalu subyektif, lebih baik saya tidak balas. Hanya komentar punya Dita yang saya balas karena ada nama idola kami bersama. Anthony Bourdain. Postingan yang saya maksud bisa dibaca di sini yang intinya berisi pendapat saya tentang kesepakatan dengan suami untuk sangat meminimalisir -bahkan kalau bisa, tidak- memposting foto anak di media sosial sampai mereka bisa berpendapat sendiri mau atau tidak fotonya ditaruh di media sosial milik orangtuanya.

Buat rekan blogger atau siapapun yang sudah membaca blog kami dan sudah meluangkan waktunya untuk menuliskan komentar atau menanggapi isi tulisan, saya ucapkan terima kasih. Apalagi mungkin agak sulit ya menulis komentar di blog kami ini entah karena kendala teknis. Saya sebisa mungkin akan membalas komentar yang masuk. Maaf kalau misalkan ada yang kelewatan. Mungkin mata saya sedang siwer. Kalau komentarnya tidak muncul, mungkin masuk spam dan saya memang biasanya akan mengecek folder spam lalu mengeluarkan pada kolom komentar. Kalau jawabnya lama, mohon pengertian juga. Maklum di sini harus membagi badan dan pikiran serta waktu untuk mengerjakan antara hobi menulis dan membaca dengan pekerjaan dalam dunia nyata yang hanya dikerjakan berdua dengan suami. Jadi setelah pekerjaan selesai, baru bisa nyaman duduk depan laptop membalas komentar. Sebisa mungkin akan saya balas. Menulis adalah hobi saya, jadi selama saya masih bernafas, saya akan terus menulis blog. Syukur-syukur suatu hari nanti ada kesempatan untuk menulis buku lagi.

Yuk tetap semangat menulis di blog!

Kalau kamu bagaimana dengan kebijakan membalas komentar di blogmu?

-Nootdorp, 16 Juli 2018-

Teman dan Sahabat Adalah Perkara Rejeki dan Jodoh

Bands of Friendship

Saya adalah orang yang susah sekali menyatakan ke orang lain bahwa dia adalah teman saya kalau memang kami belum akrab sekali. Lebih susah lagi mendeklarasikan persahabatan. Buat saya, yang namanya bersahabat itu haruslah sudah teruji jarak dan terlebih waktu. Butuh bertahun-tahun lamanya buat saya bisa dengan nyaman menyebutkan bahwa dia atau mereka adalah sahabat saya. Saya juga bukanlah orang yang gampang masuk ke dalam suatu lingkungan baru. Memang pada dasarnya saya orang yang lebih nyaman sendiri. Saya bukan anti sosial, jelas tidak. Tapi saya butuh proses agak lama untuk mengenali lingkungan baru. Kalau tidak satu frekuensi, lebih baik saya sendiri daripada memaksakan diri bergaul tapi tidak nyaman di hati. Dari dulu saya tidak pernah ada ketakutan untuk tidak mempunyai teman karena saya percaya yang namanya pertemanan akan selalu melewati seleksi alam. Kalau tidak satu frekuensi, begitu saya menyebutnya, maka akan gugur dengan sendirinya.

Menuliskan kalimat terakhir di atas bukanlah perkara mudah. Saya sudah melewati suka duka, babak belur, bahagia kecewa dalam pertemanan bahkan persahabatan. Awalnya jelas membuat kecewa luar dalam dan membuat kepercayaan terhadap orang lain menjadi pudar. Ketika persahabatan saya berakhir dengan tidak baik walaupun saya mengakhirinya dengan proses yang baik, berbelas tahun lalu, saya mengalami krisis kepercayaan bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Butuh waktu lama untuk memulihkan dan menyembuhkan lukanya. Menyembuhkan patah hati karena masalah cinta buat saya lebih mudah dibandingkan patah hati karena persahabatan. Benar, luka karena cinta paling lama satu bulan sudah pulih kembali tapi kalau karena persahabatan, butuh beberapa tahun hingga bisa bangkit lagi. Bukan karena saya menggantungkan kebahagiaan di atas nama persahabatan, tetapi lebih kepada rasa percaya dan sesuatu yang sudah kami lalui bersama selama bertahun-tahun, tahu baik buruknya secara mendalam karena menjadi diri sendiri yang apa adanya. Satu persahabatan berakhir, lalu saya memulai membuka diri untuk mengenal sebanyak-banyaknya orang supaya lebih tahu banyak tentang karakter orang. Dari sekian banyak yang hadir dan pergi dalam hidup saya, akhirnya saya dan empat orang lainnya bertahan sampai sekarang. Mereka lah sahabat saya selama 19 tahun ini. Kami dipertemukan saat awal kuliah, sudah melewati asam manis dan segala macam pertengkaran yang menyakitkan. Bersyukurnya kami masih tetap bersama sampai saat ini meskipun komunikasi kami hanya melalui Whatsapp karena kami berbeda kota tinggal satu dengan lainnya. Saya sangat beruntung dan merasakan anugrah yang besar memiliki mereka, memiliki satu sama lain.

Bands of Friendship
Bands of Friendship

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur dan pengalaman yang menempa, hati dan pikiran saya pun mengalami proses penerimaan jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Saya lebih bisa berdamai dengan diri sendiri, berpikir lebih panjang dan menikmati proses hening saat ada hal yang diluar jangkauan. Teman datang dan pergi, namun sahabat akan selalu ada saat senang maupun susah. Kehidupan manusia sangatlah dinamis. Begitupun yang namanya pertemanan. Salah satu seleksi alam yang terjadi adalah saat teman berganti status. Dari sendiri, sudah menikah, memiliki anak, mungkin ada yang bercerai, memilih untuk tidak menikah, dan memilih untuk tidak memiliki anak. Ketika satu lingkar pertemanan yang dimulai dari status yang sama, dalam hal ini misalkan dimulai saat usia sekolah atau kuliah, maka semakin bertambah umur maka satu persatu teman yang memutuskan untuk menikah akan berganti status lalu yang memutuskan untuk memiliki anak pun kembali berganti status.

Saya yang menikah saat umur 33 tahun, yang disebut usia telat untuk ukuran Indonesia, memang rasanya menjadi aneh ketika berkumpul dengan teman-teman kuliah atau SMA yang menikah saat rentang usia 20an. Ketika mereka dengan spontan membicarakan tentang anak, sekolah anak, perkembangan anak, serba serbi rumah tangga, saya hanya menjadi pendengar setia. Rasanya memang tidak menyenangkan seorang yang belum berumahtangga ada dalam lingkup pembicaraan itu. Ada perasaan seperti tersisihkan. Beberapa kali saat diajak ketemuan, saya memilih untuk bilang tidak bisa dengan berbagai alasan, misalnya ada acara ini dan itu. Kembali lagi, karena perasaan tidak nyaman karena kami sudah berbeda status dan bahan obrolan kamipun berbeda jadi saya merasa tidak nyambung. Ini yang saya namakan salah satu seleksi alam. Saya tidak mau memaksakan diri saya untuk tetap dalam lingkaran pertemanan itu karena saya sudah merasa tidak nyaman. Kami tetap berteman, tapi perlahan dan pasti semakin menjauh. Butuh legowo buat saya menerima bahwa memang kami sudah berbeda. Saya tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak pernah menyalahkan mereka, maupun menyalahkan diri sendiri. Yang saya lakukan hanyalah membuka mata dan pikiran bahwa kami memang sudah tidak satu frekuensi lagi. Saya yang memutuskan menjauh. Jodoh saya dengan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.

Saat saya sudah menikah, beberapa sahabat saya belum menikah. Karena saya sudah mengalami betapa tidak menyenangkannya berada diantara mereka yang sudah menikah saat saya belum menikah karena obrolan yang tidak nyambung, maka obrolan kami pun tetap seperti biasa saat saya belum menikah. Walaupun sesekali saya selipkan cerita seputar rumah tangga, itupun tidak banyak. Hanya selingan saja. Saat saya sedang ingin curhat tentang permasalahan yang pelikpun, mereka tetap ada buat saya. Begitu juga sebaliknya, saat mereka sedang ingin cerita tentang hal yang penting, akan tetap saya dengarkan tanpa mencoba menjadi seseorang yang nampak lebih pintar atau lebih berpengalaman. Kami tahu batasan masing-masing secara otomatis dan saling menghormati status yang berbeda saat ini.

Di Belanda, teman saya tidak banyak. Bisa dihitung. Sahabat, saya tidak punya. Boleh dibilang, suami saya merangkap sebagai sahabat saya juga selama di sini. Saya tidak berusaha keras untuk mencari teman di sini. Saya lebih nyaman ketika pertemanan terjadi karena ada hal-hal yang membuat kami terhubungkan. Saya memang tidak berusaha menonjol dalam lingkungan sosial di Belanda. Tidak berusaha supaya terkenal. Saya menjadi seorang Deny yang melakukan apapun tanpa dipaksakan atau memaksakan diri, melakukan sesuatu yang membuat nyaman. Ya menjadi diri saya sendiri tanpa perlu pengakuan banyak orang. Buat saya, perhatian dan memperhatikan orang-orang yang mengenal saya atau saya kenal dengan baik, itu lebih penting.

Ada beberapa teman di sini yang statusnya berbeda dengan saya. Adakalanya saya tidak bisa keluar bersama mereka, hal tersebut tidak membuat saya lantas menjadi cemburu. Karena saya sadar, bahwa saya sekarang berbeda dengan mereka dan saya tidak mau membuat mereka mengerti keadaan saya. Saya mengerti bahwa mereka juga butuh waktu bersama yang kadang tidak bisa melibatkan saya. Dengan keadaan seperti ini, saya sangat mengerti. Apakah saya lantas marah dan menyalahkan mereka karena kami tidak bisa jalan bersama lagi seperti saat satu atau dua tahun lalu? Tentu saja tidak karena kembali lagi ke pemahaman bahwa kami sekarang berbeda. Saat ada kesempatan kami bisa keluar bersama, saya tidak akan mendominasi pembicaraan dengan kondisi saya sekarang. Berbicara topik sewajarnya saja, toh banyak sekali yang bisa dibahas.

Butuh hati dan pikiran terbuka ketika suatu perubahan terjadi dalam jalinan pertemanan atau persahabatan. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun bahkan keadaan. Saling mengerti, saling komunikasi, dan saling menempatkan diri melihat di posisi orang lain adalah hal yang bisa membuat pertemanan dan persahabatan menjadi nyaman. Jika memang hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi, ya musti menerima dengan lapang dada bahwa memang sudah tidak sejalan lagi, berjodoh hanya sementara dan bukan rejekinya. Harus dengan legowo bahwa pertemanan atau persahabatan tidak bisa berjalan seperti dulu lagi. Tidak perlu menyalahkan apapun atau siapapun. Tidak perlu menuding dia salah atau aku yang benar. Tidak perlu memaksakan standar kita hanya untuk membuat kita benar. Apa yang menjadi standar kita belum tentu sama dengan standar orang lain. Saya selalu mengingat kata-kata ini : Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS

Berteman dan bersahabat adalah perkara rejeki dan jodoh. Itu yang selalu saya yakini. Buat saya, teman ada yang datang dan pergi silih berganti. Kalau bisa dan layak untuk dipertahankan, maka akan saya perjuangkan. Kalau tidak bisa dan tidak mampu lagi saya perjuangkan untuk bertahan, maka saya akan ikhlaskan untuk pergi dan berlalu. Hubungan persahabatan dan pertemanan yang dipaksakan, yang datangnya tidak lagi dari hati, lebih baik direlakan untuk pergi. Semoga persahabatan saya selama 19 tahun ini dan tahun-tahun kedepan adalah rejeki dan jodoh saya sampai kami menua bersama.

Bagi yang mempunyai sahabat dan teman yang sudah klik, semoga langgeng selalu.

-Nootdorp, 11 Juli 2018-

Cerita Seputar Lebaran 2018

Selamat Lebaran 2018

CERITA LEBARAN

Tahun ini adalah lebaran keempat saya di tanah rantau, bersama keluarga kecil kami. Setiap mendekati lebaran, selalu ada rasa sedih karena jauh dari keluarga di Indonesia. Rindu suara takbir berkumandang di seluruh penjuru desa, rindu sholat Ied di tanah lapang dekat Masjid, rindu berkunjung ke sanak saudara dan tetangga, rindu pada almarhum Bapak, rindu pada keluarga, dan yang tidak kalah penting adalah rindu memakan masakan khas keluarga di desa. Apapun itu, yang berhubungan dengan lebaran di kampung halaman, membuat saya rindu. Hanya satu yang tidak saya rindukan adalah : pertanyaan “kapan.” Apapun jenis pertanyaannya, kalau sudah didahului dengan “kapan”, sudah sejak lama akan saya jawab dengan sangat tegas. 

Lebaran tahun ini bertepatan dengan hari yang istimewa di keluarga kami. Sejak jauh hari sudah saya niatkan untuk masak yang istimewa, beda dengan hari-hari biasanya. Selain untuk menghadirkan suasana lebaran di rumah kami, juga untuk merayakan hari istimewa tersebut. Meskipun ini bukan masakan khas lebaran keluarga saya di Indonesia, tapi tetap minimal berbau lebaran. Terciptalah sate ayam, lontong, acar, rendang, lodeh manisah tahu tempe kacang panjang, telor bumbu petis, dan sambel goreng kentang pete. Semua saya masak sendiri dan dibantu suami yang mencuci peralatan masak, menyapu dan mengepel rumah. Semua kami kerjakan berdua. Supaya rumah bersih seperti akan menerima tamu selayaknya lebaran. Walaupun pada kenyataannya tahun ini tidak ada acara apapun di rumah. Tidak seperti lebaran tahun kemarin, rumah kami dikunjungi banyak kenalan dan teman

Sate manggang di oven. Prakyis, bisa disambi memasak lainnya
Sate manggang di oven. Praktis, bisa disambi memasak lainnya
Telor bumbu petis. Baru pertama kali ini bikin, tapi rasanya sama dengan yang biasa Ibu buat. Lumayan buat pemula *narsis masakan sendiri :))
Telor bumbu petis. Baru pertama kali ini bikin, tapi rasanya sama dengan yang biasa Ibu buat. Lumayan buat pemula *narsis masakan sendiri :))
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Setelah saling bersilaturrahmi di piring
Setelah saling bersilaturrahmi di piring

Untuk berbagi kebahagiaan lebaran, kami hantarkan paket sate ayam (plus lontong, saus kacang, dan acar) ke para tetangga, Mama mertua (plus rendang) dan keluarga adik-adik suami (ipar-ipar saya). Mereka senang karena katanya rasanya enak dan kami gembira karena berbagi kesenangan dihari yang fitri dengan orang-orang di sini. Suamipun bisa makan sampai nambah berkali-kali. Lengkap sudah. Terbayar ruwetnya di dapur.

Tahun ini saya tidak bisa sholat Ied di Masjid Al Hikmah seperti tahun kemarin. Jika sesuai rencana, suami akan mengantarkan saya ke Masjid hari Jumat pagi karena sholat akan dimulai pukul 9 pagi. Tapi Jumat pagi rencana tidak bisa terlaksana karena kondisi yang tidak memungkinkan. Akhirnya saya sholat di rumah saja.

Meskipun tidak ada kerabat dan teman yang berkunjung ke rumah, dan tidak ada kue khas lebaran, tapi tidak mengurangi kebahagiaan dan syukur kami karena masih diberikan kesempatan merasakan lebaran tahun ini, sekeluarga, dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Terima kasih juga untuk teman-teman yang mengucapkan selamat lebaran maupun mengirimkan kartu lebaran pada kami. Perhatian yang sangat berarti.

HALAL BIHALAL

Seminggu setelah lebaran, kami berkunjung ke rumah teman dekat saya yang berada di Provinsi Limburg, hampir dua jam berkendara dari rumah. Kunjungan kali ini dalam rangka kumpul teman, anggap saja halal bihalal. Kami sampai jam setengah tiga sore. Sebenarnya acara dimulai pukul 2 siang sampai 8 malam. Tetapi undangan yang sudah konfirmasi dua bulan sebelumnya bisa datang jam berapapun asal diantara waktu yang ditentukan. Ketika kami sampai, makanan sudah siap dan pemilik rumah sedang membakar sate lilit dan sate ayam. Ini juga bisa disebut pesta kebun karena tempatnya di kebun belakang rumah. Wah, acara tersebut benar-benar berlimpah makanan. Saking banyaknya makanan, sampai tidak bisa saya makan semua. Melebihi acara hajatan variasi makanannya. Lumbung yang ada dalam perut sudah terisi semua. Naga-naga yang ada dalam perut saya pesta pora. Meskipun acara ini bukan potluck karena makanan disediakan semua oleh pemilik rumah, tetapi saya terbiasa membawa makanan. Apapun yang kira-kira saya mood memasaknya. Kali ini saya membawa lumpia isi rebung, wortel, dan tahu. Ini lumpia andalan saya. Gampang membuatnya. Undangan yang datang lainnya juga rata-rata membawa makanan. Makin berlimpah ruahlah makanan yang ada di sana.

Lumpia yang saya bawa
Lumpia yang saya bawa
Glekk banget kan ini. Sate lilit, ayam betutu, lontong, telur balado, sambel matah. Foto pinjam dari tuan rumah
Glekk banget kan ini. Sate lilit, ayam betutu, lontong, telur balado, sambel matah. Foto pinjam dari tuan rumah
Foto pinjam dari tuan rumah
Foto pinjam dari tuan rumah

Sate lilit

Tidak semua makanan saya foto saking banyaknya. Saya fokus makan. Diantara semua makanan yang ada, favorit saya dua di bawah ini. Soto Madura dan Bakso. Soto Maduranya super lekker! Teman saya si pemilik hajat yang masak Soto Madura ini. Isinya segala macam jerohan komplit. Gajih pun bertebaran memenuhi panci. Baksonya wenaakk, pentolnya krenyes-krenyes. Mengingatkan akan bakso kristus raja di Surabaya (siapa pernah makan di sini?)

Soto Madura isi daging dan jeroan
Soto Madura isi daging dan jeroan
Bakso Super lekker!
Bakso Super lekker!

Ada pecel dan urapan juga. Perut saya sudah tak mampu menampung semuanya. Seperti biasa, sebelum pulang, bungkus membungkus pun jadi semacam tradisi kalau ada acara semacam ini. Dan tuan rumahpun sudah menyiapkan makanan ekstra untuk bisa dibungkus. Karena bungkusan inilah, saya tidak usah masak selama dua hari. Saking banyaknya makanan yang bisa dibawa pulang. Saya juga bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan haha! Itupun ketika kami pulang sekitar jam setengah tujuh malam, ada undangan datang bawa bebek oven segede gaban. Makanan datang seperti air bah, tidak berhenti.

Sarapan saya, yang bagian gorengannya saja haha. Kapan lagi bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan
Sarapan saya, yang bagian gorengannya saja haha. Kapan lagi bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan

Kami pulang dengan perasaan yang riang gembira. Bukan hanya karena makanan yang berlimpah ruah, tetapi juga bisa bertemu beberapa teman dekat dan berkenalan dengan orang-orang yang baru. Saking terlalu fokus dengan makanan, sampai tidak sempat menggosip. Biasanya kalau ada acara kumpul-kumpul di Belanda ini, kental dengan dunia pergosipan. Mulut sibuk ngunyah, makanya ga sempat dipakai buat nggosip.

Oh ada satu cerita. Jadi diantara tamu undangan, ada satu orang yang saya kenal karena sudah beberapa kali bertemu sebelumnya. Sebut saja Mbak. Mbak orangnya baik. Terakhir ketemu Januari tahun lalu. Nah Mbak datangnya satu jam setelah saya. Waktu Mbak datang, posisi saya berdiri membelakangi dia dan sedang mengunyah sate lilit. Waktu dia mendekat, saya dengar suaranya. Lalu saya balik badan. Mbak lihat saya lalu, “Deny, kamu hamil yaa. Wah Selamat!!,” dengan raut muka sumringah. Karena mulut saya masih penuh, saya telan dulu makanan yang dalam mulut sambil mbatin, “untung mulut lagi ngunyah, kalau ga, tak kunyah pisan lho Mbak.” Kemudian saya jawab, “Nggak Mbak, aku lagi ga hamil sekarang. Memang badan lagi melebar ke mana-mana. Perut juga show off kayak gini. Jadi kayak orang hamil ya.” Mbak lalu jawab, “Oh maaf ya Deny sudah membuat kamu ga nyaman dengan omonganku.” Selalu ada cerita disetiap acara.

Sebelum tulisan ini diakhiri, saya mau pamer rawon. Lama tidak masak rawon, sekalinya masak yang prosesnya agak perjuangan juga (musti ngerendem kacang hijau dulu supaya numbuh jadi kecambah pendek, bikin telor asin), begitu makan duh rasanya terharu sendiri. Suami sampai nambah tiga kali *mas, doyan opo kelaparan :)))

Rawon komplit
Rawon komplit
Blendrang Soto Madura yang tinggal kenangan
Blendrang Soto Madura yang tinggal kenangan

Inilah cerita lebaran dari tanah rantau. Semoga suatu hari entah kapan, kami bisa merasakan lebaran bersama keluarga di Indonesia. Menabung keyakinan semoga suatu saat jadi nyata.
Mohon maaf lahir batin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun selanjutnya dengan amalan dan ibadah yang lebih baik.

-Nootdorp, 25 Juni 2018-

Ramadan Keempat di Belanda

Hari ini adalah hari ke 22 di bulan Ramadan tahun 2018. Tidak terasa ya minggu depan sudah lebaran. Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan lebaran tahun ini, berkumpul bersama keluarga dan handai taulan serta diberikan umur yang berkah supaya bisa bertemu dengan Ramadan tahun-tahun selanjutnya dengan Ibadah dan amalan yang lebih baik.

Tahun ini adalah tahun ke empat Ramadan saya di Belanda. Ternyata setiap tahunnya saya selalu membuat tulisan tentang Ramadan. Jadi cerita Ramadan di Belanda seperti berseri. Jika ingin membaca cerita Ramadan tahun-tahun sebelumnya bisa diklik tautan di bawah ini :

Tahun pertama Ramadan di Belanda, durasi puasa sampai 20 jam karena bertepatan dengan musim panas. Tahun ini durasinya antara 18 sampai 19 jam di musim semi dan musim panas. Suhunya meskipun tidak sepanas musim panas pada bulan Juli dan Agustus, tapi tetap saja rasanya panas karena ada hari-hari sampai 30 derajat celcius. Semoga selalu dikuatkan untuk mereka yang berpuasa dengan durasi yang panjang disertai cuaca yang berubah dari hujan ke panas.

Di bawah ini adalah jadwal Ramadan tahun 2018

Jadwal Ramadan Den Haag 2018
Jadwal Ramadan Den Haag 2018

Dua tahun terakhir Ramadan sangat berbeda untuk saya. Memaknainya pun berbeda. Walaupun begitu, semoga tidak mengurangi niat saya untuk tetap beribadah, apapun itu. Ramadan tahun ini, tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan karena kegiatannya seputar rumah, jalan-jalan menikmati sinar matahari kalau sedang muncul, belanja, me time jalan-jalan tanpa suami, makan mencoba beberapa menu baru di restoran, masak, leyeh-leyeh, bersih-bersih rumah, baca buku (Sudah menuju buku ke 11 yang saya baca setengah tahun ini), apalagi ya. Akhirnya makan nasi padang dan sate padang setelah lebih dari 4 tahun tidak makan nasi padang. Lumayan tombo kangen meskipun kalau ingat harganya ya agak nyesek. Saya belinya di Tong Tong Fair stan Lapek Jo. Ini bener-bener enak sampai sekarang rasanya saya ingat dengan baik. Yang di Belanda, kalau beli masakan padang di Lapek Jo saja. Adanya di Den Haag. Ini bukan tulisan berbayar, murni karena puas dengan rasanya.

Nasi Padang
Nasi Padang
Sate Padang
Sate Padang

Semoga tahun depan ada lebih banyak cerita yang bisa saya bagi pada saat Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak bisa berbagi banyak cerita, saya simpan dulu ceritanya.

Buat yang sedang persiapan akan mudik, semoga semuanya dipersiapkan dengan baik tidak ada yang ketinggalan. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul bersama keluarga menyambut hari yang fitri. Sudah 4 kali lebaran saya tidak berkumpul dengan keluarga di Indonesia. Semoga suatu saat kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia, kumpul keluarga dan makan masakan khas keluarga di sana.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.

Semoga Segala Amal Ibadah Selama Ramadan Menjadi Berkah dan Kita Semua Dipertemukan Dengan Ramadan Tahun-Tahun Mendatang

-Nootdorp, 7 Juni 2018-

Malas Mandi

Marken

Oke, mungkin ini adalah postingan paling tidak bermutu diantara postingan lainnya di blog ini. Tapi tak apalah. Daripada sebelum tidur digunakan buat melamun, lebih baik buat menulis saja. Kan lebih berfaedah, meskipun membuka aib sendiri haha.

Sesungguhnya saya tidak pernah menganggap kebiasaan malas mandi ini sebuah aib. Ya menurut saya biasa saja karena memang sejak kecil saya adalah anak yang paling susah disuruh mandi diantara anggota keluarga yang lain. Tinggal dan besar di kota pesisir, pastinya badan jadi cepat berkeringat ya. Ongkep nya itu lho ga nahan. Bergerak sedikit saja, badan basah keringat. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap malas mandi hahaha. Saya ingat sekali, kalau sudah waktunya mandi, handuk pasti saya kalungkan di leher. Lalu saya tidak langsung masuk ke kamar mandi. Ada saja yang saya lakukan, entah itu makan, ke rumah tetangga, nyapu atau sekedar leyeh-leyeh depan TV dengan tetap berkalungkan handuk. Lalu malampun tiba, ya akhirnya saya tidak mandi seharian hahaha. Eh, buat saya ini lucu sih kalau diingat. Handuk dikalungkan di leher seharian akhirnya dikembalikan lagi ke jemuran handuk.

Bapak dan Ibu adalah dua orang dalam keluarga yang hobinya mandi. Satu hari bisa lebih dari dua kali mandi. Bahkan Ibu saya selama di Belanda, tiap hari mandi. Padahal waktu Beliau di sini sedang musim dingin. Lalu suatu hari Ibu saya menyelutuk, ” Kok Ibuk tidak pernah melihat kamu mandi ya,” lalu saya jawab, “ya mosok musti aku jelaskan Buk.” Maksudnya ga usah dijelaskan kalau kebiasaan malas mandi sejak kecil masih bersemayam sampai saat ini haha.

Saya pernah tinggal di Surabaya selama 13 tahun dan nyaris 7 tahun di Jakarta. Dua kota ini kan panasnya tidak ketulungan. Ampun DJ, apalagi Surabaya. Oh ya, selama ngekos saya tidak pernah tinggal di tempat kos yang ber AC. Di rumah orangtua pun kami tidak punya AC. Jadi kalau sedang panas-panasnya, saya hanya mengandalkan kipas angin. Bahkan saya sering tidur kampus, demi bisa ngadem di ruangan ber AC. Dengan situasi yang seperti itu saja, ya saya tetap malas mandi. Entahlah, jiwa malas mandi ini terlalu kuat terpatri dalam tubuh. Dulu seringnya kalau pulang kerja, entah karena memang terlalu capek atau memang malas mandi, saya langsung tidur. Atau kalau malamnya mandi, berangkat kerja saya tidak mandi hahaha *ya Tuhan, bongkar rahasia :))). Intinya kalau sehari saya mandi dua kali berasa seperti rugi sekali.

Apakah suami tidak protes karena saya jarang mandi? oh tenang saja, dia tidak pernah ngeh kalau saya tidak mandi haha. Malah saya sering bertanya ke dia kapan saya terakhir mandi, saking saya lupa. Kenapa bisa lupa? karena meskipun saya tidak mandi dengan mengguyur seluruh badan dengan air, saya tetap membersihkan bagian-bagian badan yang wajib dibersihkan. Hal tersebut karena berhubungan dengan Ibadah. Ya ga usah disebutlah ya bagiannya. Nah karena tetap dibersihkan itulah, jadi saya selalu merasa badan saya bersih. Jadi berasanya sudah mandi. Makanya saya sering lupa kapan terakhir mandi dengan mengucurkan air ke seluruh tubuh. Kecuali musim panas ya, saya lebih rajin mandi. Panas di Belanda berbeda dengan panas di Surabaya atau Jakarta atau rumah orangtua yang di pesisir. Beda sekali. Meskipun “cuma” 30 derajat celcius, Ongkepnya lebih parah dan panasnya lebih menyengat. Itu kenapa saya jadi lebih rajin mandi. Bukan tiap hari mandi ya, tapi lebih rajin mandi dibandingkan yang biasanya.

Siapa bilang bule malas mandi. Suami saya mandinya lebih rajin dibandingkan saya. Musim dinginpun dia rajin mandi, apalagi musim panas. Ya tapi itulah yang namanya jodoh ya, saling melengkapi *pembenaran hahaha. Suami bilang saya tidak masalah jarang mandi, berarti membantu bumi berlangsung lebih lama. Membantu lingkungan supaya tidak banyak air yang terbuang *terhibur haha.

Kalau kamu, rajin mandi atau malas mandi? Pernah berapa lama dan paling lama tidak mandi?

—-Kalau nanti ketemu saya, tidak usah mbatin ya saya mandi atau tidak. Tanya saja langsung daripada menebak-nebak.

-Nootdorp, 4 Juni 2018-

Republik Twitter

Eh sik ya sebentar, aku tak ngecek Republik Twitter dulu

Kalimat itu yang sering kali muncul di grup WhatsApp (wa) yang isinya sahabat2 saya. Kami berlima sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi sekitar 19 tahun lamanya. Kami sudah saling tahu baik buruk dan cerita masing-masing, secara personal yang tentu saja diceritakan karena pasti banyak juga yang disimpan sendiri. Nah, empat diantara kami mempunyai akun twitter. Diantara 4 ini, saya dan satu orang lagi yang aktif. Dua lainnya hanya sesekali karena faktor kesibukan. Bukannya saya dan sahabat saya tidak sibuk ya, justru karena sibuk juga akhirnya kami mencari hiburan lewat twitter. Dan buat saya pribadi, twitter sangatlah menghibur. Apalagi ketika kami terpisah tempat tinggal dan berbeda waktu, twitter juga tempat update berita terbaru lalu kami saling memberitahu di grup. Bukan hanya saling memberitahu, tapi seringnya juga akhirnya jadi bahan diskusi sampai bahan bercandaan.

Diantara semua media sosial yang pernah saya miliki (FB, IG, Twitter. Saya tidak pernah punya Path dan Snapchat), twitter lah yang selama ini awet tidak pernah saya deactive kan (saya juga tidak tahu apakah bisa karena tidak pernah mencoba). Kalau tidak salah, tahun ini adalah tahun ke sembilan atau ke sepuluh ya saya punya akun di twitter. Saya ingat sekali awal bergabung di twitter karena di kantor sedang jadi pengangguran dibayar alias makan gaji buta. Dulu masih bingung apa fungisnya RT, bagaimana cara pakainya. Masih kagoklah. Lalu saya ikut kuis di akunnya Detik. Menang beberapa kali dan hadiahnya dikirim ke kantor (saya dulu juga sering menang ikut kuis-kuis di IG, sewaktu masih punya akunnya). Sampai oleh orang kantor saya dijuluki ratu kuis twitter haha.

Setelahnya saya mulai follow akun-akun yang sesuai minat (misalkan tentang menulis, penulis atau akun yang sering membahas buku), diluar akun-akun berita dalam dan luar negeri juga akun personal yang menurut saya menarik (terutama yang lucu dan informatif). Sampai saat ini, saya tidak pernah ruwet mencari follower. Bukannya tidak penting, tapi sejak awal punya akun di twitter, murni hal tersebut untuk hiburan selain juga mendapatkan informasi yang bermanfaat secara cepat. Sama seperti prinsip bermedia sosial yang lainnya, semua akan berfaedah jika kita mengikuti akun yang tepat. Bersyukurnya, sampai detik ini akun-akun yang saya ikuti masih berfaedah. Di twitter juga saya bisa berinteraksi dengan beberapa rekan blogger dan percayalah, sangat menyenangkan. Ada beberapa yang selalu membuat saya tertawa ngakak setiap berbalas pesan. Sungguh twitter ini penemuan yang sangat membuat bahagia. Terbekatilah penemunya.

Jika ada keluhan atau pertanyaan ke suatu perusahaan, lebih cepat tanggapannya lewat akun twitter mereka dibandingkan lewat email. Saya pernah ingin mengganti jadwal pesawat KLM punya adik. Saya mengurus lewat akun twitter KLM. Wow! Cepat reaksinya. Kami saling berbalas DM. Begitupun ketika saya ingin mengurus sesuatu di Bank Mandiri, tanggapan lewat twitter lebih cepat daripada email yang saya kirimkan. Itu salah dua contohnya ya. Saya masih punya pengalaman beberapa lagi.

Tidak hanya itu, lewat twitter juga saya bisa ikut project menulis yang akhirnya bisa berperan dalam 4 buku. Ceritanya pernah saya tulis di sini. Media sosial itu bermanfaat kok, asal bijak saja menggunakannya (sok kasih nasehat, padahal pernah mutung gara-gara FB haha).

Saya menulis begini bukan dibayar twitter untuk promosi ya. Siapalah saya ini, wong pengikut saja cuma beberapa gelintir, tidak sampai 600. Saya menulis cerita tentang twitter karena memang selalu merasa terhibur. Disamping itu, ada saja bahan dari twitter yang membuat saya dan sahabat-sahabat tertawa terbahak. Jadi kalau kami sedang berdiskusi tentang sesuatu yang maha penting pun (contohnya tentang rumus statistik), eh ujung-ujungnya,“Sik yo rehat, aku tak ngecek Republik Twitter. Onok huru hara opo saiki.” —-Saking menghiburnya kehidupan di twitter.

Apakah saya punya pengalaman buruk di twitter? Sejauh ini belum pernah. Ya karena memang tujuannya tidak yang serius-serius sekali, jadi semua saya buat santai saja. Nge-tweet ya yang santai-santai yang tidak memancing keriuhan atau menambah keruh keadaan. Terkadang (yang sangat jarang) saya juga berbagi informasi. Yang sering, jelas pamer makanan hahaha. Karena seingat saya (seingat saya lho ini) tidak pernah menulis hal-hal yang jelek, mengumpat atau memaki-maki, jadi saya tidak pernah menggembok akun walaupun sedang dalam proses mencari pekerjaan misalnya. Ya apa yang mau digembok, wong yang ditulis hal yang biasa. Saya dan suami juga saling follow di twitter dan  99% tidak pernah berinteraksi, lha wong saya ndak paham apa yang dia tulis di twitter, terlalu serius. Sedangkan dia tidak terlalu paham juga apa yang saya tulis, wong pakai bahasa Indonesia sesekali bahasa Jawa (sangat kadang sekali pakai bahasa Belanda).

Dikala ada perpecahan pendapat tentang mereka yang bangga punya akun twitter atau mereka yang bangga punya akun IG, saya sih tidak peduli mau punya akun di manapun. Selama enjoy dan tidak terbebani, buat apa saling meninggikan. Santai wae. Saat ini saya tidak seaktif sebelumnya. Yang pasti setiap hari memang saya buka, walaupun cepat-cepat membacanya. Biasanya malam saat sudah santai atau di sela-sela hari saat sudah tidak ada huru hara dengan kegiatan harian.

Jadi, untuk saya dan para sahabat, twitter adalah sumber informasi tercepat, terkini dan juga sebagai sumber hiburan yang hakiki. Ada saja yang jadi bahan banyolan kami.

Kalian punya akun twitter? punya pengalaman seru apa di twitter?

-Nootdorp, 31 Mei 2018-

Tentang “Me Time”

Saya ini aslinya anak rumahan. Lebih senang menghabiskan waktu senggang di rumah daripada keluyuran. Enak banget kalau bisa leyeh-leyeh di kasur, baca buku, mendengarkan musik, tidur, makan, ulangi berkali-kali. Sewaktu masih di Indonesia dan berstatus karyawati, hari yang saya tunggu jelasnya adalah sabtu dan minggu. Di dua hari itu saya bisa sepuasnya tinggal di kamar. Syukur-syukur kalau dikasih makan sama Ibu kos, jadi saya tidak perlu masak atau sampai ke luar rumah beli makan. Bersantai di kamar itupun dengan catatan saya tidak ada pekerjaan ke luar kota pada akhir pekan. Yang pada kenyataannya malah sering ke luar kota. Me time saya dulu itu adalah ke toko buku, nonton bioskop, bersemedi di kamar, ke perpustakaan, lari pagi, ngelamun di beberapa taman di Jakarta (Taman Suropati lebih seringnya, nonton orang-orang latihan musik), ke pasar, masak, dan ke TMII nonton pertunjukan gratis di sana. Seringnya dulu me time itu beneran sendiri, karena saya memang lebih suka ke mana-mana sendiri. Jarang punya temen sih sejak dulu kala. Dan ya, tetap hidup damai sentausa sampai sekarang walaupun yang namanya teman bisa dihitung dengan jari tangan.

Nah, sejak menikah, tetap donk saya membutuhkan me time. Namanya juga awalnya seorang individu ya, jadi begitu menikah pun tetaplah jiwa individunya ada. Bersyukurnya saya mendapatkan suami yang satu pemikiran tentang hal ini. Jadi setiap bulan, kami pasti mempunyai waktu untuk sendiri. Entah saya yang ke luar rumah, dia yang ke luar rumah, atau kami berdua ke luar rumah dengan rute yang berbeda.

Nah, walaupun pada dasarnya saya orang rumahan, tapi saya juga tipe yang petakilan. Apalagi di Belanda ini kan matahari nongol bisa dihitung maksimal hanya beberapa hari dalam setahun. Jadi begitu matahari muncul apalagi kalau angin tidak begitu kencang, pastilah kaki saya gatal ingin ke sana ke mari. Selama hampir 4 tahun menikah, me time yang saya lakukan seringnya adalah saya yang ke luar rumah. Maklum, suami lebih orang rumahan dibanding saya.

Ke luarnya seringnya tidak jauh-jauh juga. Ke kota lain sekitaran kota kami tinggal. Tapi me time yang paling jauh saya lakukan adalah ke Berlin beberapa hari pada tahun 2016.

Kenapa sih masing-masing daru kami butuh waktu sendiri? Seperti yang saya tulis sebelumnya, karena walaupun kami menikah, tetapi tidak setiap waktu kami harus selalu runtang runtung terus bersama. Me time itu seperti nge-charge. Kami biasanya mulai “berpisah” tidak ketemu sebelum makan siang sampai setelah makan malam baru kembali bertemu. Kalau saya atau suami dalam perjalanan pulang, baru kami saling berkirim kabar kira-kira jam berapa sampai di rumah. Jadi selama satu hari tidak barengan itu, kami tidak saling berkirim kabar. Benar-benar menikmati waktu sendiri.

Rasanya bagaimana? Senang jelasnya. Kami sehari-hari sudah sangat disibukkan dengan kegiatan masing-masing dan kegiatan bersama yang berhubungan dengan rumah tangga. Jadi begitu ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang disukai tanpa harus bersama pasangan, pastinya senang. Tapi tidak semua merasa ini hal yang wajar lho, maksudnya keluar rumah tanpa suami menikmati kegiatan yang diinginkan. Tidak bergerombol bersama kenalan atau teman yang lain ya. Beberapa kali saya berjumpa dengan orang Indonesia dan ketika tahu saya kelayapan tanpa suami, langsung dikomentari ini itu (yang agak mengganggu telinga). Bahkan saya sering lho nonton bioskop sendiri. Lha wong nonton konser saja sendiri, suami tidak menemani. Ah ya wes lah. Wes biyasa dapat komentar apapun. Saya dari dulu memang tidak suka runtang runtung bergerombol. Lebih nyaman ke sana sini sendirian kalau tidak ditemani suami.

Kembali lagi ke hal me time. Sehari jauh dari masing-masing pasangan tentu saja membuat kangen lho. Entah, rasanya seperti kangen kayak masa muda dulu itu. Kalau sudah dekat dengan rumah, deg-degan rasanya mau ketemu suami sendiri hahaha norak ya. Tapi memang betul itu yang saya rasakan. Me time yang bisa menimbulkan kupu-kupu beterbangan di perut ketika kami bertemu kembali saat malam di rumah.

Beberapa minggu lalu, saya keluar rumah ke Den Haag hampir seharian tanpa suami. Kali ini jalan-jalan dan kulineran sekitaran Den Haag dengan 3 orang teman dekat. Dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam sampai rumah. Ketika akan pulang menunggu tram, saya bilang suami kalau tramnya masih tunggu 5 menit lagi. Jadi kira-kira sampai rumah jam 8 malam. Saat sudah sampai di halte terakhir dekat rumah, keluar tram suami sudah menunggu. Lho saya terkejut, tumben dijemput padahal jalan kaki ke rumah cuma 5 menit. Lalu kami berjalan kaki bareng dan seperti biasa dia menggandeng tangan saya, lalu saya menggoda dia,”kok tiba-tiba kamu nongol. Tumben jemput.” Dia jawab,”iya nih sepi rumah. Aku kelimpungan padahal sudah menyibukkan diri ini itu.”

Dikasih kejutan dengan dia menjemput tanpa pemberitahuan saja sudah membuat saya tersenyum simpul pipi menghangat sepanjang jalan menuju rumah.

Kalau menurut kalian, apakah perlu punya me time? Kalau yang sudah berpasangan atau punya anak (-anak me time seperti apa sering dilakukan dan berapa lama?

-Nootdorp, 27 Mei 2018-

Minggu Kelabu

Harusnya hari ini, minggu 13 Mei 2018, adalah hari yang menyenangkan. Di Belanda (dan beberapa negara lainnya) hari ini diperingati sebagai Hari Ibu. Saya sudah membayangkan pagi hari saya akan dapat kejutan (entah itu apa) lalu sorenya kami sekeluarga akan ke rumah Mama karena memang sudah tradisi kalau Hari Ibu, seluruh keluarga akan kumpul di rumah Mama, yang artinya bisa ngobrol ngalur ngidul dengan semua dan tentu saja banyak makanan. Nyatanya, hari minggu ini menjadi minggu kelabu yang mampu memporakporandakan perasaan saya. Sedih sampai menangis, bingung sampai bengong, hati rasa tercabik-cabik mendengar dan membaca berita duka datang silih berganti.

Sekitar jam 3 dini hari (waktu Belanda) saya terbangun, lalu jam 4 saya kembali tertidur. Seperti biasa, saya buka dulu sebentar twitter untuk membaca berita apa yang ada di Indonesia atau dunia. Sebenarnya mata saya sudah sepet mengantuk, jadi membaca beberapa berita dengan setengah sadar. Saya tersentak begitu membaca ada berita bom meledak di beberapa Gereja di Surabaya. Seperti tidak percaya, Surabaya?! Bagaimana mungkin?!. Kota yang sempat saya tinggali selama 13 tahun adalah kota yang adem ayem meskipun penghuninya terkenal dengan keras dan cepat panasnya. Tapi percayalah, kota itu meskipun nampak galak dan garang, sesungguhnya sangatlah adem ayem. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan segala perbedaannya. Bahkan saat kerusuhan di Jakarta tahun 98, di Surabaya ya aman dan adem ayem. Saya lalu menuliskan di grup wa sahabat-sahabat saya apakah benar ada bom di Surabaya. Lalu karena memang mengantuk sekali, saya tertidur kembali sampai jam 7 bangun. Dan kembali membuka twitter dan wa, ternyata benar adanya bom itu. Hati saya retak. Sedih campur kesal. Hal tersebut sempat teralihkan karena saya diberi kejutan satu buket bunga dan coklat sebagai hadiah dihari Ibu.

Sekitar jam 9 pagi, Ibu berkirim pesan di wa, menanyakan kabar kami sekeluarga. Setelahnya Ibu menyampaikan berita duka. Salah satu teman SMP saya yang juga rekan kerja Ibu, pagi dini hari meninggal dunia. Teman saya ini meninggalkan satu anak perempuan yang masih kecil dan seorang istri. Hati saya kembali remuk. Walaupun saya tidak dekat dengan dia, tapi saya kenal dengan baik bagaimana betapa baiknya dia, pintar dan juga pekerja keras sehingga dia bukan hanya PNS tetapi juga mempunyai beberapa usaha yang sukses. Saya ingat betul, sewaktu Ibu sedang dioperasi, ternyata Bapak dia juga sedang sakit. Kamar pasien saling berhadapan. Waktu itu dia sering menghibur saya untuk sabar menghadapi ujian hidup. Padahal keadaan dia tidak lebih baik dari keadaan saya, tapi dia tetap memberikan semangat untuk saya. Pada saat saya kawin, dia datang ke kawinan kami. Itu terakhir saya bertemu dia. Sewaktu Ibu ke Belanda, Ibu menyampaikan salam dari dia. Katanya kalau saya pulang, minta dikabari karena ingin berjumpa. “Belum juga aku sempat pulang As, kamu sudah pergi. Gone too soon! Semoga kamu tenang ya disisiNya dan semoga keluargamu diberikan kekuatan dan ketabahan.” Saya sedih jika teringat anak perempuannya, sudah kehilangan seorang Bapak diusia yang masih belia.

Menjelang siang, kembali saya sekilas membuka twitter. Begitu membaca bahwa ada anak-anak yang menjadi korban, perasaan saya kembali berkecamuk sedih. Anak-anak itu pasti dengan semangat bangun pagi dan senang karena akan beribadah di Gereja. Sesampainya di sana, ada bom meledak. Apa yang salah dengan mereka? Mereka ingin beribadah, berucap syukur pada Tuhan, ingin berdoa. Apa yang salah dengan mereka sehingga mereka yang tak tahu apa-apa ikut menjadi korban? Lalu saya kembali membaca bahwa dua orang anak kecil diajak Ibunya untuk membunuh, meledakkan diri. Kegilaan apalagi ini. Anak-anak itu masih kecil. Kenapa harus melibatkan mereka. Tugas mereka hanyalah bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya. Kenapa harus diajak membunuh orang-orang yang akan beribadah? Sebenarnya apa sih yang dicari oleh para pembunuh ini? Apa yang sebenarnya mereka benci sehingga harus membunuh. Sebegitu bencikah mereka sampai harus membunuh? Punya hak apa mereka sebagai sesama makhluk Tuhan dengan pongahnya bisa bertindak sebagai pencabut nyawa? Tidak bisakah hidup berdampingan dalam perbedaan. Toh yang menciptakan berbeda juga Tuhan, lalu mengapa harus dilenyapkan perbedaan itu?

Sore hari kami ke rumah Mama. Begitu pintu terbuka, Mama langsung memberondong dengan banyak pertanyaan terkait Bom di Surabaya. Sudah saya duga akan banyak pertanyaan terlontar dan ada banyak pasang mata menunggu penjelasan dari saya. Yang keluarga kami sesalkan dan juga seperti kekesalan saya adalah kenapa harus melibatkan anak-anak?! Kenapa?!

Sore hari menjelang malam, kembali ada berita ledakan di Sidoarjo. Hari yang melelahkan terus terang untuk saya mendengar banyak berita duka dari tanah air. Banyak pertanyaan berkecamuk silih berganti datang dan pergi.

Terkait teman saya yang meninggal, saya kembali berpikir bahwa memang usia adalah rahasia Ilahi. Bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini semakin mengingatkan saya untuk mempergunakan waktu yang tersisa sebaik dan sebermanfaat mungkin. Nikmati secara maksimal waktu bersama orang-orang yang kita cintai dan sampaikan rasa sayang kita pada mereka. Berbuat hal-hal yang bermanfaat, karena kita tidak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Kalau ingat kematian, rasanya ga ada nyali untuk sombong. Apa yang akan kita sombongkan karena semua ini memang hanya titipan, apa iya kita akan bawa semua ini ke liang kubur?

Terkait teroris, pertanyaan yang selama ini mengganjal saya adalah : banyak yang bilang bahwa terorisme itu jangan dikaitkan dengan agama karena perbuatan teror itu tak mengenal agama. Tapi kenapa selama ini teroris yang ada di Indonesia (saya hanya ingin fokus yang di Indonesia, karena mengamati hanya di Indonesia) selalu menggunakan atribut atau berpakaian secara Islam? Meneriakkan kalimat-kalimat yang ada di agama Islam? Lalu dengan kenyataan seperti itu, apakah tetap tidak bisa dikatakan bahwa teroris itu tidak beragama Islam? Toh nyata-nyata yang mereka lakukan katanya adalah jihad. Jihad macam apa, tujuannya apa? Kalau mereka ingin masuk surga dengan cara seperti itu dan ingin mengapling surga hanya untuk kaum mereka saja, monggo silahkan. Lebih baik saya tidak ada kaplingan di manapun daripada hidup saya merugikan orang lain dan membuat kerusakan saja. Sebenarnya apa yang mereka benci? Mengapa mereka sangat benci sehingga harus membunuh banyak orang? Oh Tuhan, banyak sekali hal-hal yang berkecamuk di kepala saya sampai saat ini lebih dari jam 10 malam saya masih belum bisa tidur. Masih memikirkan anak-anak kecil tak berdosa itu.

Doa saya teriring untuk para korban dan keluarga korban.

Dan untuk para pembunuh, Damn you Teroris!

-Nootdorp, 13 Mei 2018-

Urus Saja Takdirmu Sendiri

Pernah tidak bertemu dengan orang yang selalu saja ingin tahu detil kehidupan kita. Mulai dari bertanya tentang sudah punya pacar belum, pacarnya orang mana, sudah berkeluarga belum, sudah punya anak belum, suaminya orang mana, dan kalau perlu sampai bertanya berapa kali kamu kencing satu hari. Ya saking tidak ada kerjaan sampai urusan orangpun diurusin sampai detil. Atau memang kerjaan dia sudah selesai makanya banyak waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi orang lain. Kalau hanya bertanya sekali atau dua kali sih tidak masalah ya. Tapi kalau sampai setiap bertemu topik pertanyaannya selalu sama padahal yang ditanyakan sudah masuk area pribadi dan jawaban yang diberikan pun sudah tegas tetapi tetap saja bertanya, rasa-rasanya orang tersebut sudah tidak punya urat malu.

Saya pernah (dan banyak) bertemu dengan tipe orang seperti ini. Saking parahnya, dia (dan mereka) karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari saya atau malah tidak bertanya langsung pada saya, malah mengorek-ngorek jawaban dari orang-orang yang dekat dengan saya. Bertanya ini itu yang jelas-jelas sudah mulai masuk ke ranah paling pribadi. Saya sampai heran luar biasa lho dengan tipe orang semacam ini. Apa ya yang ada di pikiran mereka kok ya punya energi yang luar biasa sampai ingin tahu setiap jengkal kehidupan orang lain.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini berhubungan dengan cerita yang ada di gambar. Tulisan dalam foto tersebut bukan saya yang menulis tetapi saya dapatkan dari seorang teman jadi saya tidak tahu siapa awalnya yang menulis. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu saya sumbernya sehingga bisa saya sertakan linknya di foto tersebut.

Cerita ini berhubungan dengan pertanyaan tentang anak, tentu saja. Alkisah, pertanyaan tentang kapan punya anak itu dulu sudah bikin telinga saya kapalan seketika saking seringnya. Bahkan ada yang bertanya tentang program kehamilan apa saja yang pernah kami jalani. Kalau Ibu saya yang bertanya mungkin akan saya jawab ya (yang pada kenyataannya juga Ibu tidak bertanya tentang program kehamilan, cuma dulu suka nanya kapan saya akan memutuskan untuk hamil dan saya jawab dengan tegas untuk menghargai privasi kami dengan tidak terlalu jauh masuk dalam ranah RT kami). Nah, herannya ada lho orang yang dulunya paling sensitif kalau ditanya tentang anak karena memang lama punya anak, eh setelah (akhirnya!) punya anak lalu dengan gampangnya jadi tukang survey kepada orang-orang yang belum diberikan rejeki anak, bertanya tentang topik anak. Bahkan menanyakan tentang program kehamilan apa yang sedang atau pernah dijalani. Nih orang amnesia atau bagaimana, dulu sampai mengucilkan diri karena tersinggung kalau ditanya-tanya tentang anak, setelah Tuhan kasih kesempatan untuk dia punya anak kok ya tidak ada empatinya sama sekali. Bahkan sampai mengulik kabar terbaru bukan dari empunya langsung tapi dari orang lain. Kadar kesopanannya sungguhlah luar biasa perlu dipertanyakan.

Saya sangat menghindari bertanya kepada orang lain yang berhubungan dengan anak atau kehamilan. Sedekat apapun hubungan kami, kecuali yang bersangkutan cerita lebih dulu. Apalagi bertanya tentang program kehamilan yang sedang atau pernah dijalani, saya usahakan semaksimal mungkin supaya mulut tertutup rapat tidak bertanya yang bukan menjadi urusan saya, kecuali seperti yang saya sebutkan sebelumnya, yang bersangkutan bercerita lebih dahulu. Berceritapun saya pilah lagi, ini hanya butuh didengarkan atau ingin diberi masukan. Kalau ada orang yang bercerita, saya maksimalkan supaya tidak jadi kompetisi penderitaan, seperti yang sudah pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu. Contohnya : ada yang sedang curhat perutnya begah sekali pas kehamilan umur 7 bulan. Saya tidak akan menimpali : kamu sih lumayan ya cuma begah, saya dulu 9 bulan tidak bisa makan sama sekali. Itu misalnya ya. Buat apa to kompetisi penderitaan macam itu. Malah menyakiti hati yang sedang curhat. Saya memperlakukan orang seperti saya ingin diperlakukan. Saya tidak suka membicarakan hal-hal pribadi kepada orang yang saya tidak kenal dengan sangat baik. Ibaratnya pada Ibu saya saja ada banyak hal yang tidak saya ceritakan, lalu kenapa saya harus bercerita macam-macam kepada orang yang kenal cuma selintas lalu, apalagi sampai cerita di media sosial. Itu bukan saya.

Kepada siapapun yang pernah dan sampai saat ini selalu tertarik dengan kehidupan privasi kami yang tidak kami ceritakan atau tampilkan kecuali dalam kehidupan nyata, apalagi sampai bertanya kepada orang lain hal-hal privasi tentang kami, tolong urus saja dunia kalian sendiri. Kami bukan orang terkenal, bukan pesohor, jadi tidak perlu sampai mengulik terlalu dalam yang bukan menjadi urusan kalian. Jika ada yang pernah “tertarik” dengan cerita kami tentang anak dan tidak bertanya langsung pada saya, kenapa nyali sekecil itu. Saya lebih menghargai yang langsung bertanya pada saya. Tidak harus tahu semua hal lho di dunia ini, bahkan sampai ngurusi RT orang. Punya anak itu bukan lahan pertandingan dan anak bukan ajang kompetisi. Apa sih yang ingin dicapai, medali apa yang ingin diraih, apa yang ingin dipamerkan. Urus saja takdirmu sendiri, urus RT mu sendiri, urus anakmu sendiri. Dan yang terpenting adalah tidak usah terlalu sibuk mengurusi takdir orang lain.

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS.

-unknown-

-Nootdorp, 9 Mei 2018-

Tahun Ketujuh

Setiap tahun terasa seperti baru beberapa saat lalu. Tidak pernah terlupa sedikitpun detil setiap peristiwa sebelum dan sesudahnya. Seperti film yang selalu terputar lagi dan lagi dikepingan kenangan. Selalu ada rasa sesal, kenapa saya tidak di sana, bahkan sampai sekarangpun rasa itu tetap ada. Lalu selanjutnya saya pun berandai-andai, yang semestinya hal itu tak perlu saya lakukan. Hanya akan menambah sedih dan luka lama muncul kembali, walaupun sampai sekarang sebenarnya tak pernah tertutup, selalu menganga.

Setiap menjelang Ramadan terlebih lebaran, segala rasa berkecamuk di dada. Sedih dan pilu, itu yang pasti. Tetesan air mata selalu mengalir jika teringat hari itu. Terlebih jika saya melihat anak kecil sedang menghabiskan waktu dan bersenda gurau dengan Opa mereka. Ada yang terasa kosong di hati. Andaikan saja.

Konon katanya waktu yang akan menyembuhkan. Tapi saya selalu percaya bahwa sayalah yang harus berusaha keras untuk ikhlas dan menyembuhkan diri sendiri, bukan waktu. Sejak saat itu, hari di mana jadi titik balik kehidupan, saya mulai mempertanyakan segalanya-bahkan sampai saat ini. Harusnya saya lelah dan mengambil jeda untuk bernafas lalu berhenti. Tak perlu menggugat apa yang sudah tertuliskan. Saya hanya butuh waktu lebih untuk mengerti semua ini.

Tahun ini adalah tahun ketujuh saya tetap belajar apa namanya ikhlas. Entah butuh berapa tahun, saya tak terburu waktu. Menikmati prosesnya, bergulat dengan sakitnya dan berkawan dengan lelahnya. Banyak yang ingin saya ceritakan pada satu-satunya orang yang dulu selalu menjadi nomer satu untuk tahu saat saya sedih maupun senang.

“Bapak, tak perlu khawatirkan saya. Walaupun tak ada secara nyata, saya selalu percaya bahwa Bapak tak pernah benar-benar pergi, selalu ada disekitar saya. Dan saya yakin, tanpa perlu bercerita, Bapak pasti selalu tersenyum saat ini melihat apa yang dulu selalu Bapak doakan sudah dikabulkan. Tabungan doa untuk saya tentang sebuah keluarga. Saya butuh waktu untuk ikhlas, semoga itu tidak menghambat langkah Bapak.”

-Nootdorp, 6 Mei 2018-